
Ethan dan Chaerin berdiri di tengah riuh tamu undangan yang secara bergantian menyalami mereka untuk mengucapkan selamat. Tidak ada hal lain yang di rasakan oleh keduanya selain perasaan bahagia.
Ethan masih menjabat tangan seorang tamu saat matanya menangkap sesosok orang yang tidak di harapannya untuk datang, orang itu berjalan menuju ke arahnya di antara kerumunan tamu yang masih menikmati pesta dengan segelas wine di tangan mereka dan juga berdansa.
Seorang pria tua berbadan tambun memakai stelan jas monokrom, ia berjalan tertatih mengunakan sebuah tongkat setinggi pahanya, tongkat itu membantunya untuk bisa berjalan lebih baik karena ia mempunyai cedera di kakinya yang tidak dapat di sembuhkan.
Di sebelahnya, seorang pria lain yang jauh lebih muda, seumuran dengan Ethan, mengenakan baju kaus abu di lapisi blezer biru Dongker dan celana jeans kebesaran, pakaian yang tidak pantas untuk sebuah pesta pernikahan. Yang tak lain adalah Brian, anaknya.
Ethan dengan cepat memanggil Christina dan menyuruhnya untuk membawa Chaerin pergi.
"Ada apa?" Chaerin tentu saja bingung kenapa tiba-tiba ia harus pergi saat itu juga.
"Kau harus kembali sekarang, aku akan menjelaskan alasannya saat di rumah" Ethan mencoba meyakinkan Chaerin untuk pergi dengan segera.
"Oke, tapi kau harus benar-benar menjelaskannya" ucap Chaerin singkat dan langsung pergi bersama dengan Christina.
"Dasar bisa-bisanya kau menikah tanpa mengundangku dan papa" Brian merangkul bahu Ethan dan menjitak kepalanya beberapa kali.
"Hentikan tingkahmu yang seperti anak kecil!" Ethan melepaskan dirinya dari Brian dan memelintir tangan pria itu sampai ia meringis kesakitan.
"Sudah lama tidak bertemu tuan Arnoldo Ricci" Ethan mengulurkan tangannya kepada pria tua berjas monokrom itu dan langsung di sambut pria itu sambil tersenyum.
"Aku yakin kau tidak bermaksud untuk melupakanku saat ada acara penting seperti ini"
"Apa maksudmu? Aku sudah mengirimkan undangan jauh-jauh hari, kau tidak menerimanya, Brian juga tidak menerimanya?" Ucap Ethan berbohong dengan wajah seakan kebingungan.
Ethan memang tidak ada niat sedikitpun untuk mengundang pasangan ayah dan anak itu.
Ethan tidak ingin Chaerin bertemu dengan mereka. Ada kemungkinan Chaerin akan mengenali Arnoldo Ricci yang sebenarnya adalah Antoni Greco, orang yang selama ini di cari-carinya, dan lagi Arnoldo Ricci bukan orang yang mudah untuk di tangani, Chaerin mungkin akan ada dalam bahaya jika mereka bertemu.
"Nah kan benar kataku, Ethan tidak mungkin melupakan kita. Kau tahu papa sangat marah sebelum menuju kemari, dia bilang akan mematahkan setiap tulang di tubuhmu karena kau adalah orang paling tidak tahu terima kasih padahal ia sudah membantu bisnismu selama bertahun-tahun" oceh Brian.
"Ya sepertinya ia berencana melakukannya sekarang dengan menggenggam tanganku sangat erat" Ethan memandang ke arah tangannya yang masih bersalaman dengan Arnoldo.
Pria tua itu dengan cepat menarik tangannya dan berdehem dengan suara nyaring.
"Yah, bisa di mengerti, tapi paling tidak kau harus menelpon"
"Aku sangat sibuk, menyiapkan pernikahan, dan kau tahu permintaan Nshade akhir-akhir ini meningkat"
Ucapan Ethan hanya di balas anggukan penuh pengertian dari Arnoldo.
"Di mana istrimu? Aku ingin melihat bagaimana dirinya, apa dia lebih cantik dari Mona Shine, sehingga kau rela meninggalkan si nona sempurna itu?" Kembali Brian mengoceh dengan wajah dungunya.
"Dia kelelahan dan pulang lebih dulu" ucap Ethan singkat.
"Wah mengecewakan" keluh Brian.
"Paling tidak undang dia untuk makan malam bersama besok malam, aku juga penasaran bagaimana dirinya" ucap Arnoldo dengan nada memerintah.
"Kau berencana merusak bulan madu kami dengan ajakan makan malam yang tidak bisa di tolak?" Ethan menatap Arnoldo tajam tanda bahwa ia tidak bersedia.
"Kau jadi mudah marah setelah menikah. Baiklah Ethan, aku tidak akan mengganggu mu, kau memang harus menikmati setiap detik kebersamaan kalian, sebelum akhirnya kau mulai bosan bangun pagi di samping wanita yang sama setiap hari" Arnoldo terkekeh.
"Tidak tidak, aku sangat penasaran dan aku hampir gila, tolong pertemukan aku dengan Chaerin sekali saja" rengek Brian.
Pupil mata Arnoldo membesar setelah Brian mengucapkan nama Chaerin. Sekelebat memori tiba-tiba muncul di kepalanya. Ethan memperhatikan dengan seksama perubahan raut wajah Arnoldo dan menunggu apa yang akan di lakukan pria tua itu setelahnya.
"Kau bilang nama istrinya Chaerin?" Arnoldo bertanya untuk memastikan bahwa ia tidak salah dengar.
"Ya, namanya Chaerin, Ethan sering menggumamkan namanya"
"Kenapa, Anda mengenalnya?" Tanya Ethan penuh selidik.
"Tidak, aku hanya teringat seseorang yang sudah lama mati, ia memiliki nama yang sama, tapi aku yakin mereka orang yang berbeda" lagi-lagi Arnoldo terkekeh, dan Ethan tersenyum dengan jawaban yang di berikan oleh Arnoldo.
"Jadi ia mengira Chaerin sudah mati? Baguslah, tidak ada yang perlu aku khawatirkan" Ethan bermonolog di dalam hatinya.
"Kalau begitu aku permisi dulu, istriku menunggu di rumah" Ethan menunduk dan berbalik untuk pergi, meninggalkan Arnoldo yang masih berdiri bertumpu pada tongkatnya dan Brian yang masih saja merengek untuk bisa bertemu dengan Chaerin.
*
"Gloria......." gumam Ethan.
Dirinya sedang membaca setiap kata yang tertulis di atas kertas yang baru saja di serahkan oleh Sean.
Kehadiran Arnoldo sangat mengganggu pikirannya, dia tidak mungkin bisa menyembunyikan Chaerin selamamya.
Ia juga yakin bahwa sekarang ini Arnoldo mungkin sedang melakukan penyelidikan latar belakang kepada Chaerin, sifat Arnoldo yang tidak mudah percaya kepada orang lain membuatnya selalu waspada.
Arnoldo memang terlihat seperti pria tua biasa yang lemah dengan sebuah tongkat yang membantunya untuk berjalan, tapi tidak seperti kelihatannya, Arnoldo sebenarnya sangat berbahaya, pernah satu kali Ethan hampir mati karena Arnoldo menenggelamkannya di danau yang setengah membeku di musim dingin dengan tangan terikat, sangat beruntung Ethan masih bisa hidup sampai sekarang.
"Saya tidak menemukan apapun selain itu tuan, mencari tahu tentang Arnoldo sangatlah sulit" Sean menunduk di hadapan Ethan.
Setelah Ethan tahu bahwa orang yang di cari oleh Chaerin adalah Arnoldo, Ethan segera memerintahkan Sean untuk mencari segala sesuatu mengenai Arnoldo, tapi sayangnya, tidak satupun informasi yang di dapatnya berguna untuk melawan pria tua itu.
"Wanita ini adalah istri Arnoldo, dia adalah anak dari ketua mafia keluarga Ricci, setelah orang tuanya meninggal, sekarang Arnoldo yang mengambil alih bisnis dan menjadi ketua, tapi kekuasaan masih di pegang oleh Gloria. Dia adalah saksi kebakaran pabrik 20 tahun yang lalu, ia juga yang berhasil meyakinkan hakim bahwa Clairine adalah pelaku dari pembakaran pabrik tersebut" Sean menjelaskan sambil menunjuk foto wanita bermata sipit mengenakan baju hitam, saat ucapara kematian suaminya.
"Wanita yang luar biasa" ada sedikit rasa kagum saat Ethan mengatakannya.
"Satu tahun setelah kematian palsu Arnoldo, ia menikah kembali dengan Arnoldo yang sudah mengganti identitasnya, Arnoldo resmi menjadi anggota keluarga Ricci sejak saat itu" Sean melanjutkan.
"Wanita ini kedengarannya lebih berbahaya dari suaminya, sangat menarik" ucap Ethan sambil tersenyum kecut.
__ADS_1
"Saya akan mencari tahu lebih banyak lagi" ucap Sean yakin.
"Kau tidak tidur? Ini sudah jam 3 pagi!" Chaerin tiba-tiba masuk ke ruang kerja Ethan tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Membuat Ethan dan Sean menegang, takut bahwa apa yang mereka bicarakan sebelumnya di dengar oleh Chaerin.
"Kau merindukanku di tempat tidur honey?" Goda Ethan mencoba untuk membuang rasa khawatir. Chaerin terlihat sangat mengantuk, jadi sangat kecil kemungkinan Chaerin mendengar pembicaraannya dengan Sean barusan.
"Aku hanya bertanya apa kau tidak tidur, aku merasa cukup nyaman dengan ranjangku yang luas tanpa ada dirimu di sana" Chaerin menutup kembali pintu ruang kerja Ethan dan kembali ke kamarnya dengan perasaan kesal.
"Ini malam pernikahan dan dia malah berada di ruang kerjanya berduaan dengan si putih pucat, aku jadi curiga dengan hubungan mereka" Chaerin mengomel pelan sepanjang perjalanan kembali ke kamarnya.
"Maaf honey aku punya pekerjaan yang harus di selesaikan sesegera mungkin"
Ethan memeluk Chaerin dari belakang, menyingkap rambut Chaerin yang menutupi lehernya, Ethan perlahan menciumi belakang leher wanita yang telah menjadi istrinya itu dengan penuh gairah.
"Bahkan belakangmu saja sangat cantik" ucap Ethan, yang kini beralih menggigiti telinga Chaerin.
"Kurang dari 5 menit yang lalu ku bilang, aku suka ranjang yang luas terlebih tanpa dirimu!" Chaerin bangun dan mendorong Ethan hingga pria itu jatuh ke lantai.
"Bukankah tingkahmu ini sudah keterlaluan!" Ethan dengan cepat berdiri, berkacak pinggang dan menaikan nada suaranya.
"Huh dasar orang mesum sialan!" Chaerin kembali berbaring dan menutupi tubuhnya dengan selimut hingga ke kepala.
"Mesum?! Aku ini suamimu, kita baru saja melangsungkan pesta pernikahan beberapa jam yang lalu, kau lupa?"
Chaerin sama sekali tidak menghiraukan Ethan dan masih berusaha untuk tidur kembali di balik selimutnya.
"Maaf mengabaikan mu, aku sama sekali tidak bermaksud begitu, pikiranku teralihkan untuk sesaat" ucap Ethan memelankan suaranya.
"Aku tidak menerima permintaan maaf dalam bentuk lisan" ucap Chaerin di balik selimutnya.
"Kau mau aku menulis permintaan maaf?"
"Tentu saja tidak, apa gunanya secarik kertas dengan goresan tinta di atasnya"
"Mau ku belikan tas limited edition dari kulit?" Ethan memberikan penawaran.
Chaerin tidak menjawab apapun, hanya menggeleng di balik selimutnya.
"Sepatu, jam, kalung, cincin, gelang?" Ethan masih berusaha memberikan penawaran.
"Noo"
"Aku akan berikan kartu kredit ku dan kau bisa membeli apapun yang kau inginkan, bahkan kau boleh membeli seisi mall lengkap dengan para pegawainya"
Penawaran terakhir dari Ethan sukses membuat Chaerin bangun dan keluar dari selimutnya.
"Serius?"
Chaerin akhirnya tersenyum sumringah mendengar jawaban Ethan. Ia menepuk-nepuk tempat di sebelahnya memberi tanda bahwa Ethan boleh tidur di sana.
"Ku rasa ranjang ini cukup luas untuk berdua"
"Ck aku pikir kau sama sekali tidak tertarik pada uang, tapi sepertinya aku akan jadi gelandangan sebentar lagi karenamu"
Ethan menaiki ranjang dan berbaring menghadap langit-langit kamar, dan Chaerin juga melakukan hal yang sama.
"Kenapa diam, apa yang kau pikirkan?" Chaerin menatap Ethan yang terpaku melihat langit-langit.
"Aku akan melindungimu, walaupun aku harus mati" Ethan tersenyum ke arah Chaerin.
Chaerin sama sekali tidak mengerti maksud dari ucapan Ethan yang tiba-tiba bicara tentang melindunginya, melindunginya dari apa? ia hanya balas tersenyum.
"Satu-satunya orang yang membahayakan ku di sini adalah dirimu, aku beruntung tidak mati saat kau mencekikku dulu" Chaerin mengungkit masalah di kapal pesiar tempo hari.
"Aku pantas mati" ucap Ethan menggenggam tangan Chaerin dan menciuminya, Ethan benar-benar merasa bersalah tentang kejadian itu.
"Sudahlah"
Chaerin berbalik membelakangi Ethan yang bersiap untuk tidur. Sedangkan Ethan masih melihat langit-langit kamar dengan berbagai macam bayangan mengerikan tentang apa yang akan terjadi pada Chaerin jika ia tidak bisa melindunginya.
*
Chaerin memoles lipstick merah terang ke bibirnya, di lihatnya pantulan wajah cantiknya di cermin dan ia tersenyum puas.
Sudah lebih dari satu jam, Chaerin memilih-milih baju apa yang akan ia kenakan di deretan baju-baju mahal miliknya yang ada di walk in closet.
Menikah dengan Ethan adalah sebuah kemenangan besar. Bagaimana tidak, Chaerin yang biasanya harus bekerja keras menghasilkan uang untuk bisa membeli tas dan sepatu mahal kesukaannya, sekarang hanya harus merayu Ethan dan semua yang di inginkan nya langsung tersedia dalam sekejap, seperti sihir.
Chaerin bahkan tidak menyangka kalau Ethan menyiapkan banyak sekali hadiah pernikahan berupa perhiasan dan juga pakaian-pakaian yang cantik. Ethan juga memberikan sebuah mobil sport keluaran terbaru berwarna pink Gold dengan ukiran inisial namanya, CL.
Chaerin berencana untuk jalan-jalan dengan mobil barunya pagi ini, Ethan memberinya izin untuk pergi ke luar tapi ia harus tetap di temani oleh Christina dan dua orang bodyguard, kehidupan Chaerin perlahan kembali seperti semula, ia mulai mendapatkan kembali kekebasannya, tidak sepenuhnya bebas, tapi ini cukup untuknya menikmati hidup.
"Pagi semuanya" Chaerin menyapa semua orang yang ada di ruang makan dengan senyum bahagia.
"Anda terlihat sangat cerah hari ini nona Chae" Christopher mengomentari, Chaerin menyentuh pipinya dan tersenyum malu.
"Dimana Ethan dan si putih pucat?"
Chaerin tidak melihat Ethan dan sean di manapun pagi ini. Bahkan saat ia bangun pagi Ethan sudah tidak ada di sampingnya.
"Tuan Ethan dan Sean pergi pagi-pagi sekali, ia menitipkan ini untuk anda"
Christopher memberikan sebuah amplop coklat kepada Chaerin.
__ADS_1
Chaerin melihat ke dalam amplop coklat itu dan senyum cerah langsung terukir di wajahnya.
Sebuah ponsel, juga driver license atas nama Clara Zie tentunya, dan yang paling membuat Chaerin bahagia adalah sebuah kartu berwarna hitam dengan ukiran namanya dan juga deretan angka berwarna silver.
"Kau bisa sarapan tanpaku Chris" ucap Chaerin dengan wajah datar.
"Karena aku akan bersenang-senang!!" Chaerin memekik senang sambil melompat-lompat, memperlihatkan black card miliknya.
*
"Tidak ku sangka kau akan datang ke sini, aku pikir kau akan menikmati hari-hari mu sebagai pengantin baru. Kenapa? Apakah istrimu sudah mulai membosankan"
Arnoldo duduk santai di balkon kamar hotel yang di sewanya, di temani dua orang wanita muda yang hanya mengenakan celana dalam.
Sesekali Arnoldo meremas dan menjilati payudara wanita-wanita itu tanpa risih dengan kehadiran Ethan, taupun keberadaan anaknya, Brian.
"Kau juga mau? Aku akan berikan salah satu dari mereka, kau pasti bosan hanya tidur dengan satu wanita" tawaran Arnoldo sama sekali tidak di gubris oleh Ethan.
Ethan masih tetap berdiri di pinggir berpegangan pada pagar balkon yang terbuat dari kaca transparan.
"Aku tidak suka memakai bekas orang lain, terlebih itu bekasmu, sangat menjijikan" Ethan tertawa kecil.
Arnoldo tertawa mendengar ucapan Ethan, ia baru berhenti tertawa setelah beberapa detik
"Kau bilang aku menjijikan, aku dengar istrimu itu dulunya seorang pelacur, berapa banyak pria yang sudah tidur dengannya? Boleh aku mencobanya sekali"
Ethan membuang muka saat mendengar hinaan dari Arnoldo, untuk menahan amarahnya.
"Aku tidak tahu apa alasanmu menikahi jalang itu, tapi seharusnya kau menikahi wanita terhormat untuk mempertahankan reputasi baikmu di mata publik, bukankah di mata dunia kau adalah malaikat" ucap Arnoldo mengejek.
Ethan mengambil teko kramik di atas meja dan memukulkannya ke kepala salah seorang wanita yang bersama dengan Arnoldo. Wanita itu langsung tersungkur ke lantai dengan darah segar mengalir dari lubang di kepalanya, berbarengan dengan teriakan keras dari wanita yang satunya.
"Kau juga mau ku pukul?!" Ethan menatap wanita lain yang masih berdiri di samping Arnoldo dengan menunjukan pecahan teko berlumuran darah di tangannya.
Wanita itu refleks menggeleng dengan cepat, air wajahnya berubah ketakutan dan ada sedikit genangan air mata di pelupuk matanya.
"Kalau begitu pergi"
Ethan membuang pecahan teko yang ia pegang sembarang, dan duduk di hadapan Arnoldo, melipat kakinya santai dan mengambil gelas Arnoldo dan meminum teh miliknya tanpa permisi.
"Yah perbedaan aku dan kau adalah kita menikahi wanita dengan latar belakang berbeda. Kau menikahi gadis kaya dari keluarga berkuasa yang ambisius, tapi hidupmu sangat menyedihkan karena kau tidak mencintainya. Sedangkan aku sangat bahagia"
"Jangan salah, aku juga pernah bersama dengan wanita yang aku cintai, tapi aku sadar bahwa cinta hanya membuatmu lemah, tapi uang membuatmu semakin kuat, cinta tidak terlalu penting bagiku"
"Aku datang ke sini bukan untuk mendengarkanmu berbicara tentang filosofi cinta dan uang. Aku ingin mengakhiri kerja sama kita"
Arnoldo mengernyitkan dahinya bertanda bahwa ia tidak mengerti.
Sean yang sedari tadi berdiri di belakang Ethan maju selangkah, membawa koper hitam yang di lengkapi kunci kombinasi dan meletakkannya di atas meja.
Ethan membuka koper itu perlahan dan membaliknya, membiarkan Arnoldo untuk melihat isinya.
"Barang ini bernilai jutaan dolar, ini barang terakhir yang bisa aku berikan padamu. Kau tidak perlu membayarku kembali, anggap ini sebagai hadiah perpisahan dariku, selanjutnya jangan bersikap seakan kita pernah mengenal"
Ucapan Ethan seketika membuat Arnoldo ternganga, sudah sangat lama ia mengenal Ethan dan baru kali ini Ethan berani berbicara sangat kasar dan bahkan ingin memutuskan hubungan dengannya.
"Bocah sialan, kau tidak berhak memutuskan, di sini aku adalah bosnya!!" Arnoldo membalik meja, membuat semua benda yang ada di atasnya berjatuhan ke lantai, termasuk koper berisi puluhan ampul Nshade yang baru saja di berikan oleh Ethan.
Arnoldo tidak lagi bisa menahan amarahnya. Ia selama ini sudah menganggap Ethan sebagai anaknya, tidak, lebih tepatnya anak anjing, tapi Ethan malah ingin berbalik darinya dan meninggalkannya. Tentu saja Arnoldo tidak akan menerima itu semua.
Sean dengan sigap mengeluarkan pistol dari balik jasnya dan mengarahkannya pada Arnoldo yang sudah siap memukul Ethan kursi yang tadinya ia duduki.
Arnoldo tiba-tiba menurunkan kursi yang sudah di angkatnya lau ia tertawa terbahak-bahak sambil kembali duduk, ia menutupi matanya dengan tangan kanannya yang di penuhi cincin berlian.
"Astaga aku selalu di buat takjub dengan sikap anak idiotmu itu. Ia lebih mirip anjing, lihat bagaimana ia menggeram saat melihat tuannya di serang, benar-benar anjing yang setia. Tidak seperti anjingku yang sekarang malah berbalik dan ingin menggigit tuannya" Arnoldo menyindir Ethan.
"Kau juga punya anak idiot yang tidak berguna" Ethan menunjuk Brian yang sedang asik berbaring di atas sofa sambil bermain games di ponselnya.
Bukan berarti Brian hanya berbaring diam di sana tanpa tahu situasi. Ia hanya pura-pura memakai earphone tanpa ada musik yang di putar. Ia tidak tertarik untuk ikut campur dalam pertengkaran antara ayahnya dan temannya. Memilih untuk memihak di antara keduanya sangat sulit, jadi Brian mengabaikan mereka.
"Aku menahan diriku untuk tidak membunuhmu dulu, tapi mungkin aku tidak bisa menahan diri lagi jika kau mencoba memprovokasi ku seperti ini" Arnoldo menatap Ethan dengan matanya yang memerah karena marah, tangannya bahkan gemetar saat memegang tongkatnya.
"Aku bukan lagi orang yang bisa kau kendalikan, aku tidak sebodoh itu untuk selalu tunduk di bawah kendalimu. Dan juga, aku sudah memutuskan untuk membubarkan Gold Dragon"
Sekali lagi Arnoldo di kejutkan dengan perkataan Ethan.
"Kau tidak akan bisa bertahan tanpa Gold Dragon, kau lupa dari mana kau mendapatkan banyak uang dan berada di posisimu sekarang ini? Kau pikir perusahaan obat-obatan bodohmu itu akan bisa membuatmu kaya! Jika kau tidak ingin, berikan saja Gold Dragon padaku, aku yang akan membuat Nshade sendiri dan melanjutkan bisnis!!"
"Ayo Sean, urusan kita di sini sudah selesai"
Sean mengangguk paham dan berjalan mengikuti Ethan dari belakang sambil tetap waspada kalau-kalau Arnoldo akan menyerang tuannya dari belakang.
"Agh kurang ajar, aku membesarkan pecundang!" Arnoldo berteriak mengeluarkan semua kekesalannya akibat Ethan.
"Kau harus hati-hati, karena mungkin wanita yang kau cintai itu, tidak akan berumur panjang!" pria tua itu menggeretakan giginya dan sebuah rencana perlahan sedang di susun di dalam kepalanya. Rencana untuk membuat Ethan kembali tunduk padanya.
Mendengar ucapan Arnoldi Ethan mengurungkan niatnya untuk pergi. Ia merebut pistol dari tangan Sean dan mengarahkannya kepada Arnoldo.
"Jika kau menyentuhnya, bahkan hanya seujung rambutnya, akan ku pastikan kau akan mengalami mimpi buruk seumur hidupmu"
__ADS_1