
Awan putih itu, langit biru itu, terik matahari itu, sungguh bertolak belakang dengan perasaanku saat ini. Tiga kata gambaran perasaanku. Sakit, hancur dan perih. Bagaimana bisa orang yang ku pikir akan berbaik hati padaku, dia malah menyakitiku dengan segala perkataannya. Harta? Apa harta segalanya. Sehingga semua dapat ternilai dari sana. Air mataku terus saja mengalir, sepanjang perjalanan aku memikirkan kelanjutan hubungan kami. Jika memang tidak ada restu. Mungkin memang harus berakhir. Yasudahlah. Biar semua kisah menjadi kenangan.
Masih dengan bayangan piluku, aku dikagetkan oleh pak Sopir yang mengantarkanku. Ternyata sudah sampai pada tujuanku. Rumah, rumah kecil berlantai dua. Satu ku jadikan toko kue, diatas ku jadikan tempat tinggalku. Disinilah aku hidup, sendiri tentunya. Orangtuaku meninggalkanku setelah tragedi tabrakan beruntun didaerah sukabumi. Hanya aku yang selamat, sedang kakakku pun ikut menjadi korban. Inilah rumah satu-satunya yang mereka tinggalkan untukku.
Aku masuk ke kamarku, dan ku rebahkan tubuhku diranjang kecil yang pernah ayah belikan. Aku menangis sejadi-jadinya. Tubuhku terasa lemas, kepalaku terasa pening.
Baru beberapa menit aku dirumah, sudah ada ketukan pintu yang ku yakini itu adalah Rama. Aku bangun, lalu ku lihat dari jendela kamarku. Ternyata dugaanku benar. Jujur, aku tidak ingin bertemu dengannya. Bukan aku marah kepada Rama, tapi aku masih sakit dengan ucapan papanya. Rama terus saja menggedor pintu rumahku. Dia berteriak memanggil namaku.
"Bintang, buka pintunya."
"Bintang, aku tahu kamu ada didalam."
"Izinin aku masuk, kita bicarakan ini baik-baik."
"Bintang, jangan pura-pura tidak mendengar."
Gedoran pintu, dan teriakannya semakin keras. Aku takut, tetangga menyangka yang lain-lain. Aku turun kebawah. Membuka pintu, Rama langsung memelukku. Air mata yang tadinya sudah mengering, kini jatuh kembali bahkan lebih deras. Tak kuasa aku menahan tangisku.
"Bintang, aku tidak ingin kehilangan kamu."
__ADS_1
Aku melepaskan pelukan Rama. Ku tutup pintu rumahku. Lalu, aku membawa Rama untuk duduk di sofa tempatku merebahkan diri.
Kami saling diam, sampai Rama lebih dulu membuka suara.
"Sayang." Rama menggenggam tanganku. Aku menundukan kepalaku.
"Sayang, lihat aku. Aku minta maaf." Aku tahu, Rama merasa tidak enak.
"Kamu tidak perlu minta maaf, kamu sama sekali tidak salah." aku tersenyum pilu kearahnya.
"Bintang, aku mencintaimu."
Rama menghapus airmataku "Jangan katakan itu, siapapun kamu dan bagaimanapun keadaanmu. Tidak akan merubah rasa sayangku padamu."
Aku menggenggam tangannya. "Ku mohon pergilah. Kita takkan pernah bisa bersatu."
"Bintang jangan seperti ini, tolong ku mohon berjuanglah bersama-sama. Kita sudah melewati ini dari setahun yang lalu."
"Karena aku berpikir, bahwa papamu akan sama sepertimu. Orang yang tidak menganggap hina orang miskin sepertiku."
__ADS_1
"Plis. Berjuanglah denganku. Abaikan apapun yang dikatakan papa. Dengan atau pun tanpa restu dia, aku akan tetap menikahimu." Rama memelukku kembali, tangisku pecah lagi, dan lagi. Tuhan.. Sekuat inikah cinta kita? Dosakah aku memaksakan semuanya.
Aku kembali melepaskan pelukan ternyaman itu. "Pergi Rama, aku tidak mau menikah tanpa restu orangtua mu."
"Aku tidak akan pergi, sampai kapanpun. Aku yang akan bicara kepadanya. Jadi, tenanglah. Anggaplah ini cobaan untuk cinta kita."
Hati dan pikiranku mulai normal kembali. Perkataan Papa Rama tidak akan ku ingat lagi. Seperti yang dikatakan oleh Rama. Entahlah, Rama selalu meneduhkan hatiku. Perkataannya selalu menguatkanku. Jujur saja, rasanya kakiku sudah tidak kuat lagi untuk berpijak. Namun, Rama menopangku. Menyandarkanku pada kehidupannya. Luka ini tidak akan hilang dalam sekejap, namun ku ikhlaskan semua. Karena itu bagian dari cobaan yang harus ku hadapi.
Seharian menangis membuatku melupakan perutku. Padahal, sidia sudah menunggu untuk diberi makan. Tubuhku sangat lemas. Jangankan memasak, untuk berdiri saja kepalaku sudah pening minta ampun. Mungkin efek terlalu banyak menangis. Bisa juga sih. Rama dengan tangan profesional layaknya chef, sedang memotong sayuran dan sosis. Katanya, dia akan menyajikan nasi goreng spesial untukku. Untuk rasa, jangan diragukan lagi. Rama paling jago dalam hal masak memasak. Ku lihat dari kursi, dia sedang bergelut dengan alat-alat masak. Beberapa menit kemudian, aku mencium wangi bumbu nasi goreng yang dia buat. Ah, aku lapar jadinya.
"Taraaaa... Nasi goreng ala chef Rama Aditya sudah jadi." gemes deh, bergaya layaknya chef.
"Kok satu?" tanyaku.
Dia tersenyum. "Ini aku buat, untuk kamu. Seharian gak makan. Sekarang makanlah, biar aku suapi." Yaampun, sweet banget kan. Gimana gak jatuh cinta coba.
"Aku akan makan, tapi kamu juga harus makan. Kita makan berdua." Rama menyetujui ideku. Dia mengambil satu sendok lagi.
"Aaaaaaa" Dia menerbangkan sendoknya, seperti menyuapi anak kecil saja. Tapi, itulah yang aku suka darinya. Sejak bersama Rama, aku dimanja olehnya. Manjaan yang hilang sejak 4 tahun lalu, kini tumbuh kembali dengan adanya Rama. Aku bersyukur sekali.
__ADS_1