Bunda

Bunda
30. Heboh


__ADS_3

"Agh!"


Amar merasa dadanya sesak, yang kemudian ia tampak terbatuk dan muntah,


"Dia sadar... dia sadar..."


Suara berisik terdengar di sekitar Amar, membuat pemuda itupun seketika menoleh ke kanan dan ke kiri, memperhatikan wajah-wajah orang yang mengelilinginya,


Pandangan mata Amar masih samar-samar, seperti terlihat macam bayangan saja, namun memperhatikan dengan seksama, tampak mereka yang kini mengelilingi Amar sepertinya memang manusia biasa, bukan mahluk aneh ataupun hantu,


Agh!


Amar tiba-tiba kembali merasa kepalanya sakit lagi, sebelum akhirnya kembali tak sadarkan diri,


"Bawa saja dia ke klinik,"


Kata salah satu orang yang mengelilingi Amar,


"Tapi, bagaimana jika nanti dia meninggal? Urusannya akan panjang kalau akhirnya sampai ke polisi, nama pemukiman kita akan semakin tercemar sejak ditangkapnya Agus karena menjadi pengedar,"


Kata salah satu orang yang ada di sana,


"Tidak usah takut, kita toh tidak melakukan apapun atas pemuda ini, kita menemukannya sudah tak sadarkan diri di sekitar pemakaman, siapa dia dan dari mana asalnya pun kita tidak tahu, jadi kita jelaskan saja apa adanya, pihak kepolisian juga pasti tahu kapan orang bicara sebenarnya dan kapan orang bicara tidak jujur,"


Kata orang yang menyarankan Amar dibawa ke klinik,


Namun, beberapa dari orang-orang itu tampaknya tetap ragu, kekhawatiran mereka jika nantinya akan terlibat masalah membuat mereka tak berani mengambil risiko, meskipun sebetulnya apa yang mereka lakukan adalah hal baik, yaitu menolong orang lain,


Melihat para warga lain masih saja tampak ragu, akhirnya orang yang tadi menyarankan untuk membawa Amar ke klinik memutuskan untuk membawanya sendiri,

__ADS_1


"Baiklah jika tidak ada yang mau menolong pemuda ini, biar aku saja yang bawa dia, tolong gotongkan saja dia ke pik up ku, biar aku siapkan ambil pikup ku lebih dulu,"


Kata laki-laki yang wajahnya bewokan itu, orang-orang yang ada di sana tampak mengangguk,


Beberapa orang dari mereka pun bergegas bersiap menggotong tubuh Amar yang terkulai lemas di area pemakaman di sebuah pemukiman yang tak jauh dari terminal kota,


Tubuh Amar tampak digotong empat orang warga, mereka mengikuti laki-laki dengan wajah penuh bewok tersebut,


Namun, belum lagi mereka keluar dari area pemakaman, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan suara jeritan anak-anak di lapangan bola yang tak jauh dari area pemakaman tersebut,


Suara anak-anak kecil yang biasa di minggu pagi menyibukkan diri bermain bola di lapangan dekat pemakaman itu terdengar begitu berisik,


Orang-orang yang posisinya tidak sedang menggotong Amar pun cepat berlari menuju sumber suara, tak terkecuali laki-laki dengan wajah bewokan,


"Bang... Bang Iwan, ini bagaimana?"


Tanya orang-orang yang menggotong Amar,


"Letakkan saja dia di sana dan jaga dia, aku hanya akan melihat sebentar apa yang terjadi,"


Kata Bang Iwan,


Orang-orang yang menggotong Amar pun menurut membawa Amar ke mobil Bang Iwan, dan meletakkannya di bagian belakang mobil,


"Biar aku saja yang jaga di sini, tidak apa,"


Kata salah satu dari orang-orang yang membawa Amar, disambut anggukan kepala yang lain,


Mereka lantas cepat menyusul Bang Iwan menuju ke arah lapangan bola, di mana di sana anak-anak tampak berkumpul di pinggir lapangan dan sibuk menjelaskan apa yang terjadi sambil menunjuk ke ujung lapangan,

__ADS_1


"Di sana, di sana, ada mayat,"


Kata mereka dengan wajah-wajah ketakutan,


Bang Iwan dan warga lain yang kesemuanya laki-laki karena tentunya para wanita tak diperbolehkan oleh mereka untuk mendekat, tampak kini mereka pun setengah berlari menuju tempat yang ditunjuk anak-anak,


Apalagi ini? Setelah dikejutkan penemuan laki-laki muda tak sadarkan diri di area pemakaman, kini mereka juga harus mendapati ada mayat di tempat yang tak jauh dari pemakaman juga,


Wajah para warga itu tampak begitu serius, dan bahkan mulai panik membayangkan jika memang benar ada mayat ditemukan di sana,


"Di dekat semak, dia ada di dekat semak,"


Seorang anak yang nekat mengikuti para warga berteriak memberitahu,


Para warga pun cepat mengikuti petunjuk yang diberikan anak itu,


Dan...


"Astaga,"


Semua tampak nyaris terlonjak karena terkejut, manakala salah satu dari mereka yang telah sampai di semak yang dimaksud tampak menyibak semak-semak tersebut dan memperlihatkan pemandangan yang sama sekali tak diinginkan siapapun melihatnya,


"Ini mayat, telfon aparat desa dan polisi saja,"


Kata Bang Iwan yang langsung terdengar meminta salah satu dari warga itu memberitahu orang desa dan polisi,


Semua pun langsung heboh untuk menelfon aparat desa lebih dulu.


Mayat seorang anak kecil perempuan di balik semak-semak itu tampak mengenakan seragam sekolah, entah anak dari mana karena tak ada satupun dari mereka yang mengenalnya.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2