Bunda

Bunda
22. Aroma Busuk


__ADS_3

Amar menghela nafas, sebelum ia memejamkan matanya untuk kemudian ditarik ke dimensi lain oleh teman hantunya demi menolong gadis yang sebetulnya ia bahkan tak begitu mengenalnya,


Tentu saja, ini bukanlah karena melibatkan perasaannya sebagai laki-laki yang ingin menyelamatkan seorang perempuan yang ia sukai,


Amar melakukannya sebagai manusia kepada manusia lainnya, tak lebih dan tak kurang,


Angin terasa semilir sedingin es menerpa kulit wajah Amar dalam sekejap,


Tampak Amar membuka matanya dan terlihat di depan matanya kini ia seperti berada di tengah padang ilalang yang sama sekali tak ada apapun di sana,


"Apa ini?"


Amar celingak-celinguk,


"Apa kau tidak salah? Mana mungkin angkutan masuk ke tempat seperti ini? Meskipun itu angkutan hantu sekalipun,"


Amar sedikit kesal pada teman hantunya yang dirasa tidak profesional sebagai pemandu,


Hantu gadis teman Amar mengerucutkan bibirnya,


"Cerewet,"


Kata hantu gadis itu pada Amar,


"Tinggal menurut saja, memang ke sini arahnya,"


Omel si gadis hantu,


Amar yang tentu saja mau tak mau harus menuruti temannya itu pun hanya mampu menghela nafas,


"Ya... ya... baiklah, ayo tunjukkan ke mana kita harus mencari anak orang yang disesatkan hantu,"


Ujar Amar yang pastinya tak mau berlama-lama di alam sana,


Apalagi ia ingat tadi tak sempat menitipkan motornya dengan benar, kalau nanti sampai hilang, sudah pasti ia harus nangis kejer,


Gadis hantu itu sejenak celingak-celinguk, seperti mencari arah yang harus mereka tempuh kemudian,


"Baiklah,"


Gadis hantu itu mengangguk mantap, ia lalu menatap Amar,


"Kita ke harus berjalan ke kiri,"


Kata si gadis hantu sambil menunjuk ke arah kanan,


Amar mengerutkan kening,


"Kiri apa kanan?"


Tanya Amar pula memastikan,


"Kiri,"


Kata gadis hantu itu pula, tegas.


Amar menghela nafas untuk kesekian kali,


"Kau bilang kiri, tapi jari tanganmu menunjuk ke arah kanan, jadi mana yang benar?"


Tanya Amar akhirnya,


"Oh,"


Gadis itu menatap jarinya, lalu malah keder sendiri menunjuk kanan dan kiri,


"Mana kiri?"

__ADS_1


Tanya si gadis hantu yang ternyata buta arah,


"Ke sana? Itu namanya kanan, hadeeeh, ayolah,"


Amar geleng-geleng kepala, sambil kemudian ia menarik tangan si gadis hantu yang terasa seperti es,


"Ya... ya... kau tahu bukan? Bangsa kami terkadang memang begitu, tak bisa selalu bicara yang sesuai dengan kebenaran, itu sebabnya kalian manusia jangan terlalu percaya pada kami, hihihihi..."


Kata si gadis hantu, membuat Amar pun seketika menghentikan langkahnya, ia lantas menoleh ke arah si gadis hantu, menatapnya tajam,


"Termasuk sekarang?"


Tanya Amar jadi ragu-ragu untuk meneruskan langkahnya,


Si gadis hantu nyengir,


"Bukan, saat ini aku sungguh bicara benar,"


Kata si gadis hantu,


Amar menggelengkan kepalanya,


"Jangan main-main untuk saat ini, aku benar-benar tidak ingin buang waktu, aku juga sejatinya tak terlalu percaya pada hantu, tapi kau berbeda, kita teman bukan?"


Kata Amar, membuat si gadis hantu itupun mengangguk secepat kilat,


Amar memaksakan satu senyuman,


"Setidaknya terkadang kau miripnya manusia, tak seperti hantu-hantu di Rumah Sakit, yang sering aku temui,"


Kata Amar yang lantas mulai berjalan lagi,


"Hantu di Rumah Sakit hanya seram penampakannya saja Amar, tapi sebetulnya mereka hanya sebatas itu, yang menyeramkan adalah mereka para siluman yang menguasai dua alam, yang bisa menyeretmu masuk ke alam mereka, lalu menjadikanmu tumbal,"


"Seperti adikku,"


Lirih Amar sedih,


"Ya, seperti adikmu, maaf,"


Kata si gadis hantu merasa jadi ikut menyesal, Amar tampak memaksakan senyumannya,


"Baiklah, ayok lanjutkan pencarian, kita tak bisa terlalu lama membuang waktu,"


Ujar Amar mulai melangkah lagi, dan gadis hantu itupun kembali mengangguk,


"Aku tahu banyak manusia mudah dibodohi, jangankan oleh kalian mahluk tak kasat mata, yang sama manusianya pun banyak dari kami tak bisa membedakan mana yang sungguh tulus dan mana yang modus,"


Kata Amar sambil melangkah dengan hati-hati menyusuri jalanan setapak yang masih dari tanah liat yang basah dan licin,


Gadis hantu itu mantuk-mantuk, ia mengerti jika teman manusianya itu baru-baru ini sedang patah hati,


Ditinggalkan pacarnya yang menikah dengan laki-laki lain pilihan orangtuanya, yang alasannya jelas masih tetap sama dari jaman Dinosaurus belum terkena meteor, yaitu "harta",


Cukup jauh Amar berjalan menyusuri jalanan setapak yang begitu licin hingga ia nyaris jatuh beberapa kali, yang untungnya di sana ada si gadis hantu yang dengan sigap langsung membantu Amar supaya tak sampai jatuh tergelincir,


"Apa kau yakin gadis itu sampai ke sini?"


Tanya Amar yang mulai merasa lelah karena rasanya mereka sudah lama dan jauh sekali sejak mereka mulai menyusuri jalanan setapak itu,


Gadis hantu yang ditanya mengangguk mantap, ia sama sekali tak menyiratkan keraguan,


"Percayalah, aku tidak membohongimu kali ini, aku merasakan hawa manusia dari arah ini, bahkan sekarang makin dekat,"


Kata si gadis hantu,


"Kau yakin manusia itu adalah manusia lain? Bukan aku?"

__ADS_1


Amar sungguh berusaha memastikan, ia tidak mau terjebak dengan hantu yang tersesat dan menyesatkan,


"Aku bisa membedakan Amar, ini bukan kau,"


Kata si gadis hantu,


Amar pun akhirnya mengangguk,


"Baiklah,"


Amar melangkah tanpa ragu lagi.


Harapannya tentu saja ia tak perlu menunggu terlalu lama untuk bisa menemukan gadis itu, setelahnya tinggal membawanya keluar dari alam ini dan mengantarnya pulang,


Hingga...


Tiba-tiba terdengar suara auman harimau yang sangat mengerikan dari kejauhan, yang seketika membuat Amar menghentikan langkahnya,


"Harimau?"


Amar menoleh ke arah teman hantunya,


"Ya,"


Sahut si hantu,


"Di mana? Apa mereka makan manusia?"


Tanya Amar pula,


Si gadis hantu mendengar pertanyaan Amar jadi cekikikan,


"Heh, kenapa malah cekikikan?"


Kesal Amar jadinya,


"Kau takut di makan harimau?"


"Tentu saja, apa kau gila? Mana ada manusia tidak takut jika di alam bebas bertemu harimau,"


Gerutu Amar sambil waspada tengok kanan kiri takut ada serangan mendadak dari harimau,


"Ada perkampungan harimau putih di sekitar sini, aku rasa gadis itu tersesat hingga ke sana, aromanya menuju ke sana,"


"Hah, perkampungan harimau apa? Maksudmu satu kampung penduduknya harimau semua?"


Tanya Amar bergidik ngeri,


Membayangkan bertemu satu harimau saja sudah ngeri, ini malah satu kampung, dan lagi...


"Tunggu..."


Amar menatap teman hantunya,


"Kalau katamu gadis itu tersesat sampai ke sana, jangan-jangan dia sudah habis jadi santapan,"


Kata Amar yang langsung merasa jika mungkin ia sudah benar-benar terlambat,


"Belum tentu, aku juga merasakan ada hantu lain di sana, ada sekelompok hantu jahat, energinya sangat hitam dan beraroma busuk,"


lirih si teman hantunya Amar sambil memandang ke arah jauh di sana,


"Aroma busuk?"


Gumam Amar, yang tiba-tiba saja ia jadi teringat saat berada di bus duduk bersebelahan dengan Sasa,


Gadis itu diikuti sesosok hantu perempuan yang aromanya sangat busuk dan energinya juga gelap,

__ADS_1


Ya, gelap dan busuk. Hantu perempuan itu.


...****************...


__ADS_2