BOYFRIENEMY

BOYFRIENEMY
BERTEMU BEAR


__ADS_3

Bear melangkahkan kakinya masuk ke Gold Hotel. Dan seperti yang di katakan Ethan sebelumnya, tempat itu memang sudah di kosongkan, tidak ada siapapun di sana, bahkan penjaga keamanan pun tidak tampak sama sekali.


Gold Hotel yang sebelumnya sangat ramai di kunjungi oleh para turis dan para orang-orang penting yang melakukan pertemuan atau suatu acara, kini terlihat seperti gedung terbengkalai.


Ethan telah mengosongkan tempat itu sebulan yang lalu dengan alasan pindah ke gedung baru, alasan yang cukup masuk akal untuk menipu orang-orang.


Padahal tujuan utamanya adalah untuk menutup Lady Castle untuk selamanya.


Ethan sudah bertekad di dalam hatinya untuk menghentikan bisnis kotornya yang melibatkan para wanita itu. Ia merasa sangat bersalah pada Chaerin, karena wanita itu menghabiskan waktu yang cukup lama di sana.


Setelah pengakuan dosa Ethan yang cukup mencengangkan tentang dirinya adalah GD, dan dialah yang memerintahkan agar Chaerin di pekerjakan di Lady Castle, Ethan menjanjikan Bear sesuatu.


Ethan berjanji akan memberikan identitas baru untuk Chaerin dan Bear, dan Ethan juga akan menjaga Chaerin untuk selamanya, dengan menikahinya.


Dan tentu saja Bear tidak percaya begitu saja ucapan dari seorang pria pembohong seperti Ethan.


Identitas aslinya sebagai GD saja di sembunyikannya, dan ia berakting sebaagai pria baik-baik, bernama Ethan Zie. Pria seperti itu kemungkinan besar tidak akan menepati janji.


Bear bahkan tidak percaya dengan perkataan Ethan, bahwa ia sudah menutup Lady Castle, dan membebaskan para wanita yang bekerja secara paksa di sana.


"Kau bisa cek sendiri, tempat itu sudah aku kosongkan sejak lama, tidak ada lagi Lady Castle"


Ethan menyapu darah yang ada di bibirnya akibat pukulan Bear.


Bear sangat marah, sampai-sampai pria besar itu memukul Ethan membabi buta.


"Kau harus percaya bahwa aku sangat mencintai......" ucapan Ethan tertahan saat satu pukulan Bear kembali mendarat di wajah tampannya.


"Cinta, pria kejam sepertimu bicara tentang cinta!" Bear kembali memukul Ethan.


"Aku sudah suka padanya sejak pertama kali aku melihatnya"


Ethan meludah ke samping, mulutnya terasa anyir karena darah.


Bukannya Ethan tidak bisa melawan Bear. Walaupun Bear punya tubuh yang besar, Ethan pasti bisa mengalahkannya. Tapi Ethan sengaja membiarkan dirinya di pukul untuk menebus segala dosanya.


"Pertama kali? Dimana? Di rumah pelacuran?!"


"Tidak, tapi 20 tahun yang lalu, aku jatuh cinta padanya saat dia tersenyum, dia orang pertama yang tersenyum padaku. Tentu saja kau juga tersenyum padaku, tapi aku tidak mungkin jatuh cinta padamu" Ethan terkekeh.


Ethan menyingkap lengan bajunya dan memperlihatkan tato di pergelangan tangannya.


Bear menahan pukulan selajutnya yang akan ia layangkan, saat ia sadar arti dari ucapan Ethan.


Kenangan 20 tahun yang lalu kembali terbesit dalam ingatannya. Seorang anak kurus yang berantakan, memakai pakaian robek yang sudah tidak layak.


Bear melepaskan cengkramannya pada kerah Ethan, dan menjatuhkan Ethan ke lantai.


"Zie? 213? Chaerin memberimu nama Ethan" Bear bergumam, dengan matanya yang melotot.


Bea mencengkram rambutnya sendiri dan berteriak frustasi.


"Agh kenapa aku tidak menyadarinya lebih awal, namamu Ethan Zie!!!"


Dan di sinilah ia sekarang, berada di Gold Hotel untuk memastikan apakah benar Ethan telah menutup Lady Castle, atau hanya menipunya.


Setelah mengingat pertemuan mereka 20 tahun yang lalu, Bear memutuskan untuk mempercayai Ethan satu kali lagi.


Ethan telah menolongnya dan Chaerin di masa lalu, dan Ethan pantas untuk mendapatkan kesempatan, selama pria itu berkata jujur.


Bear naik ke lantai 12 menggunakan lift, ia sengaja membawa senjata untuk berjaga-jaga, kalau-kalau Ethan membohonginya dan ia telah di jebak.


Dan benar saja saat pintu lift terbuka, beberapa orang yang telah bersiap di depan pintu lift menembaki Bear membabi buta, dan untungnya Bear masih bisa menghindar.


Segala fikiran buruk tentang Ethan yang telah menjebaknya memenuhi kepala Bear.


Bear tidak cukup persiapan untuk melawan banyak orang, tapi naluri liarnya berhasil membuat ia bertahan walau anggaota tubuhnya terserempet banyak peluru.


Ia sudah hampir berhasil menghabisi semua orang yang ada di lantai 12.


Tapi ada seorang pria yang kabur menaiki lift menuju lantai 13, dan Bear yakin George pasti ada di sana.


Bear bergegas mengejar orang itu ke dalam lift dan memukulnya dengan tangan besarnya, membuat pria itu jatuh tak sadarkan diri.


Bear naik ke lantai 13 dan benar saja, saat pintu lift terbuka, wajah sombong George langsung menjadi pemandangan pertama yang menyambut kedatangan Bear.


Bear sudah menembaki George, tapi George lebih gesit dan licik.


Dan pada akhirnya, George menembak Bear tepat di jantungnya dan membuat pria besar itu rubuh ke lantai.


Dalam keadaan setengah sadar, Bear mendengar suara tembakan, dan sedetik kemudian tubuh George jatuh di samping tubunya dengan mata melotot dan kepala berlubang.

__ADS_1


Dari suaranya, Bear sudah bisa menebak siapa orang yang menembak George.


Bear meliahat sosok seorang pria, tinggi, dengan kulit yang sangat putih dan bibir yang kemerahan, diapa lagi jika bukan Sean.


"Jangan bergerak jika kau tidak ingin mati, petugas dari Gold Hospital akan segera ke sini" Sean berbisik di sebelah telinga Bear pelan, tapi Bear bisa mendengarnya dengan jelas.


"Maaf tuan, Geoge membuat masalah, mungkin ia berfikir jika ia bisa membawa Chaerin kembali, anda akan mengakui dirinya" ucap Sean bicara dengan seseorang di telpon, dan Bear yakin itu adalah Ethan.


"Seburuk apa keadaan di sana?"


"Saya terpaksa menembak George, polisi akan segera sampai di sini, sepertinya kita tidak punya pilihan lain, selain membiarkannya"


"Baiklah, minta Jonathan untuk mengurus segalanya, namaku tidak boleh sampai terseret"


"Baiklah tuan"


Sean menutup telpon dan menyimpan kembali ponselnya itu ke dalam saku Jeans yang di pakainya.


"Bertahanlah sebentar lagi" Sean kembali berbisik memberikan semangat pada Bear yang mulai kehilangan kesadaran.


*


Chaerin menghambur masuk ke Gold Hospital dengan menggendong Maple.


Petugas keamanan yang melihat Chaerin, langsung ingin menghentikan wanita itu, karena Chaerin berusaha memasuki lift khusus yanf hanya boleh di pergunakan oleh elit rumah sakit, dan lift itu bisa mengakses lantai-lantai yang tidak di peruntukan untuk umum.


Bagi pasien, dokter, perawat, ataupun petugas yang bekerja di Gold Hospital sama sekali tidak di perbolehkan menggunakan lift itu, tanpa izin langsung dari Ethan.


Petugas keamanan itu menghadang Chaerin tepat di depan pintu lift, dan menariknya untuk menjauh.


"Maaf, anda tidak bisa menggunkan lift ini, anda bisa menggunakan lift yang di sana" pria berperawakan tinggi kurus dengan seragam biru itu menunjuk lift yang ada di seberang dengan tangannya.


"Hanya ini satu-satunya lift yang bisa di gunakan untuk pergi ke lantai 12!"


Chaerin bicara dengan nada tinggi, Maple yang baru pertama kali melihat mamanya bicara begitu keras langsung kaget dan menangis pelan.


"Mama bukan marah padamu, jangan menangis" Chaerin mengelus-ngelus kepala Maple untuk membuat anak itu sedikit lebih tenang.


"Jika bukan karena ada Maple di sini, kau pasti sudah aku habisi" Chaerin bicara pelan sambil melotot kepada petugas keamanan itu.


"Lantai 12 adalah lantai untuk para peneliti, tidak sembarang orang boleh masuk ke sana" petugas itu menjelaskan dengan senyuman, tidak terpengaruh dengan ucapan Chaerin sebelumnya.


"Sudah lama lantai vip di pindahkan ke lantai lain, saat saya pertama kali bekerja di sini 5 tahun yang lalu, lantai vip sudah di pindahkan ke lantai 15 dan 16"


Chaerin melirik ke tanda pengenal yang menggantung di kantong dada sebelah kiri petugas keamanan itu.


"Namamu Roy?"


"Iya saya Roy"


"Aku sedang sangat buru-buru sekarang, jadi biarkan aku lewat, jika kau masih bersikeras, hanya ada dua pilihan untukmu. Pertama kau akan di pecat, kedua kau akan mati, pilih salah satu" Chaerin menatap Roy tajam pertanda bahwa ancamannya bukan hanya gertak biasa.


Tapi dengan berani Roy mengabaikan ancaman itu, dan tetap menghalangi Chaerin.


Bagaimanapun, sebagai seorang petugas keamanan, Roy sangat berdedikasi pada pekerjaanya, hidupnya bergantung pada pekerjaan ini, ia masih harus menafkahi keluarganya, dan lagi istrinya baru saja melahirkan seorang bayi perempuan lucu, dan keperluan bayi tidaklah sedikit.


"Nyonya Clara, ini benar anda?" seorang pria gemuk pendek, hampir sama pendeknya dengan Ronan, menyapa Chaerin sambil menunduk dengan hormat.


Chaerin ingat pria itu, dia adalah wakil kepala rumah sakit, sekaligus dokter spesialis ortopedi yang sangat berpengalaman, bernama Yohan.


"Kanapa kau bersikap kurang ajar padanya, ayo beri salam" Yohan memukul punggung Roy, dan dengan perasaan yang masih bingung, Roy menunduk untuk menghormati Chaerin.


"Maaf atas kekurangan ajarannya, dia baru bekerja di sini dan belum pernah melihat anda sebelumnya, saya akan mengajarinya dengan baik" Yohan ikut menunduk.


"Kau ternyata masih hidup, kau sangat tua, sudah saatnya untuk pensiun" ucap Chaerin sarkastis.


Yohan tersenyum, ia menganggap Chaerin sedang memujinya.


"Saya tidak bisa pensiun sekarang, masih terlalu bangak pekerjaan"


"Kalau boleh ku tebak, kau pasti sudah menempati posisi kepala sekarang"


"Saya mendapatkan kepercayaan dari tuan Ethan untuk menjadi kepala rumah sakit, sejak kepala sebelumnya pensiun"


"Bagus untukmu" Chaerin terlihat tidak peduli dengan ocehan Yohan, dan berjalan menuju lift.


Yohan hanya bisa berdiri mematung saat Chaerin mengabaikannya, harga dirinya sedikit terluka dengan perlakuan Chaerin, padahal ia sudah bersikap seramah mungkin.


"Pelacur itu, bagaimana mungkin tuan Ethan menikahinya, tidak punya Etika dan sopan santun. Dia tidak pernah muncul selama beberapa tahun, aku pikir dia mati" Yohan bergumam pelan.


Yohan menepuk-nepuk punggung Roy.

__ADS_1


"Kau beruntung tidak mati hari ini, wanita itu terkenal sangat kejam" ucap Yohan melebih-lebihkan, dan Roy menelan ludahnya susah payah.


*


Chaerin sampai dj lantai 12 setelah sebelumnya di dalam lift ia melewati pemindaian Retina. Dan untungnya data dirinya masih tersimpan.


Benar kata Roy, lantai 12 sudah jauh berbeda dari yang dulu pernah ia tahu.


Tidak ada lagi meja resepsionis, yang biasanya langsung terlihat saat keluar dari lift.


Lobi yang dulunya sangat mewah dengan lampu-lampu kristal, kini berganti dengan lampu neon putih yang sangat terang. Semuanya tak lagi sama seperti dulu.


Chaerin masuk perlahan, di lihatnya beberapa orang yang berjalan cepat. Mereka semua berpakaian sama, jas lab putih, beberapa memakai masker dan kaca mata pelindung.


Chaerin mencoba mengamati mereka, kalau-kalau ada salah seorang dari mereka yang ia kenal. Lebih dari satu menit ia di san,a melihat belasan orang lalu lalang, tapi tidak ada satupun yang ia kenal, sepertinya lantai 12 di isi oleh orang-orang baru.


"Uncle Sean!" Maple yang masih berada di gendongan Chaerin tiba-tiba berteriak dan memaksa untuk turun.


Chaerin melihat ke belakang dan Sean ada di depan pintu lift.


Maple berlari menghampiri Sean yang masih tidak bergerak dari tempatnya. Sepertinya Maple cukup dekat dengan Sean setelah pertemuan singkat mereka, saat Ethan membawa Maple pulang.


Maple mengangkat tangannya, sebagai isyarat bahwa ia ingin di gendong. Tapi sean dengan tegas menolaknya dengan mengabaikan Maple, dan berjalan menuju Chaerin.


Maple mengikuti Sean setengah berlari, kaki panjang Sean membuat langkahnya menjadi lebar dan cepat, tidak sebanding dengan kaki kecil Maple.


Sean menunduk sesaat di depan Chaerin, lalu memandang wanita itu dingin, sama seperti biasanya.


"Bisa jauhkan anak ini dariku?" Sean menatap Maple yang sekarang sedang bergelantungan di kakinya.


"Aku rasa dia menyukaimu" ucap Chaerin acuh.


"Tapi aku tidak menyukainya, dia sangat mirip denganmu, dan dia bau bayi" Sean mencoba melepaskan pegangan Maple di kakinya, tapi anak itu menempel kuat di sana seperti sudah terlem.


"Aku kira kau sudah mulai menyukaiku, ternyata tidak?"


"Aku membencimu lagi, karena kau membuat tuan Ethan kesulitan" ucap Sean ketus.


"Kau buta, disini aku lah yang kesulitan karena Ethan, dia membuat hidupku berantakan, Aku harus bekerja di Lady Castle, dia mencoba membunuh Bear, dan dia membohongiku!" ucap Chaerin emosi.


Chaerin merasa dirinyalah yang paling menderita di sini, tapi Sean malah berkata sebaliknya.


"Tuan Ethan sangat menyesal, dia pikir anda ingin bekerja padanya untuk menghasilkan uang, dan tempat yang tepat untuk mempekerjakan wanita adalah Lady Castle. Tuan Ethan ingin jujur pada anda tentang siapa dia sebenarnya, tapi ia khawatir anda akan marah dan pergi. Dan yang paling penting untuk anda tahu adalah, tuan Ethan tidak punya niat sedikitpun untuk membunuh si beruang"


Sean menjelaskan panjang lebar. Chaerin sampai tertegun mendengarnya, ini pertama kali Sean bicara banyak padanya.


"Tuan Ethan menderita depresi parah, yang menyebabkan ia harus minum obat tidur dosis tinggi supaya ia bisa tidur nyenyak di malam hari. Ia kehilangan fokusnya dan tidak bisa lagi bekerja seperti biasa, yang di lakukannya setiap hari hanyalah memandangi foto anda dan foto usg Maple berjam-jam, ia jua selalu menyuruh Lia memasak steak nanas seperti yang biasa anda suka, kalau-kalau anda akan pulang"


Chaerin tersenyum sinis, dirinya hampir saja percaya dengan semua ucapan Sean yang terdengar sangat melankolis, Chaerin yakin, Ethan tidak akan pernah melajukan hal seperti itu.


"Anda boleh percaya ataupun tidak, saya hanya bicara"


"Anda ke sini pasti untuk bertemu dengan Bear, dia ada di sana" Sean menunjuk sebuah ruangan berpintu kaca di sudut ruangan.


"saya akan menjaga Maple untuk sementara, supaya anda bicara bicara dengan Bear dengan lebih leluasa" Sean berjalan menyeret kakinya karena Maple masih bergelantungan di sana.


Chaerin langsung berlari menuju ruangan yang di maksud oleh Sean dan menekan tombol hijau di samping pintu.


Seketika pintu terbuka, Chaerin melangkah masuk, tapi ada sebuah pintu lagi di depannya, sementara pintu di belakangnya tertutup.


Gas berwarna putih menyembur dari berbagai macam arah, tapi anehnya gas itu tidak membuat Chaerin batuk ataupun sesak.


Setelah beberapa detik, gas itu berhenti menyembur, dan udara di sekitar telah kembali sepeti semula.


Pintu di hadapan Chaerin terbuka otomatis, dan dengan pasti Chaerin masuk, melewati pintu itu dengan perasaan gugup, berharap Bear yang akan segera ia temui baik-baik saja.


Chaerin melihat seorang pria kurus duduk di atas kursi roda, memandang ke arah luar melalui kaca jendela yang tertutup rapat.


"Apa ini sudah waktunya untuk minum obat?"


Pria itu memutar kursi rodanya berbalik, untuk melihat siapa yang datang. Dan matanya langsung melotot karena yang ada di hadapannya bukanlah dokter ataupun perawat, tapi seseorang yang selama ini sangat ingin di temuinya.


"Chae, kau masih hidup?!"


Bear tersenyum ke arah Chaerin dan Chaerin langsung memeluk pria itu erat sambil menangis sesungukan.


"Dasar bodoh, kau diet apa sampai bisa kurus seperti ini, di mana lemka yang biasa bergelantungan di pipimu" ucap Chaerin di sela tangisannya.


 


 

__ADS_1


__ADS_2