Bukan Orang ketiga

Bukan Orang ketiga
10. Menunggu


__ADS_3

Malam ini, mataku sulit untuk terpejam. Rama memberi pesan kepadaku bahwa hari ini dia akan pulang. Tapi sampai pukul sebelas malam begini, Rama belum juga datang. Padahal Rama tidak pernah berbohong selama ini. Aku masih setia menunggunya. Padahal, aku sudah menyiapkan makan malam untuknya. Aku terus saja menghubunginya, namun ponselnya tak kunjung aktif. Aku merasa kesal sekaligus sedih. Aku terduduk lesu di sofa. Apa yang terjadi dengan Rama? Pertanyaan yang pertama kali muncul dalam benakku. Aku hanya takut terjadi apa-apa dengannya.


Sampai waktu subuh tiba, Rama belum juga kembali. Semalaman aku menunggunya sampai aku tidur di sofa. Aku bangun dan membersihkan diriku.


Aku turun ke bawah sekitar pukul 8, aku malas untuk sarapan. Aku juga tidak menyapa anak-anak. Ku lihat mbak Wina sedang berkutik dimeja makan mempersiapkan makanan yang pasti ia masak.


"Mbak Wina, kok ada disini?" sambil mendudukan diriku dimeja kursi.


"Dari tadi mbak tunggu, gak turun-turun. Mbak lihat belum ada sarapan. Jadi mbak inisiatif untuk masak. Ayo makanlah."


Namun aku diam saja. Hatiku masih gelisah menunggu kabar dari Rama. "Kenapa? Berantem sama Rama?"


Aku menggeleng. "Rama belum ngasih kabar. Kemarin sore katanya malam mau pulang. Aku tunggu sampe tengah malam. Tak kunjung datang."


"Mungkin kerjaannya belum kelar. Udah, sekarang makan dulu aja. Nanti kamu sakit lagi. Kalau sakit, nanti apa kata Rama. Bisa-bisa ngamuk dia ke mbak."


"Mana berani." tungkasku.


"Sama mbak gak akan berani, sama anak-anak. Kaya yang gak tahu Rama aja. Ayo makan dulu."


"Iya." Aku dengan malas memakan makanan yang sudah disiapkan mbak Wina.


"Perasaan dulu, gak begini deh kalau ditinggal. Sekarang, ditinggal duanhari aja seperti setahun kayanya." Mbak Wina tertawa kecil.


"Ih mbak, gak usah ledekin aku. Aku juga bingung. Kemarin aja, aku hampir berat melepaskan kepergian Rama."


"Hehe.. Sudahlah jangan dipikirkan. Rama sangat mencintaimu, mbak tahu itu. Dia pasti kembali secepatnya. Dia juga pasti merindukanmu."


"Kalau dia merindukanku, kenapa dia matiin hp nya?"


"Bekerja sambil memainkan hp kan gak baik. Sama seperti kamu, yang melarang anak-anak bekerja sambil main hp. Yakan?" Aku membenarkan kata-kata mbak Wina. Aku merasa berlebihan kepada Rama. Baiklah, aku maklumi. Bekerja memang seperti itu kan. Ada aturan-aturan tertentu yang harus ditaati.

__ADS_1


Aku menyudahi sarapanku. Setelah mbak Wina kembali ke dapur untuk membuat kue pesanan.


Aku membereskan piring kotorku, dan membawanya ke wastafel. Aku mencucinya lalu menyimpan dilemari.


Aku kembali, dan melangkahkan kakiku ke dalam toko.


"Selamat pagi menjelang siang mbak." dua orang menyambutku dengan suara cempreng mereka.


"Hehe.. Maaf aku kesiangan."


"Sudah dimaafkan. Hehe. Mbak kan bos nya mau siang atau pun malam. Ya, bebaslah." ucap Rena.


"Kamu bisa aja."


"Mbak, ada surat ini dari mas yang waktu itu." Siska memberikan secarik kertas untukku. Aku menerimanya. Lalu aku buka kertas itu.


Dear Bintang,


Mama, mengajakmu makan siang, siang ini. Kalau kamu bersedia, hubungi no ini 0899234245. Aku harap kamu mau.


Terimakasih,


Ibra.


----------


Ternyata Ibra yang menulis pesan singkat di secarik kertas. Aku sebenarnya bimbang. Kalau aku kesana, aku sangat takut Rama tahu dan marah. Kalau nggak kesana, aku merasa tidak enak hati. Inikan permintaan mama Ibra, yaitu bu Widia yang sering pesan kue disini. Langganan tetap. Aku merogoh ponselku di saku blazerku. Aku menghubungi Rama. Nomornya masih juga tidak aktif. Aku mengirimi Rama pesan, untuk meminta izin. Jika aktif dia pasti membacanya.


Sayang, aku diajak makan siang sama mama Ibra siang ini. Aku pergi ya? Gak enak juga mengabaikan pelanggan setiaku.


Cepet pulang. Aku rindu. I love you.

__ADS_1


Aku menutup ponselku, lalu berpamitan kepada anak-anak.


"Sis, Ren. Mbak keatas dulu ya?"


"Iya mbak." jawab mereka serempak.


Aku memasuki kamarku, aku memilih baju yang pas dan sopan untuk bertemu dengan temanku dan mamanya.


Aku memakai dres warna peach dibawah lutut dengan sepatu berwarna putih. Tak lupa tas selempang kecil senada dengan dresku.


Sudah selesai, aku memberi pesan kepada Ibra bahwa aku akan datang.


Aku menaiki motorku, menyusuri jalan kota yang padat akan kendaraan. Aku melewati berbagai macam toko. Dan berakhir di sebuah caffe yang jaraknya setengah jam dari rumahku.


"Hai sayang, ayo duduk. Terimakasih sudah datang atas undangan tante." Bu Widia memberikan pelukan untukku. Memang kami sudah akrab dari sejak lama.


"Iya tante. Kebetulan aja aku lagi luang."


"Mau makan apa?"


"Apa aja tante.. Aku apapun suka kok. Hehe" Bu widia memesan makanan kepada pelayan cafe.


"Ini loh, tante gak nyangka kalau kalian itu teman lama. Kalau Ibra gak cerita, mungkin sampai sekarang tante gak akan tahu."


"Mama, ini antusias denger cerita kamu dulu loh. Kamu penolong aku dimasa itu." Ucap Ibra.


"Iya, dulu Ibra memang begitu, culun, cupu, letoy. Tapi, sekarang semenjak kuliah di luar negeri dia jadi berubah. Makin tampan kan ?" Aku tersenyum kaku. Mana mungkin aku memuji orang lain selain suamiku. Aku iyain aja biar mereka senang.


Aku dan Ibra juga mamanya melanjutkan obrolan kami, banyak hal yang mereka bicarakan. Aku hanya mengangguk tanda paham, sambil sesekali menjawab sekenanya. Bu Widia memang orangnya Asyik, aku membayangkan jika mertuaku sepertinya. Ah, apa mama Rama seperti bu Widia?.


Aku malah bergelut dengan pikiranku sendiri.

__ADS_1


__ADS_2