Bukan Orang ketiga

Bukan Orang ketiga
1. Tidak Merestui


__ADS_3

Matahari bersinar indah menyinari bumi ini. Terlihat awan putih menghiasi langit biru. Meski ibu kota terkenal dengan polusi udara, tapi kota ini memiliki banyak peminat untuk mengejar apa mimpi.


Pagi ini, aku dijemput kekasihku yang sudah menemani hariku selama setahun, namanya Rama Aditya. Dia seorang Direktur keuangan diperusahaan orangtuanya. Dia bilang, dia akan mengenalkanku kepada kedua orang tuanya yang baru saja pulang dari luar negeri. Begitu senangnya hatiku, aku sama sekali tidak menyangka bahwa aku akan secepat ini bertemu calon mertuaku. Aku berprasangka baik saja, karena aku yakin orangtua Rama adalah orang yang baik. Bisa aku lihat dari Rama. Rama orang yang baik dan tulus. Kedua orangtuanya juga pasti sangat baik. Pikirku.


"Sayang, kamu senangkan akan bertemu dengan kedua orangtuaku?" tanyanya sambil tangan kiri nya menggenggam tanganku.


"Lebih dari senang, senang sekali malah." aku tersenyum kearahnya.


Dia mencubit hidungku. "Kalo senyum kaya gini terus, aku makin cinta." Ya ampun Rama, selalu bikin hati ini berdebar.


Aku melepaskan tangannya dari hidungku. "Sakit tahu, kalo nyetir fokus." aku menunjuk kearah jalan.


"Aku tidak fokus, kamu mengalihkan duniaku." Astagfirullah, selalu saja seperti itu. Bikin jantung mau loncat. Mukaku sudah dipastikan merah kalo dia sudah menggodaku menggunakan gombalan recehnya.


"Apasih kamu. Aku itu gugup tahu, gimana caranya menghadapi orangtuamu?"


"Gak usah gugup. Orangtuaku tidak akan memakanmu." Dia tertawa kecil. Tawa yang selalu ku rindu. Mata sipitnya semakin menyipit kalo lagi tertawa atau tersenyum.


Waktu terasa cepat jika kita didekat orang yang kita cintai. 30 menit sudah aku dan Rama menembus jalanan ramai. Tibalah didepan gerbang menjulang tinggi. Dengan tiga orang penjaga disana memakai seragam yang sama. Aku menganga melihat halaman yang luas, banyak bunga dan pepohonan yang terawat sempurna. Subhanallah, indah sekali. Sekaya apakah kekasihku? Pikirku. Nyaliku semakin menciut ketika melihat rumah yang berlapis emas. Pintunya pun amat sangat besar. Kalo dibanding pintu rumahku bisa jadi 2 kali lipat. Aku diam tak bergeming, Rama sudah membukakan pintu mobil. Aku melipat-lipat jari-jariku, pikiranku jadi melayang.


"Hey.. Mau diem aja disana?" Suara Rama membuatku tersadar.


Aku turun dari mobil, Rama menggenggam tanganku. "Ayo masuk."

__ADS_1


Aku mengikuti Rama masuk kedalam, di dalam sudah ada dua pelayan yang menunggu. Kami dibawa ke ruangan dimana terdapat orangtuanya Rama. Jantungku semakin berdegup kencang. Hati aku tidak karuan. Keringat dingin mulai membasahi tubuhku. Yang pertama aku lihat, adalah wanita paruh baya yang tersenyum kepada kami. Yang kedua, lelaki paruh baya, yang wajahnya tidak bisa aku tebak.


"Selamat pagi, pa. Ma?" Rama menyapa kedua orangtuanya.


"Pagi sayang. Duduk dulu." ucap Mama Rama dengan ramah.


"Rama, langsung aja. Apa yang akan kamu bicarakan." ucap papanya dengan pandangan masih melihat kertas ditangannya.


"Jadi, kedatangan Rama kesini, Rama ingin memberi kabar. Bahwa Rama akan menikahi Bintang. Dan ini adalah Bintang, gadis yang sangat Rama cintai." Rama masih saja menatapku, aku jadi malu. Langsung aja aku menundukan kepalaku.


Aku melihat dengan ujung mataku, papa Rama menatapku dari atas sampai bawah. Wajahnya sangat sinis. Apa dia tidak akan merestui kami? Dilihat dari tatapannya, sepertinya dia tak suka. Pikirku.


"Apa pekerjaan orangtuamu?"


"Bintang sudah.." kata-kata Rama bahkan terpotong oleh papanya.


Aku menjawab dengan kegugupanku. "Saya sudah tidak punya orang tua om."


"Heh, bahkan kamu anak sebatang kara. Lalu apa pekerjaanmu?"


Jantungku semakin berdebar kencang. Aku semakin takut dengan pertanyaan-pertanyaan papa Rama. "Saya memiliki toko kue, om."


"Hanya toko kue? Tamatan apa sekolahmu? Sarjana, master, doktor?"

__ADS_1


"Hanya sampai sekolah menengah, om."


Papa Rama membanting keras dokumen yang ada ditangannya.


"Jadi kamu tidak kuliah. Benar begitu?" Aku mengangguk pelan.


Aku melihat kesamping, ku lihat muka Rama sudah merah. Aku tahu dia marah, tangannya terkepal.


"Rama, buka mata kamu? Apa orang seperti dia pantas untukmu?" Deg, sakit. Itu rasa pertama. Apa hidup sebatang kara bisa jadi alasan. Tak terasa air mataku sudah menggenang dipelupuk mata. Jika saja aku berkedip, sudah pasti akan secepatnya jatuh. Aku menahannya.


Rama berdiri. "Bintang pantas untukku pa, bahkan sangat pantas."


Papa Rama tersenyum sinis. "Dia itu kampungan dan tidak berpendidikan. Dia tidak pantas menyandang status nona muda dikeluarga ini."


"Pa, jangan menghina Bintang. Aku sangat mencintai Bintang. Tolong hargai pilihanku."


Papa Rama menatap tajam kearah Rama. "Sejak kapan kamu berani berbicara meninggi seperti itu? Oh, apa jangan-jangan dia yang mengajarimu. Seharusnya kamu bisa memilih wanita terbaik, bukan seperti dia."


Mama Rama mengusap tangan suaminya. "Pa, udah."


"Justru Bintang yang mengubahku menjadi lebih baik. Aku tidak ingin berdebat pa. Tapi, papa mendahului.


Aku memberanikan diri untuk berdiri, walau sebenarnya aku tidak kuat. "Cukup, sudah cukup anda menghina saya." Aku berlari keluar, air mata yang sejak tadi aku tahan. Akhirnya, tumpah jua.

__ADS_1


"Sampai kapanpun, aku tidak akan memberikan restu untuk kalian." Teriak papa Rama. Jelas, terdengar ditelingaku. Aku sudah tidak kuat lagi.


Aku menjadi perhatian para pegawai dirumah besar itu. Sungguh, ini terlalu sakit. Aku terus berlari sampai menemukan angkutan umum.


__ADS_2