Bukan Orang ketiga

Bukan Orang ketiga
9. Berpisah Sejenak


__ADS_3

Angin segar yang berhembus melalui celah ventilasi, membuatku semakin menaikan selimutku. Aku hendak memeluk suamiku, ternyata tempatnya sudah kosong. Aku membuka mataku, mataku mengelilingi setiap sudut kamar. Sesaat setelah itu aku melihat pintu kamar terbuka. Aku melihat seseorang yang aku cari. Ya, itu Rama. Aku terheran, jam segini Rama sudah serapi itu.


"Hei sayang, sudah bangun." Rama menghampiriku, mencondongkan tubuhnya dan meraih kepalaku. Lalu dia mencium keningku.


"Selamat pagi.." Aku tersenyum. Rama duduk disisi ranjang.


"Pagi kembali. Tumben jam segini udah rapi?"


"Hari ini aku harus berangkat pagi, soalnya aku mau ke luar kota. Dua hari aku disana."


Aku menunduk sedih. Entah kenapa hatiku jadi lembek seperti ini. Sebelum menikah, aku tidak semanja ini. Setelah menikah aku merasa tidak ingin jauh-jauh dari Rama. Mataku sudah berkaca-kaca.


"Sayang, nanti aku akan menelponmu. Terus dan terus. Jangan sedih." Rama memelukku. Ini pelukan ternyamanku. Aku terisak dalam pelukannya. Entah mengapa aku sangat sedih melepas kepergian suamiku pagi ini.


"Sayang, kalau kamu seperti ini. Aku pasti akan kepikiran sampai sana. Ini demi kerjaanku. Semua aku lakukan untukmu."


"Iya deh.. Kamu, hati-hati. Jangan macem-macem, ingat istri dirumah." Aku mengusap mataku dan melepas pelukanku.


Rama tersenyum geli. "Iya, akan aku ingat bidadariku ini." satu kecupan mendarat di pipi kananku.


"Aku mau ke kamar mandi dulu."


"Tidur lagi aja, aku sudah siapkan sarapan untukmu." Rama melihat arloji ditangannya. "Aku harus pergi sekarang. Setelah aku pulang dari sana. Aku akan membawa mu bulan madu."


"Janji ya?" Aku mengangkat jari kelingkingku. Dan Rama menerimanya.


"Janji. Aku berangkat ya?" Aku mengangguk. Dan melambaikan tangan.


Aku melepas kepergian Rama dengan sendu, aku merebahkan lagi tubuhku. Dan menutup tubuhku sampai ke bahu. Aku berbalik ke arah samping kiriku. Kenapa aku sesedih ini ditinggal pergi. Padahal Rama pergi untuk bekerja. Aku merasa terlalu nyaman didekat Rama. Memikirkan Rama membuatku menjadi kembali kealam mimpiku.

__ADS_1


*****


Pukul 10 aku baru bangun kembali dari tidurku, sekarang aku sudah dibawah, ditokoku. Bergabung dengan anak-anakku yang menggemaskan dan sangat meramaikan suasana. Setidaknya aku punya mereka.


"Mbak, kak Rama kemana? Masa belum bangun jam segini. Jam sebelas loh ini."


"Rama keluar kota Sis, berangkatnya juga tadi sekitar pukul setengah 6." ucapku sambil melihat ponsel.


"Pagi bener mbak." kata Rena.


"Iya, perjalanannya jauh mungkin. Tapi, kok belum ngabarin ya?" Aku membolak balikan ponselku. Kenapa Rama belum menelponku. Apa dia sudah sampai atau belum?.


"Mbak Wina gak kesini?" tanyaku. Mengalihkan perhatianku dari pikiranku yang tertuju pada Rama.


"Tadi kesini, katanya mau beli bahan dulu. Ditemani sama mbak Rere juga kok."


"Stok kue kita masih banyak kok mbak."


"Sis, mbak tinggal keatas dulu ya?" Siska mengangguk mengiyakan. Aku melangkahkan kakiku menuju tempat ternyamanku yaitu kamar.


Sesampainya dikamar, aku duduk di sofa, mengecek ponselku. Tidak ada panggilan ataupun pesan yang ia terima.


Apa aku telepon duluan aja ya?


Aku menekan tombol memanggil yang dinamai myKing❤


'Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif'


Mungkin masih dalam perjalanan. Aku menyimpan ponselku.

__ADS_1


Aku melihat foto yang sudah berbingkai. Foto pertama kali aku berlibur berdua bersamanya. Dipuncak, malam itu...


*****


Dinginnya malam dipuncak, menusuk sampai ke tulang. Bahkan aku sudah memakai jaket tebal dan syal. Tapi, sikap hangat Rama mengalahkan dinginnya puncak. Aku duduk berdua bersamanya. Memandang indahnya langit malam.


"Bintang? Kamu ingat gak pertama kali kita bertemu?" tanya Rama.


"Emmm inget, waktu motor aku mogok. Hehe."


"Waktu itu kamu basah kuyup karena kehujanan. Sampai aku mengantarkanmu pulang. Kamu tahu gak? Dari sana aku mulai jatuh cinta sama kamu. Kamu berbeda."


"Beda? Apa bedanya?" tanyaku penasaran.


"Kamu itu wanita kuat, hebat. Dengan segala cobaan yang pernah kamu hadapi. Itu tidak membuatmu rapuh. Bahkan kamu bisa membesarkan nama toko kue orangtua mu."


"Semua orang bisa melakukan hal sepertiku. Mungkin aku tidak akan seperti ini jika orangtuaku masih ada."


"Bintang, aku berjanji akan selalu bersamamu. Menemanimu, aku ingin selalu membahagiakanmu. Apapun yang terjadi, tetaplah disampingku. Aku punya cinta yang besar untukmu. Terimakasih sudah menerimaku dengan segala kekurangan dan keegoisanku."


"Rama, aku belum pernah merasakan memiliki lelaki yang aku cintai dan mencintaiku. Akupun berterimakasih karena kamu sudah mau dengan orang sepertiku."


"Memangnya kamu seperti apa? Kamu kan sudah seperti bidadari." Blussh.. Merahkan pipiku, Rama memang suka menggodaku. Aku selalu dibuat malu oleh kata-katanya.


"Apasih."


Rama tertawa melihatku. "Merah gitu pipinya. Cieee."


"Udah deh gak usah godain aku." Aku membelakangi Rama.

__ADS_1


Rama memelukku. "Kamu memang bidadariku. Satu-satunya." Bisiknya.


"Sini dong, kita foto berdua." Aku membalikan badanku ke arahnya. Kami berfoto ria berdua dengan berbagai fose.


__ADS_2