Bujang Dusun

Bujang Dusun
Semakin Memburuk


__ADS_3

Seminggu berlalu...


Keadaan Rere masih sama, masih terbujur tak berdaya di kamarnya, wajahnya makin hari makin memucat dan layu, kadang detak jantungnya pun melemah.


Keluarga Williyam sudah mengupayakan perawatan dan pengobatan dengan sebaik mungkin, bahkan tuan Williyam sampai mendatangkan dokter dari luar negeri untuk menangani Rere.


Semua cara sudah dilakukan, setiap hari pak bos menungguinya mengajaknya berbicara, mengelus perutnya, bahkan tendangan tendangan halus di buah hati seolah ikut membantu menyadarkan ibunya


Candy setiap hari selalu datang menjenguk, mengajak bicara, menceritakan kenangan kenangan indah mereka


Dan Akbar... dia juga terus berusaha mensuport Rere, memberikan perhatian yg tulus serta menangis mencurahkan kerinduan layaknya seorang adik pada kakaknya, tentang ketakutannya jika si kakak tak lagi mau melihat adiknya.


Akbar memperhatikan Dev yg sedang terus mengajak komunikasi Rere, apa saja kenangan mereka diceritakan, kadang pak bos juga mengelus perut Rere, menenangkan si utun yg terus bergerak aktif di dalam sana


" Bangun sayang....lihat anak kita dia makin aktif mengajakmu berinteraksi... dia kepengen dielus kamu... diajak bicara...kamu merasakan tiap detakannya bukan...??? apa sama sekali tak mengusik istirahatmu... apa kau tak rindu..??? jangan siksa aku seperti ini... ayo sayang..." suara pak bos yg terus memelas dan membujuk Rere untuk membuka matanya


Bahkan Akbar dapat melihat kesedihan yg mendalam diwajah garang pak bos, air matanya tumpah begitu saja...


Akbar berganti menatap Rere, wajah layu itu kian memucat, namun setetes air mata meleleh diujung pipinya.


Akbar terperanjat..


Rere merespon apa yg didengarnya,


" Ayuk...." panggil Akbar tanpa suara


Pak Dev sepertinya tak memperhatikan tangis Rere saat mendengar kesedihannya, pak bos masih asyik memejamkan mata menikmati air matanya yg jatuh berderai


" Pak bos... ayuk nangis..." bisik Akbar pelan dari belakang punggung Deven


Dev membuka mata dan menatap Rere, air mata itu masih tersisa di ujung pipinya


" Sayang.... kamu denger aku...???? kamu merasakan kesedihan ku ini....!!! jika ia ayo bangun lah sayang... kembalilah.. aku sangat mencintaimu.. aku sangat takut kau meninggalkan ku seperti ini..." pinta Dev penuh harapan


Hening...


Semua yg mendengar ucapan Dev serasa ikut hanyut dalam kesedihan yg dalam, ikut merasakan kesakitan yg terlalu merobek hati, orang se garang dan setegar pak Dev saja bisa segini rapuhnya saat melihat wanita yg paling dicintainya terbaring tak berdaya.


" Maaf tuan Dev... sudah waktunya nyonya Rere diperiksa dokter, harap semua menunggu diluar terlebih dahulu..." seorang perawat datang menghentikan kesedihan Dev


Akbar dan pak bos langsung keluar kamar Rere, pak bos duduk disofa depan tv sedangkan Akbar berdiri di dekat pintu kamar.


Dokter dan dua orang perawat sedang memeriksa Rere didalam.


Sekitar 10 menitan dokterpun keluar, pak Dev langsung menghampirinya

__ADS_1


" Gimana...???" tanya Dev terdengar parau


" Seperti yg ku bilang kemarin tuan Dev... yg ku khawatirkan kedua nya tak bisa diselamatkan... sebab kondisi nyonya Rere semakin menburuk..." jelas Dokter


Akbar langsung menangis sesenggukan, dia memang sudah mendengar dari pak bos jika sedari kemarin kondisi Rere semakin menurun bahkan cenderung memburuk, hasrat hidupnya mengecil, dia sama sekali tak bergeming dengan panggilan dan permohonan dari orang orang disekitarnya


Bahkan jika ayuk Rere masih terus seperti ini terpaksa dia akan dioperasi untuk diambil bayi nya, Akbar tak sanggup melihat semua ini..


" Ayuk... ayuk dengar aku ayuk... kaba harus bangun... kasian utun yuk.. deng sape die nanti dibesakkan...die butuh ndung nyo..." ratap Akbar


Dev terlihat frustasi, dia berlari menaiki tangga menuju kamarnya.


Pintu kamar Rere ditutup oleh si perawat sembari menginstruksikan jika Rere harus kembali istirahat dan tdk bisa diganggu dulu.


Akbar menurut, dia lebih memilih diam menunggui Rere di sofa depan tv.


Sedari semingguan ini tiap pulang kantor Akbar selalu datang kerumah Rere, menungguinya bahkan menginap, dia tak mau melewatkan sedetikpun untuk tau kabar perkembangan kondisi Rere.


Meskipun kenyataannya makin hari kindisinya makin memburuk.


Seperti hari ini, dia buru buru mentelesaikan tugasnya setengah hari lalu langsung pamit kerumah pak bos, bukan niat sok caper atau apapun, tapi respek nya terhadap kebaikan ketulusan Rere selama ini mengalahkan segalanya.


***


Malam pun semakin larut, pak bos sejak sore tadi tak keluar kamar, sayup sayup Akbar mendengar raungan tangis dari kamar pak bos, sepertinya beliau tengah menumpahkan kesedihannya sendirian.


" Bi apa aku dem boleh tengok ayuk...???" tanya Akbar


" Non Rere kan baru saja di periksa dokter lagi Den... dia juga habis disuntik makanan.. pasti sudah istirahat... besok saja..." bujuk bi Mur lembut


" Aku hanya mau tau keadaannya saje bik..."


" Percaya Den... non Rere itu kuat... wanita tangguh dia basi baik baik saja..."


" Tapi dokter tadi bilang..."


" Itukan prediksi dokter sedang umur Tuhan yg punya Den... bantu doa saja.. bibi yakin kok non Rere akan kembali sehat seperti semula.."


Akbar mengusap wajah nya kasar, menghela nafas panjang membuang kesumpekan di dadanya.


" Jangan terlalu berfikir yg buruk buruk Den... itu akan membuat kita tak percaya pada kuasa Tuhan... yg memiliki kehidupan kita ini adalah Allah.. jadi serahkan segalanya kepada Nya..."


" Aku dek tega bik ngliat ayuk seperti ini... ame la die dek ade keinginan bangun dari koma nye.. apa die dek kerasan berada disekeliling kami, ape die merasa kami dek menyayanginya...ngape ayuk dek tersentuh serikitpun saat pak bos menangis dan memohon padanya..."


" Kehilangan orang orang yg dicintai itu menyakitkan Den... apalagi non Rere kehilangannya sekaligus dengan cara tiba tiba... wajar jiwa nya terguncang... belum bisa mengikhlaskan... bibi juga pernah merasakan kehilangan anak bibi.. rasanya bibi ingin mati saja ikut dengannya, padahal disekeliling bibi masih ada anak bibi yg lain, suami, orang tua dan keluarga..."

__ADS_1


Akbar tersentuh, dia jadi kengingat saat Bapang meninggalkan nya beberapa tahun silam, waktu itu dia juga sangat terpukul dan kehilangan seakan sebelah sayap nya patah, namun Akbar segera bangkit demi umak, dia harus menjaga umak seperti wasiat bapang


Lalu ayuk Rere...kenapa tak ada alasan yg membuatnya untuk bersemangat lagi...??? bahkan kehamilannya pun tak membuatnya bergeming


Apa ayuk tak pernah bahagia atas hidupnya...???


Apa dia merasa tak ada orang lain yg menyayangi dan mencintainya selain keluarganya...???


Apa ayuk dek merasa tangis ketulusan pak bos untuk nya...????


Pertanyaan pertanyaan yg tak tau jawabannya itu mengiang dipikiran Akbar, dia semakin menghawatirkan kehidupan ayuk sesungguhnya.


Disaat seperti ini semua baru menyadari seperti apa kebahagiaan yg membuat kenyamanan sesungguhnya.


" Maaf ada tuan Dev...???" tanya perawat yg tiba tiba muncul disebelah bi Mur


" Diatas buk... biar saya panggilkan..." saut bi Mur sembari naik keatas memanggil tuannya


" Kenapa bu perawat... apa yg terjadi...???" tanya Akbar yg melihat wajah bu perawat cukup tegang, sepertinya dia baru saja keluar dari kamar Rere


" Nyonya Rere semakin memburuk....!!!!!"


*Deg


Deg


Deg*


Akbar langsung berlari mendahului nya menuju kamar Rere


Bersambung~


Haiii Readers gimana puasanya??? wah nggak kerasa kita udah masuk di penghujung bulan berkah ini ya


Semoga semua amalan kita bisa diterima sama Allah...amiin


Maaf ya Author jadi jarang up


Taulah ya namanya mau lebaran serba sibuk jadi agak kurang sempet nulis.. kadang udah mau nulis nggak focus


Takut nya kalau diterusin malah cerita nya jadi aneh...


Ini aja author ngrasa rada aneh, dimaafkan ya... otak lagi kerja ekstra makanya sedikit puyeng


hihihiiii

__ADS_1


Jangan lupa tetep di Vote di like dan di komen yg positif biar author makin semangat


Happy Reading....


__ADS_2