
Inguk dan Chaerin berlari keluar dari Gold Tower.
Chaerin menyangka bahwa Inguk punya rencana bagaimana mereka bisa pergi sejauh mungkin setelah keluar dari Gold Tower, tapi ternyata dugaannya salah, Inguk adalah orang paling bodoh di seluruh alam semesta.
Dengan polosnya Inguk memarkir mobil di parkiran basement, sedangkan ia menuntun Chaerin untuk berlari keluar melalui pintu utama, mereka tidak mungkin kembali ke basement untuk mengambil mobil, bisa di pastikan Ethan pasti sudah mengepung tempat itu.
Chaerin tidak mengerti kenapa Ethan bisa melepaskannya dengan mudah, Ethan bahkan tidak mencegahnya untuk pergi, padahal ada sedikit harapan di hati Chaerin, Ethan akan mencegahnya, menjelaskan segala hal dengan suara lembut tapi agak memaksa dan meminta maaf seperti yang biasa pria itu lakukan.
Chaerin menghapus air matanya yang mengalir, ia sudah berusaha keras untuk tidak menangis tapi entah kenapa hati dan pikirannya tidak berjalan di arah yang sama, menjadikan rasa marah, sedih, kecewa, bingung dan takut bercampur aduk menjadi satu.
Satu hal yang bisa di cerna oleh Chaerin saat ini adalah kenyataan bahwa pria yang di cintainya, selama ini membohonginya dan menghancurkan hidupnya dengan membunuh orang yang paling berharga baginya, yaitu Bear.
Bear memang tidak bisa di bilang sudah mati, tapi ucapan dokter Lim tentang betapa mustahilnya Bear kembali sadar, sama saja dengan mengklaim kematiannya secara tidak langsung.
Inguk beberapa kali memberhentikan taxi tapi tidak ada satupun yang berhenti untuk mereka. Malam itu adalah weekend dan sudah pasti orang-orang pergi ke berbagai tempat untuk menikmati malam mereka, taxi-taxi penuh, dan tidak mungkin mereka naik bus, pergerakan mereka akan segera di ketahui oleh Ethan.
Tiba-tiba sebuah mobil Ford Escort tua berwarna putih berhenti di depan mereka dan segera membukakan pintu penumpang.
Melihat mobil yang berhenti, tanpa pikir panjang Inguk segera mendorong Chaerin untuk masuk berharap mereka bisa kabur secepat mungkin.
Tapi setelah masuk dan mobil berjalan cukup jauh, Chaerin baru sadar bahwa orang yang sedang mengendarai mobil di kursi depan sangat familiar.
"Ronan?!" pekik Chaerin.
Chaerin berusaha membuka pintu mobil secara paksa tapi pintu itu terkunci rapat, Inguk merasa aneh dengan tingkah Chaerin yang tiba-tiba gelabakan tanpa sebab, padahal mereka sekarang sudah cukup aman.
"Berhenti perempuan gila, jangan merusak mobil orang sembarangan, kita beruntung pak tua itu memberikan kita tumpangan" protes Inguk sambil berusaha melepaskan tangan Chaerin yang menempel di gagang pintu.
"Kau tidak tahu siapa dia, dia kaki tangan Ethan, dia Ronan" teriak Chaerin sambil memukul-mukul kepala Inguk, supaya pria itu sedikit pintar.
Inguk ternganga seketika, ia tidak pernah melihat Ronan secara langsung dan hanya melihatnya dari foto, ternyata Ronan agak sedikit berbeda dari apa yang ia lihat di foto.
Inguk meraba-raba kantongnya berharap menemukan sesuatu untuk menyerang sopir di hadapannya, tapi ia tidak menemukan apapun selain dompet.
"Kau bisa ambil ini, aku punya cukup banyak uang, tapi jangan bawa kami kembali pada si brengsek itu" Inguk melemparkan dompetnya kepada Ronan, tapi pria tua itu malah membuang dompet keluar jendela.
"Buang handphone kalian keluar, jika tidak, tuan Ethan mungkin akan bisa melacak kita" perintah Ronan.
Ucapan Ronan tidak di dengar jelas oleh Chaerin yang sedang memikirkan hal lain.
"Aku sudah lama mencarimu, jika bukan karena kau, aku tidak mungkin berada di situasi gila macam ini!" ucap Chaerin geram.
Chaerin melepaskan stockingnya dan berusaha mencekik Ronan dari belakang.
Mobil yang mereka kendarai bergerak ke kiri dan kanan tak tentu arah, suara decitan ban dan aspal terdengar ngilu, mereka hampir saja menabrak trotoar tengah jalan, kalau saja Ronan tidak menginjak pedal rem tepat waktu.
Chaerin terbanting ke samping dan tanpa sengaja melepaskan pegangannya pada stoking, membuat Ronan bisa lepas dari wanita itu dan segera keluar dari mobil sambil terbatuk-batuk.
Ronan mengambil nafas sebanyak yang ia bisa dan melepaskannya cepat, lalu mengambil nafas lagi dalam-dalam, paru-parunya terasa hampa udara karena cekikan Chaerin.
Chaerin segera menyusul Ronan keluar mobil, kepalanya yang terluka tidak membuat amarahnya reda, rasa sakit akibat benturan pun tidak di rasakannya, yang ada di pikirannya sekarang adalah Ronan. Karena kesilananya selama ini di mulai dari kebohongan Ronan.
__ADS_1
"Kau mau kabur kemana, urusan kita belum selesai" ucap Chaerin.
Chaerin berjalan terhuyung menghampiri Ronan perlahan, sebelum akhirnya ia kehilangan kesadaran sebelum berhasil mencapai Ronan.
Inguk berhasil menangkap Chaerin sebelum wanita itu jatuh menghantup aspal yang keras.
"Aku akan membantu kalian bersembunyi dari tuan Ethan" ucap Ronan pelan, di sambut tatapan bingung dari Inguk.
*
"Temukan Chaerin, bagaimanapun caranya!" Ethan berteriak di depan puluhan anak buahnya.
Bahunya yang terluka belum sempat di obati dengan benar, peluru yang bersarang di bahunya di keluarkan oleh Christopher menggunakan pisau yang di panaskan, dan lukanya hanya di tutup kain.
Ethan menolak untuk pergi kerumah sakit, ia juga mengusir dokter Lim saat wanita itu datang untuk mengobatinya.
Ethan sudah tidak peduli lagi dengan keadaanya sendiri, baginya yang terpenting sekarang adalah menemukan Chaerin.
Awalnya Ethan sudah berniat melepaskan Chaerin, membiarkan wanita itu memilih jalannya sendiri, ia tidak ingin melihat Chaerin tersiksa dengan hidup dengannya, juga rasa bersalahnya yang sangat besar pada Chaerin membuat Ethan rela untuk melepaskan wanita yang di cintainya itu.
Tapi sesuatu terjadi.
Ethan mendapatkan kado ulang tahun yang mengejutkan, bukan uang yang bayak atau gunungan emas, tapi jauh lebih berharga dari itu semua. Seorang bayi kecil di perut Chaerin, membuat Ethan berubah pikiran.
Kali ini, ia tidak akan pernah melepaskan Chaerin apapun yang terjadi. chaerin harus tetap berada di sisinya walaupun terpaksa.
Selama yang Ethan ingat, ia tidak pernah punya orang tua, ia di jual untuk bekerja di tambang sejak umur 5 tahun sampai umurnya 15, Ethan hanya tahu tentang bebatuan dalam goa, hanya tahu tentang rerumputan yang bisa di makan, dan hewan-hewan tanah menjijikan.
Ia tidak ingin anaknya merasakan hal yang sama. Ia tidak ingin anaknya terlantar karena tidak memiliki ayah, tidak ingin anaknya kekurangan materi ataupun kasih sayang, tidak ingin anaknya di remehkan karena bukan siapa-siapa, tidak ingin anaknya memiliki masa depan yang menyedihkan seperti dirinya di masa lalu. Ia ingin anaknya mendapatkan segala yang terbaik di dunia ini.
"Bunuh siapapun yang berusaha menghalangi, jika kalian tidak bisa membawa Chaerin kembali, aku yang akan mengirim kalian kembali, kepada tuhan!" ucap Ethan pelan dengan senyum di wajahnya, tapi semua orang tahu ucapan Ethan adalah ancaman yang mematikan.
Ethan duduk bersandar di depan perapian, di pandanginya foto usg hitam putih yang di pegangnya dengan mata berkaca-kaca.
"Apa kau laki-laki, atau perempuan?" gumam Ethan dengan suara bergetar.
"Jika perempuan aku harap kau cantik seperti ibumu, jika laki-laki, kau juga harus menjadi seperti ibumu, jangan jadi seprtiku, aku pria yang buruk" Ethan menyapu air matanya yang mulai berjatuhan.
"Jangan khawatir, papa akan menjemputmu, juga ibumu, aku tidak akan membiarkan kalian kesulitan" ucap Ethan sambil mengelus-elus foto usg dan memegangnya erat.
"Tuan, anda harus melihat ini" seorang pria berjas hitam mendekati Ethan sambil memberikan tabletnya.
Kaburnya Chaerin dengan seorang pria menjadi trending di internet mengalahkan gosip para selebriti.
Banyak artikel bermunculan di sertai foto Chaerin yang menodong Ethan dengan pistol dan pergi setelah melukai Ethan, entah dari mana foto iru berasal padahal para penjaga sudah menyita handphone para tahu dan memeriksanya.
Sebagian besar artikel melebih-lebihkan dengan menulis tentang perselingkuhan Chaerin dengan seorang pria yang tidak di ketahui identitasnya. Dan sebagian kecil lainnya masih netral dengan menulis penyebab pertengkaran yang tidak di ketahui.
Ethan membanting tablet yang di pegangnya dan amarahnya kembali meledak.
"Bungkam mereka semua, tidak ada yang boleh bicara buruk tentang Chaerin, bunuh dan bakar semua jurnalis yang membuat artikel tidak masuk akal ini, giling tubuh mereka sampai hancur dan buang ke selokan" Ethan menggenggam tangannya kuat untuk menahan amarah.
__ADS_1
Perintah Ethan langsung di iyakan oleh Sean yang memang biasa bertugas membereskan orang-orang yang merugikan Ethan.
"Tuan, ada polisi di depan yang ingin menemui anda" ucap salah seorang pelayan.
"Siapa orang bodoh yang menelpon polisi?!" Ethan menggeram.
"Salah seorang tamu, atau mungkin karena artikel yang tersebar luas" ucap Christopher.
"Biarkan mereka masuk, dan kerjakan tugas kalian masing-masing"
Para pelayan dan penjaga segera membubarkan diri, termasuk Sean yang sebelumnya mendapat perintah dari Ethan.
Ethan duduk manis di atas sofa depan perapian, suara musik klasik terdengar mengalun dari pemutar piringan hitam tua di samping sofa.
Ethan segera mempersilakan para polisi yang datang untuk duduk, Ethan juga memerintahkan pelayan untuk menyuguhkan teh hangat, karena malam ini cukup dingin.
"Kami mendapat laporan bahwa istri anda melakukan kekerasan dengan menembak anda di tengah-tengah pesta, apa itu benar" salah seorang polisi bertanya.
"Menembak? Kalian bercanda?" Ethan tertawa kecil, diiringi tatapan bingung dari lawan bicaranya.
"Apa nona Clara ada? Kami ingin bertemu dengannya untuk dimintai keterangan"
"Dia sedang istirahat, semua kekacauan yang terjadi malam ini membuatnya lelah, jika ada sesuatu, kalian bisa menanyakannya padaku"
"Tentang ini, foto yang memeperlihatkan istri anda memegang senjata api tersebar luas di internet" sambung polisi itu lagi.
"Kalian pikir wanita sepertinya bisa mengunakan pistol? Kami memang bertengkar karena suatu hal, dan ia kadang lepas kendali, tapi bukan berarti ia akan melukaiku. Kalian bisa lihat, apa aku seperti seorang yang baru saja di tembak? Jika iya, aku seharusnya berada di rumah sakit sekarang" ucap Ethan setenang mungkin sambil merangkai cerita fiksi di dalam otaknya.
"Dan bagaimana anda menjelaskan tentang pistol yang ia pegang, seseorang harus punya izin tentang kepemilikan senjata api" polisi itu terus berusaha mencari kesalahan Chaerin.
"Itu pistol mainan, sebagian besar penjaga yang bekerja untukku memakai pistol mainan yang di selipkan di pinggang mereka, hanya untuk menakut-nakuti"
Ethan melemparkan sebuah pistol ke atas meja, dan para polisi itu memeriksanya secara seksama, menyamakannya dengan foto pistol yang di pegang Chaerin.
"Pria yang bersama istri anda, apa anda tahu siapa dia?"
"Aku tidak terlalu mengenalnya, aku hanya tahu bahwa mereka punya hubungan kekerabatan, dan pria itu beberapa kali di tangkap atas tuduhan penipuan, tapi selalu di bebaskan kerena tidak ada bukti, apa aku benar?" Ethan berusaha bersikap polos.
"Iya, anda benar, kami sarankan supaya istri anda menjaga jarak dari pria ini, walaupun kerabat, tapi tidak bagus berhubungan dengan orang yang punya pengaruh buruk" ucap polisi itu memberi nasehat.
"Bisa kami menemui istri anda, kami akan berpamitan sebelum pergi"
"Dia tidur lelap sekali, dan tidak sopan membangunkan orang yang sedang tidur"
"Anda benar, maaf sudah mengganggu di tengah malam" para polisi itu segera pergi setelah bersalaman dengan Ethan.
Dan Ethan mengantar mereka sampai ke depan pintu dengan sangat sopan.
"Awasi mereka, jangan sampai mereka membuat masalah" ucap Ethan pada salah seorang anak buahnya sesaat setelah para polisi itu pergi.
__ADS_1