Bunda

Bunda
23. Jejak Terakhir


__ADS_3

"Polisi menemukan jejak terakhir Sasa di terminal bus dan sempat berada di sekitar angkutan jurusan ke rumah lama Abang,"


Kata adik Ayahnya Sasa yang laki-laki, ia yang baru saja menerima laporan dari pihak kepolisian,


Sudah dua kali dua puluh empat jam, sejak Sasa keluar dari rumah tanpa ada yang tahu ke mana, lalu akhirnya dinyatakan hilang,


Ayahnya Sasa yang baru saja kehilangan isteri tercintanya lalu kini harus menerima kenyataan kehilangan putri satu-satunya tampak nyaris depresi,


Meski ia berusaha sekuat tenaga untuk tetap bertahan dengan pengharapan Sasa akan bisa pulang suatu saat nanti, namun tetap saja, sebagai manusia awam, ia sungguh merasa mulai tak berdaya manakala sebentar lagi akan memasuki hari ke tiga Sasa dinyatakan hilang,


"Apa kita tidak coba ke orang pinter saja Bang?"


Kali ini Bibik Tuti menyela, ia sejak Sasa pergi memang akhirnya kembali menginap di rumah Abangnya bersama saudara yang lain,


Mereka tentu saja merasa berkewajiban untuk memberikan support pada Ayahnya Sasa, karena pastinya ia kini seperti bahtera yang dihantam gelombang besar yang amat dahsyat,


"Orang pinter? Kamu ini bagaimana sih Tut, dikuliahkan malah masih percaya hal-hal semacam itu,"


Omel sang kakak ketiganya,


Bibik Tuti menghela nafas, ia sejenak menoleh ke arah anak tangga rumah Abangnya,

__ADS_1


Bibik Tuti tentu saja masih ingat, saat di mana hari Bunda nya Sasa meninggal, Bibik Tuti mengalami hal yang menakutkan di rumah itu,


Suara langkah kaki di lantai atas rumah, dan juga penampakan Sasa di kamarnya yang ternyata bukan Sasa,


Ah' entahlah...


Entah memang rumah Abangnya itu ada hal ganjil yang ikut menempati, ataukah hanya perasaan Bibik Tuti saja,


"Kenapa kau terus menerus melihat anak tangga di sana?"


Tanya Bang Rendi, Kakak ketiga Bibik Tuti, yang merupakan juga adik dari Ayahnya Sasa,


Tapi...


"Ada apa sebetulnya Tut? Katakanlah, aku benar-benar tak bisa berpikir lagi saat ini, bagiku apapun akan aku lakukan untuk membuat anakku kembali, sekalipun usaha itu adalah hal yang paling tidak masuk akal,"


Kata Ayahnya Sasa,


Bibik Tuti menatap Kakaknya yang memang wajahnya sudah sangat sedih,


Sejatinya, Bibik Tuti sebagai adik juga mulai khawatir dengan kesehatan sang kakak bilamana dibiarkan tenggelam dalam kesedihan yang semakin dalam,

__ADS_1


Apalagi hari terus berganti namun Sasa belum juga ditemukan, meski saat ini pihak polisi sudah menginfokan lokasi terakhir Sasa, tapi selama Sasa belum jelas ditemukan tetap saja itu membuat Ayahnya Sasa dan semua anggota keluarga besar Sasa belum bisa tenang,


"Begini Bang, hari saat pemakaman Bunda nya Sasa, aku mengalami hal janggal di sini, setelah itu Sasa sering membicarakan soal mimpinya yang aneh-aneh,"


Bibik Tuti akhirnya mulai bercerita,


Ayahnya Sasa terlihat memandang adik perempuannya itu dengan serius,


"Sasa terlalu sedih kehilangan Bundanya, aku khawatir ada sesuatu yang mengganggunya, entahlah, aku merasa seperti itu,"


Ujar Bibik Tuti,


Ayahnya Sasa tampak terdiam, ia mengingat hari-hari di mana Sasa memang seperti kehilangan semua semangatnya untuk meneruskan hidup,


Mungkinkah apa yang dikatakan Tuti benar?


Apakah mungkin ada hal yang tak bisa diketahui manusia biasa yang kini berperan besar atas menghilangnya Sasa?


Batin Ayah Sasa.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2