Bunda

Bunda
10. Dari Balik Kabut Tebal


__ADS_3

"Kiri Pak,"


Sasa meminta pak supir menghentikan angkutannya saat mereka telah memasuki kawasan jalan Mawar,


Pak Supir angkutan yang sejak meninggalkan terminal sama sekali tak bersuara itupun kemudian menghentikan angkutan yang ia bawa,


Sasa cepat mengeluarkan uang dari dompet yang ia ambil dari saku tas ranselnya,


"Ambil aja pak kembaliannya,"


Kata Sasa sambil meletakkan uang di atas dashboard, lalu membuka pintu angkutan yang ia tumpangi,


Pak Supir angkutan terlihat tersenyum dengan tatapan kosong ke arah Sasa,


Sasa turun dari angkutan, dan tak menoleh lagi ke belakang karena ia sudah tak sabar menuju rumah lamanya,


"Hati-hati Nak... Semoga kau selamat yaaaa..."


Kata Pak Supir dan sosok-sosok di angkutan yang tadi ditumpangi Sasa, suara mereka pun seperti bergema, bersamaan dengan menghilangnya angkutan,


Sasa yang tak menyadari apa yang terjadi tampak terus berjalan menyusuri jalanan ke arah rumah lamanya,


Jalanan yang dulu selalu ramai kini terlihat sangat sepi,


Bukan hanya rumah-rumah para tetangganya yang tampak sepi, bahkan warung, konter hp, sampai toko-toko kecil di sekitar sana juga tampak sepi seolah tak ada kehidupan,


Sasa celingak-celinguk, ia sebetulnya sedikit heran karena sejak tadi dari jalan raya menuju rumahnya sama sekali tak ia temui satupun manusia,


Memang sudah cukup lama Sasa tak berkunjung ke sana, jadi bisa saja memang semuanya sudah berbeda,

__ADS_1


Tapi...


Apakah iya masuk akal, hanya untuk hitungan sekian bulan semua langsung jadi seasing ini?


Apa mungkin semua orang pindah dari sana?


Ke mana mereka pindah?


"Kenapa mereka harus pindah?


Sasa terus bertanya-tanya, hingga kemudian ia melihat seperti ada kabut turun ke jalanan di depan Sasa,


Sasa sejenak menghentikan langkahnya, benaknya pun semakin dipenuhi banyak pertanyaan lagi,


Apa ini?


Kenapa tiba-tiba ada kabut yang turun dan muncul menghalangi pandangan?


"Sasaaaa... Sasaaaa..."


Suara itu begitu lembut, suara yang ternyata begitu Sasa rindukan setelah beliau pergi,


Ah tidak,


Bunda tidak benar-benar pergi, dia hidup di satu tempat dan kini Sasa akan menjemputnya pulang,


"Sasa anakku... Ini Bunda sayang... Kemarilah naaak... kemarilah naaak..."


Terdengar suara Bunda kembali memanggil,

__ADS_1


Sasa celingak-celinguk, mencari asal suara Bundanya,


Saat di mana Sasa tengah mencari asal suara Bundanya, tiba-tiba terlihat tangan terulur dari balik kabut tebal yang menghalangi pandangan,


Sasa tampak menatap tangan yang terulur dari balik kabut itu, yang lama-lama terlihat sosok Bunda muncul dari sana,


Tangan itu, tangan sang Bunda kini meraih wajah Sasa, lalu mengusapnya dengan lembut,


Sasa matanya berkaca-kaca, rasanya masih sulit untuk ia percaya bisa melihat sosok Bundanya lagi di hadapannya,


Bunda kini tampak tersenyum ke arah Sasa, tangannya kini meraih tangan Sasa,


"Ayo kita pulang, Bunda akan masak makanan-makanan kesukaanmu,"


Kata Bunda,


Sasa pun mengangguk, ia lantas bergandengan tangan dengan Bunda berjalan menembus kabut tebal,


Tangan Bunda terasa begitu dingin seperti es, sama seperti udara saat ini, yang begitu Sasa memasuki kabut tebal rasanya udara sekitar Sasa jadi begitu dingin,


"Mulai sekarang tinggalah dengan Bunda, Sasa, tinggalah dengan Bunda, kita bersama selamanya, kita bersama selamanya..."


Kata Bunda sambil berjalan dan bergandengan tangan dengan Sasa,


Tampak Sasa yang rasanya masih sulit percaya namun sekaligus juga bahagia tampak terus menatap Bunda nya yang berjalan di sebelahnya,


"Bunda, Sasa sungguh akan jadi anak yang baik untuk Bunda, Sasa berjanji..."


Kata Sasa, membuat Bunda menoleh ke arahnya pelahan, lalu tersenyum dengan senyuman aneh.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2