BOYFRIENEMY

BOYFRIENEMY
KABAR BAIK


__ADS_3

Ethan dan Chaerin menghabiskan malam mereka untuk makan malam romantis di restoran italia.


Ethan menyewa seluruh restoran hanya untuk mereka berdua, restoran sengaja di dekor ulang dengan jutaan kelopak mawar yang tersebar di lantai layaknya karpet, juga lilin-lilin kecil di berbagai sudut membuat suasana romantis dengan sedikit penerangan.


Meja yang dipersiapkan Ethan berada di balkon, dan dari sana mereka berdua bisa menikmati keindahan kelap-kelip lampu kota dari ketinggian. Seakan tidak mau kalah, langit juga menyuguhkan pemandangan yang indah dengan ribuan bintang yang terhampar sejauh mata memandang.


"Kau suka?" Ethan meraih tangan Chaerin dan mencium punggung tahannya dengan lembut.


"Kecuali lilin-lilin yang hampir membakar ujung gaunku, semuanya menakjubkan" Chaerin tersenyum sangat lebar.


Chaerin melihat ke sekeliling, dirinya di kelilingi bunga-bunga yang di rangkai sangat indah di padukan dengan pita besar berwarna putih, dan di sebelah kanannya ada karangan bunga besar yang di bentuk menyerupai inisial namanya, CL, di buat dari bunga mawar dan tulip.


"Terima kasih karena sudah mau menikah denganku" ucap Ethan mengungkapkan rasa syukurnya.


"Menjadi nyonya Zie lumayan juga, aku tidak harus berfikir tentang uang seumur hidupku" Chaerin mengangkat gelasnya dan meminum wine satu tegukan kecil.


"Hanya karena uang? Bukan karena mencintaiku?"


"Di dunia ini, cinta tidak akan berguna tanpa uang"


"Tapi aku merelakan banyak hal, untuk bisa bersamamu"


"Apa yang kau relakan? Aku lihat kau tidak kehilangan apapun"


"Kau tidak perlu tahu" Ethan mengacak-acak rambut Chaerin gemas, dan Chaerin segera menangkisnya.


"Kau merusak rambutku, aku menatanya berjam-jam" protes Chaerin sambil merapikan rambutnya kembali.


"Aku lebih suka rambutmu berantakan, mengingatkanku saat kita pertama kali bertemu"


"Jangan pernah membahas tentang lady Castle, aku ingin melupakannya seakan itu tidak pernah terjadi, gara-gara kau aku jadi teringat tentang Gold Dragon dan GD, si *** GD itu awas saja jika aku bertemu dengannya!"


Chaerin membuang nafasnya kasar dan meneguk kembali winenya.


Ethan tertunduk penuh penyesalan, semua kenangan buruk yang di alami Chaerin di akibatkan oleh dirinya. Ethan bersumpah mulai sekarang ai hanya akan membuat Chaerin bahagia selamanya.


Ethan meletakan sebuah kotak kecil ke atas meja dan di dorongnya mendekati Chaerin.


"Apa ini?"


"Semacam sogokan agar kau mencintaiku"


Chaerin tersenyum kecil sambil membuka kotak itu.


"Aku tidak akan mencintaimu jika penawarannya terlalu rendah" ucap Chaerin bergurau, di sambut dengan anggukan cepat oleh Ethan.


Chaerin mendapati sebuah kalung dengan rantai tipis dan liontin berbentuk daun maple.


"Saat aku melihatmu aku merasa kalau aku sedang mengecap sirup maple yang manis" ucap Ethan dengan mata penuh kebahagian.


"Itu filisofi yang kau buat sendiri? setahuku daun maple adalah simbol cinta untuk menyambut anak yang akan lahir"


"Benarkah, aku baru tahu sekarang, tapi aku juga tidak akan menolak jika kau memberiku seorang anak, atau lebih" Ethan menggoda Chaerin.


"Akan aku pertimbangkan, kau ingin laki-laki atau perempuan?"


"Yang manapun tidak masalah, aku akan mencintai mereka seumur hidupku" Ethan tertawa kecil.


Chaerin tidak menanggapi ucapan Ethan dan kembali meminum winenya, sebenarnya dirinya tidak tahan minum, tapi dengan suasana seperi ini, rasanya hanya alkohol yang mampu menenangkan jantungnya yang berdegup sangat kencang karena ucapan-ucapan Ethan yang lebih memabukan lebih dari alkohol.


Chaerin sudah hampir menghabiskan satu botol wine sendirian sedangkan Ethan hampir tidak minum sama sekali karena ia hanya fokus memandangi wajah Chaerin dari awal sampai sekarang.


Chaerin memegang kepalanya dan memijat-mijatnya pelan, tiba-tiba kepalanya sakit dan perutnya juga agak mual.


Ethan melihat tingkah Chaerin dan hanya mengabaikannya dan kembali mengajaknya mengobrol. Ethan berfikir bahwa Chaerin mungkin hanya kebanyakan minum dan mabuk, karena Chaerin memang tidak bisa minum lebih dari satu gelas.


Chaerin tiba-tiba bangkit dari duduknya dan berlari menuju toilet, ia bahkan melepaskan high heels nya supaya bisa berlari lebih cepat.


Ethan segera menyusul Chaerin yang di rasanya sangat aneh dan menunggu di depan toilet sambil beberapa kali mengetuk, memastikan keadaan Chaerin.


Chaerin berjongkok di depan kloset, ia memuntahkan seluruh makan malamnya beserta wine yang baru saja di minumnya, saking banyaknya yang di muntahkan Chaerin merasa beberapa organnya juga ikut di muntahkan.


"Honey, kau baik-baik saja" Ethan kembali mengetuk dan mendapat jawaban ya dari Chaerin dengan suara lemah.


Chaerin keluar dari toilet dengan tubuh lemah dan wajahnya memucat.

__ADS_1


"Aku memuntahkan semuanya" ucap Chaerin.


Ethan langsung membungkuk dan menyuruh Chaerin untuk naik ke punggungnya.


"Kita harus ke rumah sakit sekarang" ucap Ethan cemas.


"Aku hanya terlalu banyak minum, kau tahu aku sudah biasa seperti ini"


"Tidak, wajahmu sangat pucat, saat mabuk seharusnya wajahmu memerah, kau mungkin keracunan, kita harus ke rumah sakit!" paksa Ethan


Chaerin yang tidak ingin berdebat lagi dengan Ethan langsung naik ke punggung Ethan dan berpegangan pada pria itu dengan erat.


Ethan berlari menuruni tangga darurat karena menunggu lift bisa memakan waktu cukup lama, sedangkan ia sangat khawatir dengan keadaan Chaerin.


Masalahnya dengan Arnoldo belum selesai, dan ia khawatir seseorang meletakan racun di wine yang di minum Chaerin untuk mencelakainya. Dan kemungkinan besar itu adalah Arnoldo.


Entah dapat kekuatan dari mana Ethan akhirnya bisa membawa Chaerin sampai ke parkiran, membantu Chaerin masuk ke dalam mobil dan memerintahkan supir untuk segera menuju rumah sakit.


"Kau harus bisa sampai di rumah sakit dalam 10 menit" perintah Ethan.


"Tapi tuan..."


"Tidak perlu takut dengan batas kecepatan, aku yang akan bertanggung jawab"


Setelah mendengar Ethan, sopir itu langsung memacu mobilnya secepat kilat dan bahkan berhasil sampai ke rumah sakit hanya dalam waktu 8 menit 13 detik.


Beberapa petugas medis segera mengangkat Chaerin dan membawanya menuju lantai 12, sepanjang jalan Ethan tidak pernah sedetikpun melepaskan tangan Chaerin, walaupun Chaerin mengatakan bahwa ia baik-baik saja.


Dokter Lim yang sebelumnya sudah di telpon bahwa Ethan dan chaerin akan datang, sudah bersiap bersama dengan beberapa petugas lain.


Dokter Lim membawa Chaerin masuk ke ruangan untuk di periksa sedangkan Ethan menunggu di luar.


Ethan mengambil handphonenya dan menekan beberapa tombol dan di akhiri dengan tombol call. Dan hanya dua detik telpon yang sudah tersambung.


"Orang-orang yang menyiapkan makan malam untukku dan Chaerin malam ini, bawa mereka semua menghadap padaku, akan ku buat mereka mengaku, siapa yang berani meracuni Chaerin"


Hanya satu kalimat dan Ethan langsung mematikan handphonenya, ia kembali mondar-mandir di depan ruang pemeriksaan dengan perasaan gelisah.


Dokter Lim tersenyum saat melihat hasil pemeriksaan Chaerin. Chaerin hanya di berikan satu suntikan vitamin oleh dokter Lim dan kini keadaannya sudah membaik.


"Tuan Ethan ketakutan setengah mati karena menyangka anda keracunan, padahal anda sangat sehat"


"Jika aku memang sehat, kenapa aku bisa seperti ini, seperti yang di katakan Ethan, aku bukannya muntah dan lemas karena kebanyakan minum, rasanya memang berbeda" ucap Chaerin menuntut penjelasan.


"Ini gejala wajar saat anda sedang hamil, jadi jangan khawatir" ucap dokter Lim santai.


Chaerin terlonjak dari tempat tidurnya, di tatapnya dokter Lim tidak percaya.


"Anda belum tahu bahwa anda hamil?" tanya dokter Lim dan Chaerin langsung menggeleng.


"Aku baru saja membicarakan masalah anak dengan Ethan dan sekarang aku hamil, kebetulan yang luar biasa" gumam Chaerin.


"Anda harus menjaga kondisi tubuh dan juga pikiran, jangan sampai anda stres karena itu akan berpengaruh pada tumbuh kembang bayi, anda juga di larang untuk minum alkohol mulai sekarang, anda tahu bagaimana bahayanya tadi!"


"Sudah berapa lama?" Chaerin mengabaikan ucapan dokter Lim dan malah menanyakan hal lain.


"Mungkin sekitar 2 minggu"


Chaerin turun dari tempat tidurnya dan menghampiri dokter Lim.


"Anda harus istirahat" ucap dokter Lim panik saat melihat Chaerin


tiba-tiba ada di hadapannya.


"Kau tidak boleh memberitahukan ini kepada Ethan" ucap Chaerin mengancam.


"Kenapa? Tuan Ethan pasti akan sangat senang saat mendengar kabar ini, kenapa harus di rahasiakan?" ucap dokter Lim bingung.


"Bulan depan adalah ulang tahun Ethan, aku akan mengatkannya sendiri dan memberikannya kejutan" ucap Chaerin bersemangat dan langsung mendapat dukungan dari dokter Lim.


"Baik, saya hanya akan berkata bahwa anda masuk angin karena berada di luar ruangan terlalu lama"


"Ada perkembangan tentang keadaan Bear?" Chaerin mengalihkan pembicaraan, ia baru ingat sekarang berada di rumah sakit dan berencana untuk mengunjungi Bear selesai dari sini.


"Tidak ada" jawab dokter Lim singkat dengan nada tidak bersemangat.

__ADS_1


"Apa memungkinkan jika suatu hari nanti ia akan bangun, aku hampir putus asa menunggunya?"


"Kalau boleh jujur, melihat keadaannya yang sekarang saja sudah keajaiban besar, walaupun ia bisa bangun dan sadar, mungkin hidupnya hanya akan di habiskan di atas tempat tidur"


Chaerin membuang nafasnya kasar, Bear sepertinya memang tidak punya harapan lagi.


"Tapi tenang saja saya akan tetap berusaha melakukan perawatan walaupun kemungkinannya sangat kecil. Tuan Ethan juga baru-baru ini membentuk tim penelitian baru, khusus untuk Bear"


"Ethan melakukan itu?"


"Iya, dia berencana memindahkan ruang perawatan vvip ke lantai lain, dan menjadikan lantai ini sebagai lab penelitian, tapi entahlah aku agak pusing dengan tuan Ethan, ia merencanakan banyak hal akhir-akhir ini, tapi semuanya pasti untuk hal yang lebih baik kedepannya" ucap dokter Lim tersenyum.


*


Ethan memasuki lab bawah tanahnya di temani oleh Sean, entah ada kejadian apa saat Ronan tiba-tiba menghubunginya dan berkata bahwa ada hal penting yang ingin di sampaikannya.


Ethan sudah hampir mati ketakutan kemarin karena ia mengangka bahwa Chaerin keracunan, tapi nyatanya istrinya itu hanya sakit ringan.


Ia hampir saja memenggal kepala koki dna juga pelayan yang menyiapkan makanan untuknya jika saja Chaerin memang keracunan.


Ronan langsung berdiri saat melihat Ethan datang, ia baru duduk kembali setelah Ethan juga duduk.


"Apa hal penting yang ingin kau sampaikan?" tanya Ethan tanpa basa-basi.


"Tuan, banyak dari anggota Gold Dragon yang kecewa dengan keputusan anda yang mendadak membubarkan Gold Dragon, mereka jadi kebingungan menunggu kepastian, banyak dari mereka merasa tidak sabar dan pergi untuk bekerja dengan orang lain, dan saya tidak bisa mencegahnya" Ronan menjelaskan.


"Sudah ku katakan padamu untuk menunggu, aku sedang memperisapkan pekerjaan baru untuk kalian. Kau tidak seharusnya membiarkan mereka keluar seenaknya, kau tahu aku punya satu aturan yang tidak boleh di langgar, seseorang yang pernah bekerja untukku harus bekerja untukku selamanya" ucap Ethan tenang.


"Sean, cari mereka yang telah keluar dari Gold Dragon, kalau sampai keberadaanku dan Gold Dragon diketahui oleh orang lain akan sangat berbahaya, bunuh saja para penghianat itu" perintah Ethan dan langsung di sanggupi oleh Sean.


"Sebenarnya tuan, saya sudah menghabisi mereka semua, saya tidak mungkin hanya duduk diam tanpa melakukan sesuatu, anda bisa tenang, tapi untuk mereka yang masih bertahan sampai sekarang, apa yang harus saya katakan pada mereka?" Ronan meminta kepastian.


"Aku berencana membangun perusahaan baru, perusahaan legal yang tidak akan merugikan siapapun, aku akan membangun perusahaan keamanan. Bagaimana menurutmu? Aku sedikit demi sedikit ingin membuang sisi buruk dalam diriku, menjadi mafia dan mengerjakan pekerjaan kotor tidak lagi menyenangkan" Ethan menatap Ronan menunggu pria tua itu memberinya pendapat.


Ronan langsung mengangguk setuju dengan gagasan Ethan. Para anggota Gold Dragon yang dulunya anggota organisasi mafia akhirnya bisa melakukan hal yang benar bukan hanya kejahatan.


"Ini pekerjaan yang bagus, mereka punya pekerjaan yang tidak jauh berbeda dari sebelumnya, saya yakin mereka semua pasti akan setuju" ucap Ronan yakin.


"Tapi bagaimana dengan para peneliti?"


"Aku akan menempatkan mereka di rumah sakit, aku memerlukan mereka untuk melakukan sesuatu" Ethan memikirkan sesuatu di dalam kepalanya.


"Iya itu juga bagus, tapi anda harus mencari seseorang untuk mengawasi mereka semua supaya mereka tidak membocorkan rahasia apapun, entah itu di rumah sakit, atau di perusahaan baru yang akan anda bangun" saran Ronan.


"Aku mengandalkanmu untuk melakukan hal itu, kau harus berada di belakang layar dan mengawasi mereka" Ethan hendak berdiri tapi Ronan menahannya.


"Saya tahu saya tidak boleh mengatakan ini, tapi, saya ingin mengundurkan diri"


Ethan menatap Ronan tajam, baru beberapa menit yang lalu ia berkata bahwa orang yang bejerja padahanya harus mengabdi selamanya, dan sekarang Ronan berkata ingin mengundurkan diri, ini sama saja sedang menantangnya.


"Kau sadar dengan apa yang baru saja kau ucapkan?"


"Ya tuan"


Sean mengeluarkan pistol dari balik jasnya dan mengarahkannya pada Ronan.


"Berkat anda Rika bisa mendapatkan transplantasi tanpa harus menunggu, anda juga membayar semua biaya pengobatannya, anda juga menugaskan dokter yang terbaik, memberikan fasilitas terbaik saat Rika di rawat di rumah sakit. Saya tidak akan pernah bisa membalas kebaikan anda sampai kapanpun" ucap Ronan tertunduk.


"Bukankah seharusnya kau berterima kasih atas semua kebaikanku dan mengabdi padaku sampai kau mati" ucap Ethan dingin.


"Saya baru sadar, bahwa saya terlalu sibuk bekerja sampai tidak punya banyak waktu bersama Rika, bahkan saat ia meninggal. Untuk sekarang dan selanjutnya, saya ingin hidup dengan tenang menjadi petani di desa supaya saya bisa punya banyak waktu untuk mengenang Rika, saya harap anda mengerti" Ronan menunduk sangat rendah, berharap Ethan akan mengabulkan permintaanya.


Tanpa di sangka tiba-tiba tawa Ethan meledak, dan Ronan berfikir mungkin itu adalah pertanda buruk untuknya.


"Sepertinya kau benar-benar serius. Biasanya kau akan ketakutan dan memohon saat aku marah, tapi kau bahkan tidak bergeming saat Sean menodobgkan pistol padamu, kau menjadi pria yang lebih kuat sekarang"


"Selama ini, saya bertahan, saya sangat takut mati karena jika saya mati, Rika akan sendirian. Sekarang, saya tidak takut pada apapun lagi, walau dewa kematian datang"


Ethan melihat keteguhan di mata Ronan, tidak ada yang bisa menahan pria tua itu sekarang, kehilangan orang yang di cintai memang bisa membawa pengaruh besar dalam hidup seseorang.


"Baiklah, aku tidak bisa menahanmu. Tapi tidak mundak menemukan orang sepertimu, jadi kapanpun kau ingin kembali, hubungi saja aku" Ethan menepuk-nepuk punggung Ronan, dan langsung pergi.


Ronan tidak menyangka bahwa Ethan akan membiarkannya pergi padahal selama ini Ethan sangat keras terhadap semua bawahannya, ia merasa ini adalah kabar baik pertama setelah kepergian Rika.


"Sean, awasi dia, dia mungkin akan membuat masalah nantinya" ucap Ethan pelan sambil berjalan keluar.

__ADS_1


__ADS_2