
Akbar berjalan dengan langkah hancur, sepulang nya dari kosan Picil tadi Akbar jalan kaki sekedar melepas penat dan rasa sesak didadanya, dia masih tak menyangka dengan kenyataan yg baru saja di dengarnya
" Aku cinta nga kaba Picil... baru sekali ini aku merasa aku sangat mencintai perempuan selain umak... tapi ngape.. ngape kau buat cinta aku ni bahan permainan...ape salah ku...!!!!" keluh nya seorang diri
Seandainya Akbar seorang perempuan mungkin dia sudah meraung raung menangis, membanting barang barang, merusak kasur, membuang guling atau meringkuk sambil sesenggukan hebat,
Tapi rasa yg hancur itu dia redam dengan lebih memilih berjalan kaki tak tentu arah, menelusuti lampu lampu taman yg terlihat redup, dia berusaha tenang tak menjatuhkan air matanya
" Begini rupanya rasanyo patah hati...." desyahnya sembari menendang kerikil kecil yg ada di hadapannya
Terlintas kembali bayangan saat pertama kali dia bertemu dengan Picil
Gadis manis dengan senyum menawan yg menyapanya dengan Akrab, kepribadiannya yg hangat serta kerlingan mata yg indah membuat Akbar setiap hari datang ke warung nasi uduk hanya karena ingin bertemu dengan nya kembali
Yang membuat Akbar menyesal tak berkenalan dan menanyakan alamat rumahnya
Terbayang juga saat pertama kali Akbar membonceng nya mengantar Picil ke kantornya, tangan lembut itu dengan malu malu melingkar di pinggangnya, aroma parfum yg begitu wangi membuat jantung Akbar berdegub hebat, suara nya yg lembut dengan tawa yg renyah, Akbar dibuat jatuh cinta dengan gigi gingsulnya
Terngiang juga saat Picil menceritakan kesedihannya, tentang hidup keluarganya yg memprihatinkan, tangis gadis itu membuat Akbar jatuh iba, tak rela wajah ayu nya menggenang air mata,
Sampai pada Picil mengutarakan isi hatinya, lalu bibir tipis kenyal itu terpagut dibibirnya, ada rasa manis bercampur gugup menyelimuti diri Akbar, betapa itu adalah pengalaman pertamanya
Picil yg begitu manis, lucu, dan tak jaim itu ternyata semuanya palsu
Pantas saja setelah resmi jadian Picil berubah arogan, suka memerintah, apapun kendaknya harus dituruti, dan suka marah jika Akbar berbuat sedikit kesalahan menurutnya
Dia tak sepolos yg Akbar tau..
Tak selucu yg Akbar bayangkan
Akbar mengepalkan tangannya penuh amarah, rasa cinta yg begitu besar kini tertimpa kecewa yg mendalam, rasanya dia ingin meluapkan emosinya saat ini juga
Tapi kembali diingatnya harga dirinya lebih penting, mempermalukan diri didepan wanita seperti itu tak ada guna nya, setidaknya meskipun kenyataan ini pahit tapi dia harus bersyukur Tuhan masih memberitahunya sekarang, andai sampai nanti ketika cinta benar benar sudah merusak logika nya bisa hancur impian dan cita cita nya selama ini.
Akbar kembali mekangkah kan kaki nya menuju kosan nya, rasa nya kaki nya sudah pegal sedari tadi diajak jalan tanpa arah tujuan
Pas di persimpangan antara kosan Akbar dengan Picil, Akbar melihat sebuah mobil hitam mewah berhenti tepat di depan gang, entah kenapa kaki Akbar sulit digerakkan pikirannya ingin tau siapa orang didalam mobil itu.
Cukup lama Akbar menunggui si pemilik mobil turun, entah apa yg mereka lakukan hingga mereka tetap di dalam saat mobil telah berhenti.
Akbar makin curiga, hati nya mengatakan ada sesuatu yg menyakitkan tengah terjadi disana,
Tak lama seorang laki laki paruh baya sekutar mungkin berumuran 50 tahun keluar dari mobil sambil menyeka bibirnya, senyum yg begitu segar tersungging dibibir nya, laki laki itu berjalan ke sebelah dan membuka kan pintu untuk seseorang, keluar seorang cewek berperawakan tinggi sedang memakai baju putih celana jeans dengan bergelayut manja
Akbar menatap nanar, dadanya semakin sesak terhimpit, nafasnya tak terkendali saat dikenalinya siapa cewek itu
Wajah manis Akbar berubah garang dan mengerikan rasanya saat ini memindahkan gunung dempo ke tengah Palembang pun sanggup dia
Dengan langkah cepat Akbar menghampiri si pemilik mobil mewah itu.
" Picil....!!!!" panggil Akbar dengan suara berat
Perempuan yg tengah bergelayut manja di pundak laki laki berumur itu menoleh kearahnya dengan mata yg menyipit, kemudian membola karena kaget
__ADS_1
" Dari mane saje kaba due hari baru le balek...???" tanya Akbar masih dengan suara beratnya, dia ingin menunjukan sisi wibawa nya pada laki laki yg bersama Picil
" Akbar... aku... aku..." gagap Picil
" Siapa dia sayang...???" tanya laki laki berumur itu pada Picil, gaya bicara yg sensual dan tak pantas untuk laki laki tua bersama gadis muda seperti Picil, mereka lebih cocok dipanggil kakek sama cucu
" Saya pacar nya..." jawab Akbar datar
" Waooowww..." lelaki dewasa itu memicing menatap Akbar dari ujung rambut sampai ujung kaki meremehkan
" Sayang sekali kamu sayang... kecantikan mu dipacari lelaki kere seperti ini apa yg bisa ia kasih untuk mu...!!!"
Akbar makin naik pitam, namun masih ditahan emosinya
" Akbar..." panggil Picil dengan nada sesal, biar bagaimana pun Akbar adalah laki laki yg dicintainya, melihat amarah dan kekecewaan di mata nya membuat Picil merasa bersalah
Picil mendekat kearah Akbar
" Sebentar ya mas...." pamitnya pada laki laki itu
" Aku tau kaba butuh duit... tapi bukan begini cara nya..." Akbar menunjuk tanda tanda merah yg menghiasi bagian leher Picil.
" Aku butuh hiburan... butuh orang yg selalu ada buat aku... aku nggak bisa dicuekin Akbar... aku nggak bisa... kemana saja kamu semingguan ini.. kamu selalu sibuk dengan urusan mu... apa kamu mikir gimana perasaan aku... gimana tergantungnya aku sama kamu...!!!!" Picil meluapkan kekesalan dihati nya
" Aku butuh uang buat biaya ibu aku dirumah sakit, aku juga butuh untuk melunasi hutang hutang ibu... apa kamu pikir uang sepuluh juta dari mu sebulan yg lalu cukup haahhh...!!!!"
Lekaki dewasa itu terkekeh mendengar hinaan Picil pada kekasihnya
" Ape salah ku sampai kaba setega ini...!!!" tanya Akbar
Deggg!!!
Picil tergaket, menatap Akbar panik
Darimana dia tau soal kebenaran itu...???? pikirnya
" Kaba terlalu sempit pemikiran Picil... mau mau nya menjual diri pada laki laki hidung belang demi uang... ape kaba dek keruan uang laki laki itu adalah hasil dari doa istri dan anak anaknyo dirumah... apa kaba dek mikir kaba jalan nga dia dek pantas... lebih cocok dibilang kakek deng cucung...!!!"
" Hehhh bocah ingusan berani sekali kau menghinaku..!!!!" bentak si laki laki tua dengan marah, sepertinya om om bau tanah ini tak terima dibilang tua berumur oleh Akbar, dasar lelaki kadal tak ingat umur
" Bukannya memang begitu om...???" Akbar ikut memicing menatap lelaki itu, seujung kuku pun dia tak gentar dengan gertakannya
" Anda itu hanya menang berduit... tega memanfaatkan perempuan muda yg sempit otak nya kaya die ni.. buat jadi bahan pelampiasan nafsu...!!!
" Dan kaba Picil apa dek risih... melakukan hubungan badan dengan orang tua demi uang...????!!!"
" Cukuo Akbar cukup...!!!! gue menikmati itu semua...!!! gue senang..!!! kenapa..??? daripada sama lu kere..!! nggak ada jaminan masa depan buat gue...!!!" bentak Picil
Ucapannya itu loh menyakitkan banget untuk didengar
" Kalau lu kaya lu mampu mencukupi kebutuhan gue... baru gue bakal setia dan lebih milih lu... sayang nya itu nggak kan...????"
" Picil...!!!" Akbar mengangkat tangannya ingin menampar mulut lemesnya itu, bisa bisa nya dia menghina orang yg mencintainya dengan tulus hanya diukur dari materi
__ADS_1
" Sabar...!!! jangan main kasar dengan wanitaku...!!!" cengkal si pria berumur memegang tangan Akbar kuat
Rasanya Akbar ingin berganti melayangkan pukulan mautnya pada laku laki tak sadar umur ini, tapi Akbar masih menghormati dirinya yg lebih tua, takut dosa
" Kau sudah berani menggangguku, kau akan ku beritahu sedang berhadapan dengan siapa kau ini..." suara si pria itu terdengar menakutkan seringai nya mirip vampir yg sedang lapar
Tak lama dari arah belakang datang sebuah mobil jeep dan berhenti tepat di belakang mobil mewah mirip si pria tua, turun 5 lelaki berbadan kekar dengan penampilan seperti preman
" Kasih bocah ingusan ini pelajaran... biar dia tau sedang berhadapan dengan siapa dia ini..." titah si lelaki tua pada 5 bodyguardnya
Akbar menelan saliva nya, dia sedikit gugup dan mengecil nyali nya, sesuatu yg buruk akan terjadi padanya pikirnya kacau
Kelima lelaki itu menyeringai ganas dan mendekati Akbar, Akbar sedikit mundur, tapi dia kembali ingat dia baru saja mendapat ilmu pembekalan bela diri dari pak bos mungkin ini waktunya uji coba, meski Akbar belum yakin dia akan berhasil
Tanpa bisa mengelak lagi Akbar langsung diserang mereka, awalnya saat mereka maju satu per satu Akbar masih sanggup menangkis dan melawannya, cukup akurat juga serangan balik Akbar nggak sia sia ilmu yg diajarkan pak bos padanya, Akbar mampu mengalahkan mereka
Picil cukup kagum dengan kelihaian Akbar dia baru tau jika Akbar jago bela diri juga
Melihat anak buahnya kalah, pria tua itu memberi instruksi untuk menyerang dengan serbuan, kelima bodyguard itu segera bangkut dan mengikuti perintah bos nya
Kali ini Akbar kewalahan, tenaga lima orang ini cukup kuat jika digabungkan, apalagi tenaga Akbar baru terkuras untuk melawan mereka satu persatu
Tendangan demi pukulan tak bisa lagi dihindarinya, Akbar menjadi bola bola yg ditendang sana sini oleh lima orang itu
Si lelaki tua terkekeh puas dengan kekalahan Akbar
Buuuugggghhh!!!
Setelah satu pukulan maut mendarat di pelipisnya Akbar terkapar jatuh kepinggiran aspal, lelaki tua itu mendekat lalu mengijak dada Akbar dengan sepatu mahalnya
Akbar meringis kesakitan
" Jangan berani berani lagi ganggu wanitaku... atau nyawamu akan melayang saat itu juga..ini pelajaran buat bocah ingusan sepertimu yg sok mau menggangguku..." desis nya mengancam
Picil nampak iba dan kasihan melihat kondisi Akbar saat ini, air matanya menetes tak tega
Melihat raut Picil menangisi kekasihnya, si pria tua itu langsung mendekati Picil
" Kamu harus pindah jauh dari tempat ini sayang... aku tak mau kau diganggunya lagi... kau milikku... aku akan membelikan mu apartemen nyaman untuk kau tinggali..." bisik lelaki itu yg seketika membuat Picil tersenyum bahagia, langsung diseka air mata kesedihan untuk Akbar tadi
Akbar hanya menatap dengan kekecewaan, cinta nya tak ada harganya dibandingkan materi, Picil tak butuh cinta darinya
Luka hatinya makin menganga menyisakan perih dalam rintihan tak berujung
Cinta yg tak dihargai...
Picil menoleh dan menatap Akbar sesaat sebelum dia kembali masuk kemobil mewah itu
" Sorry Bar.... kita PUTUS.....!!!!"
Bersambung~
Duhhh sad boy Akbar... yg tabah ya...
__ADS_1
Hihihiiii
Happy Reading...