Bukan Orang ketiga

Bukan Orang ketiga
4. Rindu Sendiri


__ADS_3

Senja mulai menghiasi langit, matahari sudah menutup hampir sempurna. Menyembunyikan sinar indahnya. Aku baru saja pulang dari rumah mbak Wina. Cerita sedikit soal mbak Wina. Mbak Wina adalah orang yang 23 tahun mengabdi pada keluargaku. Sejak dulu, toko kue ini sudah ada dan orang pertama yang bekerja disini adalah mbak Wina. Almarhumah ibu menitipkanku kepada mbak Wina, mbak Wina memiliki banyak ilmu tenang kue-kuean. Aku sendiri sebebarnya sama sekali tidak bisa membuat kue, tapi seiring berjalannya waktu mbak Wina menyadarkanku. Ini adalah peninggalan ibuku yang harus ku jaga. Toko ini dinamai StarMoon Bakery. Dua nama dari anak ayah dan ibuku. Yakni, aku Bintang, dan kakakku Bulan. Sekarang selain menjual di toko, disini juga bisa delivery order. Aku sengaja menggunakan online, soalnya lebih mudah dan lebih banyak lagi peminatnya.


Setelah selesai mandi, aku menyiapkan makanan. Dan membereskannya. Lalu, aku masuk kembali ke kamar. Kamar yang di cat dengan warna Blue Pink. Indah, kesannya wanita banget. Aku melihat ponselku yang lmpu Led nya berkedip. Aku buka kunci layarnya. Hah? Kaget bukan main, ternyata Rama sudah memanggilnya sebanyak 14 kali. Tambah pesan sebanyak 29 chat. Yaampun, saking asyiknya tadi di rumah mbak Wina, sampe lupa sama ponsel. Mana di silent lagi, pantas saja tidak terdengar. Aku tersenyum membaca pesan terakhir darinya.


Kamu biarkan aku rindu sendiri. Kamu biarkan aku menanti.


Bintang, jangan siksa aku seperti ini.


Karena aku bisa mati.


Yaampun, receh banget nih gombalan. Aku menekan tombol memanggil kontak bernama MyKing❤.


Tuuuuuuttt... Telepon tersambung, tapi belum diangkat. Ah, dia pasti balas dendam. Dasar pendendam sekali kamu Rama. Sekali lagi aku mencoba memanggilnya. Akhirnya diterima.


"Hallo sayang."


"Kamu dari mana aja? Telepon gak diangkat, chat gak di bales. Aku kan udah bilang, jangan lupa hubungi aku. Kamu sampai melupakan itu semua. Kamu gak dengerin apa yang aku katakan." Cerocosnya. Ini yang paling aku takutkan. Kuping aku panas mendengar ocehannya, berulang kali dengan kata yang sama.


"Sayang, maaf. Hp aku di silent. Lupa benerin lagi."

__ADS_1


"Beneran?"


"Masa kamu gak percaya sama aku."


"Tidak semudah itu. Kamu tahu kan apa yang harus kamu lakukan jika aku sedang marah?" haduh, aku pusing dibuatnya. Senjata terakhirku. Aku harus menggodanya.


"Sayang, aku rindu sama kamu. Datanglah kemari, aku siapkan kue untukmu." dengan suara yang sok manja. Aku sendiri merasa jijik dengan perkataanku ini. Rama kok diam? Gak mempan nih namanya.


"Sayang, aku ingin ada didekatmu saat ini. Datanglah. Sekarang." Aku sengaja menutup telponku. Sudah pasti dia kesal. Dan dia pasti datang kesini.


Aku buru-buru pergi ke kamar mandi, menyegarkan tubuhku kembali setelah seharian di rumah mbak Wina. Aku mengganti pakaianku, memoles wajahku natural. Aku melihat diriku dalam pantulan cermin, sepertinya sudah pas. Aku duduk manis dengan ponsel ditanganku. Suara ketukan pintu terdengar, itu pasti Rama. Secepat kilat aku pergi ke depan. Aku langsung berhambur memeluknya.


"Sayang, sudah datang. Aku rindu." dengan suara yang meyakinkan.


"Iya sayang, aku tahu. Maaf tadi aku tidak mengabarimu."


"Sudahlah, kalau sudah didekatmu. Hatiku merasa damai kembali." Cie, gombal lagi kan. Kamu yang marah, kamu pula yang gombal.


Aku membawanya duduk, aku bergelayut manja kepadanya. Hal yang paling di sukai Rama. Aku pergi ke belakang untuk membawa kue yang tadi aku dan mbak Wina buat. Memang aku yang menginginkan Rama orang pertama yang menyipinya.

__ADS_1


"Sayang, ini kue yang aku buat sama mbak Wina. Cobain ya?" Rama mengangguk. Tapi, dia tidak bergerak sama sekali. Oh, aku tahu. Tandanya harus aku yang menyuapinya.


Aku ambil sendok, dan memotong kue nya, "aaaaaa sayang." hap, tuhkan langsung dimakan. Aku terus menyuapinya sampai kue tersisa setengahnya.


"Sudah. Aku kenyang, sayang." Aku menghentikan aktivitasku menyuapinya. Dia seperti anak kecil. Aku tersenyum ke arahnya. Dibalas senyum lagi.


"Kalau lihat kamu tersenyum, rasanya kesalku hilang begitu saja."


"Berarti, kamu harus deket terus sama aku. Biar kamu gak pernah marah."


"Kita menikah." Aku nyengir kearahnya, aku bingung harus jawab apa.


"Kita menikah sayang, aku takut tidak bisa menahan hasratku." Kok arahnya kesana, kalo sudah bicara dewasa. Aku selalu saja takut.


Aku menggenggam tangannya. "Sayang, menikah itu tidak sesimple yang kita pikirkan. Restu orangtua itu adalah hal terpenting."


"Bintang, aku tidak mau menunggu lama. Persiapkan dirimu. Malam besok kita menikah."


"Hah?" aku seperti orang bodoh. Kalau sedang tidak serius, sudah pasti Rama akan menertawakanku. Tapi, Rama serius dengan perkataannya.

__ADS_1


"Kamu mau kan? Kita berjalan bersama. Suatu saat papa pasti merestui kita." Tidak bisa dipungkiri. Mata itu begitu meyakiniku. Aku mengangguk lemah. Seketika Rama memelukku. Dia menangis bahagia. Beberapa kali Rama mengatakan tentang pernikahan. Mau serius atau saat berguyon. Aku selalu mengalihkan pembicaraan. Aku hanya takut, tanpa restu pernikahanku berakhir begitu saja. Aku tahu Rama mencintaiku, tapi aku juga tidak ingin Rama berdosa kepada orangtuanya. Dan dia meyakini jika kita tidak menikah, maka kita akan berdosa bersama. Ah, pelukan saja sudah mengundang dosa, apalagi ciuman dan bahkan lebih dari itu. Memang aku sangat takut.


"Terimakasih sudah bersedia menikah denganku."


__ADS_2