
Ethan melepaskan jas yang di pakainya dan menggantungnya pada stand hanger yang tepat berada di samping pintu.
Di lemparannya tubuhnya pada sofa dan bersandar, wajahnya menengadah ke atas melihat langit-langit ruangan yang di cat keemasan dengan corak bunga juga lampu-lampu yang redup.
Ethan baru pertama kali melihat Chaerin secara langsung tapi dia merasa penasaran karenanya. Selama ini dia hanya mendengar Chaerin dari Ronan, Ronan adalah orang kepercayaannya yang bertugas untuk memimpin Gold Dragon sedakangkan Ethan sendiri hanya menjadi bayangan.
Ronan selalu membanggakan Chaerin di hadapannya, bagaimana kuatnya wanita itu, begitu keras kepalanya dan bagaimana Chaerin sangat bertekad untuk bisa bekerja padanya.
Melihat dirinya begitu keras pada pendiriannya, tidak ada satu priapun yang berhasil menyentuhnya sejauh ini, padahal jika yang di inginkan nya adalah uang, menjadi pelacur di tempat ini adalah jawaban yang tepat.
"Sepertinya dia punya alasan lain" gumam Ethan. Ia lalu bangkit, berjalan mondar-mandir menunggu Chaerin datang. Dia tidak sabar untuk mendengar penjelasan dari wanita itu.
"Maaf anda menunggu lama tuan"
George datang bersama Chaerin yang di pegang secara paksa oleh beberapa orang pria, wanita itu di dorong masuk dengan kasar. Dan seperti biasa mereka langsung pergi dan mengunci pintu dari luar.
Ethan menyipitkan matanya, menatap Chaerin dengan perhatian penuh.
"Dia terlihat tidak asing" Ethan bergumam pelan.
Seketika perasaannya menjadi agak tidak nyaman, entah kenapa dia merasa jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya, dan itu terjadi tiba-tiba.
"Ethan artinya kuat dan berani"
Tiba-tiba sebuah kalimat terbersit di kepala Ethan. Kalimat yang di ucapkan seorang gadis kepadanya 20 tahun yang lalu.
Ethan tersenyum, ingatannya kembali ke masa 20 tahun yang kalau, saat ia pertama kali bertemu dengan Chaerin.
"Aku mengingatmu, kau sudah dewasa sekarang" ucap Ethan tanpa sadar.
Ethan menyentuh dadanya perlahan, merasakan degup jantungnya dengan tangannya sendiri yang semakin lama semakin cepat seketika saat Chaerin memandangnya.
"Aku tidak pernah memiliki riwayat penyakit jantung kan" masih dengan memandangi Chaerin Ethan meyakinkan dirinya bahwa ia baik-baik saja.
Wanita di hadapannya terlihat sangat cantik, dengan dress ketat berwarna merah, rambut pirangnya di gerai cantik, wajahnya di poles makeup yang mampu menyamarkan bekas lebam di wajahnya, dan bibirnya di poles dengan lipstik merah terang yang membuat Chaerin begitu menggoda.
Ethan bahkan lupa untuk mengedipkan matanya, pesona Chaerin sudah menghipnotisnya, membuat siapa saja yang melihat wanita itu jadi sangat ingin memilikinya. Padahal baru beberapa menit yang lalu Ethan melihat Chaerin saat dia masih sangat berantakan.
Tapi saat melihatnya secara langsung seperti ini, Ethan menjadi tidak berdaya.
"Kau persis seperti anjing yang meneteskan air liur saat melihat daging di tempat sampah!"
Jelas sekali Chaerin merasa tidak nyaman dengan tatatapn Ethan yang seperti akan memakannya hidup-hidup. Di mata Chaerin, pria yang sekarang sedang tertegun di depannya ini sama seperti pria lainnya yang hanya membutuhkan tubuh wanita untuk memuaskan napsunya.
Ethan dengan cepat memalingkan wajahnya, berpura-pura menatap lampu kristal yang tergantung di atasnya. Sangat terlihat bahwa itu hanya sebuah alasan.
Chaerin menatap Ethan penuh dengan penghinaan dan tersenyum sambil menyilangkan tangannya.
"Kau mengibaratkan dirimu sendiri seperti daging di tempat sampah? Lucu sekali" senyum Ethan yang hangat sedikit membuat Chaerin goyah. Selama sebulan ini baru sekarang ada pria yang menatapnya sambil tersenyum tulus, biasanya Chaerin hanya menerima seringai menakutkan bak serigala yang lapar.
"Bukankah tempat ini adalah tong sampah besar yang berisi makhluk kotor sepertimu tuan Ethan?"
Ucapan Chaerin membuat Ethan terkejut, dia tidak pernah berpikir jika Chaerin mengenalinya, apa dia mengenalinya sebagai GD? padahal Ethan sudah bersusah payah untuk tidak menunjukan wajahnya pada saat di sedang menjalankan bisnis kotornya. Menunjukan wajah sama dengan kau melemparkan setumpuk kertas berisi data dirimu, pada jaman sekarang semua orang bisa tahu siapa kau hanya dengan melihat wajahmu.
"Kau mengenaliku?"
"Tentu saja, kau CEO dari Gold Medical, pantas saja aku sangat familier dengan wajahmu. Berita tentangmu yang memberikan bantuan besar untuk korban bencana alam bertahan selama seminggu penuh. Aku tidak menyangka malaikat sepertimu datang ke tempat ini"
"Apa yang aku pikirkan, tentu saja dia tidak mengetahui jika aku adalah GD"
Ethan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Ia tersenyum malu pada dirinya sendiri yang sudah berpikiran sangat dangkal, mengira bahwa Chaerin tahu dirinya yang sebenarnya.
"Karena kita berdua ada di tempat ini, itu berarti kita berdua adalah sampah, jadi bisakah kita paling tidak bersalaman untuk pertemuan yang buruk ini?" Ethan menjulurkan tangannya untuk bersalaman dan di tepis oleh Chaerin dengan kasar.
Ini adalah penolakan pertama bagi Ethan. Biasanya dia tidak pernah mengulurkan tangannya terlebih dahulu untuk seorang wanita, selalu wanita yang memulainya, mencari perhatian darinya dan lalu menempel seperti lintah. Tapi wanita di hadapannya berbeda, bahkan setelah dia tahu bahwa pria yang di hadapannya adalah CEO dari perusahaan besar, ia tetap angkuh dan sombong. Dan Itu membuat ketertarikan sendiri bagi Ethan.
"Kau mau kemana?"
Ethan meraih tangan Chaerin dan menahannya saat Chaerin berbalik menuju pintu, Ethan sudah bisa menebak apa yang akan di lakukan oleh Chaerin, tapi ia tidak ingin wanita itu pergi begitu saja setelah pertemuan yang singkat.
Mungkin ini hanya rasa penasaran yang besar akan wanita itu, atau memang Ethan merasakan hal yang lain yang membuatnya ingin bisa lebih lama bersamanya.
"Tentu saja pergi, kau pikir aku akan membuka pakaianku satu persatu dan menunjukan tubuhku padamu? Kau pikir aku sudi!"
Ucapan sarkastis dari Chaerin tidak membuat Ethan menyerah untuk menahannya, dalam kepalanya Ethan sedang memikirkan cara supaya Chaerin tetap tinggal tapi bukan secara terpaksa.
"George mungkin akan memukulimu lagi jika kau keluar sekarang"
"Kau pikir aku takut pada George, kau salah tuan, aku tidak takut pada siapapun, termasuk pada George dan juga dirimu. Jadi coba saja halangi aku dan kau akan mati di tanganku"
Tatapan Chaerin yang tajam dan ancaman sama sekali tidak membuat Ethan takut, dia malah merasa gemas dengan sikap Chaerin. Pertama kalinya dalam seumur hidup ada wanita yang berani bicara sekasar itu padanya.
Untuk orang yang tahu sifat aslinya, Ethan adalah orang yang gampang tersinggung dan pemarah, tapi entah kenapa Chaerin dengan begitu mudahnya bisa mengambil hati seorang Ethan. Ethan baru pertama kali merasakan perasaan seperti ini, selama ini tidak ada satupun wanita yang berhasil menembus tebalnya dinding yang di bangun Ethan pada hatinya.
Siapa sangka, wanita yang jauh dari kesan feminim dan sisi lembut, bisa merobohkan dinding itu hanya dalam beberapa menit tanpa sengaja.
"Jika bisa lebih baik menghindarinya, aku tahu kau tidak takut siapapun, menghindar bukan berarti takut. Dan lagi ku lihat lukamu belum sembuh, jika kau di pukul lagi mungkin akan menjadi lebih buruk"
Chaerin memandang Ethan dengan penuh rasa curiga, belum ada orang yang sebaik ini padanya sebelumnya kecuali orang-orang terdekatnya.
__ADS_1
Mendengar orang asing yang bicara dengan penuh pengertian membuat Chaerin menjadi lebih takut untuk tetap tinggal.
Tapi wajah pria di depannya sangat bersahabat dan hangat, terlihat tidak ada niat jahat sedikitpun pada dirinya. Walaupun Chaerin tetap harus berhati-hati, bisa saja wajah ramahnya hanya tipuan.
"Kita bisa mengobrol semalaman, aku berjanji tidak akan melakukan hal lain, hanya mengobrol" sekali lagi Ethan mencoba meyakinkan Chaerin dengan memegang lengannya, meski dia tidak yakin wanita di hadapannya itu akan percaya padanya.
Sekali lagi Chaerin menepis tangan Ethan, tapi bukannya berjalan menuju pintu, Chaerin malah berjalan menuju sofa dan duduk manis di sana dengan kaki terangkat ke atas meja, membuat roknya sedikit terangkat.
Dengan sigap Ethan meraih jas yang di gantungnya dan memberikannya pada Chaerin untuk menutupi kakinya.
"Lain kali pakai pakaian yang lebih tertutup, atau aku mungkin tidak akan bisa menahan diriku jika kau melakukan itu sekali lagi"
Perlakuan lembut dari Ethan tidak mendapat respon yang baik dari chaerin. Wanita itu menurunkan kakinya dari meja dan melempar jas Ethan ke lantai lalu menginjaknya menggunakan heels yang di pakainya.
"Kau pikir aku akan tersentuh karena perlakukanmu ini"
Chaerin mendengus meremehkan, tapi Ethan tidak merasa tersinggung sedikitpun, atau mungkin belum. Siapa yang tahu kapan Ethan akan meledak jika kemarahannya terus di pancing dengan sikap Chaerin yang mulai keterlaluan.
"Apa kau sudah makan?" Ethan mencoba untuk berbasa-basi, mengabaikan jas mahalnya yang sudah menjadi lap lantai di bawah kaki Chaerin.
"Apa pedulimu?!"
"Hanya bertanya, aku lapar jadi aku akan memesan makanan, kau ingin sesuatu?"
"Tidak, kau bisa lakukan apapun dan abaikan saja aku, anggap aku tidak ada"
Ethan hanya mengangguk seadaanya. Sebelumnya George berkata kalau Chaerin sudah di kurung di dalam kamarnya selama dua hari, tanpa makan, jadi Ethan sangat ingin mengajak wanita di hadapannya itu makan, Chaerin mungkin akan mati jika tidak makan lebih dari ini.
Ethan menekan tombol pada telpon dan langsung tersambung dengan orang di seberangnya.
"Bawakan aku pizza"
"Kau ingin Vodka atau bir?"
Pertanyaan Ethan di balas gelengan malas oleh Chaerin. "Aku tidak minum!"
"Kalau begitu bawakan saja Earl grey, ah dan juga obat dan plester untuk luka"
"Baik tuan, akan segera akan kami antar kan ke ruangan anda"
"Aku pikir orang kaya sepertimu akan makanan steak dan minum wine mahal"
"Aku sangat lapar dan steak adalah pilihan yang buruk" ucap Ethan santai sambil kembali duduk di hadapan Chaerin. "Bukankah kita belum berkenalan dengan resmi" untuk kesekian kalinya, Ethan menjulurkan tangannya, tapi lagi-lagi di tepis oleh Chaerin.
"Panggil saja aku Chaerin, dan aku sudah tahu bahwa kau adalah Ethan, jadi kita tidak perlu bersalaman"
Ethan menarik tangannya dan hanya duduk diam untuk beberapa saat, sampai pada akhirnya pelayan membawakan makanan pesanannya.
Chaerin menatap makanan di hadapannya dengan mata berbinar, bayangkan saja, dia tidak makan selama dua hari dan sekarang ada makanan lezat di hadapannya. Jika tidak terjebak di tempat pelacuran ini dia pasti bisa makan pizza sesuka hatinya kapaun dia mau.
"Nah ini juga" segelas Earl grey mendarat di hadapan chaerin dengan uap panas yang masih mengepul.
"Kau takut ini beracun? Aku akan meminumnya lebih dulu" Ethan menegak tehnya dan menunjukan gelas kosong kepada Chaerin sambil tersenyum.
"Jika kau memaksa aku akan memakan semuanya"
Tanpa ada rasa malu sedikitpun Chaerin langsung mengambil sepotong pizza dan memakannya dengan lahap. Ethan memandang Chaerin yang sedang makan dengan senang, dia tidak pernah membayangkan sebelumnya bahwa hanya dengan melihat seseorang makan bisa membuat perasaannya sebahagia ini.
Tiba-tiba tanpa Chaerin sadari, Ethan beralih duduk di sebelahnya, meraih tangan wanita itu.
Chaerin langsung menarik tangannya dari Ethan dan bersiap untuk memukul pria itu, tapi Ethan menahannya dengan kuat.
"Kau harus menjaga dirimu dengan baik" Ethan mengoleskan obat pada luka yang ada di tangan Chaerin, luka itu sebelumnya hanya di tutup plester yang sudah mulai terkelupas, Chaerin pasti tidak pernah mengganti plesternya setelah pertama kali memakainya.
Chaerin cukup tersentuh dengan perlakukan lembut dari Ethan, jadi dia membiarkan pria itu mengobati lukanya yang lain sampai selesai, tanpa ada protes sedikitpun.
"Seharusnya obati luka-luka mu dengan benar" Ethan melotot pada Chaerin sambil mengomel.
"Aku terlalu sibuk untuk melakukannya!" Chaerin menjawab ketus.
"Sibuk?"
"Yaa aku sibuk mencari cara untuk bisa kabur dari tempat hina ini, dan juga memikirkan cara untuk bisa membunuh GD saat aku bertemu dengannya nanti"
"GD?" Ethan memasang wajah bingung yang di buat-buat, seakan dia belum pernah mendengar nama ini sebelumnya.
"Kau tidak tahu GD? Dia pimpinan mafia bodoh yang membuangku ke tempat sampah ini. Si sialan itu, jika aku bertemu dengannya akan ku buat dia berlutut memohon maaf padaku"
Ethan mengangguk seakan ikut mendukung, padahal di dalam hatinya dia sedang menahan rasa menyesalnya, siapa yang tahu ia akan jatuh hati pada pandangan pertama dengan wanita yang sebelumnya di remehkannya.
"Aku yakin dia hanya pria bodoh tanpa pernah mengunakan otaknya" chaeirn kembali memaki.
Jika yang mengatainya itu adalah orang lain, sudah pasti Ethan akan menghajarnya, bahkan bisa di pastikan nyawanya tidak akan bisa di selamatkan.
Tapi lain cerita jika yang memakinya salah wanita yang berhasil menjinakan hatinya seperti Chaerin, bukan amarah, tapi rasa bersalah dan rasa takut yang muncul, takut jika Chaerin akan membencinya jika mengetahui kebenaran tentang dirinya.
"Dia pasti sangat menyesal sudah membuatmu berada di tempat ini" ucap Ethan jujur, yang langsung dari lubuk hatinya.
"Apa kau pikir rasa menyesal itu cukup, walaupun dia berlutut aku tidak akan memaafkan si brengsek itu. Aku di tipu, oleh si brengsek yang sudah ku anggap teman, padahal aku sudah sangat percaya padanya" Chaerin membuang napasnya kasar.
__ADS_1
"Kau tidak boleh percaya pada siapun di dunia ini"
"Tentu saja, aku sudah belajar banyak tentang kepercayaan, aku juga tidak percaya padamu, walaupun kau bersikap baik"
"Iya, aku bukan orang yang bisa di percaya, aku mengakuinya, jadi jangan percaya padaku"
Ethan bangkit berdiri, mengambil jasnya yang berada di lantai, bentuknya sudah tidak keruan, jas armaninya yang berharga ribuan dolar sekarang hanya jadi segumpal sampah. Ethan meletaknnya kembali ke lantai, tidak mungkin dia akan memakai benda itu lagi.
"Aku sangat senang mengobrol denganmu nona Chae, tapi aku harus pergi sekarang"
Ethan berjalan menuju pintu diiringi tatapan Chaerin yang seakan mengatakan 'jangan pergi', wanita itu juga sudah mulai nyaman, Ethan satu-satunya orang asing yang peduli padanya. Dan Chaerin merasa memiliki teman untuk mendengarkan segala kekesalannya.
Saat berada di ambang pintu, Ethan berbalik dan memandang Chaerin cukup lama.
"Aku menyukaimu nona Chae, aku akan kembali lagi besok"
Pintu tertutup, Ethan sudah pergi, Chaerin tidak bisa menyembunyikan senyumnya, karena ucapan terakhir dari Ethan.
Ia akan bertemu pria itu lagi besok.
*
"Kau yang merekomendasikannya padaku, tapi kau bahkan tidak tahu alasannya?!" Teriakan Ethan membuat seisi ruangan hening, bahkan Sean yang berdiri di sebelah Ethan tidak bersuara sedikitpun, padahal dia biasanya selalu menjelaskan segala sesuatunya kepada tuannya.
Ronan berdiri menunduk melihat ke arah kakinya yang memakai sepatu boots penuh debu. Dia ingin menjawab tapi takut jika jawabannya akan membuat Ethan semakin marah padanya.
"Kau tidak menjawab ku? Apa sekalian saja ku potong lidahmu supaya kau tidak akan pernah bisa bicara lagi untuk selamanya?"
Ancaman Ethan ampuh membuat Ronan mengangkat kepalanya, mulutnya terbuka perlahan untuk memberikan penjelasan.
"Maafkan saya tuan, tapi saya tidak yakin apa saya boleh mengatakan hal ini, nona Chae tidak suka jika orang ikut campur dalam masalahnya" Ronan kembali menunduk.
Dalam lubuk hati yang paling dalam, Ronan bersimpati dan menaruh perhatian lebih pada Chaerin, wanita itu sangat tangguh, dia punya kemauan kuat dan keras kepala. Selama ini hidupnya juga tidak mudah.
"Kau sepertinya lupa, kau bekerja untuk siapa, aku sangat benci penghianat"
"Tidak tuan, maksud saya bukan seperti itu, saya hanya....."
"Sean, potong sebelah kakinya"
"Baik tuan" Sean berjalan mendekati Ronan dan bersiap menyeret pria tua itu pergi ke ruangan lain untuk di potong kakinya.
"Balas dendam, ibunya di hukum mati karena menjadi pelaku pembunuhan, tapi itu semua hanya fitnah yang tidak berdasar, jadi dia ingin balas dendam" ucapan Ronan menghentikan langkah Sean.
Sean menengok ke belakang dan memandang Ethan yang memberinya isyarat untuk mundur.
"Balas dendam? Pada siapa?" Ethan mulai penasaran.
"Saya tidak tau tuan"
Sean kembali bergerak maju, mencengkram kerah Ronan dan membuat pria pendek itu tergantung di udara.
"Sungguh, saya tidak tau tuan" Ronan berbicara tercekat karena kesulitan bernapas.
"Turunkan dia Sean, dia bisa mati. Jika dia mati, siapa yang akan mengurus Gold Dragon untukku"
Sean melemparkan Ronan ke lantai, dia berbalik dan kembali ke posisinya semula berdiri diam di sebelah Ethan.
"Saya bisa mengurusnya untuk Anda tuan"
"Tidak Sean, semua orang tahu bahwa kau adalah asisten dari Ethan Zie CEO Gold Medical, akan sangat berbahaya jika kau terlibat langsung menangani Gold Dragon"
Sean mengangguk setuju tanpa ada protes apapun setelahnya. Pernyataan dari tuannya memang benar adanya.
"Kau boleh pergi keparat tua, lakukan pekerjaanmu dengan baik" Ronan membungkuk rendah dan mengucapakan terima kasih sebelum keluar ruangan dengan hati yang lega bahwa dia tidak mati hari ini.
"Dan kau brengsek"
George yang sedari tadi hanya berdiri mematung di sebelah Ronan mengangkat kepalanya, menatap Ethan gemetaran.
"Mulai sekarang perlakukan Chaerin dengan baik, dan hanya pertemukan dia denganku, kau mengerti?"
Tatapan mata Ethan yang mengintimidasi membuat nyali George ciut dan kembali menunduk, dia tidak berani menatap kembali Ethan.
"Baik tuan, maafkan saya"
George berlutut di hadapan Ethan, pria itu sadar akan kesalahannya yang telah memukuli Chaerin, dia pikir selama ini Chaerin sama dengan pelacur lain yang perlu untuk di beri peringatan keras saat membangkang. Tapi ternyata Chaerin jauh lebih istimewa.
"Kau juga boleh pergi" George meninggalkan ruangan dengan cepat, setelah membungkuk. Dia sama leganya dengan Ronan yang berhasil selamat dari maut.
"Sean, cari tahu segala sesuatu tentang Chaerin, sedetail mungkin, dan laporkan segera padaku"
"Ya tuan" Sean menunduk patuh, dan keluar ruangan, meninggalkan Ethan sendirian.
Ethan bersandar dengan nyaman pada kursinya dan menutup matanya. Tanpa sadar wajah Chaerin terlintas di kepalanya.
Ethan refleks terduduk tegap dan tertawa, membayangkan betapa bodohnya dia hanya karena wanita itu.
Tapi seketika tawanya berubah menjadi raut wajah khawatir.
__ADS_1
"Aku harus menyembunyikan identisaku sebagai GD untuk selamanya dari Chaerin"