Bukan Orang ketiga

Bukan Orang ketiga
8. Cemburu


__ADS_3

Pertengkaran masih terus berjalan. Aku yang tidak mau kalah juga karena aku merasa benar. Dan Rama tetap bertahan dengan keegoisannya.


Aku mencoba melemahkan hatiku kembali. Memegang tangan rama dan menciumnya.


"Sayang, percayalah. Hati aku sudah menjadi milikmu seutuhnya."


Rama belum melemah, masih dengan amarahnya. Aku bahkan sudah membujuknya.


"Sayang, beri aku kepercayaan. Seperti aku yang selalu mempercayaimu."


Rama menghembuskan nafasnya kasar. "Kamu harus tahu, kamu milikku dan akan terus untukku. Aku cemburu melihat kamu berbicara dengan lelaki lain. Dan kamu sudah tahu itukan?" Aku mengangguk pasrah. Karena memang benar begitu.


"Jadi, jangan ulangi hal seperti ini jika aku tidak ada. Apalagi sampai tertawa lepas seperti tadi. Aku cemburu lihat itu semua." Rama memberi jeda. "Kamu belum pernah tertawa lepas seperti itu didepanku. Bahkan aku lebih sering melihat airmata mu menetes."


"Sayang, aku bahagia sama kamu. Hanya saja, aku masih malu mengekspresikan perasaanku, rasa bahagiaku. Air mata yang aku keluarkan tidak semuanya kesedihan. Terkadang, itu kebahagiaan yang tidak bisa aku ungkapkan."


"Tolong, jangan cemburu seperti itu lagi." Rama memelukku. Ah, akhirnya luluh juga. Bertengkar dengannya membuat tenagaku terkuras habis.


Setelah beberapa menit yang lalu bertengkar. Rama mengajakku keluar untuk sekedar jalan-jalan plus makan. Aku mengiyakan ajakannya. Walaupun dalam hati, aku ingin diam dirumah. Aku mengalah demi kebaikan bersama.


Mobil Rama berhenti disebuah Caffe. Seperti tempat nongkrong anak zaman sekarang. Karena yang ku lihat banyak mahasiswa datang ke tempat ini. Rama membawaku ke dalam. Tempatnya memang nyaman. Sesekali aku memandangi desain-desainnya. Andai, aku punya toko yang lebih besar dan bisa ku dekorasi sesuka hatiku. Aku pasti senang sekali. Sayangnya, terlalu besar biaya yang harus aku keluarkan. Sudahlah.. Aku tak perlu memikirkan toko. Sekarang, aku hanya harus menikmati waktuku dengan suamiku tercinta.


"Sayang, mau makan apa? Pilihlah" Rama menyodorkan buku menu.


Aku menerimanya. "Aku mau minum aja. Capucino."


Rama memanggil pelayan caffe dan memesan Capucino 2.


"Sayang, kenapa bawa aku kesini? Ini kan tempat anak muda." tanyaku pelan.


Rama malah tersenyum. "Memangnya kamu sudah tua? Memangnya tempat seperti apa yang oran TUA mau?" dengan menekan kata tua.

__ADS_1


Aku memukul bahunya pelan. "Ih sembarangan aja."


"Haha lagian ada-ada aja pertanyaan kamu. Kamu kan tidak menikamati masa muda dengan baik. Jadi, aku ngajak kamu kesini. Dari pada ditoko mulu sumpek. Mending nongkrong. Nanti bakal ada yang nyanyi juga. Tuh lagi siap-siap." menunjuk grup musik.


"Eh iya. Ada acara musik juga. Wah seru nih." Aku antusias untuk mendengarkan lagu dari grup musik tersebut.


Minuman kami sudah tersaji. Lagu pun mulai dinyanyikan grup band musik yang menghibur orang-orang di caffe ini. Aku tersentak saat lagu yang mereka nyanyikan berjudul mama papa larang milik judika. Aku jadi merasa tersindir. Tapi, ini ungkapan perasaanku pada Rama. Aku sampai ikut bernyanyi saking bapernya mendengar lagu itu.


🎵🎵🎵


Separuh nafasku


Ku hembuskan untuk cintaku


Biar rinduku


Sampai kepada bidadariku


Uu-uu


Kamu segalanya, tak terpisah oleh waktu


Biarkan bumi menolak, 'ku tetap cinta kamu


Walau dunia menolak, 'ku tak takut


Tetap 'ku katakan 'ku cinta dirimu


Ohh


Karena kamu

__ADS_1


Bintang di hatiku


Takkan ada yang lain


Mampu goyahkan rasa cintaku padamu


Kamu segalanya, tak terpisah oleh waktu


Biarkan bumi menolak, 'ku tetap cinta kamu


Walau dunia menolak, 'ku tak takut


Tetap 'ku katakan 'ku cinta dirimu


Sudah jangan kau usik lagi


Cinta yang tertanam di hati


Akan 'ku bawa sampai mati


Kamu segalanya, tak terpisah oleh waktu


Biarkan bumi menolak, 'ku tetap cinta kamu


Walau dunia menolak, 'ku tak takut


Tetap 'ku katakan 'ku cinta dirimu


Ohh-uu


Dirimu

__ADS_1


🎵🎵🎵


__ADS_2