Bunda

Bunda
24. Menuju Muara


__ADS_3

Amar baru akan mendekati perkampungan harimau putih, saat tiba-tiba sejumlah bayangan hitam keluar dari sana melesat dengan cepat seperti sepasukan pecundang yang melarikan diri dari medan pertempuran,


"Sembunyi!"


Tiba-tiba teman hantunya Amar menarik tangan Amar ke arah semak belukar,


Tampak bayangan-bayangan hitam yang tak jelas wujudnya itu melayang di atas kepala Amar yang disuruh merunduk oleh si teman hantunya,


Di belakang bayangan-bayangan hitam itu terlihat sekelompok harimau putih berlari mengejar sambil mengaum keras,


Amar menutup kedua telinganya, tubuhnya sampai gemetaran saking takutnya mendengar auman para harimau,


Sekian detik, hanya sekian detik kejadian itu, namun Amar rasanya kedua kakinya sudah lemas bukan main,


Jika hanya sekedar melihat bayangan hitam baginya tentu bukan masalah, tapi harimau...


Ah' tidak, tidak,


Amar terlalu takut meskipun hanya membayangkan saja,


Membayangkan tubuhnya diterkam, dicakar, dicabik-cabik, digigit, dimakan,


"Hah, tidak, tidak mau!"


Amar tiba-tiba menggeleng-gelengkan kepalanya sambil berteriak, membuat si teman hantunya kaget dan menaboknya dengan keras,


"Aduh!"


Amar ikut kaget dan tampak mengusap-usap lengannya,


"Kenapa teriak?!"


Omel si hantu pada Amar,


Tampak Amar nyengir ke arah temannya itu, ia baru sadar tadi ia melamun dan terlalu larut dalam lamunannya,


untungnya ia sudah di alam mahluk tak kasat mata, jika tidak, dia pasti sudah kesurupan,


"Ayok lanjut,"


Kata si hantu menarik tangan Amar agar kembali ke jalanan agar meneruskan berjalan menuju kampung harimau,


"Tunggu,"


Kata Amar,


"Apa?"


Si hantu yang saat ini memilih melayang di depan Amar untuk memimpin jalan tampak menoleh ke belakang,


Dilihatnya Amar yang kini celingak-celinguk seperti mencari sesuatu,


"Ada apa?"


Tanya si hantu,


Amar lantas memandang hantu di depannya, hantu yang di mata Amar sudah macam manusia seperti dirinya saja,


"Adikku,"


Gumam Amar,

__ADS_1


Hantu si teman Amar mengerutkan kening,


"Adik?"


Tanya si hantu, Amar mengangguk pelan,


"Ya, adikku, dia, aku tiba-tiba seperti mendengar suaranya, dan aku juga seperti mencium aroma seperti permen yang dulu sering ia makan,"


Kata Amar yang kini kembali sibuk melihat ke kanan dan ke kiri,


Angin berhembus semilir, rumput-rumput liar yang tumbuh di sekitar Amar terlihat meriap-riap,


Bunga-bunga kapas yang terbang dari pohonnya terbang bersama angin yang melewati Amar, yang seiring dengan itu terdengar dari jauh seperti ada suara ayam jantan yang berkokok,


"Sepertinya sebentar lagi pagi, bukan?"


Tanya Amar pada si hantu,


Teman hantu Amar tampak semakin bingung, ia merasa ada banyak hal yang tak biasa yang kini terjadi,


"Kenapa mukamu?"


Tanya Amar pula, membuat si hantu jadi meraba mukanya,


"Mukaku? Kenapa memangnya mukaku?"


Si hantu malah balik tanya,


"Mukamu seperti orang bingung,"


Haiiiish... Si hantu pun mendesis,


"Memang aku sedang bingung, karena ada suara Kokok ayam jantan, ini sangat aneh,"


"Kenapa? apa di alam ini tidak ada ayam?"


Tanya Amar yang jadi ikut bingung,


"Ada ayam hitam,"


Sahut si hantu,


"Tapi biasanya mereka berada di tempat para jin, mereka peliharaan para jin, kuda, ayam, bahkan tokek,"


"Tokek?"


Amar membelalakkan mata,


Hantu temannya itu mengangguk,


"Ya, tokek, ada beberapa dari mereka senang masuk ke alam manusia bersama binatang peliharaan mereka, termasuk tikus-tikus got, tikus-tikus yang dianggap hama di sawah,"


Tutur si hantu, yang lantas melayang lebih tinggi hingga nyaris menyamai tingginya pepohonan yang tumbuh di hutan,


Di sana ia tampak melihat sekeliling, di mana ia melihat perkampungan harimau putih yang kini sudah sepi,


Perkampungan itu tampak seperti perkampungan mati, yang sama sekali tak ada kegiatan apapun dari penduduknya,


"Mereka ke mana?"


Lirih hantu itu bertanya-tanya,

__ADS_1


Angin berhembus semilir lagi, yang bersamaan dengan itu terdengar seperti ada suara berbisik,


"Ambil kanan, jangan ke perkampungan harimau, mereka sudah menuju muara,"


Kata suara itu,


Si hantu celingak-celinguk, mencari sosok yang berbisik kepadanya,


Ini benar-benar aneh, bagaimana bisa ia yang seonggok hantu justeru dibisiki hantu pula,


Ah tidak, tidak,


Ia mulai mengerti sekarang, jalan setapak ini, dan hutan itu adalah perkampungan bangsa jin,


Si hantu teman Amar melayang mengikuti ke arah asal angin berhembus, yang mana sekarang tercium aroma misik,


Amar yang berada di bawah, begitu melihat teman hantunya melayang menuju ke arah yang berbeda dengan jalan setapak menuju perkampungan siluman harimau pun memutuskan untuk mengikuti,


Tentu saja, ia tak mau tertinggal sendirian di sana, ia tak mau nantinya harus mencari keberadaan teman hantunya lalu akhirnya kehiduan jejak,


Sungguh tidak lucu, jika pada akhirnya ia juga tersesat di alam para hantu, lalu ia pun akan bernasib sama dengan gadis yang hendak ia tolong,


"Mereka menuju muara, gadis itu, sudah ku tolong tapi tak menghiraukan pesanku,"


Kata suara tanpa rupa tersebut,


"Muara, di mana muaranya, di mana?"


Si hantu bertanya pada angin yang membawa suara tanpa rupa tersebut,


"Ikuti saja arah datangnya angin, aroma laut selatan akan menuntun kalian keluar dari sini, dan..."


Sejenak kalimat itu terhenti, digantikan suara Amar yang berisik memanggil si hantu,


"Ciciii... Ciiii..."


Haiiish... Cici, si teman hantunya Amar menoleh ke arah Amar yang di bawah sana mengikutinya sambil berlari mengejar,


Hingga kemudian si hantu Cici melihat di depan Amar ada jurang menganga, cepat gerakannya melayang ke arah Amar untuk menarik tangan Amar untuk dibawanya melayang,


"Waaaaa... aaaaaa..."


Amar yang berasa terbang berteriak-teriak heboh, ia melihat ke bawah saja di mana jalanan setapak itu bercabang menjadi dua arah,


Satu arah menuju perkampungan siluman harimau, dan satu lagi adalah menuju jurang yang curam,


Saat melayang di atas jurang, Amar yang melihat ke bawah rasanya macam sedang naik wahana di taman bermain,


Jantungnya yang berdetak dua kali lebih kencang rasanya mau melompat dan melorot ke bawah,


Apalagi saat tangannya yang ditarik oleh Cici serasa kram, Amar saking takutnya sampai teriak-teriak agar Cici jangan sampai melepaskan tangannya,


"Haduh, kamu laki-laki berisik banget dah, kayak ceret!"


Omel Cici sambil terus melayang menyeberangi jurang,


Ia tahu di bawah sana juga banyak dihuni siluman lagi, yang jika Amar jatuh maka tamatlah sudah riwayatnya, karena biasanya siluman yang ada di tempat-tempat sulit seperti itu juga susah dikalahkan,


Aroma minyak misik kini kembali tercium, bersamaan dengan terlihatnya satu perkampungan lagi dekat jurang setelah hutan kecil yang juga ada di sana,


Tak jauh dari perkampungan tersebut terdapat aliran sungai yang airnya sangat jernih,

__ADS_1


Sungai itu tampak berkelok-kelok, layaknya seekor ular besar.


...****************...


__ADS_2