
"Jelaskan padaku!"
Chaerin melipat tangannya dan menatap Ethan tajam. Ethan hanya bisa menunduk pasrah meremas-remas ujung selimutnya sambil bersandar di atas tempat tidur.
Kalau saja Chaerin tidak nekat pergi ke rumah sakit, kebohongan Ethan mungkin tidak akan ketahuan, dan Ethan tidak perlu memutar otak untuk mencari alasan lain.
"Aku dan Sean mengalami kecelakaan mobil tunggal di jalan tol" ucap Ethan berbohong.
"Seharusnya kau memberitahuku, bagaimana bisa kau berbohong dan bilang pergi ke luar negeri untuk urusan bisnis, memangnya aku ini kau anggap apa, kalau memang kau menganggap aku tidak penting lebih baik kita berpisah saja!"
"Aku tidak ingin membuatmu khawatir, lagipula aku tidak terluka parah" Ethan memandang Chaerin dengan wajah memelas.
Chaerin membuang nafas dan berdecak kesal.
"Kau sebut ini tidak parah" Chaerin menunjuk tangan dan kaki Ethan yang di balut gips, juga tubuhnya yang di lilit perban.
"Dokter Lim kadang berlebihan, ini tidak seperti yang terlihat. Kau lihat sendiri aku tadi bahkan bisa berlari" Ethan tersenyum jenaka, berusaha membuat Chaerin percaya padanya.
Chaerin membuang nafasnya kasar, ia sangat ingin mengomel panjang lebar dan melanjutkan perdebatannya dengan Ethan, tapi melihat kondisi Ethan yang bahkan sulit untuk duduk membuat Chaerin berusaha sekuat tenaga menahan emosinya.
"Aku akan mengomelimu lain kali" batin Chaerin.
"Oke aku akan mengampunimu kali ini, dan kau harus istirahat sekarang"
Chaerin menekan tombol pada remote dan seketika sandaran tempat tidur Ethan bergerak turun, membuat pria itu berbaring.
"Hei geser!" Chaerin menggerak-gerakkan telunjuknya memberikan perintah pada Ethan.
"Apa?"
"Tempat tidurnya kan luas, geser sana! Aku juga mau istirahat"
Ethan dengan wajah bingung perlahan menggeser tubuhnya ke samping membiarkan Chaerin naik ke atas tempat tidur dan berbaring di sebelahnya.
Chaerin memeluk lengan Ethan sambil memejamkan mata.
"Lain kali, apapun yang terjadi kau harus memberitahuku, aku tidak ingin berfikiran buruk tentangmu karena salah paham"
"Ya" Ethan menyahut pelan.
Ethan memandang Chaerin yang mulai tertidur di sebelahnya.
Dan lagi-lagi jantngnya berdegup kencang, ini bukan pertama kali ia tidur bersama Chaerin tapi jantungnya belum juga terbiasa, mungkin tidak akan pernah terbiasa jika itu bersama Chaerin, karena Chaerin membuatnya jatuh cinta setiap hari.
"Aku tidak perlu apapun lagi di dunia ini, asal aku bisa terus bersamamu" bisik Ethan pelan.
Chaerin tersenyum, ia masih bisa mendengar suara Ethan walau ia sudah mulai setengah tertidur.
"Aku juga" Chaerin mengeratkan pelukannya, sekan takut Ethan akan pergi meninggalkannya.
*
Sean berlari kencang menuju kamar rawat Ethan dengan membawa handphonenya. Di layar tertera deretan angka tanpa nama, bertanda bahwa nomer itu tidak di kenalnya sebelumnya.
"Tuan ada telpon untuk anda" Sean tiba di hadapan Ethan dengan nafas tersengal. ia menyerahkan handphone yang di pegangnya kepada Ethan.
"Siapa?"
"Gloria Ricci"
Ethan membelalakkan matanya dan dengan cepat mengambil handphone yang di berikan oleh Sean.
"Tunggu di depan pintu, jangan sampai Chaerin mendengar pembicaraanku"
Sean mengangguk cepat dan langsung menjalankan perintah Ethan.
Di luar kamar, Chaerin muncul dengan membawa amplop berwarna putih berisi rekam medis Ethan. Sebelumnya Chaerin menemui dokter Lim dan memintanya menjelaskan bagaimana kesehatan Ethan, jadi dokter Lim memberikan rekam medis Ethan secara terperinci, tapi tentu saja semuanya sudah di palsukan.
"Hai nona Chae" Sean melambai tepat di depan pintu.
"Si putih, oh tidak Sean" Chaerin meralat kata-katanya saat ingat Christopher yang marah padanya karena memanggil Sean si putih.
"Bagaimana keadaanmu, kelihatannya lukamu tidak terlalu parah seperti Ethan" Chaerin memperhatikan Sean dari atas sampai bawah, tidak ada luka yang serius pada Sean, hanya beberapa goresan kecil di wajahnya juga plester di telapak tangan kirinya.
"Iya saya baik-baik saja" ucap Sean pelan.
"Baguslah" ucap Chaerin singkat lalu berjalan mengitari Sean menuju pintu.
"Nona Chae!" Sean berteriak tepat saat Chaerin memegang gagang pintu.
"Ya kenapa?"
"Kenapa Anda tidak mengunjungiku? Aku juga di rawat di sini" ucap Sean dengan mata melotot.
"Aku rasa aku tidak perlu mengunjungimu karena kau sangat sehat, kau bahkan bisa berjalan ke sini sendiri"
"Tidak ada yang mengunjungi ku saat aku sakit, kau harusnya mengunjungiku!" Sean secara paksa menarik tangan Chaerin untuk menuju kamarnya.
"Aku harus bertemu Ethan, dia mungkin akan mencariku saat ia bangun tidur nanti"
"Tidak boleh, tidak boleh, tidak boleh" Sean mulai merengek sepeti bayi dan Chaerin mau tidak mau harus mengikuti keinginannya.
"Oke oke aku akan mengunjungimu" ucap Chaerin pasrah.
"Tapi sebelumnya kau harus menemaniku ke toko di bawah, aku harus membeli bunga dan buah-buahan, aku tidak mungkin mengunjungimu dengan tangan kosong" Chaerin melambai-lambaikan tangannya.
"Aku juga ingin boneka dinosaurus yang besar" ucap Sean polos.
Chaerin hampir tertawa dengan tingkah Sean yang begitu naif.
"Ya ya jika ada aku akan membelikanmu yang paling besar"
__ADS_1
"Selamat siang tuan Ethan, aku rasa tidak perlu berbasa-basi memperkenalkan diri, aku yakin kau pasti tahu siapa aku"
"Jika kau menelpon untuk mewakili suamimu, lebih baik tutup saja telponnya, aku tidak ingin negosiasi apapun tentang Gold Dragon" Ethan berucap tegas dan hendak mematikan telpon tapi ucapan Gloria menahannya.
"Kalau kau tidak ingin bicara denganku mengenai Arnoldo, bagaimana kalau kita bertemu dan bicara mengenai istrimu tercinta, Chaerin"
"Kau ingin mengancam ku?!"
"Ayolah Ethan, mana mungkin wanita tua lemah sepertiku berani mengancammu" Gloria terkekeh.
"Jadi apa yang kau inginkan?"
"Ayo kita bertemu dan membuat kesepakatan"
"Lupakan, aku tidak ingin terlibat denganmu ataupun keluargamu, kau bisa membuat kesepakatan dengan orang lain"
"Aku yakin kau sudah mengetahui hubungan yang di miliki Arnoldo dan Chaerin di masa lalu, aku hanya ingin membuat semuanya jelas"
Ucapan Gloria membuat Ethan goyah, sebenarnya ia tidak ingin lagi terlibat dengan keluarga Ricci, tapi sepertinya Gloria tidak akan pernah menyerah jika ia menolak, dan dengan sifat seperti itu kemungkinan Gloria akan melibatkan Chaerin lebih jauh.
"Saat ini aku sedang sangat sibuk, aku akan menghubungimu untuk mengatur pertemuan saat aku punya waktu luang"
"Kau mungkin akan kehilangan kesempatan untuk mendapatkan sekutu yang kuat jika kau menunggu waktu luang yang datang sangat lama. Minggu depan tepat di jam yang sama seperti sekarang, aku akan kirim alamatnya. Jika kau tidak muncul dalam 10 menit, maka tidak ada kesempatan lain"
Telpon langsung terputus. Ethan menutup matanya dan menggenggam handphonenya sangat erat sampai membuat retakan di ujung layarnya.
"Aku akan membunuhmu, saat pertemuan kita nanti, tunggu saja wanita tua" batin Ethan.
*
Ethan mencium kening Chaerin yang masih tidur, itu adalah rutinitas baru Ethan sebelum pergi bekerja, karena ia selalu bangun lebih cepat daripada Chaerin.
Chaerin terbangun dan menggeliat seperti ulat lalu menatap Ethan dengan mata sipitnya.
"Sudah mau pergi?" Chaerin berucap dengan suaranya yang parau.
Chaerin bangun dan langsung memeluk Ethan, bersandar di dada pria itu sambil memejamkan matanya.
"Bisakah kau tidak bekerja hari ini, ayo pergi jalan-jalan" Chaerin mulai merengek sama seperti yang sering di lakukan oleh Sean.
"Jika aku tidak bekerja, siapa yang akan mencarikanmu uang untuk di hambur-hamburkan?"
"Kau benar, kita punya tugas masing-masing sekarang, kau bertugas menghasilkan uang, dan aku menghabiskannya" Chaerin terkekeh pelan.
"Itulah kenapa kita sangat serasi"
Ethan sudah berdiri untuk pergi tapi Chaerin memegangi tangannya dan memasang tampang imut yang membuat Ethan gemas.
Jika tidak ada hal yang penting hari ini, Ethan sudah pasti akan mengabaikan pekerjaannya dan memilih untuk seharian bersama dengan Chaerin.
"Aku akan ke kantormu untuk makan siang bersama"
"Maaf honey sepertinya tidak bisa, aku ada janji makan siang dengan seorang investor" Ethan berucap dengan wajah yang di buat-buat sedih.
"Laki-laki atau perempuan?"
"Kenapa? Kau cemburu jika perempuan?" Goda Ethan.
"Aku cuma bertanya!"
Chaerin berdecak kesal lalu kembali berbaring dan menutupi dirinya dengan selimut.
"Sudah sana pergi, aku ingin tidur lagi"
Ethan tersenyum melihat tingkah Chaerin, ia ingin sekali membujuk Chaerin agar berhenti merajuk, tapi ia sedang di kejar waktu. Ethan berencana memperbaiki semuanya setelah ia pulang ke rumah saja.
"Aku pergi honey"
Ethan keluar dari kamar sambil melambai. Di depan kamar Sean sudah siap dengan stelan jasnya, Sean terlihat jauh lebih rapi daripada hari-hari sebelumnya.
Wajah Ethan yang tadinya di penuhi senyuman seketika berubah serius, ia melirik ke arah jam tangannya dan lalu beralih menatap Sean.
"Semuanya sudah siap tuan" ucap Sean pasti.
"Padahal hanya ingin menemui nenek tua, kenapa jadi seperti kita akan pergi berperang" Ethan mengeluh sambil berjalan di ikuti oleh Sean di belakangnya.
*
Gloria memakai gaun kuno tahun 90an berwarna biru tua dengan kerah berbentuk kotak.
Ia duduk berhadapan dengan Ethan di depan kedai kopi tepat di pinggir jalan raya.
Sebelumnya Ethan hanya pernah melihat Gloria dari foto 20 tahun yang lalu, yang di tunjukan oleh Sean, Ethan sedikit terkejut saat melihat wanita itu saat ini, tidak ada yang berubah, ia masih terlihat sepeti 20 tahun yang lalu, bahkan kulitnya masih sangat kencang.
"Kau sangat cantik nyonya Ricci, kau pasti menghabiskan separuh dari penghasilan suamimu untuk suntik botox setiap bulannya" ucap Ethan sarkastis.
__ADS_1
"Walau mulutmu tidak terdidik dengan benar, tapi kau punya wajah yang tampan, para wanita pasti membuat antrian panjang agar bisa menjadi jadi kekasihmu, tapi aku sangat penasaran kenapa kau menikahi seorang pelacur?" Balas Gloria sambil tersenyum.
"Jika kau memang sangat penasaran, kenapa tidak mencoba menjadi pelacur dan lihat berapa banyak pria yang mau menikahimu"
Gloria tertawa sambil menutupi mulutnya dengan tangan, menurutnya ucapan Ethan sangat lucu, tidak pernah ada yang bicara seperti itu padanya sebelumnya.
"Kau pikir di umurku sekarang ini karir sebagai pelacur masih memungkinkan?"
"Hubungi aku jika kau berminat, aku akan jadi orang pertama yang menyewa jasamu"
Lagi-lagi tawa Gloria pecah, begitu juga Ethan, mereka berdua sepertinya cocok menjadi teman mengobrol.
"Kau persis seperti yang sering di ceritakan Arnoldo, kau tidak punya selera humor karena kau sangat kejam, leluconmu bahkan sangat menyakitkan" Gloria memegang dadanya seolah ia sakit hati.
"Tapi kau berhasil tertawa dengan lelucon kejamku, haruskah aku memberimu plakat penghargaan?"
Gloria menggeleng sambil berusaha menahan tawanya.
"Terima kasih, kau membuatku tertawa setelah sekian lama, sepertinya kau yang harus di berikan penghargaan" ucap Gloria terbatuk-batuk karena terlalu banyak tertawa.
"Jadi nyonya Ricci apa tujuanmu ingin bertemu denganku hari ini" ucap Ethan mulai serius.
"Ah iya benar, aku menemuimu hari ini bukan untuk mengobrol. Alasanmu mendadak mengakhiri hubungan dengan Arnoldo dan juga membubarkan Gold Dragon adalah Chaerin, apa aku benar?"
"Ya hampir seperti itu, sepertinya kau tahu lebih banyak daripada suamimu" ucap Ethan tersenyum.
"Jujur saja aku sangat setuju dengan pilihanmu, ayah dan anak itu tidak boleh di pertemukan walaupun tanpa sengaja, dan jika Arnoldo masih berbisnis denganmu membuat kemungkinan mereka bertemu akan semakin besar" Gloria menyesap kopinya.
"Tunggu, kau bilang ayah dan anak?" Ethan tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya.
"Kau tidak tahu? Aku pikir kau tahu tentang hubungan mereka berdua!!" Gloria tersedak dan hampir menyemburkan kopinya lewat hidung.
"Aku tahu sejarah kelam antara mereka berdua di masa lalu, tapi ayah dan anak? Aku sama sekali tidak menyangka, bisa kau ceritakan lebih banyak, aku yakin Chaerin juga pasti tidak tahu tentang hal ini" Ethan terkekeh.
"Kehidupanku sudah tenang selama 20 tahun belakangan dan aku yakin kau juga ingin kehidupan yang tenang bersama istrimu, jadi jangan biarkan Arnoldo tahu bahwa anaknya masih hidup dan jangan biarkan Chaerin tahu ayahnya adalah Arnoldo, sederhana bukan?"
"Sepertinya lebih menguntungkan jika aku memberi tahu Chaerin dan memporak-porandakan keluargamu, dan karena ia adalah anggota keluarga kalian paling tidak ia bisa mendapatkan setengah dari kekayaan Arnoldo, wah ternyata aku menikahi wanita kaya raya"
"Tutup mulutmu, kau pasti tidak ingin aku menyelesaikan tugasku yang tertunda 20 tahun yang lalu, aku masih berbaik hati membiarkannya hidup sampai dengan hari ini" ucap Gloria menggenggam gagang cangkirnya kuat.n
"Jangan pernah menyentuhnya, atau aku akan melubangi kepalamu" Ethan menunjuk sorotan laser berwarna merah yang ada di dahi Gloria.
"Sebelum bicara, sebaiknya kau perhatikan dirimu sendiri" Gloria juga menunjuk ke arah dada Ethan yang terdapat sorotan laser merah, bukan hanya satu, tapi tiga.
Ethan membuang nafasnya dan tersenyum.
"Kau wanita tua yang penuh persiapan"
"Aku bangga dengan diriku sendiri" Gloria ikut tersenyum.
Entah dari mana datangnya, tiba-tiba Chaerin muncul dan menarik Ethan untuk berdiri, ia juga bahkan menarik Gloria untuk berada di dekatnya
Chaerin berdiri membelakangi Ethan dan Gloria sambil melihat ke segala arah dengan wajah yang gelisah.
"Kenapa kau ada di sini?" Ethan menarik lagi Chaerin supaya wanita itu berbalik dan menghadap ke arahnya tapi Chaerin bersikeras tidak ingin berbalik.
"Ada penembak jitu di sekitar sini, dan mereka membidik kalian berdua" ucap Chaerin bergetar.
Gloria memandang Ethan sesaat dan tersenyum.
"Istrimu sangat lucu" bisik Gloria tepat di samping telinga Ethan.
"Kita harus pergi dari sini"
Chaerin menarik Ethan dan Gloria masuk ke dalam mobil. Sebelum Chaerin juga ikut masuk ke mobil sekali lagi ia melihat ke sekeliling untuk melihat keadaan, saat di rasanya aman, Chaerin bergegas masuk ke dalam mobil dan menyuruh Christina untuk pergi dari tempat itu.
"Aku tidak menyangka pekerjaan kalian jauh lebih beresiko di bandingkan denganku yang seorang gangster" oceh Chaerin sambil dirinya berbalik melihat ke kursi belakang.
"Ya, ada banyak pesaing yang akan mendapatkan keuntungan jika kami mati" Gloria berbohong dan mengikuti alur yang di percayai oleh Chaerin.
"Kalian harus mencari tempat lain untuk bicara, kenapa tidak ke kantor Ethan, di sana pasti lebih aman" usul Chaerin.
"Pembicaraan kami sebenarnya sudah selesai, bisa antarkan aku ke hotel, aku lelah dan butuh istirahat"
Chaerin langsung mengangguk cepat dan segera memerintahkan Christina yang ada di sebelahnya untuk membawa mobil ke arah hotel.
Ethan turun dari mobil untuk mengantar Gloria, sedangkan Chaerin masih berada di mobil bersama Christina.
"Pikirkan tawaranku, aku bisa membuat Arnoldo menjauhi kehidupanmu, asal kau juga melakukan hal yang sama" Gloria berbalik dan masuk ke dalam hotel meninggalkan Ethan.
Ethan mengetuk-ngetuk kaca mobil di bagian pengemudi dan memeita Christina menurunkan kaca.
"Keluar, aku yang akan menyetir, kau pulang naik taxi" ucap Ethan dingin dan langsung di iyakan oleh Christina.
Ethan memacu mobil sangat kencang membuat Chaerin ketakutan dan memegang sabuk pengamannya erat.
"Ethan, kau mau kita mati!" Teriak Chaerin.
"Jangan pernah lakukan hal itu lagi!" Ethan juga ikut berteriak.
"Apa maksudmu? Kenapa kau marah, harusnya kau berterima kasih karena aku menyelamatkan nyawamu"
Ethan menginjak pedal rem dalam-dalam membuat bunyi decitan nyaring karena gesekan ban dan aspal, Chaerin terhempas ke depan dengan keras dan kepalanya terbentur dasboard hingga terluka.
"Ethan!"
"Dengar aku baik-baik!" Ethan mencengkram bahu Chaerin kuat dan menatap langsung ke manik wanita itu.
"Kau bisa lakukan apapun sesuka hatimu terserah saja, tapi jangan pernah mencampuri urusanku, dan jangan pernah mencoba untuk melindungiku, karena aku yang akan melindungimu!"
Chaerin menatap Ethan ketakutan, sekaligus kebingungan, apa sebenarnya yang membuat Ethan bisa begitu marah padanya?
Chaerin mengangguk lemah dan Ethan dengan cepat melepaskan cengkraman nya.
Tidak ada pembicaraan apapun selama di jalan pulang. Ethan juga terlihat lebih tenang dan tidak ada lagi kemarahan di wajahnya.
Chaerin hanya duduk memandang ke arah depan tanpa bicara sepatah katapun, ia masih memikirkan apa yang baru saja di lakukan Ethan padanya, dan tanpa sadar air matanya jatuh satu persatu.
__ADS_1
"Chae kau baik-baik saja?" Ethan Ingin menyentuh Chaerin tapi wanita itu menampiknya.
Dan Ethan sadar bahwa ia baru saja berlaku kasar pada Chaerin di luar kendalinya lagi.