Bukan Orang ketiga

Bukan Orang ketiga
5. Menikah


__ADS_3

Hujan datang begitu saja, butiran air itu jatuh dengan berani. Langit sedang bersedih. Kenapa selalu bertolak belakang denganku? Disaat aku akan bahagia menikah dengan orang yang ku cintai. Langit malah bersedih. Aku duduk di depan cermin. Aku melihat wajahku. Iya, aku tidak cantik. Rambutku ikal, tubuhku pendek dan pipiku cuby. Kenapa Rama mencintaiku?.


"Cinta lebih tahu kemana dia harus berlabuh."


"Kamu jelek, tapi aku mencintaimu."


"Jangan tanya kenapa aku jatuh cinta kepadamu, sudah pasti karena takdir."


Jawaban-jawaban tidak jelas, datang dari mulutnya. Aku tersenyum. Mengingat bayangan wajah Rama. Memelukku, menciumku. Dia sangat romantis. Apa benar Rama jodohku?


Mbak Wina datang bersama suaminya. Dua orang yang membantuku ditoko juga sudah kembali. Aku duduk dalam satu meja bersama mereka.


"Apa yang akan kamu sampaikan?" mbak Wina selalu bisa menebak.


"Sebenarnya, aku mau memberitahu kalian tentang pernikahanku."


Braaak.. Siska menggebrak meja. "Mbak mau nikah? Kapan? Kok dadakan."


"Santai woy. Mbak nggak..." kata-jata Rena terhenti setelah menerima cubitan dari Siska. Rena mengaduh pelan. "Apasih?"


"Hamil maksudnya?" Aku tertawa. Ya, walaupun jarak kami tidak ada batasan. Aku tetap menjaga kehormatanku.


"Bukan dadakan sih, Rama berulang kali mengajak menikah. Tapi, aku selalu menolaknya."


"Kenapa?" suami mbak Wina angkat bicara.

__ADS_1


"Karena papa Rama tidak memberi restu kepada kami. Ya, alasannya sudah jelas. Aku anak sebatang kara. Tidak jelas pekerjaannya, pendidikannya minim." Mbak Wina mendekatiku dan mengusap punggungku.


"Jangan berkecil hati, yang kami lihat, kamu wanita luar biasa." Aku tersenyum getir, persis seperti yang selalu dikatakan Rama.


"Bener itu mbak. Orang kaya kan memang suka menghina." ucap Rena polos.


"Tapi, kami menikah secara agama. Dan, aku minta bantuan Mas Ridwan untuk menjadi waliku. Apa mas bersedia?" Aku melihat kearah mas Ridwan.


"Maaf Bintang, mas gak bisa." Aku menunduk, semua orang terlihat kaget dengan ucapan mas Ridwan. Terutama mbak Wina.


"Mas.."


Mas Ridwan tersenyum simpul. "Maksudnya gak bisa nolak.. Kalian mah serius wae." Dengan logat sunda yang kental. Setelahnya mas Ridwan ketawa.


Aku memutar bola mataku jengah. Bagaimana bisa disaat seperti ini, lelaki kelahiran garut yang maunya di panggil mas, biar keren (katanya) ini malah becanda. Aku memukul mas Ridwan memakai bantal sofa. "Mas becanda nya gak lucu. Jantungku serasa mau copot."


Semua orang bubar dari rumahku. Termasuk Siska dan Rena yang pulang ke kostannya masing-masing dibelakang rumahku.


"Aku pulang ya mbak."


"Iya aku juga. Nanti malem aku otw."


*****


Malam sudah tiba. Aku sedang dikerumuni anak abg yang saling berebut untuk memoles wajahku. Mereka berdebat memilih warna dari mulai eye sadow, blush on, sampai lipstik. Kuping terasa nyeri mendengar teriakan mereka.

__ADS_1


"Nah warna ini cocok buat mbak. Cantik." ucap Siska.


"Padahal ini yang lebih bagus, pasti mbak makin cantik." Rena gak mau kalah.


"Sudahlah, ini acara kan sederhana. Tanpa make up pun mbak gak apa-apa kok." aku menengahi.


"Mbak, ini tuh hari penting buat mbak. Hari ini adalah hari dimana kalian mengikat janji di hadapan Tuhan."


"Bener tuh setuju." seru Rena.


"Yasudah, selesaikan. Gini aja udah cantik kan? Kan mbak Cantik dari orok." Pede amat ya aku, gak apa-apalah. Menyenangkan hati sendiri kan lebih baik.


Diruang tamuku sudah ada 5 orang yang hadir. Rama hanya membawa asistennya Yuda untuk menjadi saksi pernikahannya. Aku keluar dari kamarku di gandeng dua dayang. Malam ini, aku menggunakan kebaya berwarna putih, dengan rambut disanggul dan memakai mahkota kecil. Aku lihat mas Rama sudah duduk di samping penghulu. Dia sangat tampan, walau hanya mengenakan kemeja putih berlapis jas hitam. Kepalanya tertutup peci. YaAllah, sungguh indah ciptaanmu. Ia tersenyum kearahku, aku membalasnya. Jujur saja, hari ini aku gugup. Aku duduk disamping Rama.


"Saudara Rama, apakah anda sudah siap?" tanya pak penghulu.


"InsyaAllah siap pak."


"Bismillahirohmannirrohiim. Saudara Rama Aditya, saya nikah dan kawinkan engkau dengan Bintang Almayra binti almarhum bapak Rusdi Hidayat, dengan mas kawin seperangkat alat solat dan emas seberat 25 gram, dibayar tunai?"


"Saya terima nikah dan kawinnya Bintang Almayra binti almarhum bapak Rusdi Hidayat dengan mas kawin tersebut, tunai." Hanya dengan satu tarikan nafas, Rama berhasil mengikrarkannya.


Semua orang yang hadir menucapkan alhamdulillah. Aku memeluk mbak Wina, mbak Wina menangis begitu saja. Aku tahu mbak Wina sudah menganggapku sebagai keluarganya. Karena sudah lama, dia tidak dikaruniai seorang anak, dia menganggapku anaknya juga. Aku bersyukur semasa hidupku masih punya mbak Wina dan mas Ridwan. "Selamat berbahagia, semoga pernikahannya langgeng. Mbak selalu mendoakan yang terbaik. Dan untuk Rama, jaga Bintang. Jangan sakiti dia. Udah terlalu banyak beban yang dia pikul." Rama mengangguk mengerti.


Aku mencium tangan suamiku, ya Rama sekarang suamiku. Sah untukku. Aku sudah tidak takut berdosa lagi jika memeluk atau menciumnya. Rama mencium keningku dengan penuh kasih sayang. Malam ini, adalah malam yang membahagiakan. Walau tanpa kehadiran orangtuaku dan orangtua Rama.

__ADS_1


"Sekali lagi selamat ya mbak Bintang." Rena memelukku.


"Iya mbak, semoga awet. Langgeng sampai maut memisahkan." ucap Siska yang juga memelukku. Aku sampai terharu.


__ADS_2