BOYFRIENEMY

BOYFRIENEMY
CRY


__ADS_3

Menakjubkan mungkin kata yang tepat untuk mendeskripsikan situasi yang saat ini sedang di alami oleh Chaerin.


Chaerin selama ini berfikir Ethan adalah pria yang lembut dan baik, sebelum akhirnya pemikirannya itu di patahkan oleh sikap kejam Ethan yang memukuli kontraktor yang membawa kabur uangnya tanpa ampun. Chaerin bahkan merinding jika mengingatnya kembali.


Sejak saat itu image Ethan yang lemah lembut sudah di buangnya jauh-jauh, berganti dengan sosok Ethan yang kejam dan beringas.


Tapi sekarang, Chaerin kembali di buat terpesona dengan sikap Ethan yang jauh dari bayangannya.


"Sadarkan dirimu wanita gila, dia bukan tuan lemah lembut dan penyabar, dia jua punya sosok monster dalam dirinya"


Chaerin bergumam, memandang pria di hadapannya tertegun.


Ethan duduk di depan piano hitam mengkilap.


Dengan lihai ia menggerakkan jari-jarinya, menekan tuts piano satu persatu dengan cepat, melodi lembut terdengar saat jemari panjangnya menyentuh tuts piano itu penuh perasaan.


Pesona seorang Ethan kali ini cukup untuk menghipnotis Chaerin yang sedari tadi sangat menikmati lagu yang di bawakan Ethan, matanya bahkan lupa untuk berkedip selama satu menit penuh, matanya berbinar seakan sedang melihat Yiruma, seorang pianis yang sangat di kaguminya.


Tanpa sadar Chaerin bertepuk tangan saat Ethan sudah selesai dengan pianonya.


Ethan tidak bisa menahan senyum bangga saat menyadari Chaerin menikmati permainan pianonya tanpa ada kalimat hinaan setelahnya. Ethan bangkit dan kembali duduk di hadapan Chaerin untuk melanjutkan makan malam.


"Aku tidak tahu ternyata wanita sepertimu menyukai musik yang lembut"


"Aku juga tidak tahu bahwa seorang pembual sepertimu bisa bermain piano dengan baik"


Ethan tertawa pelan mendengar Chaerin yang mengembalikan ucapannya dengan nada yang sama.


"Apa sekarang aku punya nilai tambah di matamu?" Ethan memandang Chaerin lekat-lekat dan Chaerin langsung mengalihkan pandangannya, berpura-pura memperhatikan gelas sampanye yang di pegangnya.


Ethan menjentikan jarinya ke udara, dan seorang pelayan menghampirinya dengan membawakan sebuah kotak kecil terbuat dari kaca, menyerahkannya pada Ethan dengan sangat hati-hati.


"Pada awalnya aku tidak benar-benar mengerti perasaanku padamu, ku pikir hanya rasa penasaran karena kau sangat berbeda dari kebanyakan wanita yang pernah ku temui. Dan sekarang aku sudah benar-benar yakin"


Ethan berlutut memegang kotak kecil yang terbuka, menampilkan sebuah cincin berwarna putih mengkilap di hiasi Rubi merah yang membuat bias merah saat di terpa cahaya lampu.


"Ayo kita menikah"


Chaerin hampir saja tersedak, dia tidak menyangka Ethan akan melamarnya, di temani sebuah cincin yang sangat cantik.


Sebagai seorang wanita, tentu saja Chaerin menginginkan cincin cantik macam itu, apalagi cincin itu terlihat sangat mahal. Tapi lain halnya dengan menikah dengan Ethan.


Jangankan dengan Ethan, dengan pria lain saja Chaerin tidak punya niat menikah. Chaerin bahkan pernah berpikir untuk menggunduli rambutnya dan menjadi orang suci di tengah hutan.


Terdengar gila memang, tapi itulah Chaerin, dia tidak pernah punya ketertarikan kepada seorang pria sebelumnya. Walaupun kedekatannya dengan Ethan selama ini membuatnya goyah.


"Kau pasti sudah gila!"


"Ayolah nona Chae, kakiku mulai sakit karena berlutut terlalu lama"


Ethan masih sabar berlutut menunggu jawaban dari Chaerin, walaupun dia tidak yakin Chaerin akan menjawabnya dengan jawaban yang ia inginkan.


"Apa ini serius?"


Dalam hati Chaerin terus meyakinkan dirinya bahwa pria yang sekarang sedang berlutut di hadapannya ini hanya sedang main-main. Ethan bisa mendapatkan wanita manapun yang di inginkannya, sangat tidak masuk akal jika sekarang ini Ethan sedang melamarnya, kecuali ini semua hanya mimpi.


Chaerin berfikir keras, ia mencubiti lengannya untuk membuatnya terbangun dari mimpi gila yang sedang di alaminya, tapi ia tak kunjung bangun.


"Aku seorang Ethan zie, sedang berlutut di hadapanmu, apa itu tidak bisa jadi bukti bahwa aku serius, kau pikir aku akan melakukan hal ini untuk bercanda?" Ethan mulai meninggikan suaranya, walaupun tidak bisa di bilang marah, tapi dia sangat tidak suka saat seseorang meragukan perkataannya.


"Jika ini hanya karena aku menolak untuk tidur denganmu tempo hari saat kau pertama kali datang ke Lady Castle, kau tidak harus melakukan hal sejauh ini, masih banyak wanita lain di luar sana tuan Ethan"


Ethan langsung bangun saat mendengar ucapan sarkastis dari Chaerin, dirinya merasa terhina.


Bukan hanya meragukannya, Chaerin juga menganggap remeh dirinya seakan hanya menyukai **** di banding apapun. Bahkan sikap baiknya tidak di balas dengan baik pula.


"Kalau aku hanya ingin tidur denganmu, aku bisa melakukannya dengan mudah"


Ethan mencengkram leher Chaerin kuat, tubuh Chaerin terangkat dan menggantung di udara, dia bahkan kesulitan untuk bernapas. Chaerin berusaha melepaskan cengkraman tangan Ethan di lehernya, tapi gagal, Ethan jauh lebih kuat darinya.


Dari matanya Ethan terlihat sangat marah, dia mungkin akan membunuh Chaerin jika tidak segera melepaskan cengkeramannya pada leher wanita malang itu.


Chaerin meronta-ronta berusaha untuk melepaskan diri, tapi cengkraman Ethan malah semakin kuat menekan saluran pernapasannya.


Setelah sadar Chaerin mulai lemah dan tidak bergerak lagi, Ethan melepaskan cengkramannya, menjatuhkan chaerin ke lantai dengan kasar.


Chaerin jatuh tesungkur dengan napas tersengal-sengal, dia mengambil napas panjang, mengisi setiap rongga paru-parunya yang sudah hampir kempis karena kehabisan udara, lalu membuang napas dengan cepat dan menghirup lagi udara sebanyak-banyaknya.


Chaerin sadar betul bahwa saat ini nyawanya terancam, Ethan terlihat tidak ramah, bertolak belakang dengan Ethan yang bermain piano untuknya beberapa menit yang lalu.


Saat itu Chaerin sadar, bahwa ia tidak boleh memancing kemarahan Ethan.

__ADS_1


Mungkin dia sudah keterlaluan, mulut sialannya harus di sekolahkan di tempat yang benar dan di didik dengan keras, bukannya malah jadi kandang anjing yang setiap ia buka mulut yang keluar bukan bahasa manusia tapi gonggongan kasar.


Chaerin memaksakan dirinya untuk memandang Ethan, walau dengan mata berair.


Dia takut, sangat takut, tapi harga dirinya tidak membiarkannya menunjukan hal itu, harga dirinya berkata bahwa dia harus menunjukan sisi kuat dirinya, bukan dirinya yang lemah dan penakut.


"Aku anggap kau menerima lamaran ku, kita akan menikah secepatnya, jadi persiapkan dirimu sayang"


Ethan berjongkok, memakainkan cincin di jari manis Chaerin yang bergetar, dan mencium kening wanita itu dengan lembut seakan tidak ada yang terjadi sebelumnya.


Chaerin sudah bersiap untuk melepaskan cincin itu dari jarinya tapi ancaman Ethan menahannya.


"Kalau kau berani melepasnya, aku akan mematahkan jarimu satu persatu"


Tatapan tajam Ethan berhasil membuat Chaerin membeku seketika, perkataannya bukan hanya sebuah ancaman kosong, dia pasti benar-benar akan mematahkan jarinya satu persatu, dan itu pasti sangat menyakitkan.


Chaerin menatap Ethan dengan tatapan nanar. Sejak awal dia berurusan dengan orang yang salah. Jika saja waktu bisa di putar, Chaerin ingin sekali kembali.


"Jangan menatapku seperti itu, aku bisa saja mencongkel mata indahmu itu"


Dengan cepat Chaerin menunduk, tidak terasa dia meneteskan air mata. Chaerin selalu menguatkan dirinya sendiri selama ini, tapi situasi ini membuatnya lemah.


Dia terlalu percaya diri dengan datang ke sini dan bertemu Ethan, tanpa berpikir Ethan mungkin bisa berbuat sesuatu yang kejam padanya, ia terlalu percaya diri dengan menganggap bisa mengatasi segalanya sendirian.


Tapi kenyataannya, hidupnya sekarang di tawan oleh pria iblis di hadapannya, wanita kuat seperti dirinya sekalipun tidak bisa berbuat apa-apa jika berhadapan dengan Ethan yang bahkan lebih menakutkan daripada George.


"Aku tidak perduli kau ingin mencungkil mataku, mematahkan jari-jariku atau membunuhku sekalian, aku sama sekali tidak takut. Tapi aku tidak boleh mati sekarang, aku punya tujuan yang harus aku capai sebelum aku mati. Jadi lakukan saja sesukamu, kau bisa memaksaku untuk menikah, tapi kau tidak bisa memaksaku untuk mencintaimu" Chaerin bergetar, ia memaksakan dirinya untuk bicara walaupun tenggorokannya terasa sangat sakit.


"Apa!"


"Kau seharusnya bercermin dan lihat dirimu sekarang, kau seperti pengemis yang mengharapkan cinta dariku, kau sangat menyedihkan" Chaerin kembali mengangkat kepalanya, memandang Ethan dengan yakin sambil tersenyum menghina.


Ethan tertawa nyaring selum akhirnya memandang Chaerin dengan mata tajamnya.


"Kita lihat, siapa yang akhirnya menjadi pengemis"


*


Christopher berlari tergesa menuju pintu setelah beberapa pelayan melaporkan padanya bahwa tuannya sekarang ada di rumah.


Chris terlalu sibuk dengan keributan yang di buat oleh para pelayan yang bertengkar, dan itu membuatnya melupakan jadwal Ethan. Seperi biasa Christopher seharusnya berada di depan pintu menyambut Ethan saat tuannya itu tiba di rumah.


Chris akhirnya sampai di depan pintu, hatinya merasa tidak nyaman saat melihat raut wajah Ethan yang terlihat tidak ramah. Di sebelah Ethan seorang wanita berambut panjang juga menampakan raut wajah yang tak kalah mengerikan dari Ethan.


"Urus dia! Carikan pelayan pribadi untuknya!" Ethan tidak mempermasalahkan kedatangan Christopher yang terlambat, dan langsung memberikan perintah.


"Aku tidak perlu pelayan pribadi, aku punya dua tangan yang bisa ku gunakan untuk melayani diriku sendiri" Chaerin melotot, tapi pelototannya tidak berefek apapun pada Ethan.


"Cari secepatnya!" Seakan tidak mendengar perkataan Chaerin, Ethan masih bersikukuh untuk mencarikan Chaerin seorang pelayan.


"Aku bilang aku tidak membutuhkannya, apa kau tuli! Aku bukan orang cacat yang harus di layani setiap saat!"


Ethan menatap Chaerin tajam. Wanita di hadapannya ini sama sekali tidak kenal kata takut. Padahal baru saja satu jam yang lalu ia mencekiknya sampai hampir mati.


Ethan membuang napasnya kasar. Ia tidak ingin emosinya meledak dan kembali menyakiti Chaerin, jadi ia memutuskan untuk mengalah.


Apalagi sekarang ia punya sesuatu yang lebih penting untuk di kerjakan. Sejam yang lalu Sean menghubunginya dan mengatakan bahwa George mengabaika perintahnya dan sekarang terjadi kekacauan besar di Lady Caste.


Ia harus membereskan kekacauan itu sebelum menjadi tambah besar dan menyeret nama Gold Dragon dan dirinya.


"Baiklah, lakukan apapun yang kau inginkan. Selama kau tinggal di rumah ini dan bersikap manis, aku tidak akan mempermasalahkan apapun"


Ethan berjalan menuju tangga dan meninggalkan Chaerin bersama Christopher dan juga pelayan yang lainnya.


"Kau tidak apa-apa?" Chaerin memandangi Christopher yang masih mencoba mengatur napasnya yang tersengal-sengal akibat berlari.


"Agh di sini ada si tuan kaya raya yang tidak punya sopan santun, bagaimana mungkin dia membuat pria tua yang malang ini berlari hanya untuk menyambutnya" Chaerin menyindir Ethan dengan kalimat sarkastik seolah-olah ia berbicara sendiri.


Christopher dengan wajah khawatir, menarik-narik Chaerin beberapa kali, mencoba membuat wanita itu diam sebelum ucapan kasarnya itu membuat tuannya marah.


"Apa!" Ethan yang berada di tengah tangga seketika berbalik, memandang Chaerin marah.


"Apanya yang apa? Aku tidak sedang bicara denganmu, aku bicara tentang seseorang, tapi jika kau merasa tersinggung, itu bagus" Chairin tersenyum manis pada Ethan sekan ia tidak membuat kesalahan apapun.


"Jika kau tidak ingin ku tiduri malam ini juga, tutup mulut busukmu itu dan segera pergi tidur!"


Ucapan Ethan sukses membuat Chaerin berhenti tersenyum.


"Dan kau Chris, kau tidak perlu lagi menyambutku saat aku datang. Dan juga tambah jumlah penjaga menjadi tiga kali lipat, untuk mencegah nona menyebalkan itu untuk kabur"


Ethan memandang Chaerin sesaat, lalu kembali berbaik dan melanjutkan perjalannya menuju kamarnya di lantai atas.

__ADS_1


Christopher di buat terheran-heran oleh sikap Ethan, ini pertama kalinya Ethan mau di perintah seseorang, bukan perintah secara langsung, tapi berupa sindiran kecil, terlebih oleh seorang wanita, tapi ia mengikutinya walaupun terlihat terpaksa.


Christopher memandangi Chaerin dari atas hingga bawah. Ia sudah bisa menebak siapa wanita yang ada di hadapannya ini.


"Anda nona Chaerin yang akan menikah dengan tuan Ethan? Ini tidak bisa di percaya" Dengan polosnya Christopher bertanya.


"Aku juga tidak bisa percaya ini, tuanmu itu pasti sudah gila. Ngomong-ngomong apa di sini ada pintu belakang, atau jalan keluar tersembunyi yang bisa aku gunakan?" Chaerin memandangi Christopher dengan mata berbinar, berharap pria tua itu membantunya.


"Jun, sepeti perintah tuan Ethan, perketat penjagaan dan tambahkan penjaga tiga kali lipat!"


Seorang pria berjas hitam di belakang Christopher mengangguk dan segera pergi untuk menjalankannya perintah. Sedangkan Chaerin di buat ternganga olehnya.


"Aku tidak bilang akan kabur, aku hanya bertanya!"


*


Chaerin sedang bersantai di atas tempat tidur empuknya sambil menonton televisi. Ia baru saja selesai mandi dan sangat malas mengenakan baju, jadi ia hanya tiduran mengunakan bathrobe kebesaran yang sedikit terbuka di bagian dada karena tidak di ikatkan dengan benar.


Dan lagi, baju yang sebelumnya di bawakan oleh pelayan untuknya satupun tidak ada yang sesuai dengan seleranya.


"Kau ingin membuatku masuk angin saat tidur!"


Chaerin meneriaki pelayan yang membawakannya baju tidur berupa lingerie berbahan tipis dan super pendek.


"Aku akan baik-baik saja tidur dengan bathrobe"


Chaerin bergumam sendiri sambil memindah-mindah Chanel tv mengunakan remote, dan akhirnya ia berhenti di Chanel yang menayangkan berita tengah malam.


Chaerin awalnya menikmati tontonannya tapi kemudian dirinya di buat terkejut dengan berita penyerangan yang terjadi di salah satu gedung si pusat kota, dan Chaerin hapal betul gedung itu. Tidak mungkin ia melupakan tempat hina yang telah mengurungnya berbulan-bulan itu dengan mudah, Castle Hotel, dimana Lady Castle berada.


Dan hal yang lebih mengejutkan, foto George muncul di sana sebagai korban. Chaerin tersenyum senang saat tahu George akhirnya mati. Tapi foto selanjutnya membuatnya syok luar biasa.


Pelaku dari penyerangan tersebut di nyatakan meninggal di tempat. Wajah pelaku di sensor oleh pihak tv tapi dari proporsi tubuhnya Chaerin bisa langsung tahu bahwa itu adalah Bear.


Chaerin keluar dari kamarnya tergesa dan berlari menuju pintu keluar. Beberapa orang penjaga yang melihatnya langsung mencoba menahan Chaerin, tapi tidak berhasil.


Chaerin mencoba mendobrak pintu dengan seluruh kekuatan yang ia miliki, tapi pintu itu tidak bergeming sedikitpun.


"Biarkan aku keluar dari sini, aku mohon, hanya malam ini"


Chaerin menggosok-gosokkan tangannya memohon saat Christopher menghampirinya.


"Kau harus bicara pada tuan Ethan" wajah datar Christopher membuat Chaerin tidak bisa berkata apa-apa, ia yakin membujuk Christopher bukanlah hal yang mudah, pria tua itu sangat patuh pada Ethan.


Chaerin berlari menaiki tangga untuk menuju kamar Ethan, sesampainya di sana Chaerin mendobrak kamar Ethan dan membuat pintu kamar terbanting. Tapi tidak ada Ethan di sana, Chaerin bahkan memeriksa kamar mandi tapi Ethan juga tidak bisa di temukannya.


"Mungkin di ruang kerja" Christopher tiba-tiba saja berucap dari depan pintu kamar.


Tanpa menoleh ke arah Christopher, Chaerin langsung menuju ruang kerja Ethan yang berada persis di ujung lorong.


Sekali lagi di dobraknya pintu itu sampai terbanting, dan benar saja, Ethan ada di sana duduk di kursi kerjanya dengan laptop yang menyala di hadapannya.


"Biarkan aku keluar dari sini" Chaerin menghampiri Ethan dan langsung mengutarakan keinginannya.


Tapi Ethan sama sekali tidak merespon dan masih sibuk dengan laptopnya.


"Aku mohon, biarkan aku keluar untuk malam ini"


Chaerin memegangi lengan Ethan mencoba menarik perhatian pria itu, tapi Ethan tetap tidak meresponnya.


"Aku akan lakukan apapun, pernikahan, tidur denganmu, atau apapun yang kau inginkan akan aku lakukan semuanya, tolong biarkan aku keluar"


Chaerin yang putus asa tidak bisa menahan air matanya untuk tidak jatuh lebih lama. Wanita itu terisak sambil terus memohon.


Ethan akhirnya melihat kearah Chaerin saat suara isak tangis wanita itu terdengar olehnya.


Ethan langsung berdiri dan memeluk Chaerin dan mengelus kepalanya dengan lembut. Baru kali ini Ethan melihat chaerin menangis dengan sangat menyedihkan.


"Jangan menangis, kau membuatku terlihat seperti pria jahat" Ethan merasa bersalah karena sudah mengabaikan Chaerin, ia mengambil tisu yang berada di atas meja dan menghapus air mata wanita itu perlahan.


"Bear, bawa aku bertemu denganya, aku melihat berita, aku harap aku salah, aku pikir Bear....... dia........" suara serak Chaerin tertahan, wanita itu tidak bisa lagi melanjutkan kata-katanya.


Tanpa Chaerin menjelaskanpun, Ethan sudah tahu apa yang terjadi, jadi ia sama sekali tidak terkejut.


"Ayo kita pergi, tapi hentikan tangisanmu, dan kau harus berpakaian" Ethan meraih kerah bathrobe Chaerin dan merapikannya, menutupi bahu mulus Chaerin yang begitu menggoda menurut Ethan.


Ethan menelan ludahnya kasar, mencoba menahan dirinya yang hampir saja kalap untuk menyentuh tubuh Chaerin.


"Chris siapkan mobil!"


Christopher mengangguk paham lalu pergi untuk melaksanakan perintah tuannya.

__ADS_1


__ADS_2