
Amar yang berada di mobil pickup milik Bang Iwan kembali sadarkan diri, ia membuka matanya pelahan, tubuhnya terasa sakit semua,
"Ah' ak... aku di... di mana?"
Tanya Amar saat kemudian dia mendapati seorang laki-laki yang duduk di sampingnya seperti memang menunggui dirinya,
Laki-laki itu tampak tersenyum lega melihat Amar sadarkan diri,
"Sukurlah, sukurlah kau sadar,"
Kata Laki-laki itu,
Amar sejenak matanya mengerjap-ngerjap karena merasa silau terkena sinar matahari pagi,
Pelahan iapun mencoba bangun dari posisinya sambil memegangi kepalanya yang terasa berat,
"Kau ditemukan kami di sekitar pemakaman, apa kau ingat terakhir kali dari mana hingga bisa sampai di sini?"
Tanya laki-laki yang menunggui Amar,
Tampak Amar Sejenak celingak-celinguk, sambil berusaha mengingat apa yang terjadi, Amar juga mencoba mengenali daerah di mana kini ia berada,
Hingga mata Amar kemudian menangkap papan besar di depan area pemakaman tak jauh dari posisinya berada di atas mobil pickup,
Pemakaman Taman Tulang, daerah Kebon Duku,
Amar pun tampak lega, karena ia akhirnya tahu bahwa ia masih berada di satu kota dengan tempat ia tinggal,
"Sa... saya..."
Amar yang akhirnya baru akan menjawab pertanyaan dari laki-laki yang menungguinya itu, tiba-tiba dikejutkan dengan suara berisik dari kejauhan yang tampak kini begitu Amar melihatnya adalah sekelompok orang yang berjalan mendekat ke arah mobil pickup,
__ADS_1
"Oh, sudah sadar rupanya?"
Tanya Bang Iwan yang berada paling depan,
Semula ia kembali ke tempat di mana mobilnya berada karena akan membawa Amar terlebih dahulu ke klinik agar mendapatkan pertolongan, namun ternyata Amar sudah siuman,
"Ada apa Bang di sana?"
Tanya laki-laki yang menunggui Amar sambil kemudian berdiri dan turun dari mobil pickup milik Bang Iwan,
"Oh ada mayat anak perempuan, kita tunggu polisi dan aparat desa sampai saja, takutnya nanti malah salah,"
Kata Bang Iwan,
Mendengar apa yang dikatakan Bang Iwan tentang mayat anak perempuan, tiba-tiba saja Amar seperti langsung teringat sesuatu,
Ah yah, benar, ia ingat sekarang,
Terakhir kali ia berada di alam lain untuk menyelamatkan seorang gadis yang ditemuinya di bus,
Dan...
"Mili... apakah itu Mili, Bang?"
Tanya Amar pada Bang Iwan yang malah bingung sendiri ditanya demikian,
Tentu saja ia tak tahu siapa itu Mili, bahkan Amar saja ia tidak tahu, ia hanya menyelamatkan pemuda itu dan akan membawanya ke klinik takut pemuda itu memiliki luka dalam yang harus ditangani oleh ahli medis,
Amar yang tak mendapatkan jawaban dari Bang Iwan akhirnya memutuskan melompat turun dari pickup,
"Saya ingin melihatnya,"
__ADS_1
Kata Amar,
"Melihat apa? Tenanglah... tenanglah anak muda,"
Kata Bang Iwan dan juga beberapa laki-laki yang ada di sana,
Amar menggelengkan kepalanya,
"Anak perempuan itu, ya anak perempuan itu, dia mungkin Mili adikku, aku bertemu dengannya dan dia ikut keluar bersamaku, itu pasti dia, itu pasti dia,"
Kata Amar,
Bang Iwan dan para laki-laki yang ada di sana tambah kebingungan,
"Sebentar... sebentar... maksudnya keluar dari mana? Sebetulnya kau ini dari mana?"
Tanya Bang Iwan pada Amar sambil mencoba menahan langkah Amar yang akan segera pergi,
Amar cepat menghalau tangan Bang Iwan,
"Tunjukkan dulu di mana anak itu, aku ingin melihatnya, cepat!"
Kata Amar tak sabar,
Bang Iwan pun akhirnya mengalah menurunkan tangannya yang mencoba menahan Amar,
Dibiarkannya Amar melangkah lebar menuju lapangan yang tak jauh dari sana dan kini mulai didatangi banyak orang,
Suara sirine mobil polisi sayup-sayup terdengar,
"Mereka datang,"
__ADS_1
Kata Bang Iwan.
...****************...