Bukan Orang ketiga

Bukan Orang ketiga
6. Gagal


__ADS_3

Malam semakin larut. Angin malam berhembus lewat sela-sela ventilasi. Pukul 23:15 menit, semua yang hadir di pernikahanku pulang. Aku berjalan ke atas dengan Rama suamiku. Aku berjalan kearah kamar mandi, namun Rama menghentikanku. Dia menarik tanganku, dan mendudukanku di ranjang.


"Mau kemana?" tanyanya.


"Mau ke kamar mandi dulu sayang, aku harus bersih-bersih."


"Nanti aja. Aku ingin memelukmu dulu. Sini." menunjuk pangkuannya. Aku menurut saja untuk membahagiakan hatinya. Rama memelukku dengan erat. Sesekali dia mencium leherku. Geli, kurasakan.


"Sayang, geli." bahuku terangkat.


"Diamlah.. Mulai malam ini, kamu milikku. Semua yang ada padamu juga milikku." Senyum nakal itu, membuat aku takut.


"Iya..iya.. Aku milikmu."


"Berarti boleh dong?" Aku tahu arti pertanyaan itu. Belum juga aku menjawab, dia sudah menciumku.


Aku melepaskannya. "Sayang, hentikan.. Aku lagi datang bulan." Tuhkan manyun dia. Tapi, ekspresinya membuatku gemas..


"Gagal dong, malam pertama kita." Rama melepaskanku dari pangkuannya. Dia berbaring diranjang dengan tangan bawah kepalanya. Aku tahu dia kesal.


Aku duduk disamping ranjang. Aku mengusap wajahnya. "Sayang, cuma seminggu kok. Gak akan lama. Aku sayang sama kamu." Aku menciumi semua wajahnya. Dari bibir, pipi, kening sampai hidung mancungnya yang sangat aku sukai. Jurus ampuh yang membuat senyumnya kembali.


"Jangan menggodaku. Aku harus puasa. Sana kalo mau bersih-bersih." ucapnya ketus.


Aku pergi ke kamar mandi, membersihkan tubuhku dan wajahku dari make up. Aku masih terbayang wajah kesal Rama yang membuatku terkekeh. 15 menit kemudian, aku keluar dari kamar mandi. Ku lihat Rama sudah tidur.


Aku mendekatinya. "Sayang, bersih-bersih dulu. Biar nyenyak tidurnya.


"Males sayang. Aku mau tidur. Sini aku mau peluk kamu." Tangan Rama menarik tanganku, aku menurut tidur disampingnya.

__ADS_1


"Peluk aja ya?"


"Inginnya sih lebih dari itu." Aku mencubit pinggangnya sampe Rama mengaduh.


"Iya, enggak. Aku juga gak mau melewati laut merah." Ini dada ternyamanku, aku memeluknya. Membenamkan wajahku di dadanya. Ku dengar nafasnya sudah teratur. Aku mengadahkan kepalaku. Ternyata lelaku sudah tidur. Yaampun, cepet amat tidurnya. Pasti dia lelah. Aku semakin erat memeluk tubuhnya. Hingga aku ikut tidur dengan nyaman.


*****


Hal pertama yang ku lihat saat bangun tidur adalah Rama. Serasa mimpi, aku mencubit hidung suamiku pelan, dia tidak bangun. Hanya bergumam pelan. Memang ya kalau yang tampan, mau sedang tidur atau tidak tetap saja tampan. Seperti suamiku ini. Tampan sekali, aku semakin cinta. Selama apapun aku memandangnya, tetap saja aku tidak bosan.


"Sudah memandangiku nya?" Jleb.. Ternyata dia sudah bangun. Ah, aku malu bukan main. Aku menutup wajahku dengan selimut.


"Buka selimutnya, aku senang kamu memandangiku." sambil melepaskan selimut yang aku gunakan untuk menutup wajahku.


"Gak dibuka, aku gelitikin nih." Rama sudah memberi aba-aba. Akhirnya aku menyerah. Membuka selimut.


"Nakal kamu. Harusnya kamu langsung aja cium aku. Bukan malah dilihatin aja."


"Ngaku aja. Seorang istri berbohong kepada suaminya. Itu namanya dosa." Dih, pake acara ceramah segala. Aku kan emang selalu kalah olehnya dalam segala hal.


"Udah deh. Aku mau bangun, mau siapin sarapan. Kamu mandi sana, udah subuh juga."


"Cium dulu biar semangat."


"Nggak mau, kamu bau. Wle." Aku bangkit sambil menjulurkan lidahku. Aku kabur ke bawah, takut dimangsa lagi. Bisa-bisa gak sarapan.


Aku berkutat didapur. Pagi ini, aku memasak nasi goreng. Menu sarapan yang paling mudah dan digemari. Setelah sarapan siap, aku kembali ke kamar menyiapkan baju untuk suamiku bekerja. Ini bukan hal pertama, ketika masih status berpacaran Rama kadang nginep disini. Tapi, tidak satu kamar. Dia selalu tidur dikamar bawah. Namun, untuk urusan pakaian jelas aku yang mengurusinya.


Suamiku sudah selesai mandi. Handuknya masih melilit dipinggang.

__ADS_1


"Ini pakaiannya,l sudah siap. Aku tunggu dibawah untuk sarapan."


"Tunggu.. Aku mau kamu yang memakaikanku baju kerjanya."


"Hah? Nggak ah.. Pake aja sendiri." sebelum menjadi tahanan, aku langsung kabur. Aku dengar Rama berteriak. Aku mengabaikannya.


Sampai dibawah anak-anak sudah datang kerumahku. Anak-anak yang suka meramaikan tokoku. Seminggu ini, aku sepi tanpa mereka.


"Pagi mbak.. Cieee yang udah malam pertama, wajahnya berseri seri." blush.. Kok aku yang malu. Polos sekali sih kalian.


"Iya, gimana rasanya mbak?" tanya Rena pelan.


Aku sedikit berpikir. "Gimana ya? Yang pasti tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata."


"Nikmat ya mbak?" tanya Rena lagi. Duh, polos amat sih mereka.


Mana ku tahu, nikmat atau tidak. Orang belum ngerasain. Aku nyengir kuda. "Anak kecil jangan dulu ngomongin hal dewasa."


"Bener tuh, nanti otak kalian jadi kotor." Suara berat dari tangga, mengalihkan perhatian kami.


"Eh kak Rama. Mbak aku buka toko dulu." Rena dan Siska ngibrit. Mereka memang cerewet, tapi dihadapan Rama mereka selalu bersikap malu-malu. Aku menggelengkan kepala. Merasa lucu.


"Sayang, kamu membuat mereka takut." Rama malah mencium keningku.


"Padahal wajahku tampan."


"Tampan sih, tapi menyeramkan. Hehe. Tapi, tetep cinta." Rama mencubit pipiku.


"Sudah pintar gombal sekarang. Yuk sarapan, aku lapar."

__ADS_1


Aku membawanya ke meja makan. Nasi goreng telur mata sapi sudah siap. Kami menyantap sarapan pertama kami dengan status sudah bersuami istri.


__ADS_2