
Hari ini, aku fokus di tokoku yang baru saja buka. Anak-anak nampak sibuk dengan bersih-bersih. Kue-kue baru sudah datang kiriman dari rumah mbak Wina. Sementara aku membuka situs onlineku untuk mengupdate jualanku. Aku menjual kue yang sudah ada ditoko, maupun yang mau mereka pesan (pree order). Ada banyak chat yang sudah masuk. Aku terus berkutik dengan ponsel. Lalu, aku mencatat kue yang hari ini akan diantar Rena.
"Ren, ini pesenan bu Widia. Jam 9 otw ya?" kataku.
"Siap komandan, laksanakan." dengan tangan terangkat membentuk hormat.
"Selamat pagi?" Suara laki-laki dari arah pintu.
"Selamat pagi mas.. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Rena.
"Bintang?" merasa namaku disebut, aku menoleh.
"Iya?" kataku biasa saja.
Pria itu mendekatiku. "Bintang, kamu tidak mengenaliku?"
Aku menyipitkan mataku. "Siapa?"
"Bintang, ini aku Ibra. Temen SMP kamu. Masa kamu lupa."
Aku mulai mengingat nama itu. "Ibra. Si culun itu, yang suka pake kacamata bulat?"
"Iya. Bintang. Kamu yang suka nolong aku waktu aku dihina sama teman-teman sekelas." jelasnya.
Refleks aku memegang tangannya. "Yaampun Ibra. Kamu sekarang tampan sekali. Kamu bukan Ibra si culun lagi."
"Hehe.. Terimakasih pujiannya. Btw, ini toko kue kamu?"
"Iya, kecil ya? Tapi lumayan buat nyambung hidup. Hehe."
__ADS_1
"Kecilkan cuma tempatnya. Tapi, StarMoon Bakery ini banyak pelanggannya. Aku kesini juga atas permintaan ibuku. Ibu Widia."
Aku kaget bukan main. Ternyata pelanggan tetapnya itu adalah ibu dari teman lamanya. "Yaampun, aku baru tahu kalo bu widia itu ibu kamu. Kebetulan kalo begitu ya?"
Aku menepuk dahiku. "Sampai lupa, duduk dulu disana." Ibra mengangguk dan mengikutiku dari belakang.
Aku sama Ibra mengenang masa SMP kami. Ibra teman satu kelasku ketika SMP. Dulu, dia adalah anak yang culun. Perawakannya memang tinggi, berkulit putih, hidung mancung. Hanya saja dia loyo. Tapi, sekarang Ibra sangat berubah 180°."
"Sekarang kamu berubah ya?" ucapku.
"Aku masih sama kok. Ibra yang baik hati." katanya sambil tertawa.
"Huuuh.. Tapi, sekarang gak letoy kan? Hehe" tanganku terangkat menutup mulut yang tertawa kecil.
"Kamu yang tidak berubah. Dari dulu kamu cantik. Wajahnya maupun hatinya."
Aku sampai ngeri mendengar pujian Ibra. "Bohongmu berlebihan Ibra."
Aku dan Ibra tertawa bersama, saat Ibra menceritakan hal lucu masa putih biru. Aku sampai tertawa terpingkal.
Aku tidak sadar, ada seseorang yang telah mendengarkan kami berbincang. Dehemannya membuatku langsung menghentikan tawaku.
"Eheemmm." deheman itu milik suamiku Rama. Kenapa aku tidak sadar ada dia sih? Dab kenapa dia kembali ke toko. Bukannya ini masih jam kerja. Bahkan baru satu jam dia meninggalkan tempat ini.
Aku menghampirinya yang sedang berdiri dimulut pintu. "Eh, kamu kembali lagi."
Rama sama sekali tidak menjawab. Matanya tertuju kepada Ibra. Dia menatap Ibra tajam. Seperti tatapan membunuh.
"Ayo sini, gabung. Dia teman lamaku."
__ADS_1
Rama mencium keningku, tangannya sudah ada dipinggangku. "Aku kembali karena aku merindukanmu."
Bisa perang kalau aku tidak membalas kata rindunya. "Aku juga merindukanmu, tapi bukannya kamu harus bekerja." Sebenarnya canggung mengatakan hal itu, apalagi didepan orang lain. Mau gimana lagi. Demi keamanan dunia.
"Eh iya. Ini Ibra temanku waktu SMP."
Ibra mengulurkan tangannya. "Ibra."
Dibalas singkat oleh Rama. "Rama, su..."
"Kekasihku." ucapku memotong ucapan Rama. Bukannya aku tidak mau mengakuinya. Namun, aku takut berita ini menyebar.
"Ohh.. Jadi, kamu sudah punya kekasih."
"Iya, kenapa? Gak terima?" Rama semakin tidak suka dengan perkataan Ibra.
"Bintang, aku pulang dulu. Terimakasih kuenya. Enak sekali." Aku hanya mengangguk. Wajah Rama sudah dipastikan marah karena aku tertawa bersama orang lain.
Sepeninggalan Ibra. Rama membawaku ke kamarku dilantai atas. Dia menarik tanganku tidak biasa.
Dia melemparkan aku ke ranjang dengan kasar. "Sudah ku bilang jangan bicara dengan laki-laki. Apalagi tertawa seperti tadi." Aku hanya diam. Bicara pun sepertinya percuma.
"Kasih sayangmu memang tak sebesar aku. Bahkan sekarang, aku berpikir bahwa kamu tidak menyayangiku."
Aku berdiri memeluknya. "Sayang, aku hanya ngobrol sebentar. Kenapa kamu malah membahas tentang rasa sayangku?"
"Karena kamu tidak mendengar kata-kataku. Jika kamu menyayangi dan mencintaiku. Kamu pasti menuruti perintahku." nada suara Rama sudah melambung tinggi.
Aku melepaskan pelukannya. Aku duduk lagi diranjang. "Rama, aku menyayangimu. Tapi, bukan berarti kamu selalu berlebihan seperti ini. Cemburulah sewajarnya."
__ADS_1
"Apa kamu bilang? Cemburu sewajarnya. Kamu yang harus sewajarnya bersikap kepada lelaki lain. Kamu istriku, aku berhak melarangmu dengan siapa kamu bicara."
Air mataku tiba-tiba saja mengalir dipipi. Rama berbicara semakin meninggi. Kalau aku bicara lagi, aku pastikan amarahnya akan lebih parah. Tapi, aku tidak terima dengan semuanya. Dia selalu cemburu ketika aku bicara dengan teman lelakiku. Harusnya Rama bisa memberi kepercayaan untukku. Nihil, Rama bukanlah orang seperti itu.