Bunda

Bunda
27. Ketemu


__ADS_3

"Sebentar lagi kita akan sampai di muara, semoga gerbangnya dibukakan,"


Mili dan Sasa yang telah melanjutkan perjalanan mereka tampak semakin bersemangat manakala melihat warna hijau yang sudah terlihat di kejauhan,


Warna hijau khas laut kidul itu, terlihat seperti gerbang besar yang di mana di sana juga tampak pula bunga-bunga janur yang tinggi,


"Jika berada di kawasan ini, hantu-hantu yang bukan bagian kepercayaan dari laut selatan tidak akan mendekat, itu sebabnya aku lari ke sini untuk bisa keluar,"


"Tapi mereka tak pernah mengizinkanmu,"


"Karena belum waktunya, itu alasannya,"


"Dan kau terus mencoba dan mencoba lagi, lalu jika kali ini hanya kau yang boleh keluar sementara aku harus tinggal, apa yang harus aku lakukan?"


Tanya Sasa jadi takut,


"Jangan berpikiran yang aneh-aneh dulu, yang penting kita ke sana saja,"


Ujar Mili yang kini begitu bersemangat,


Sasa dan Mili terus berjalan, harapan mereka pun semakin lama semakin bertambah besar manakala gerbang hijau di depan sana semakin jelas terlihat,


Namun, saat sebentar lagi mereka sampai...


Tiba-tiba, terdengar suara seperti kokok ayam dan juga suara Ayahnya Sasa memanggil Sasa,


"Sasa... Sasa..."


Suara Ayah yang seperti dari arah belakang Sasa sontak membuat Sasa menoleh ke arah belakangnya,


"Ayah,"

__ADS_1


Lirih Sasa bergumam,


Tapi, ia tentu saja tak ingin ditipu lagi di alam sana, ia tak mau diberi bayangan palsu lagi sebagaimana kepada bayangan Bunda nya yang ternyata adalah hantu,


Tidak! Sasa tak mau lagi tertipu, itu pasti bukan Ayah, itu pasti hantu yang berusaha memperdaya dirinya agar mau ikut dan akhirnya tetap tinggal di sini.


Sasa pun akhirnya memutuskan untuk tak mau terpengaruh, ia terus melangkah mengikuti Mili yang makin lama langkahnya makin cepat seperti berlari,


Namun, lagi-lagi, Sasa seperti mendengar suara Ayah nya memanggil,


"Sasa... Sasa... Di mana kau nak? Ayo pulang,"


Suara itu terdengar semakin dekat, kali ini anehnya bukan lagi di belakang Sasa, tapi seperti dari arah kirinya,


Sasa menoleh ke arah sebelah kirinya, yang mana di sana tampak padang ilalang yang tinggi-tinggi,


Angin berhembus, membuat ilalang meriap ke sana ke mari,


"Ayok Sasa, kita harus lari,"


Di depan mereka tampak jembatan panjang yang membentang di atas tebing, di ujung jembatan itulah tampak gerbang berwarna hijau dengan bunga-bunga janur tinggi berada,


Tapi...


Sasa bukannya berlari, ia malah berhenti tatkala melihat jembatan yang ada di depannya yang untuk pijakan kaki seperti kepala-kepala manusia,


"A... apa aku harus melewatinya?"


Tanya Sasa yang jelas saja tak berani,


Kepala-kepala itu seperti dijejer, sementara tubuh mereka menggelantung ke bawah,

__ADS_1


Di bawah sana terlihat lautan yang ombaknya menggelegak, yang airnya terkadang sampai ke atas,


"Kita hanya berlari melewati jembatan ini dan semua akan berakhir jika gerbang itu dibuka,"


Kata Mili meyakinkan, ia sungguh sudah tak sabar untuk mencoba yang kesekian kalinya,


Kali ini entah kenapa Mili seolah begitu yakin akan berhasil, ia merasa sudah waktunya ia bisa keluar dari sana,


"Sasa... Sasa... Ayah di sini..."


Terdengar lagi suara Ayah memanggil Sasa, membuat Sasa celingak-celinguk,


Dan...


"Aaaaaaaa..."


Tiba-tiba dari arah atas Sasa terdengar suara orang berteriak, yang belum lagi Sasa melihat ke atas, tiba-tiba Mili menarik tangan Sasa, lalu...


BUKGH!!


Sesuatu jatuh di dekat Sasa berdiri, yang belum juga Sasa tahu itu apa, jatuh lagi sesuatu dari atas menindih yang pertama,


Bersamaan dengan itu muncul pula ayam hitam dari balik ilalang berlari ke arah mereka, yang mana di belakang mereka tampak Ayahnya Sasa yang tampak kelelahan berlari.


"A... ayah?"


Sasa bingung,


Ayah yang sedang lelah namun begitu melihat Sasa di sana tentu saja langsung melompat girang,


"Anakkuuuuu..."

__ADS_1


Teriak Ayah bahagia.


...****************...


__ADS_2