Bunda

Bunda
28. Berhasil Kembali


__ADS_3

Amar tampak susah payah bangkit dari posisinya yang jatuh dari atas menindih si hantu temannya,


Untungnya tubuh hantu yang macam busa di alamnya membuat Amar tak sampai patah tulang,


Amar terhuyung berdiri, dan kemudian tampak celingak-celinguk melihat Sasa dan Ayahnya yang kini tampak berpelukan,


"Lah, kenapa sudah ada reuni?"


Amar malah jadi bingung sendiri, karena ternyata gadis yang akan ia selamatkan justeru tampak sudah bersama Ayahnya yang entah masuk dari mana,


Namun, belum lagi Amar selesai dengan kebingungannya, tiba-tiba aroma permen yang ia kenali betul sebagai aroma permen kesukaan adiknya tercium begitu dekat, yang lantas membuat Amar menatap sesosok anak kecil di dekat Sasa,


Sejenak Amar seperti tercengang, matanya membulat, dan beberapa saat berikutnya akhirnya mengucek kedua matanya untuk memastikan matanya bukan salah lihat,


"Kau..."


Amar menunjuk anak kecil perempuan yang kini juga tampak menatapnya dengan kedua mata bulatnya yang lucu,


"Mi... Mili,"


Lirih Amar menyebut nama adiknya,


Mili yang tak mengenali sosok Amar sang kakak yang kini telah menjadi pemuda tampan seperti bingung,


"Benarkah ini kau Mil... Kau... Mili, adikku?"


Sasa dan Ayahnya tampak melepaskan pelukan, dan kini berganti melihat ke arah Amar dan Mili,


"Adikku yang hilang sepuluh tahun lebih, sungguh kah?"


Amar rasanya begitu sulit untuk percaya,


Sasa memandang Mili yang kini memandanginya seolah bertanya siapa pemuda itu,


Sasa tampak menghadap ke arah keduanya, lalu...


"Amar, aku Amar Mil, kakakmu, aku... Amar,"


Amar menyebut namanya sendiri,


Ayah Sasa yang kini juga ikut memandangi mereka lantas mengenali sosok Amar sebagai satpam yang ada di Rumah Sakit di mana Bunda nya Sasa meninggal,


"Amar? Mas Amar?"


Mili menyebut nama Amar, kakaknya yang dalam ingatannya tentu masih sama-sama kecil,


"Ba... bagaimana bisa kau ada di sini dan bersama..."


Amar menatap Sasa yang lebih dulu menatap dirinya,


"Kau juga, kenapa bisa sampai ke sini?"


Sasa balik tanya,


"Dan Ayah..."

__ADS_1


Sasa pun berbalik ke arah Ayah pula,


"Ayah tentu saja mencarimu,"


Kata Ayah,


"Aku juga,"


Kata Amar pula, yang tentu saja membuat Sasa dan sang Ayah memandanginya, termasuk juga Mili,


"Kau dan Mas Amar, pacaran?"


Tanya Mili pada Sasa, yang tentu saja langsung membuat Sasa histeris,


"Hey!"


Mili tampak nyengir,


"Amar mengkhawatirkan nasib Nona sejak terakhir bertemu di bus, dia khawatir sesuatu yang buruk terjadi pada Nona, ia khawatir Nona akan mengalami hal serupa dengan adiknya,"


Kini Cici, si teman hantu Amar yang akhirnya membuka suara untuk menjelaskan kenapa Amar ada di sana,


Sasa menatap Amar yang terlihat cengar-cengir,


"Tidak perlu berterimakasih, aku belum melakukan apapun,"


Kata Amar pula, yang tentu saja membuat Sasa seketika memanyunkan bibirnya,


Siapa juga yang mau makasih. Batin Sasa.


Ujar Mili,


Sasa mengangguk membenarkan,


"Dia menyelamatkanku, aku banyak berhutang budi padanya,"


Kata Sasa ke arah Mili yang terlihat tersenyum,


"Aku harus melakukannya, karena aku tahu kau bisa jadi orang yang baik di kesempatan hidupmu yang kedua,"


Ujar Mili,


"Apa? Kesempatan hidup yang kedua?"


Sasa masih belum mengerti dengan maksud perkataan Mili, saat tiba-tiba suara kokok ayam cemani yang menjadi penunjuk arah Ayah Sasa terdengar,


Benang merah yang mengikat kakinya dan juga jemari tangan Ayah Sasa tampak mengeluarkan sinar kemerahan,


"Sudah saatnya kembali Tuan... Bangunlah."


Sebuah suara terdengar bersamaan dengan datangnya angin yang bertiup cukup kencang,


Aroma kemenyan dan juga bunga tujuh rupa pun seolah melingkupi mereka semua,


Sasa dan Ayahnya berpegangan tangan, begitu angin yang berhembus seolah mendorong mereka menuju jembatan yang terdiri dari kepala-kepala manusia,

__ADS_1


"Mili... Mili..."


Sasa memanggil Mili yang kini tampak berlari kecil mengejar Sasa dan Ayahnya yang ditarik oleh si ayam cemani yang berlari bagaikan motor balap,


Tak mau tertinggal, Amar dan Cici si hantu pun juga ikut melayang menyusul Sasa dan sang Ayah yang mau tak mau melewati jembatan kepala manusia,


Suara teriakan mereka kepala-kepala yang diinjak terdengar begitu memilukan,


"Mereka siapa? Mereka siapa?"


Ayah sibuk bertanya, tapi Sasa mana mau peduli dan tentu saja tak tertarik untuk menjawab,


Di depan sana gerbang berwarna hijau terbuka pelahan, sinar yang berkilauan seperti warna perak terlihat begitu terang,


Ayah dan Sasa terus ditarik oleh si ayam cemani yang begitu bersemangat memenuhi tugasnya, meskipun di dunia nyata ia telah disembelih, tapi di alam gaib tampaknya si ayam cemani justeru sangat bersemangat bertugas,


Ayah dan Sasa yang terus ditarik sang ayam pada akhirnya sampai di ujung jembatan, dan tak menunggu lama, mereka pun melompat melewati gerbang hijau masuk ke dalam sinar terang yang berkilauan,


Sama sebagaimana Ayahnya Sasa dan Sasa, Amar juga tampak berlari dan melompat ke dalam sinar terang tersebut, yang disusul pula oleh Mili, dan juga si hantu Cici,


Mereka semua masuk ke dalam pusaran sinar terang yang semakin lama semakin menyilaukan pandangan mata mereka,


Saking silaunya mereka pun harus memejamkan mata agar tak sampai sakit,


"Tuan... Tuan... Bangunlah, bangunlah, anda sudah saatnya bangun dan kembali ke tempat yang seharusnya Tuan,"


Suara itu seolah berdengung-dengung di telinga Ayahnya Sasa,


Pelahan Ayah Sasa kembali mencium aroma kemenyan dan juga wangi bunga tujuh rupa, merasakan kepalanya begitu berat, dan juga tubuhnya yang terasa sakit semua,


Ayahnya Sasa membuka matanya sedikit demi sedikit, hingga kemudian terlihat di matanya sinar terang lampu kamar Sasa dan juga plafon kamar anaknya tersebut,


Di depannya duduk bersila seorang laki-laki paruh baya yang tak lain adalah Ki Warseno,


Ki Warseno begitu Ayahnya Sasa membuka mata tampak ikut pula membuka matanya,


Kedua laki-laki itu saling bersitatap, lalu Ki Warseno tersenyum,


"Sudah ketemu?"


Tanya Ki Warseno,


Ayahnya Sasa yang masih belum sepenuhnya sadar tampak seperti bingung,


Dan belum lagi kesadarannya pulih, di luar terdengar Bibik Tuti heboh mengetuk pintu kamar Sasa, di mana kini mereka semua tengah melakukan ritual,


Assisten Ki Warseno membuka pintu kamar Sasa, yang lantas tampak di depan sana Bibik Tuti wajahnya begitu senang,


"Sasa... Sasa ketemu."


Kata Bibik Tuti dengan hp di tangan yang masih ada suara bicara,


"Bik... Bibiiik..."


Suara Lisa memanggil-manggil.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2