
Kosong,
Pintu itu terbuka, namun tak ada siapapun di sana, Sasa celingak-celinguk, ia memanggil Bunda nya,
"Bundaaa... Kau di mana? Bunda..."
Sasa berjalan menuju pintu, namun saat ia akan keluar yang terlihat dalam pandangan hanyalah kabut putih tebal saja,
Tak ada apapun di sana, tak ada siapapun di sana,
Sasa tampak ragu untuk keluar dan menembus kabut di mana pandangan matanya sama sekali tak bisa melihat apapun di depannya,
Sasa juga tak mau jika ia harus kembali masuk karena ada hantu anak laki-laki seusianya yang matanya tidak ada, dan suara-suara jeritan meminta tolong itu begitu memekakkan telinga,
Sasa menangis, ia jadi teringat Ayah di rumah, ia takut setengah mati, sementara Bunda yang semula ada di sana tiba-tiba saja tidak ada,
"Aku ingin pulang, aku ingin pulang saja,"
Gumam Sasa sambil menguatkan tekad keluar dari rumah dan menuju kabut tebal di depan sana,
Ya, tidak apa, bukankah tadi ia juga menembus kabut itu saat bersama Bunda pulang ke rumah lama mereka ini?
Sasa tampak setengah berlari menuju kabut, namun ia merasa khawatir dengan Bundanya,
Bunda, apa dia masih ada di dalam rumah? Atau jangan-jangan hantu-hantu itu mencelakai Bunda saat ini?
Sasa menoleh ke arah tadi rumah lamanya berada,
Namun, betapa kagetnya Sasa, manakala ia kini bukan melihat bangunan rumah lamanya,
Hah, apa ini?
Sasa ternganga tak percaya, melihat di belakangnya saat ini adalah tanah pemakaman tua yang ia tidak tahu itu ada di mana,
Pepohonan besar rindang terlihat nyaris menutup semua bagian pemakaman tersebut,
Sasa bergidik ngeri sekaligus juga bingung setengah mati,
"Bunda, ke mana dia? Ke mana Bunda?"
Sasa celingak-celinguk mencari Bundanya, yang tentu saja tidak ada di sana,
Sasa yang seperti hilang akal sehatnya terus saja mencari sosok Bundanya,
Ia terus mencari karena takut Bundanya akan pergi lagi, ia tidak akan bersama Bunda lagi,
"Ah Bunda... Bunda di mana Buuun?"
Sasa menangis, ia antara takut sedang berada di tempat asing, tapi juga takut Bunda tidak ada bersamanya kembali,
"Sasaaa... Sasaaa..."
Tiba-tiba terdengar suara Bunda yang lembut memanggil,
"Ah itu Bunda..."
Sasa celingak-celinguk, mendengar suara Bunda membuat Sasa sedikit lega,
"Buuun... Bundaaaa..."
__ADS_1
Sasa memanggil Bunda, berteriak-teriak,
Hingga ia merasakan pipinya seperti ada yang menyentuh dengan lembut, sentuhan telapak tangan itu meski dingin namun tetap bisa Sasa rasakan itu milik siapa,
Yah, Bunda...
"Buuun... Bun..."
Sasa histeris, dan...
Hah... hah... hah...
Sasa terduduk, bangun dari posisinya yang tiba-tiba sudah terbaring di atas sofa ruang TV rumah lamanya,
Tampak di dekatnya Bunda tersenyum,
"Bunda... Bunda,"
Sasa memeluk Bundanya,
"Aku takut sekali Bun, aku... aku mimpi buruk,"
Kata Sasa dengan nafas yang masih sedikit terengah,
Bunda mengelus kepala Sasa penuh kasih dengan tangan dinginnya,
"Kan sudah Bunda bilang, jika ada apa-apa, ada Bunda di sini,"
Kata Bunda,
Sasa merenggangkan pelukannya, demi ingin melihat Bunda dari dekat,
Dan saat melihat mata Bunda, Sasa tiba-tiba entah kenapa jadi teringat soal hantu anak laki-laki yang seusia dengannya,
Hantu anak laki-laki itu, yang matanya diganti dengan kancing dan tampak dijahit dan masih mengeluarkan darah,
"Ada hantu Bun di sini, ada hantu,"
Ujar Sasa,
Namun Bunda yang mendengarnya sama sekali tak menunjukkan jika ia takut, sebaliknya ia sepertinya tahu namun ia sama sekali tidak merasa terganggu,
"Kita pulang saja yuk Bun, kita pulang saja ke rumah kita yang sekarang Bun,"
Kata Sasa membujuk,
"Untuk apa? Kenapa harus pulang? Bukankah kamu paling kerasan tinggal di sini?"
Tanya Bunda,
Sasa diam sejenak, ia seketika teringat saat pertama kali diajak pindah ke rumah baru, saat di mana ia cukup lama ngambek sampai Ayahnya marah besar karena Sasa terus menangis dan mogok makan,
Sasa merasa rumah lamanya ini sudah menyimpan terlalu banyak memori, maka sayang sekali jika mereka harus meninggalkan rumah ini begitu saja, apalagi membiarkannya terbengkalai tanpa ada yang menempati, memelihara,
"Ayo Bun, kita pulang saja, kita kembali tinggal bersama Bun, dengan Ayah juga,"
Bujuk Sasa lagi pada Bundanya,
"Ayah, dia pasti akan sangat senang Bunda pulang, ayok Bun,"
__ADS_1
Sasa akan berdiri, tapi Bunda tiba-tiba mencengkram tangannya dan menariknya agar tetap duduk,
"Tetap di sini, tetap di sini bersama Bunda, kau sudah berjanji kita akan tinggal di sini selamanya,"
Ujar Bunda,
"Tapi Bun, kasihan Ayah jika..."
"Tidak! Kamu hanya boleh memilih salah satu dari kami, pulang pada Ayahmu, atau tetap di sini bersama Bunda,"
Sasa menatap Bundanya, ia jelas merasa tak menyangka Bunda akan mengatakan hal semacam itu padanya,
Memilih salah satu dari orangtua?
Kenapa?
Kenapa ia hanya boleh memilih salah satu?
Memangnya apa yang terjadi sebetulnya antara Bunda dan Ayah?
Apakah mereka telah bercerai diam-diam?
Sasa malah berpikir tidak jelas,
"Kau juga harus melakukan sesuatu agar Bunda bebas, bukankah kau sudah berniat melakukannya untuk Bunda?"
Sasa lantas kembali mengingat kenapa ia lari dari rumah dan tentang mimpinya yang diminta melakukan sesuatu agar Bunda tak lagi tersiksa, Sasa lantas kembali menatap Bundanya,
"Baiklah, Sasa akan melakukannya, sekarang katakan pada Sasa Bun, apa yang harus Sasa lakukan?"
Tanya Sasa,
Bunda kemudian menatap Sasa dengan kedua mata Bundanya yang makin lama makin berubah menjadi hitam semuanya,
Sasa yang melihat Bundanya matanya tiba-tiba berubah langsung tampak ketakutan,
Sasa akan berdiri dari duduknya, namun cengkraman tangan Bundanya menahannya agar tetap berada di sana,
"Katanya kau ingin makan masakan Bunda lagi, makanlah lebih dulu, tidak usah buru-buru Sasa,"
Kata Bunda dengan suaranya yang masih lembut dan halus,
Tapi, buat Sasa, mau selembut dan sehalus apapun, saat ini penampakan Bunda sudah bukan lagi terlihat berbeda, namun juga menyeramkan,
Seluruh matanya menjadi hitam, lalu pelahan kini terlihat retak dan mengeluarkan darah,
Sasa menarik paksa tangannya, namun cengkraman tangan Bunda semakin kuat,
"Tetaplah bersama Bunda, kau sudah janji, dulu Bunda sudah sangat menyayangimu, memanjakan mu, tak pernah memarahi mu, selalu menuruti apa yang kamu mau, menyiapkan apapun kebutuhan mu,"
Sasa yang mendengar tentu saja menangis, ia tentu tak bisa lupa dengan semua yang ia lewati bersama Bundanya,
"Maafkan Sasa, Bunda... maafkan Sasa,"
Rintih Sasa pilu,
"Tentu saja kau harus minta maaf, kau selama ini tidak pernah memperlakukan Bunda dengan baik, maka kini saatnya kamu mengganti semua yang telah kamu sia-siakan bukan?"
Tanya Bunda yang kini matanya kembali seperti sedia kala, namun, meskipun Bunda sudah terlihat biasa lagi, Sasa tetap tampak takut,
__ADS_1
...****************...