
Siang telah berganti malam. Bulan telah menggantikan matahari. Seharian ini, aku menunggu Rama. Tak ada telepon, chat, atau datang kesini pun tiada. Kemana Rama? Tanyaku dalam hati.
Jujur, sehari tanpa kabar dari Rama, aku selalu gelisah. Pikiranku selalu negatif, takut Rama sakit. Takut Rama kenapa-kenapa, itu hal jelek yang aku pikirkan. Tapi, untuk berpikir Rama dengan wanita lain, sungguh diluar pikiranku. Aku tahu Rama setia, Rama sangat menyayangiku. Aku bolak-balik keluar masuk didepan tokoku. Seminggu ini toko aku tutup dulu, kebetulan dua karyawanku yang berasal dari kampung sedang mudik. Dua hari lagi waktu cuti mereka habis, dan aku harus sudah menyiapkan resep baru.
Kembali lagi ke permasalahan, aku masih bingung, waktu sudah semakin malam. Sekarang, jam sepuluh. Ah, mungkin dia tidak akan datang. Dia sibuk bekerja.
Setelah bergelut dengan pikiranku, ku putuskan untuk tidur saja. Menunggu yang tidak pasti itu menyebalkan.
Aku menaiki tangga atau yang selalu ku sebut loteng. Aku masuk ke dalam kamarku, ku lihat lagi ponselku. Masih tidak ada kabar. Ku telpon balik, nomornya tidak aktif. Aku menyimpan ponselku di atas nakas. Lalu, aku memejamkan mata.
Tok..tok..tok..
Suara ketukan pintu setengah gedoran pintu membangunkanku. Aku melihat jam diatas nakas. Jam 12 lebih 15 menit. Siapa malam-malam gini gedor pintu? Dengan langkah malas aku turun ke bawah. Membukakan pintu. Astagfirullah. Betapa kagetnya aku. Rama datang di jam segini dengan keadaan berantakan. Baju kemeja yang sudah keluar setengahnya, rambutnya pun sama berantakan. Dia seperti berbicara ngelantur. Aku yakin dia mabuk, aku mendekatkan indra penciumanku. Ternyata benar, bau alkohol sangat menyengat. Apa yang terjadi? Kenapa dia sampai mabuk.
Aku membopongnya ke sofa, ku rebahkan tubuhnya. Aku membuka sepatu yang dia pakai beserta kaos kakinya. Saat aku akan melangkah pergi ke dapur. Rama menarik tanganku.
"Jangan pergi. Biarkan dia melarang kita. Aku tetap mencintaimu." Mata Rama masih terpejam.
__ADS_1
"Rama, kamu sedang mabuk. Aku ambil air hangat dulu untuk membersihkanmu." Dia masih tidak melepaskan tanganku.
"Bintang, kamu satu-satunya untukku." Rama menarik tanganku, hingga aku jatuh dalam pelukannya. Rama menatapaku dengan mata nakal, dia senyum menyeringai. Aku merasa takut. Tidak biasanya Rama seperti itu. Aku melepaskan diri. Namun tangan kokohnya masih menahanku.
"Bintang, lakukan denganku. Sekarang." Rama tiba-tiba saja mencium bibirku dengan rakus. Aku berontak ingin melepaskan diri, Rama terus saja menahannya. Rama menggigit kecil bibirku hingga aku kesakitan. Ia masih terus menciumku, bahakan lebih ganas lagi. Air mataku menetes, Rama yang ku kenal lembut kini bersikap seperti ini. Dia menciumku dengan nafsu yang menggebu. Aku semakin terisak, hingga Rama menghentikannya.
"Maaf." katanya lirih. Setelahnya dia tak sadarkan diri.
*****
Paginya Rama sudah bangun, dia sudah mandi dan rapi. Aku juga sudah menyiapkan sarapan untuknya. Sebenarnya mataku masih sangat ngantuk, bagaimana tidak aku hanya tidur dari jam 3 pagi. Aku takut kalau Rama akan macam-macam kepadaku. Sampai-sampai aku ketiduran begitu saja.
"Pagi sayangku." wajahnya yang semalam menakutkan, pagi ini sudah seperti semula. Menggemaskan.
"Kenapa sampe mabuk?" aku tanya pada intinya.
"Aku frustasi Bintang. Bagaimana pun juga aku akan mempertahankan cinta kita."
__ADS_1
"Aku mengerti. Tapi mabuk bukan jalan terbaik. Baiklah, sesuai permintaanmu. Kita akan berjuang bersama." ucapku sambil tersenyum kepadanya.
Alih-alih menjawab dia malah mencium keningku.
"Sarapan sudah siap, yuk?" aku menarik tangan Rama. Mendudukannya dengan manis. Aku menyiapkan nasi dan lauk pauk seadanya yang aku masak sejak jam 5 tadi. Aku melihat Rama makan dengan lahap.
"Apa semalam kamu takut melihatku?" tanyanya sambil mengunyah makanan.
"Takut banget. Tidak biasanya sikapmu begitu."
"Maafkan aku sayang, maaf jika semalam aku menyakitimu. Terimakasih sudah merawatku." Aku mengangguk.
"Kapan toko akan buka lagi?" ia menatap toko kue kekasihnya.
"Mungkin lusa, anak-anak belum balik ke kosan. Katanya hari ini. Aku juga mau menemui mbak Wina hari ini. Untuk membicarakan menu baru di toko ini. Banyak yang bertanya kapan buka."
"Kamu memang hebat. Papa tidak pantas menyebutmu seperti kemarin, kalau dia tahu fakta sebenarnya kamu wanita hebat dan kuat."
__ADS_1
"Sudahlah lupakan. Aku hidup untuk diriku sendiri, bukan untuk orang lain. Jadi, aku baikan aja apa kata orang." ucapku dengan ceria. Seceria anak kecil yang dikasih permen.
Rama sudah menyelesaikan sarapannya, dia langsung pergi ke kantornya. Tapi, sebelumnya banyak hal yang dia minta kepadaku. Selalu saja, lelaki ini memang ribet sih. Selalu, banyak aturan kalau tahu aku akan pergi kemana gitu. 'Jangan terlalu deket sama cowok, jaga jarak minimal satu meter' ultimatum ketika aku pergi tanpa dia. Rama, kamu pencemburu sekali. Padahal, kalau dilihat dengan baik-baik, dia yang tampan juga mapan. Dan aku yang seharusnya cemburu kalau dia deket wanita lain. Aku kan hanya kerikil kecil. Mana ada yang mau. Kecuali yang buta cinta seperti Rama.