
8 tahun kemudian
Tumpukan kertas tinggi yang ada di atas meja kerja menghalangi pandangan Ethan untuk melihat siapa yang ada di ambang pintunya.
Ruangan kerja Ethan yang sangat gelap, dengan hanya lampu di atas meja kerja yang di nyalakan membuat Ethan tidak bisa menebak siapa yang berani masuk ke ruang kerjanya tanpa mengetuk pintu.
"Tuan, ini sudah pagi, anda sudah berjaga semalaman, ini sudah waktunya untuk istirahat" Christopher bersuara pelan sambil mendorong pedal kedepan supaya kursi rodanya bergerak maju.
Pria tua itu tak lagi kuat untuk berdiri, sejak dua tahun belakangan kesehatannya memburuk dan ia sering keluar masuk rumah sakit.
"Bukankah kau yang seharusnya istirahat, jaga kesehatanmu dengan baik, kau tidak boleh mati tanpa seizinku"
Ethan berdiri dari kursi kerjanya dan berjalan mendekati Christopher, ia kemudian mendorong kursi roda keluar dari ruang kerjanya, menuju lantai satu di mana kamar Christopher berada.
Nick, pelayan yang di tugaskan Ethan untuk menjaga Christopher terlihat sedang tertidur di sofa di kamar Chris, sambil memegangi sebuah buku karya Jacoba van Velde, buku yang dulunya adalah milik Sean, hadiah ulang tahun yang ke sepuluh dari Ethan.
Ethan menendang meja dan membuat sedikit keributan untuk membangunkan Nick.
Nick yang masih setengah sadar dari tidurnya terlonjak kaget saat melihat Ethan, ia langsung berdiri tegap sambil sesekali menguap.
Ethan sudah bersiap mengangkat tangannya untuk memukul Nick, tapi Christopher memegangi ujung lengan baju Ethan, sambil menggelengkan kepalanya.
"Jangan salahkan dia, dia terlalu lelah untuk menjagaku 24 jam" ucap Christopher sambil terbatuk.
Dengan sangat terpaksa Ethan menurunkan tangannya dan membuang nafasnya kasar, di pandanginya Nick yang memang terlihat kelelahan itu dari atas hingga bawah.
"Maaf tuan" ucap Nick tertunduk.
Nick baru berusia 13 tahun, Ethan menemukan Nick tergeletak di pinggir jalan mengenakan pakaian tipis saat musim dingin. Sean dan Christopher bersikeras untuk membawa Nick pulang dengan alasan kemanusiaan. Dan kebetulan Christopher baru keluar dari rumah sakit dan memerlukan seseorang untuk menjaganya.
"Aku akan mempekerjakan satu orang lagi supaya kalian bisa bergantian menjaga Christopher. Jadi jaga Christopher dengan benar, atau aku akan melemparmu dari atap Gold Tower supaya kepalamu pecah dan otakmu berhamburan di trotoar jalan" ucap Ethan dingin.
Nick mengangguk dengan tubuh yang gemetar. Untuk anak seusianya mendapatkan ancaman pembunuhan bukanlah hal yang wajar dan membuat ketakutan tersendiri baginya.
"Dan kau, jadilah orang tua yang baik dan dengarkan perkataan dokter, berhenti berkeliaran dengan tubuh lemahmu itu!" kali ini Christopher yang mendapat omelan dari Ethan.
Christopher hanya tersenyum dan mengangguk perlahan.
Ethan sudah berniat untuk kembali ke ruang kerjanya, tapi ternyata Sean sudah menunggunya di depan kamar Christopher dengan sedikit senyum yang tersungging di bibirnya.
"Ini masih pagi, kau seharusnya berada di kantor, jangan bertindak sesukamu hanya karena aku mempercayakan perusahaan padamu" ucap Ethan berlagak sinis, padahal ia cukup penasaran kenapa Sean yang jarang tersenyum malah tersenyum sekarang.
Seketika senyum di wajah Sean hilang, ia kembali memasang wajah tanpa ekspresi seperti biasanya dan menunduk.
Sejak kepergian Chaerin psikologis Ethan tidak terlalu stabil, ia mengundurkan diri dari perusahaan dan menunjuk Sean sebagai penggantinya, banyak dari anggota direksi yang berdebat dengan keputusan tidak masuk akal Ethan, mengingat Sean memiliki keterbatasan berfikir di luar dari sindrom savant yang di deritanya, yang membuatnya jenius angka.
Tapi Ethan tetap pada keputusannya, dan sampai sekarang, Sean sudah membuktikan bahwa dirinya mampu di sandingkan dengan orang normal lainnya, walaupun kadang Sean membuat sedikit kesalahan pada pekerjaannya, tapi masih bisa di tolerir.
"Katakan ada apa?" ucap Ethan sambil berjalan diikuti oleh Sean di belakang.
"Ronan, meninggal dua tahun yang lalu" ucap Sean pelan.
Ethan menghentikan langkahnya, berbalik menghadap Sean dan meremas bahu Sean dengan kedua tangannya.
"Aku sudah pernah mengajarimu sebelumnya, bahwa kau tidak boleh terlihat senang saat hal buruk terjadi kepada orang baik yang dekat dengan dirimu, kau harusnya merasa sedih" Ethan membuang nafasnya.
__ADS_1
Ethan pikir bahwa kemampuan kognitif Sean sudah berkembang pesat, tapi ternyata ia masih tidak bisa mengekspresikan dirinya dengan benar.
"Bukan itu yang membuat saya tersenyum" ucap Sean polos.
Ethan segera mengangkat kepalanya menunggu Sean mengatakan kalimat selanjutnya.
"Seseorang yang saya tugaskan untuk mengawasi Ronan berkata bahwa Ronan pergi ke jepang setelah ia mengundurkan diri dari Gold Dragon 8 tahun yang lalu, dan tinggal di rumah peninggalan orang tua Rika. Setelah itu kita tidak pernah lagi mengawasi Ronan karena sibuk menyelami lautan untuk mencari nona Chae"
Ethan menyimak dengan seksama, dan mencoba untuk mencari inti dari cerita Sean.
"Sampai tiga tahun yang lalu seseorang melihat Ronan bersama dengan seorang anak perempuan berusia sekitar 4 atau 5 tahun, saya mengabaikannya karena saya rasa itu bukan sesuatu yang penting. Tapi tadi pagi salah satu orang kita mengirimi saya email dan mengatakan bahwa Ronan sudah meninggal 2 tahun yang lalu, ia juga mengirimkan foto altar tempat abu Ronan di simpan"
Sean menyerahkan ponselnya dan menunjukan sebuah foto.
Di foto itu terdapat abu Ronan di dalam sebuah lemari kaca dan juga sebuah foto Ronan dengan seorang anak perempuan berambut hitam yang sedang tersenyum lebar memegang lolipop besar.
Di samping foto itu juga terdapat sebuah post card dengan coretan spidol warna warni membentuk gambar empat orang yang bergandengan tangan, dengan tulisan mama, Mapel, Jiji, uncle.
"Aku sekarang paham, kau senang karena sebelum meninggal Ronan ternyata punya keluarga yang sayang padanya, kau anak yang baik" Ethan menepuk-nepuk bahu Sean bangga.
"Bukan itu!" Sean menepis tangan Ethan dan meninggikan nada suaranya karena kesal.
"Kau berteriak padaku?!"
Sean mendengus, lalu memperbesar foto yang ada di ponselnya dan menyorot anak perempuan di samping Ronan.
"Anak ini memakai kalung yang pernah anda berikan pada nona Chae, ini bukan kalung yang bisa di temukan di sembarang tempat, anda meminta seorang pengrajin perhiasan membuatkan kalung yang hanya ada satu di dunia" Sean menjelaskan panjang lebar.
Ethan merebut ponsel Sean dan melihat gambar itu dengan lebih teliti.
"Cari anak ini, temukan dia bagaimanapun caranya" perintah Ethan dengan mata berair.
"Saya sudah menyuruh orang untuk memeriksanya, tapi tempat di mana Ronan dulu tinggal sudah tidak ada, di gantikan dengan gedung pusat perbelanjaan, orang-orang yang dulu tinggal di sekitar sana bilang mereka sudah meninggalkan jepang" ucap Sean dengan nada kecewa.
"Aku bilang temukan anak itu, aku tidak memintamu memberikan alasan!!!" tiba-tiba emosi Ethan meledak, senyum yang tadinya merekah sirna di gantikan dengan tatapan mata yang tajam menusuk.
"Tapi tuan"
Belum selesai Sean bicara, Ethan menapar Sean berkali-kali tanpa sedikitpun Sean berniat untuk menghindar.
"Kenapa kau selalu membuat alasan, kenapa kau tidak bisa bekerja dengan benar, kau membuatku muak, aku sudah cukup bersabar membesarkan idiot sepertimu!"
Teriakan Ethan membuat seisi rumah terkejut dan segera berdatangan. Tidak ada satupun dari mereka yang berani menghentikan Ethan. Satu-satunya di rumah itu yang bisa menghentikan Ethan hanya Christopher, tapi Chris baru saja meminum obat tidur dan sekarang tidur sangat lelap.
Hongjung pelayan pribadi Sean bahkan berlutut di samping Ethan mengosok-gosok kedua tangannya sambil menangis meminta Ethan segera berhenti. Sean sudah seperti anaknya sendiri, ia tidak bisa tahan melihat Sean tersakiti.
Nick yang juga ikut menyaksikan kegilaan Ethan tidak tega melihat Sean yang terus di pukul tanpa perlawanan, juga tangisan wanita tua yang tidak di hiraukan oleh Ethan.
Nick memberanikan dirinya untuk menarik Ethan dan mendorongnya menjauhi Sean.
Nick tahu, apa yang sekarang ini ia perbuat bisa membuatnya mendapat hukuman berat dari Ethan. Ethan mungkin akan mengusirnya, atau melemparnya dari atas gedung, tapi Nick tidak bisa hanya terus diam. Ia tahu bahwa Sean pasti tidak bersalah, tempramen buruk Ethan yang kadang meledak-ledak tak terkendali lah masalahnya.
Ethan tertawa sambil menutup matanya dengan punggung tangan, di rebutnya pistol dari salah seorang penjaga dan di arahkannya pistol itu pada Nick.
"Aku sangat benci penghianat" ucap Ethan sembari menarik pelatuk, menuncurkan sebutir peluru ke arah Nick, yang sama sekali tidak bisa di hindari oleh anak itu.
__ADS_1
Ethan membuang pistolnya dan berjalan terhuyung meninggalkan kerumunan orang yang panik karena Nick jatuh tersungkur ke lantai.
*
Chaerin sedang mengelap gelas-gelas yang baru selesai di cuci dan meletakannya kembali ke rak. Salah satu gelas yang di pegangnya tergelincir dan jatuh kembali ke dalam bak cuci saat seorang anak perempuan tiba-tiba mengagetkannya dengan menarik ujung bajunya.
Cherin berbalik dan memandangi anak perempuan itu.
"Ma, aku menemukan ini di bawah tempat tidur, apa ini papa?"
Maple menunjukan selembar foto usang dirinya bersama Ethan saat penikahan, foto yang sebelumnya tanpa sengaja Chaerin bawa saat ia kabur dari Ethan.
Chaerin langsung merebut foto itu dari Maple dan merobeknya kecil-kecil lalu membuangnya ke bak sampah di sampingnya.
"Bukan" Chaerin berucap singkat, air wajahnya seketika berubah mendung, dan ia mencoba kembali fokus pada gelas-gelas yang sedang ia keringkan.
"Itu pasti papa"
"Aku bilang bukan, papamu sudah mati"
"Mama bohong!" teriak Maple.
Chaerin melepaskan gelas yang di pegangnya dan sekali lagi memandangi Maple, tapi kali ini dengan mata melotot.
"Papa belum mati, Jiji bilang papa belum mati!" Maple bersikeras.
"Ronan berbohong padamu, kau lebih mempercayai Jiji dari pada mama?"
"Ibu guru bilang untuk membawa kedua orang tua saat festival sekolah, Maple selalu di ejek karena papa tidak pernah hadir, pokoknya Mapel mau papa dan mama datang!" rengekan Maple membuat Chaerin merasa bersalah, ia tidak mungkin mengatakan pada Maple bahwa papanya memang masih hidup dan dia adalah seorang ****.
Ia sudah bersusah payah menghindar dari pria itu selama 8 tahun terakhir, dan ia tidak mau kerja kerasnya selama ini sia-sia hanya karena rengekan anaknya yang membuat hatinya lemah.
"Mama akan datang bersama uncle, kau bisa berpura-pura di depan teman-temanmu dan berkata kalau uncle itu adalah papa" bujuk Chaerin.
"Tidak mau!" Maple menghentak-hentakan kakinya ke lantai sambil menangis meraung-raung.
Chaerin memeluknya dan berusaha membuat Maple tenang tapi tidak berhasil. Maple tetap merengek dan menangis.
Ibu mana di dunia ini yang tega melihat anaknya sedih, Chaerin pun begitu, walaupun ia hanya bekeja di bar, ia berusaha sekuat tenaga untuk membesarkan Maple, ia melakukan apapun yang anaknya minta, membelikannya banyak mainan dan baju-baju yang cantik, walaupun ia sendiri jarang membeli baju baru.
Bahkan Chaerin rela melupakan dendamnya pada Antoni supaya ia bisa memberikan hidup yang normal untuk Maple.
Tapi satu hal yang tidak bisa di berikannya pada, yaitu papanya, walaupun harus mati, Chaerin tidak pernah berniat untuk memberi tahu Maple siapa papanya.
Siapa yang tahu apa yang akan terjadi jika anak itu tahu, atau jika Ethan tahu.
Ethan mungkin akan mengambil Maple darinya, dan Maple mungkin akan lebih memilih tinggal bersama Ethan yang punya segalanya di bandingkan dengan dirinya yang hidup serba kekurangan.
"Maple! Berhenti menangis dan masuk ke kamarmu, kita tidak perlu membicarakan ini lagi, kau paham!" Chaerin mengundang-guncang tubuh Maple dan mendorongnya untuk pergi.
Ia tidak ingin memarahi Maple, tapi jika tidak di hentikan sekarang, Maple mungkin akan membuat keributan yang lebih besar lain kali.
"Aku benci mama, aku paling benci mama di dunia ini!"
Maple berlari masuk ke dalam rumah, dan tidak berapa lama terdengar suara bantingan pintu, dan juga suara barang-barang di lempar.
__ADS_1
"Anak itu, bisa-bisanya sifatnya saat marah sangat mirip dengan seseorang!" Chaerin mengeluh sambil memijat-minat pelipisnya.