Bunda

Bunda
14. Khawatir


__ADS_3

Ayah Sasa tampak begitu panik karena saat ia pulang kerja sudah tak ada Sasa di rumah,


"Dia sedang tidak sehat, kondisinya tidak baik-baik saja untuk bepergian jauh Wir,"


Kata Ayahnya Sasa dengan suara gemetaran,


Ia sejak sore sepulang kerja dan mendapati Sasa tak di rumah langsung sibuk menghubungi semua saudaranya, terutama Bibik Tuti dan Lisa yang pastinya adalah orang paling dekat dengan Sasa di dalam keluarga karena usia mereka yang tak terlalu jauh berbeda,


Bibik Tuti yang saat ditelfon Kakaknya sedang kumpul santai dengan teman-teman kampusnya, akhirnya memutuskan langsung pamit pada teman-temannya untuk segera pulang ke rumah Kakaknya,


Lisa pun yang saat ditelfon sedang mengantri tiket bioskop dengan pacarnya, walhasil langsung membatalkan niat nontonnya dan meminta sang pacar mengantarnya pergi ke rumah Sasa,


Sementara itu, beberapa keluarga lain juga tak mau ketinggalan, mereka berdatangan ke rumah Sasa untuk menguatkan Ayahnya Sasa,


Sudah pasti jika banyak hal yang terjadi membuat Ayah Sasa terguncang,


"Sasa pasti pulang sebentar lagi, jangan khawatir,"


Kata Nawir, adik sepupu Ayahnya Sasa yang tinggalnya masih cukup dekat dengan rumah Ayah Sasa,


Ayah Sasa tampak duduk lemas, pikirannya kacau luar biasa,


Ke mana anak itu sebenernya?


Di mana dia sekarang?


Ayah Sasa terus saja bertanya-tanya, dan ketakutan di dalam dirinya kemudian menjadi bertambah-tambah, manakala memikirkan banyak kejadian buruk yang kini banyak ditemukan di berita,


Ah tidak, pasti bukan karena itu. Ayah tiba-tiba menggelengkan kepalanya, ia rasanya tak bisa percaya jika Sasa melarikan diri dari rumah untuk urusan macam kebanyakan remaja-remaja yang pergi tanpa pamit dari rumahnya karena bucin,


"Dia baru saja kehilangan Bundanya, kemana dia?"


Lirih Ayah begitu sedih, dadanya rasanya sesak, seolah terhimpit dua batu besar di belakang dan di depannya,


Tak lama berselang, Lisa tampak sampai di rumah sang Paman diantarkan pacarnya, nyaris bersamaan dengan Bibik Tuti yang naik taksi dari kampus,


Keduanya bertemu di depan pagar rumah Sasa, di mana beberapa anggota keluarga inti dari Ayah tampak sudah ada di sana,


"Ke mana anak itu, aku telfon tidak aktif dari tadi,"


Kata Bibik Tuti pada Lisa yang turun dari boncengan motor Ninja milik pacarnya,


Tampak Seno pacar Lisa ikut turun dari motor, lalu mengikuti Lisa dan Bibik Tuti masuk ke halaman rumah Sasa,


"Mungkin ke rumah salah satu temannya,"


Seno ikut bersuara,


Lisa dan Bibik Tuti seketika menoleh ke arah Seni yang berjalan di belakang mereka, dan kemudian kompak menggelengkan kepalanya,

__ADS_1


"Tidak mungkin,"


Ujar mereka pula hampir bersamaan,


Seno jadi nyengir melihat keduanya bisa sekompak itu, langsung terbayang mereka, Bibik Tuti, Lisa dan Sasa saat masih kecil main bersama pasti sangat menggemaskan,


"Sasa anaknya ketus dan tidak pernah cocok dengan siapapun, dia tak pernah punya teman dekat, mustahil dia pergi ke salah satu temannya,"


Kata Lisa sambil terus melangkah menuju teras rumah Sasa, dan Bibik Tuti pun yang berjalan di sampingnya mengangguk membenarkan,


"Dia susah dekat dengan siapapun, di keluarga juga cuma bisa dekat dengan kami,"


Tambah Bibik Tuti,


Seno mantuk-mantuk, memang nyatanya Sasa ketus sekali, meski Seno sudah cukup lama kenal sejak ia berpacaran dengan Lisa, rasanya juga hanya beberapa kali saja Seno bisa bicara dengan Sasa,


Tok tok...


Lisa mengetuk daun pintu rumah Sasa yang dibiarkan terbuka, beberapa anggota keluarga tengah duduk di ruang depan,


"Oh kalian sudah datang, masuklah, sudah ditunggu,"


Kata salah satu dari mereka yang duduk di sana,


Lisa dan Bibik Tuti serta Seno menjabat tangan mereka satu persatu, baru kemudian masuk ke ruang dalam di mana Ayah Sasa dan Paman Nawir tengah duduk sambil bicara ke sana kemari yang pastinya juga tentang Sasa,


"Lis, Tut..."


"Sasa pergi dari kapan, Paman?"


Tanya Lisa sambil meraih tangan Pamannya untuk bersalaman,


"Aku sudah berulangkali hubungi tidak aktif, aku buka semua media sosialnya juga tidak ada tanda dia baru online,"


Ujar Bibik Tuti yang menyusul menyalami Ayah Sasa,


"Dia terakhir buka WhatsApp saja kemarin malam,"


Kata Lisa,


Ayah Sasa mengangguk lemah,


"Itu sebabnya kita semua bingung,"


Lirih Ayah kembali terduduk lemah,


"Kupikir kalian sangat dekat dengan Sasa, mungkin kalian diberitahu dia akan pergi ke mana hari ini,"


Ujar Ayah masih dengan suara lirih,

__ADS_1


Lisa, Bibik Tuti dan Seno kemudian duduk di set sofa ruang dalam rumah Sasa, menemani Ayah Sasa yang tengah terguncang anaknya pergi entah kemana setelah meninggalnya sang Bunda,


...***********...


Sementara itu, di sebuah kamar kecil di rumah yang sederhana, seorang pemuda terlihat terbaring gelisah di atas kasur yang digelar di atas karpet,


Niat hatinya pulang dua hari ke depan untuk bertemu orangtua sekaligus istirahat, kini malah jadi sama sekali tidak bisa menikmati kebersamaan dengan orangtua dan adik-adiknya akibat terus teringat kejadian siang tadi,


Pemuda itu, yang tak lain adalah Amar, tampak akhirnya duduk dari posisi berbaringnya,


Saat kemudian ia mendengar kaca jendelanya seperti diketuk-ketuk dari luar,


Amar menghela nafas, ia tahu jika hantu penunggu pohon Nangka depan rumahnya yang pasti melakukannya,


"Masuklah, aku belum bisa tidur,"


Kata Amar,


Setelah Amar mengatakannya, tiba-tiba sesosok hantu gadis seusia Sasa masuk ke dalam kamar Amar,


"Akhirnya pulang juga, aku pikir sudah lupa dengan rumah sendiri,"


Kata hantu gadis penunggu pohon Nangka,


Amar tampak hanya menghembuskan nafasnya sambil menggelengkan kepalanya,


Hantu gadis itu nyatanya sudah macam pacar saja, jika Amar lama tak pulang pasti dia akan mengomel tak jelas,


"Kamu kalau mau marah-marah tak ada juntrungnya mendingan pergi dulu saja, aku lagi pusing,"


Kata Amar,


Si hantu gadis penunggu pohon Nangka mengerutkan kening, dipandanginya Amar yang raut wajahnya menyiratkan kegelisahan,


"Pusing apa? Tagihan? Cicilan?"


Tanya si hantu yang penampakannya mirip Kunti itu,


Hantu itu sebetulnya semula tinggal di salah satu pohon besar di kebon milik Bapaknya Amar,


Namun saat Amar masih kecil, kebon itu dijual ke salah satu kerabat dan menjadikan kebon itu menjadi beberapa kaplingan tanah yang dijual kembali,


Saat dijual dan kemudian seluruh pohonnya ditebang, salah satu hantu yang terusir dari sana adalah si mbak hantu itu pula,


Hantu itu menemui Amar yang memang saat itu sudah bisa melihat makhluk astral,


Si hantu lantas tinggal di pohon nangka depan rumah orangtua Amar, dan selalu menemani Amar berkegiatan sampai kemudian Amar lulus SMA, lalu sempat kuliah sampai D.III, dan akhirnya Amar bekerja hingga jarang pulang ke rumah,


"Gadis itu dikelilingi energi gelap, ada sosok hantu jahat bersamanya, ia juga naik angkutan hantu, bagaimana nasibnya saat ini,"

__ADS_1


Gumam Amar kemudian.


...***********...


__ADS_2