
"Tuan Ethan pergi keluar negeri bersama Sean untuk urusan bisnis, mereka akan kembali dalam beberapa hari" ucap Christopher sambil agak terbata karena ia tidak pernah berbohong sebelumnya.
"Kalau memang mendadak, paling tidak seharusnya dia menelponku langsung. Liat ini, nomernya juga tidak bisa di hubungi" Chaerin menekan tombol calling berkali-kali dengan gusar dan memperlihatkannya pada Christopher.
"Mungkin sinyal di sana sangat buruk" Christopher mencoba untuk menenangkan Chaerin.
"Memangnya dia berbisnis di tengah gurun pasir!"
Christopher tertunduk, ia sudah kehabisan alasan untuk bisa menenangkan Chaerin. Tidak mungkin ia berkata yang sebenarnya bahwa Ethan sedang berada di rumah sakit.
"Apa masuk akal, kami baru menikah kemarin dan dia pergi ke luar negeri. Seharusnya dia membawaku sekalian untuk bulan madu, bukannya malah membawa si putih!" Chaerin mengomel, menyebut Sean dengan kata si putih seakan-akan Sean hewan peliharaan.
"Namanya Sean, tuan Ethan memilihkan nama untuknya dan sebaiknya Anda memanggilnya dengan benar" ucap Christopher dengan nada suara sedikit di tinggikan.
"Agh membuatku kesal saja, kenapa kau sangat sensitif, memangnya dia anakmu! Chris, suruh orang untuk menyiapkan mobil, aku ingin pergi ke rumah sakit mengunjungi Bear"
"Anda tidak boleh keluar rumah selama tuan Ethan tidak ada" ucap Christopher cepat.
Sebelumnya Ethan sempat menelpon dan memerintahkan penjagaan ketat untuk Chaerin karena kemungkinan besar Arnoldo akan mengincar Chaerin. Akan sangat berbahaya jika Chaerin berkeliaran di luar, jadi lebih baik menjaga Chaerin tetap di rumah.
"Aku bisa gila!!"
Chaerin tiba-tiba berdiri dan berteriak, di tatapnya Christopher beberapa saat. Ia sangat ingin memarahi pria tua di hadapannya itu tapi ia tahu bahwa Christopher hanya melakukan apa yang perintahkan Ethan.
Chaerin berjalan sambil menghentakan kakinya keras-keras menuju kamarnya sambil bergumam.
"Awas saja saat si brengsek itu pulang, akan ku patahkan setiap tulang di tubuhnya dan ku jadikan kayu bakar!"
*
Cantik, mempunyai tubuh yang bagus, kulit yang kencang dan bercahaya, orang-orang yang tidak tahu akan mengira bahwa ia masih berusia awal 30an. Tapi sebenarnya hari ini adalah perayaan ulang tahunnya yang ke 54 tahun.
Gloria meniup lilin kuat-kuat dan saat semua lilin mati, teman-teman yang mengelilinginya bertepuk tangan dengan meriah.
Gloria tersenyum sangat bahagia. Ia terlihat sepeti remaja yang sedang merayakan sweet seventeenya.
"Owh astaga aku tidak menyangka kalau kau sudah berumur lebih dari 50" ucap wanita berambut setengah putih memakai stelan peach dan kacamata hitam dengan frame gold.
"Di mana kau merawat kulitmu? Aku juga ingin datang ke sana" ucap wanita lain berbaju merah sambil melambaikan tangannya ke arah teman-temannya, seakan memberi kode bahwa mereka juga mempertanyakan hal yang sama.
"Aku tidak pergi ke dokter manapun, kalian jangan melebih-lebihkan" Gloria sambil tersenyum menanggapi ucapan temannya.
__ADS_1
"Bukankah tidak adil hanya kau yang tampak masih cantik di usia kita sekarang ini"
"Berikan aku rahasia kecantikanmu, aku akan berikan ini sebagai gantinya" wanita berbaju merah menyentuh kalung berlian di lehernya.
"Gloria punya segalanya, hanya kalung berlian tidak berarti apa-apa untuknya, berikan dia penawaran yang lebih baik" wanita lain bertopi bowler menyahut.
"Kalian tidak perlu menawarkan apapun untukku" Gloria mengibaskan tangannya sambil meminum anggurnya dengan anggun.
"Rahasia ku adalah........."
Wanita lain sudah bersiap-siap untuk mendengarkan kelanjutan dari ucapan Gloria dengan memasang telinga mereka baik-baik.
"Makan makanan sehat dan juga olahraga, kalian juga tidak boleh stres, dan hiduplah dengan bahagia"
Ucapan Gloria mendapat sorakan kecewa dari teman-temannya. Mereka mengharapkan Gloria menyebutkan merk suatu produk, atau nama rumah sakit dimana ia operasi plastik, karena itu jauh lebih masuk akal.
"Tentu saja kau tidak pernah stres dan selalu bahagia, kau punya suami yang sangat mencintaimu dan anak tampan yang berbakti, kau sangat beruntung" ucap wanita berbaju peach.
"Agh dia benar, aku sangat iri dengan kehidupan sempurnanya" ucap wanita lainnya dan di iyakan oleh yang lain.
"Kalian bicara apa, itu terlalu berlebihan" ucap Gloria merendah, padahal dalam hatinya ia sedang tertawa senang atas semua pujian yang di tujukan padanya, walaupun kenyataan yang terjadi sangat berbanding terbalik.
Para wanita itu kembali mengobrol sambil tertawa bersama, menikmati anggur dan juga pemandangan matahari terbenam di tepi laut yang indah. Sampai seseorang muncul.
"Kau sudah pulang sayang?" Gloria tersenyum.
Di perbaikinya kerah baju suaminya yang sedikit berantakan.
"Kalian sedang berpesta?" Ucap Arnoldo ramah.
"Ini hari ulang tahunku, kau lupa?" Gloria mencubit lengan Arnoldo pelan.
"Tentu saja aku ingat, itu sebabnya aku pulang lebih awal. Boleh ku pinjam Gloria sebentar, aku baru pulang dari luar negeri dan sangat merindukannya"
Ucapan manis Arnoldo membuat semua orang merasa tersentuh dan dengan cepat mengangguk.
Arnoldo membawa Gloria ke ruangan kosong di lantai dua, di mana tidak akan ada yang bisa mendengar percakapan mereka.
"Apa yang kau lakukan pak tua gila, kau ingin merusak kesenanganku!!!" Teriak Gloria seketika setelah pintu tertutup.
"Di mana Brian?!"
__ADS_1
"Seharusnya aku yang bertanya, kalian pergi bersama beberapa hari yang lalu, kenapa anakku tidak pulang bersamamu?!"
Gloria melipat tangannya, dan mengalihkan pandangannya dari Arnoldo, pertanda ia kesal.
"Anak brengsek itu, ia mungkin akan berkhianat dan membunuhku, jika ia muncul, langsung laporkan padaku, aku yang akan lebih dulu membunuhnya!" Ancam Arnoldo dengan nada tinggi.
"Kau harus bercermin pak tua, coba katakan sekali lagi siapa yang ingin kau bunuh?!"
"Kau tahu Ethan? Anak sialanmu itu berteman dengan Ethan, dia pasti lebih memilih memihak temannya itu dari pada aku, padahal aku adalah ayahnya" Arnoldo menghela nafasnya.
"Kalau kau memang ayahnya, bersikaplah baik layaknya seorang ayah. Dan berhentilah berteriak padaku, anjing tidak seharusnya berteriak pada tuannya!" Gloria mendorong bahu Arnoldo dengan telunjuknya.
"Apa?" Arnoldo menangkap tangan Gloria dan memegangnya kuat.
"Jangan hanya karena kita hidup bersama bertahun-tahun, dan aku memperlakukanmu sebagai suami, kau jadi tidak tahu diri" ucap Gloria sarkastis.
"Wanita brengsek, kau hidup menikmati semua hasil kerja kerasku, seharusnya kau yang tahu diri"
Arnoldo melototi istrinya, ia sudah melepaskan cengkeramannya pada Gloria, tapi tangannya terkepal kuat dan terangkat ke udara hendak memukul istrinya itu. Dan tanpa rasa takut, Gloria malah menyunggingkan senyum untuk mengejek Arnoldo.
"Jangan lupa, ayahku yang memulai bisnis ini, kau di pungutnya dari selokan kotor dan di nikahkannya denganku, hidupmu penuh keberuntungan karena menikah denganku. Semua yang kau makan, semua yang kau pakai, itu semua adalah milikku, bahkan anak buah yang kau pikir sangat setia padamu, mereka semua memihak padaku, jadi perhatikan sikapmu di hadapanku, kau hanya anjing peliharaan yang tidak boleh menggigit majikannya" Gloria mencengkram kerah Arnoldo.
Arnoldo menangkis tangan istrinya dan melepaskan cengkraman wanita itu dari kerahnya. Arnoldo menatap Gloria tajam, ia sangat tersinggung dengan ucapan Gloria, tapi apa yang di ucapkan wanita itu adalah benar, tanpa Gloria dirinya hanya hewan kecil di selokan.
"Dan jangan sekali-kali kau menyentuh Brian, dia anakmu dasar sialan, kau ingin membunuh anakmu sendiri!"
Arnoldo tertawa terbahak sekan ia baru mendengar hal yang sangat lucu.
"Entahlah dia anak siapa, kau tidur dengan banyak pria, saat kita menikah kau sudah hamil. Wanita murahan sepertimu malah berlagak suci di hadapanku dengan memerankan sosok seorang ibu yang baik" tawa Arnoldo semakin tak terkendali.
"Jika aku wanita murahan lalu kau apa?! Kau jahanam yang memanfaatkan amarahku untuk memfitnah wanita yang kau cintai sampai ia masuk penjara dan mati di sana, kau meninggalkan anak perempuanmu terlantar di jalanan dan mati kedinginan. Kau mau bilang kalau kau itu suci?!"
Arnoldo bergetar, matanya memerah dan mulai berair. Segala kenangan dari 20 tahun lalu sekelebat muncul di ingatannya.
"Ingat, kau merangkak kembali padaku dan bersumpah bahwa wanita dan anak itu tidak ada hubungan apapun denganmu, kau membuatku melakukan hal keji karena percaya dengan kebohongan sialanmu itu yang berkata bahwa kau sangat mencintaiku! Aku bukan lagi wanita bodoh yang akan termakan hasutanmu. Dan aku tegaskan sekali lagi, jika kau berani menyentuh anakku Brian, akan ku pastikan, kau akan mati dan ku kuburkan di bawah lantai kamarku supaya aku bisa menginjak-injak mu setiap hari"
Gloria mendorong Arnoldo dan membuat pria itu terhuyung mundur. Ia keluar dari ruangan, menutup pintu dengan keras hingga menimbulkan gema di rumah besarnya.
Dari luar ruangan Gloria bisa mendengar teriakan kesal suaminya dan suara benda-benda di banting, ia sudah membuat Arnoldo sangat marah.
Gloria bersandar lemah pada pintu yang sudah tertutup, satu persatu air mata jatuh membasahi pipinya. Ia memukul-mukul dadanya berusaha menenangkan hatinya yang terasa sakit setiap kali ia bertemu dengan suaminya itu.
__ADS_1
Kenyataan bahwa suaminya tidak pernah mencintainya, kenyataan bahwa suaminya hanya bertahan denganya untuk sebuah kedudukan, bahwa suaminya tidak pernah menganggap Brian adalah anaknya, kenyataan bahwa suaminya mencintai wanita lain bahkan saat wanita itu sudah mati.
Dan yang paling membuat hatinya sakit adalah,kenyataan bahwa ia sangat masih sangat bodoh karena mencintai suaminya sampai dengan hari ini.