
Sasa terlihat sibuk membuka ranselnya, ia mengeluarkan kaos-kaos yang ia bawa dari rumah, dipilihnya kemudian salah satu dan kemudian dibawanya ke kamar mandi agar ia bisa langsung salin nantinya,
Sasa keluar dari kamar tidurnya sambil membawa kaos, saat begitu keluar kamar tiba-tiba Bunda sudah berdiri di sana,
Bunda tampak berdiri seperti patung di depan kamarnya, membuat Sasa begitu kaget hingga terlonjak karena sama sekali tak ada suara Bunda di luar kamar,
"Bu... Bunda, ada apa Bun?"
Tanya Sasa memandang Bundanya yang kini tampak menatap Sasa, lalu menarik senyuman tipis,
"Perlengkapan mandinya Sasa,"
Kata Bunda, yang lantas tangannya terulur dan Sasa melihat handuk serta sabun, sikat gigi, pasta gigi dan juga shampo,
"Oh... Iya Bunda,"
Sasa pun senang menerima perlengkapan mandi yang disiapkan Bunda untuknya,
Ah yah, Bunda memang selalu begitu, sejak dulu Bunda selalu menyiapkan semua kebutuhan Sasa,
Bunda seolah tak pernah ingin melewatkan satupun kebutuhan Sasa yang untuk tidak ia sendiri yang siapkan,
"Mandilah, jangan pikirkan apapun selama di kamar mandi, ingat saja ada Bunda di rumah,"
Kata Bunda,
Sasa pun mengangguk mengerti,
"Iya Bunda, Sasa mandi dulu,"
Kata Sasa,
Bunda mengangguk pelan, sangat pelan malah,
Sasa pun kembali melangkah ke kamar mandi rumah lamanya, yang letaknya tak jauh dari kamarnya,
Sementara Bunda berjalan menjauh menuju ruang lain, sepertinya kembali ke dapur atau entahlah, yang Sasa tahu ia ingin mandi setelah itu ia akan makan masakan Bunda,
Sasa masuk kamar mandi rumahnya, awalnya semua biasa saja, hanya terasa hawa dingin di dalam kamar mandi seperti dua kali lipat dari ruangan lain,
Tapi, tentu saja Sasa tak merasa ada yang janggal dengan itu, karena sudah sewajarnya misal kamar mandi hawanya lebih dingin,
Sasa tampak menata peralatan mandinya di dekat bak mandi, setelah itu di gantungnya di dinding dekat pintu kamar mandi kaos dan juga handuk yang diberikan Bunda,
Sasa sejenak menyunggingkan senyuman, rasanya hatinya begitu senang karena saat ini Bunda kembali bersamanya,
Gadis itu lantas bersiap untuk mandi, saat tiba-tiba ia merasa seperti ada yang sedang mengawasi dirinya,
Sasa yang merasa tak nyaman akhirnya jadi mengurungkan diri melepas bajunya, ia menoleh ke belakang, lalu ia melihat ke kanan kiri,
__ADS_1
Sepi, tak ada siapapun di sana, dan memang jelas tidak ada siapapun saat Sasa masuk tadi,
Ruang kamar mandi di rumah Sasa jelaslah bukan kamar mandi yang mewah dengan luas ruangan yang berlebihan,
Kamar mandi rumah lama Sasa hanyalah dua kali tiga meter persegi, yang di sana hanya ada bak mandi, shower dan juga wastafel di sudut dengan cermin yang tak seberapa besar,
Cermin, ya cermin,
Sasa kini menatap cermin yang ada di dekat wastafel,
Tampak Sasa mengerutkan keningnya, karena rasanya dari sanalah kini Sasa merasa ada yang sedang menatapnya,
Hingga...
Tampak di cermin Sasa melihat ada bayangan berkelebat,
Dan belum lagi Sasa sempat berpikir bayangan itu sebetulnya bayangan apa, tiba-tiba bayangan itu muncul di cermin semakin lama semakin jelas,
Bayangan itu membentuk seorang anak laki-laki yang usianya hampir sama seperti Sasa,
Sasa yang melihat itu tentu saja menjerit takut, karena bukan hanya bayangan yang membentuk anak laki-laki itu kini terlihat di cermin, namun yang paling mengerikan adalah Sasa melihat anak itu kedua matanya tidak ada dan diganti dengan benda seperti kancing baju,
"To... long... to... long, ke... luarkan akuuuu..."
Anak laki-laki seusia Sasa itu mengulurkan tangannya ke arah Sasa, sementara kedua matanya yang berupa kancing baju itu tampak meneteskan darah,
Sasa kembali menjerit sambil berusaha keluar dari kamar mandi,
"Bun... Bundaaaa, ada hantuuu..."
Sasa menghambur ke arah Bundanya untuk memeluknya karena saking takutnya,
Seperti sebelumnya, tubuh Ibu terasa begitu dingin namun anehnya juga empuk sekali,
"Ada hantu Bun, ada hantu."
Kata Sasa ketakutan,
Untuknya jelas ini baru pengalaman pertama melihat hantu dalam keadaan wujud yang sejelas itu meskipun masih ada di dalam cermin,
"Hantu? Hantu apa Sasa? Hihihihi... hihihihi..."
Bunda cekikikan mendengar Sasa memberitahunya soal ada hantu di kamar mandi,
"Benar Bun, sungguh, ada hantu di kamar mandi Bun, dia... dia... hah tidak, tidak, terlalu mengerikan, bagaimana bisa matanya dijahit, diganti benda mirip kancing baju,"
Sasa bergidik ngeri, namun Bunda malah semakin cekikikan mendengarnya,
"Bunda, kenapa Bunda seperti tidak percaya?"
__ADS_1
Sasa tampak kesal, dilepaskannya pelukannya atas Bundanya,
Namun betapa kagetnya Sasa, saat yang sedang ia peluk tiba-tiba adalah anak laki-laki yang tadi ada di cermin kamar mandi dan kedua matanya diganti kancing yang dijahit,
"Ah tidak! Tidak mungkin. Tidak, tidaaaaaaaak..."
Sasa kembali menjerit ketakutan, dan ia pun melepaskan pelukannya,
Anak laki-laki itu mencoba meraih tangan Sasa, tapi Sasa tentu saja cepat menghindar,
"Buuuun... Bunda..."
Sasa berlari sambil memanggil Bunda,
Tapi ke mana Bunda? Ke mana Bunda? Sasa celingak-celinguk mencari sosok Bundanya yang kini tak terlihat,
"Tolooong... kel... keluarkan aku dari sini le... lebih duluuuu..."
Suara anak laki-laki itu terdengar memohon,
Bersamaan dengan itu, tiba-tiba terdengar suara yang serupa dari hampir semua sudut rumah lama orangtua Sasa,
"To... long..."
"To... looooong,"
"Tolong ka... kami..."
Suara semacam itupun tiba-tiba semakin banyak, Sasa menyapukan pandangan matanya ke sepenjuru ruangan rumah, suara-suara itu seolah berasal dari balik dinding-dinding rumahnya, yang disertai dengan keluarnya cairan seperti darah,
"Ah tidak... tidaaaaak..."
Sasa berlari menuju pintu utama rumah lama orangtuanya, berusaha keluar tapi pintu itu ternyata terkunci,
"Bundaaaaa... Bunda di mana?"
Sasa yang takut setengah mati mulai menangis karena suara-suara meminta tolong itu semakin lama semakin banyak,
Berbarengan dengan itu darah yang keluar dari dinding-dinding rumah semakin lama semakin tampak deras,
Sasa terus berusaha keluar dengan mencoba membuka paksa pintu rumah lamanya, ia juga meminta tolong sambil menggebrak-gebrak daun pintunya,
Tak hanya itu, Sasa pun kembali menjerit-jerit meminta siapapun di luar sana agar mengeluarkannya dari dalam rumah begitu dilihatnya anak laki-laki dengan kedua matanya yang dijahit dan di ganti kancing itu mulai mendekatinya lagi,
Sasa menangis karena ketakutan yang luar biasa, ia terus memaksa handle pintu rumah agar pintu bisa terbuka,
"Tolong, ku mohon... aku juga ingin keluar dari sini,"
Sasa nyaris putus asa, ia menangis dengan tubuh yang mulai lemas, sampai kemudian tiba-tiba dari luar pintu dibuka seseorang, dan...
__ADS_1
...****************...