
" Bar... dipanggil pak Presdir keruangannya..." Grace memberitahu Akbar yg tengah sibuk mendata beberapa barang rusak dan harus direturkan kembali ke distributor
" Sekarang bu...???" tanya Akbar menghentikan Aktivitasnya
" Iyahhh..." sahut Grace sambil mengangguk
" Duuuhhh ame la ditinggal aku lupa nanti..." keluhnya yg tak dimengerti oleh Grace, mungkin soal barang yg sedang dihitung dan dicatat nya
" Dari pada kena marah...!!! kamu mau...????" tawar Grace
" Ahhhh benar juga... bisa di sembur ame aku lame datang saat dipanggil nyo..." sahut Akbar membenarkan ucapan Grace
" Buruan gih...!!!!"
" Ao buk makasih..." Akbar pamit dan bergegas segera menuju ruang pak bos
Thoookkk toookkk
Akbar mengetuk pintu pelan, ditunggunya dengan sabar sampai Dev mempersilahkan dirinya masuk.
" Masuk...!!!!" sahut suara pak bos dari dalam
Akbar memejamkan mata sembari mengatur nafas agar tidak gugup, mulutnya komat kamit baca doa agar mendapat perlindungan dan keselamatan.
Pasalnya masuk ruangan pak presdir apalagi dipanggil secara pribadi seperti ini bagaikan masuk kandang singa biasanya dek selamat dari amukannya.
Akbar membuka pintu pelan lalu melangkah dengan kaki gusar dan jantung berdegup tak karuan, rupanya masih saja dia gugup dan was was, doa nya kurang mempan melawan takutnya.
" Siang pak bos... bapak panggil saya...???" sapa Akbar lalu berdiri tepat di depan meja Dev, menatap wajah bosnya sekilas lalu kembali menunduk, menatap lantai yg membisu
Wajah Dev terlihat datar, dingin
Seperti biasa tanpa ekspresi. Membuat Akbar semakin was was dan ciut nyalinya
" Kamu tau kenapa kamu saya panggil keruangan saya...????" tanya Dev dengan suara bass nya
Akbar menggeleng
Dev tersenyum smirk membuat Akbar makin was was
" Selama saya tidak ke kantor apa kamu sering menggantikan saya menghadiri meeting dengan beberapa clien dan investor...????" tanya Dev datar
Akbar langsung menunduk takut, dia pasti akan ditegur soal ini, karena ini bukan ranah pekerjaannya, dia pasti akan dianggap lancang.
" Maaf kan saya pak bos... saya tau saya salah saya dem lancang... tapi sungguh saya dek punya niat apapun kecuali mau membantu bu Grace yg kualahan..." sahut Akbar menjelaskan
" Apa kamu memang sengaja mencari kesempatan agar dekat dengan nya...???"
" Dide pak bos sungguh... saya dek bermaksud begitu maafkan saya... saya janji dek akan mengulanginya lagi jika dek ade persetujuan pak bos..." ucap Akbar menyesal
Dev tersenyum miring menanggapi ketakutan Akbar, lelaki ingusan ini memang benar benar tulus dan polos, pikirnya
" Kamu tau dampak yg kamu lakukan...???" tanya Dev lagi, sepertinya Dev sengaja mengerjai Akbar yg ketakutan, ekspresi nya sangat lucu
" Dek keruan pak bos...."
" Kalau kamu tak tau lalu siapa yg memyuruhmu melakukan nya, selesikan saja tugas mu dengan baik...tak perlu melakukan pekerjaan yg bukan tugas mu..."
" Maafkan saya pak bos itu inisiatif saya sendiri...saya anye respek nga pak bos deng ayuk Rere jadi selame saya pacak saya mau bantu..."
Dev tersenyum lalu berjalan mendekati Akbar, wajah Akbar semakin pucat, dalam hatinya tengah membaca doa agar pak bos luluh hatinya,
__ADS_1
Sayangnya sepertinya mantra Akbar belum mempan juga pak bos semakin dekat bahkan mengayun kan satu tangannya tepat ke pundak Akbar
Akbar gemeteran, tubuhnya menggigil ketakutan
" Ya Allah selamatkan aku... aku pengen hilang saat ini juga....hindarkan aku dari amukan pak bos Ya Allah...." teriaknya dalam hati
Terlambat...!!!
Dev sudah lebih dulu menggapai tubuh Akbar,
Tanpa Akbar perkirakan Dev menepuk pundak Akbar hangat, membuat Akbar yg tadinya sudah mau teriak meminta ampun langsung terperanjat kaget.
Akbar membuka matanya yg tadi ditutupnya rapat, lalu mengintip kecil dari balik bulu matanya memastikan apa yg dirasakannya saat ini bukanlah sebuah ilusi yg menjebaknya.
Dev terlihat tersenyum dengan tarapan mata yg bersahabat,
" Saya bangga dengan mu Akbar...!!!" ucap Dev sekali lagi. Membuat Akbar akhirnya berani membuka matanya dan menatap Dev termangu
" Pak bos dek marah nga saya...???" tanya Akbar polos
" Kamu sudah melakukan hal yg sangat baik... your good job Akbar... lalu alasan apa saya harus marah padamu...??? justru saya bangga punya karyawan seperti mu, yg tanpa pamrih benar benar punya loyalitas yg tinggi terhadap perusahaan..."
" Kau tau jika tidak ada kamu... aku tak tau apa yg terjadi dengan para investor dan Clien kemarin, berkat presentasimu yg sangat menarik membuat mereka tertarik dan mau bekerja sama dengan kita tanpa syarat... itu sebuah prestasi yg luar biasa..." puji Dev
Pujian itu seolah nyanyian termerdu ditelinga Akbar, betapa dia sangat bahagia mendapat pujian dari orang yg selama ini menjadi tauladannya.
Akbar tersenyum lega, rasanya saat ini jiwanya sedang terbang dialam bebas, menari nari di antara awan biru diatas sana...
" Tapi dari mana kau bisa presentasi sebaik itu Akbar...??? apa kau punya pengalaman..." tanya Dev
" Eeeee itu pak bos dulu di dusun saya sering bantu bapang dan pak kadus pidato ame ade acara di dusun... pernah juga ikut promosi durian dusun kami ke kabupaten...jadi saya belajar presentasi suatu prodak lewat situ pak bos...." jelas Akbar, dia berusaha menggunakan bahasa Indonesia dengan baik saat berbicara dengan Dev, takut di komplainnya
" Ternyata menciptakan skill itu tak harus sekolah S2 di luar negeri ya... ikutan promosi durian di kampung aja bisa jadi bahan dasar..."
" Maaf pak bos tapi masih banyak kekurangan, otodidak soalnyo..."
" Itu sudah sangat keren... saya bangga dengan itu..."
Akbar bernafas lega, rupanya Dev bukan memarahinya atas apa yg dilakukannya tapi Dev memuji kemampuan yg Akbar miliki dan sikap loyalitasnya yg tanpa harus disuruh terlebih dahulu,
Memang benar... berbuat suatu kebaikan kepada orang tak harus melihat apa imbal balik dari orang yg diberi kebaikan tersebut.
Sebab semuanya pasti akan dinilai sama Allah.
" Akbar....!!!! karena kamu sudah melakukan hal yg sangat baik dan loyalitas mu cukup besar untuk perusahaan, melihat skill mu yg harus makin di asah lagi... saya menghadiahkan kantor cabang di kota A untuk kamu pegang, kamu ku naikkan jabatanmu menjadi Manager cabang..." ucap Dev dengan mantap, betapa tidak loyalitas Akbar pantas mendapat hadiah itu.
Akbar melongo tak percaya, dia sangat girang mendapat hadiah yg nggak kaleng kaleng dari pak bosnya, dia sangat terharu sampai mau meneteskan air mata kalau dek ingat dia ini adalah laki laki yg maco si bujang dusun kebanggaan umak.
Tapi....
Tiba tiba Akbar teringat cibiran dan tudingan dari Tasya kemarin lusa, cibiran yg sangat mengganggunya, sebuah tindakan baik yg dianggap hanya sebagai pencitraan
Lalu dituding berbuat baik agar mendapat pamor dan cari muka, lalu bisa naik jabatan secara mudah
Akbar juga teringat beberapa tudingan dari rekan karyawan lain yg selalu mengolok olok dirinya, menghina ayuk Rere... bu Candy... mengecam loyalitas mereka adalah cara licik agar bisa memikat hati pak presdir dan tangan kanan nya,
Ciiiihhhh
Akbar membenci itu semua, dia tak mau apresiasi sebuah prestasi dianggap sebagai cari sensasi.
" *Ame la aku terima tawaran pak bos ini... apa dek buat mereka makin mencibir aku... mereka akan memojokkan ku jika apa yg ku lakukan memang karena mau nyari nama dan pujian..."
__ADS_1
" Tapi... ame aku tolak hadiah pak bos ini... aku sungkan... ini juga sebagai jembatan aku untuk mencapai cita cita ku...!!!! huuuuhhhh harus gimana aku ini*...????"
Akbar gamang dan bimbang menyikapi apresiasi yg diberikan pak bos padanya, sebuah jabatan yg sangat fantastis, bahkan hampir semua orang mengharapkan jabatan itu, mereka kadang sampai melakukan banyak cara dan kecurangan demi diangkat menjadi Manager disebuah cabang, yg mendapat kepercayaan penuh untuk memegang, memimpin dan mengendalikan sebuah perusahaan.
" Gimana Bar...???" tanya Dev memperjelas yg melihat Akbar nampak berfikir dan kurang antusias
" Eeee.... maaf pak bos bukannya saya ni dek sopan atau menyinggung pak bos... hanya... ee.. saya dek pacak menerima jabatan itu... belum pantas saja..." ucap Akbar sebaik mungkin, dia tak mau penolakkan nya ini menyinggung pak bos yg sudah sangat baik ini
" Kata siapa tak pantas... aku menunjuk mu berarti aku tau kamu layak memegang jabatan itu...!!!" tungkas Dev
" Maaf sekali pak bos ame la untuk saat ini saya belum siap..."
" Why....???" protes Dev
" Saya ikhlas dan tulus bekerja disini, apapun yg saya lakukan adalah bentuk loyalitas seorang karyawan pada perusahaan, saya dek mengharap imbalan, saya juga dek sedang cari muka dan pujian pak bos..."
" Aku memberi mu jabatan baru juga bukan karena semata kagum dengan apa yg kamu lakukan, tapi karena saya yakin kamu layak mengemban tugas itu..."
" Tapi sungguh saya belum siap pak bos, saya mau jangan dulu saya dinaikkan jabatan se fantastis itu, biarkan saya tetap dibagian karyawan gudang saje... saya dek mau dituding berbuat baik karena ada mau nya... dianggap cari muka cari pujian...saya pengen rekan rekan karyawan menyadari jika bekerja sesuai etos kerja bukan semata ingin cari pujian tapi adalah bentuk kesungguhan dan pengabdian kita terhadap suatu pekerjaan..."
Dalam hati Dev makin bangga dengan sikap Akbar,
" Polos sekali bocah ingusan ini... sifat baiknya sangat alami... bukan semata mata dibuat buat... pantas Rere selalu bilang bocah ini adalah anak baik..."
" Maaf pak bos sekali lagi saya minta maaf tolong jangan tersinggung ya... saya terpaksa menolak apresiasi dari pak bos... bukan karena dek menghargai tapi... demi kebaikan bersama..."
" Saya dek nyaman pak bos... kebaikan ayuk Rere bu Candy selalu dianggap trik licik untuk mengambil simpati kalian..."
Dev manggut manggut memgerti
" Baiklah kalau kamu menolak hadiah dariku... ingat kesempatan hanya datang satu kali jadi jangan menyesal..." sahut Dev dibuat sedingin mungkin, biasalah Dev pencitraan
Akbar meneguk saliva nya seret, sebenernya sangat disayangkan dia menolak kesempatan baik ini, tapi apa boleh buat nama baik juga tidak kalah penting
" Terimakasih pak bos atas pengertiannya sekali lagi saya minta maaf..."
" Kembali lah ke tempat kerja mu... jika ini pilihan mu bekerjalah dengan baik dan tunjukan nilai loyalitas mu pada karyawan lain... buktikan mereka bisa mencontoh tindakan mu..."
Akbar kembali menelan salivanya, ini adalah tugas yg cukup berat,
Tapi tak mungkin Akbar berani membantahnya lagi, bisa semakin bikin mood pak bos tambah jelek, bisa ngalamat buruk nanti
" B... baik pak bos... saya permisi..." Akbar segera pamit keluar ruangan, takut pak bosnya berubah fikiran.
" Huuuuhhhh....." Akbar membuang nafas panjang nya lega
" *Semoga pilihan aku ni dek salah, meskipun aku melewatkan kesempatan baik... tapi aku yakin suatu hari nanti akan ada kesempatan tg lebih baik yg pacak aku dapat... semangat Akbar...harga diri penting...!!!!!"
" Maaf pak bos terpaksa aky menolak nyo*..."
Bersambung~
Readers jujur Author rada kikuk kalau Akbar harus berdialog dengan bahasa indonesia dengan baik, karena kesan anak dusunnya jadi hilang...
Tapi gimana ya banyak yg gak paham juga sih ya jadi pada puyeng baca karena nggak ngerti artinya
Maafkan author ya...
Jangan lupa sediakan brodrex atau paramex apabila kepala senut senut setelah baca padt Akbar hihihiiiii
Happy Reading...
__ADS_1