
Chaerin berjalan menuju ruang makan untuk sarapan, wajahnya terlihat bengkak dan juga rambutnya berantakan.
Setelah bangun Chaerin langsung meninggalkan kamarnya, bahkan tanpa cuci muka, dirinya sama sekali tidak perduli dengan penampilan, lagipula tidak ada alasan baginya untuk tampil cantik. Chaerin bahkan berfikir mungkin Ethan akan segera menceraikannya jika ia terlihat jelek, itu sebuah keuntungan.
"Selamat pagi nona Chae" salah seorang pelayan menyapa Chaerin sambil menunduk, Chaerin hanya mengangguk untuk meresponnya.
Chaerin duduk di meja makan, dan dengan segera para pelayan satu persatu membawakan makanan untuk Chaerin.
Chaerin di buat takjub dengan banyaknya makanan yang tersaji di atas meja makan, terlalu banyak hanya untuk sarapan. Bahkan ada seekor bebek Peking, memangnya siapa yang mau makan bebek di pagi hari.
Chaerin bersandar pada kursinya, ia tidak ingin membuat keributan pagi ini dengan mengomentari sajian makan pagi yang sangat berlebihan ini. Chaerin mengetuk-ngetukan jarinya ke atas meja, ia sedang menunggu kedatangan Ethan, Sean dan Christopher untuk sarapan bersama, tapi setelah 10 menit menunggu, tidak ada satu orangpun yang muncul.
"Jam berapa ini?"
Chaerin memandang seorang pelayan yang ada di hadapannya.
"Sekarang jam 8 pagi" pelayan itu menjawab dengan sopan.
"Hhmmm apa ini terlalu pagi untuk sarapan? Kemana semua orang?" Chaerin bergumam sendiri.
"Tuan Ethan dan tuan Sean sudah pergi ke kantor sejak jam 7 pagi, sedangkan tuan Christopher pergi ke rumah sakit" tak di sangka pelayan yang mendengar gumaman Chaerin langsung memberikan jawaban.
"Kakek tua itu sakit!"
"Maksud anda tuan Chris? Tidak, hanya pemeriksaan rutin setiap bulan"
Chaerin menghembuskan napasnya lega.
"Aku pikir aku akan kehilangan teman untuk bertengkar"
"Oh ya, apa Ethan selalu pergi ke kantor jam 7? Menurutku itu terlalu pagi" Chaerin memasukan potongan sandwich kedalam mulutnya.
"Tidak, biasanya tuan pergi jam 9 pagi"
Chaerin mengangguk tanda mengerti.
"Siapa namamu?" Chaerin mulai penasaran dengan pelayan yang sedari tadi menemaninya itu.
"Nama saya Christina, saya pelayan yang di tugaskan tuan Ethan khusus untuk melayani anda"
"Agh di brengsek itu, sudah ku bilang aku tidak butuh pelayan!" Chaerin menggerutu.
Chaerin terdiam sebentar, dirinya kehilangan nafsu makannya pagi ini, rasanya aneh jika harus makan sendirian. Dan lagi Ethan seperti sedang menghindarinya. Padahal sebelumnya Ethan selalu mempir ke kamarnya sebelum pergi bekerja, tapi hari ini Ethan pergi sangat pagi dan tanpa berpamitan. Chaerin merasa ada yang aneh.
"Apa dia sedang marah, apa saat di rumah sakit kemarin aku membuat kesalahan?" Pertanyaan itu berputar-putar di Kapa Chaerin dan membuat wanita itu gusar.
"Telponkan Ethan untukku!" Perintah Chaerin.
Christina dengan segera mengambil handphonenya dan memanggil Ethan, lalu menyerahkan handphonenya itu pada Chaerin. Butuh waktu hampir satu menit untuk Ethan mengangkat telpon.
"Terjadi sesuatu pada Chaerin?"
Bukan kata sapaan halo yang di dengar oleh Chaerin saat telpon di angkat, tapi Ethan malah menanyakan keadaannya.
"Aku baik-baik saja, kau pikir apa yang akan terjadi padaku?"
"Chaerin?"
"Ya ya ini aku, kau tahu betapa malunya aku harus meminjam handphone seorang pelayan untuk menelpon? Seharusnya kau memberikanku handphone baru untuk ganti handphone ku yang kau lempar ke laut tempo hari!"
Chaerin mulai mengomel, ia penasaran seperti apa raut wajah Ethan mendengar omelannya yang tidak masuk akal.
"Ya akan aku berikan yang baru" butuh waktu beberapa saat untuk Ethan menjawab.
"Kau di kantor sekarang?"
"Ya"
"Aku bosan, aku akan turun untuk melihat-lihat kantormu"
"Kau ingat perjanjian kita, kau tidak boleh keluar rumah"
"Kau pikir aku akan kabur? Mana mungkin aku kabur sedangkan nyawa Bear ada di tanganmu"
Ethan berfikir sejenak.
"Baiklah, kau boleh turun di temani oleh Christina, kau harus duduk diam di ruangan ku sampai aku datang, mengerti? Berikan telponnya pada Christina"
"Yayaya terserah kau saja, sampai ketemu suamiku" ucap Chaerin di buat-buat.
Chaerin melempar handphone yang di pegangnya pada Christina dan membiarkan Ethan bicara dengan pelayan itu.
Chaerin melangkah keluar dari ruang makan dan pergi ke kamarnya.
"Karena di kantornya akan ada banyak orang, jadi setidaknya aku harus mandi" Chaerin bergumam sepanjang jalannya menuju kamar.
__ADS_1
Di tempat lain.
Ethan menunduk, menutupi wajahnya dengan punggung tangan kiri sedangkan tangan kanannya masih memegang handphone. Dirinya tidak bisa menahan senyum saat mendengar ucapan terakhir Chaerin.
"Dia mengakui ku sebagai suaminya"
Sedangkan para anggota rapat terheran-heran melihat tingkah Ethan yang tiba-tiba berubah menggemaskan.
*
Chaerin dan Christina turun menggunakan lift khusus yang hanya bisa di akses oleh orang-orang yang tinggal di rumah Ethan.
Chaerin berjalan cepat menuju ruangan Ethan, di ikuti oleh Christina di belakang.
Sekretaris Ethan segera berdiri di depan pintu untuk menghalangi Chaerin untuk masuk, tapi saat melihat wajah Chaerin lebih jelas, ia seketika ingat, bahwa wanita yang ada di hadapannya sekarang ini adalah wanita yang datang menerobos masuk membawa senjata beberapa waktu yang lalu.
Sekertaris itu takut kehilangan nyawanya jika ia masih bersikeras untuk menahan Chaerin, tapi ia juga tidak ingin kehilangan pekerjaannya dengan membiarkan Chaerin masuk ke ruangan bosnya.
"Maaf nona Anda tidak boleh masuk" ucap sekretaris Ethan terbata sambil menunduk, ia tidak berani memandang Chaerin, dirinya jelas terlihat takut.
"Namamu Astrid?"Chaerin memandang nametag yang ada di dada wanita itu.
"Ya?" Astrid mengangkat wajahnya.
"Kau harus membiarkanku masuk, atau kau mungkin akan kehilangan pekerjaanmu, aku ini bukan orang yang pengertian" ucap Chaerin mengintimidasi.
"Nona Chae adalah istri dari tuan Ethan, mungkin tuan Ethan belum memperkenalkannya secara resmi tapi, mereka sudah menikah, saya mohon Anda berlaku sopan" Christina maju ke hadapan Astrid dan bicara dengan lemah lembut namun tegas.
Astrid memandang Christina dari atas spai bawah dan menyadari pakaian yang di pakai Christina memang pakaian yang biasa di gunakan oleh pelayan di kediaman Ethan.
Christina menaikan ujung alisnya, sebagai kode supaya sekretaris tuannya itu menyingkir.
Astrid tidak punya pilihan lain selain memberikan jalan dan membukakan pintu kepada dua orang wanita itu. Dirinya berharap dalam hati semoga apa yang di lakukannya ini bukanlah kesalahan.
Chaerin pikir ruangan Ethan kosong, tapi ternyata ada orang lain di sana, seorang wanita berambut hitam panjang memakai gaun pink selutut. Wanita itu terlihat sangat cantik dan anggun.
Sangat berbeda dari dirinya yang hanya mengenakan baju kaos, serta rok tube hitam, ia juga mengenakan kacamata hitam karena terlalu malas memakai riasan mata. Dirinya terlihat seperti wanita jalanan di bandingkan istri seorang ceo nan kaya raya.
Chaerin ingat betul siapa wanita itu, Chaerin bertemu dengannya di tempat yang sama seperti sekarang, wanita itu adalah Mona Shine.
"Kau wanita gila yang menerobos masuk tempo hari, kenapa kau ada di sini!" Mona berteriak histeris.
Dua orang bodyguard Mona yang juga berada di ruangan itu langsung siaga memasang badan di depan Mona.
Chaerin tersenyum sinis dan berjalan menuju meja kerja Ethan lalu duduk di kursi kebesarannya. Bagaimanapun juga, Ethan itu adalah suaminya jadi tidak ada satu orangpun yang bisa melarangnya untuk duduk di sana.
"Kau benar-benar tidak tahu diri, kau pikir siapa dirimu!" Mona berteriak ke arah Chaerin tapi Christina mencoba menghentikan Mona dengan berdiri di depannya sambil menunduk.
"Dengan hormat saya minta anda untuk berlaku sopan kepada nona Chae"
"Bukankah kau pelayan Ethan, wah beraninya kau memerintahku, kau hanya seorang pelayan, harusnya kau sadar diri!"
Mona sudah mengangkat tangannya untuk memukul Christina, tapi ucapan Chaerin menahannya.
"Jika kau berani menyentuhnya dengan tangan kotormu itu, aku akan mematahkan setiap ruas jarimu, kau tahu kan aku ini wanita gila" Chaerin terkekeh sambil berputar-putar di atas kursi Ethan.
"Aku tidak tahu, hubungan apa yang kau miliki dengan Ethan, tapi aku adalah calon istrinya, jadi aku berhak memberikan pelajaran kepada pelayan yang tidak tahu diri, karena pelayan Ethan, adalah pelayanku juga" Mona berucap dengan bangga sambil mengibaskan rambut panjangnya.
"Calon istri?!" Chaerin terlonjak dari kursinya, ia memandang Christina dengan raut wajah meminta penjelasan. Tapi Christina hanya diam tanpa berucap apapun selama beberapa saat.
"Ya, apa kau buta tuli, hubunganku dengan Ethan sudah menjadi berita hangat beberapa hari belakangan ini, jika kau punya tv di rumah, kau mungkin tahu"
Chaerin mengutuk dirinya yang hanya menonton acara home shoping berhari-hari, ternyata menonton acara gosip juga cukup penting.
Chaerin membuka laptop yang ada di atas meja Ethan dan mulai mencari. Dan ternyata memang benar di pencarian teratas, berita tentang kedekatan Ethan dan Mona, bahkan ada berita yang mengatakan Ethan dan Mona sudah menikah dan memiliki anak.
"Si brengsek itu mempermainkan ku?!"
Chaerin melemparkan barang-barang yang ada di atas meja Ethan membabi buta ke segala arah, dirinya merasa di permainkan oleh Ethan.
Memang benar ia selama ini selalu menolak Ethan, berusaha lepas dari pria itu dengan berbagai cara, tapi dalam lubuk hatinya ia juga mencintai Ethan.
Tapi sekarang, di hadapannya, seorang wanita mengaku sebagai calon istrinya, itu membuat Chaerin sangat marah.
"Apa yang kau lakukan!" Ethan baru saja tiba di ruangannya dan mendapati Chaerin mengamuk, ia secara refleks meneriaki Chaerin.
"Kau membentakku?!"
Chaerin berjalan ke arah Ethan dan berhenti tepat di hadapan pria itu.
"Kau brengsek\, sialan\, xx*xxx xxxxx*xxx xxx*xxx xxxx" Chaerin menumpahkan segala kekesalannya terhadap Ethan dengan semua kata kotor yang di hafalnya di luar kepala.
Ethan hanya tertegun mendengar semua sumpah serapah yang di lontarkan oleh Chaerin tanpa tahu di mana letak kesalahannya.
Chaerin menyudahi amukannya dengan tendangan keras pada kaki Ethan. Pria itu meringis kesakitan sambil memegangi kakinya.
__ADS_1
Chaerin segera keluar dari ruangan Ethan diikuti oleh Christina.
"Jangan ikuti aku!" Chaerin berteriak, membuat Christina menghentikan langkahnya.
"Kau meletakan alat pelacak pada pakaiannya?" Ethan memandang Christina masih sambil meringis kesakitan memegangi kakinya.
"Iya tuan" Christina mengangguk pelan.
"Kalau begitu biarkan saja dia, kau kembali saja ke rumah" Ethan mencoba berdiri tegak dan berjalan menuju sofa.
Christina segera mengangguk dan keluar dari ruangan Ethan.
"Siapa wanita gila itu, dia sangat mengerikan, untung aku membawa bodyguard bersamaku" Mona duduk di hadapan Ethan dan memandang pria itu menunggu jawaban.
"Jangan hiraukan dia, kenapa kau ada di sini?" Ethan berucap dingin.
"Aku penasaran siapa dia? Kenapa dia bisa ada di sini, dia bahkan dengan lancang duduk di kursimu" ucap Mona dengan suara yang lembut.
Ethan menekan pelipisnya. Ia sangat ingin memutus hubungannya dengan Mona dengan mengatakan bahwa Chaerin adalah istrinya, tapi ia tidak bisa.
Sekarang bukan waktu yang tepat.
Ethan masih memerlukan Mona untuk bisa membangun kepercayaan ayahnya dan menjalin kerja sama dengan DDshine. Jika Ethan menyingkirkan Mona sekarang, kontrak yang sudah di rencanakan nya jauh-jauh hari bisa gagal dalam semalam.
"Aku sangat sibuk, tolong katakan alasan apa yang membawamu datang ke sini" Ethan memaksakan tersenyum di hadapan Mona walau dirinya sebenarnya sangat ingin menyeret wanita itu keluar.
"Papa ingin mengajak mu makan malam di rumah malam ini, untuk membicarakan masalah pernikahan kita" Mona beralih duduk di sebelah Ethan dan memeluk lengan pria itu mesra.
"Kau sangat cantik nona Shine, kau bisa mendapatkan pria manapun, tapi bukan aku, aku sudah berkata padamu sebelumnya, aku...."
"Aku juga sudah berkata padamu sebelumnya bahwa aku tidak perduli kau mencintaiku atau tidak. Tapi satu hal yang perlu kau ingat, bahwa Gold Medical akan hancur jika kau berani menolakku"
Ethan menghela napas mendengar ancaman Mona, dirinya jadi semakin jijik dengan wanita yang ada di sebelahnya itu.
"Pergilah, aku akan datang malam ini untuk makan malam"
Ethan berdiri, menepis tangan Mona yang masih memeganginya.
"Aku akan tampil cantik nanti malam, aku harap kau akan datang dengan membawa sesuatu, cincin misalnya" Mona tersenyum manis, mengelus pipi Ethan dan mencium bibir pria itu singkat.
*
Chaerin keluar dari ruangan Ethan dengan menghentakan kakinya keras-keras, ia berharap Ethan akan mengejarnya dan menenangkannya dengan berkata bahwa semuanya tidak benar, tapi nyatanya Ethan sama sekali tidak mengejarnya.
"Astrid!"
Teriakan Chaerin mengagetkan Astrid, wanita itu langsung berdiri.
"Di mana ruangan si putih pucat?"
"Putih pucat? Siapa?" Astrid memiringkan kepalanya bingung, siapa sebenarnya yang di maksud oleh Chaerin.
"Asisten Ethan, Sean, yang alis dan bulu matanya berwarna putih!"
"Tuan Sean? Ruangannya ada di ujung lorong"
Chaerin segera menuju ke tempat yang di tunjukan oleh Astrid masih dengan menghentakan kaki.
Chaerin dengan kasar membanting pintu ruangan Sean dan mendapati pria itu sedang duduk santai sambil menonton tv.
"Kau di gaji untuk menonton little t-rex?" Chaerin masuk ke ruangan Sean dan duduk di sebelah pria itu.
"Ini film kesukaanku, aku selalu menontonnya setiap hari" ucapan polos Sean berhasil membuat Chaerin tersenyum.
"Tanpa bosan?"
Sean mengangguk semangat.
"Mau makan denganku? Ku tebak kau belum sarapan karena pergi ke kantor sangat pagi"
"Aku membencimu, kenapa aku harus sarapan denganmu, ajak saja tuan Ethan, ia juga belum sarapan"
"Tidak perlu mengajaknya, dia sedang bersenang-senang bersama calon istrinya, aku rasa dia tidak perlu sarapan karena sudah kenyang makan cinta" ucap Chaerin ketus.
"Calon istri, siapa?"
"Kau tidak tahu? Mona Shine, semua media mengabarkan kedekatan mereka berdua dan rencana pernikahan mereka, aku bodoh karena baru tahu sekarang" Chaerin melenguh dan menyandarkan dirinya ke sofa.
"Nona Shine adalah wanita yang buruk, tuan Ethan sama sekali tidak menyukainya, aku dan Christopher juga tidak menyukainya" Sean bicara dengan mata yang masih tertuju pada tv.
"Benarkah?" Wajah Chaerin seketika berbinar.
Sean hanya mengangguk sekenanya.
"Ayo kita sarapan, aku akan menyuapimu makan, makanan di kantin kantor ini pasti enak, tapi kau yang harus mentraktir ku karena aku tidak punya uang"
Chaerin menarik lengan Sean semangat. Sepertinya Sean tidak terlalu buruk untuk di ajak berteman.
"Tapi mungkin saja tuan Ethan akan menikahi Mona, di bandingkan denganmu, Mona jauh lebih menguntungkan, lagipula tidak masalah seorang pria punya banyak wanita di sisinya"
__ADS_1
Chaerin menghempaskan tangan Sean. Chaerin pikir Sean adalah anak yang polos, ternyata dugaannya salah.