Bunda

Bunda
38. Sebuah Senyuman


__ADS_3

Sasa bersama Ayah, Bibik Tuti dan juga Ki Warseno disertai pula oleh asistennya, pada pagi menjelang siang seusai waktu sarapan akhirnya melaksanakan rencana mereka,


Dengan mengendarai mobil keluarga saya yang dikemudikan Ayah Sasa sendiri, mereka pun menuju rumah lama Sasa untuk menyelesaikan apa yang memang sudah menjadi keharusan bagi Sasa,


Ya, apa yang telah dilakukan Bunda di masa lalu, kini akan Sasa bersihkan, agar esok hari Sasa bisa kembali memulai kehidupannya yang baru, yang tentu saja kehidupannya yang lebih baik karena ia akan menjadi pribadi yang lebih baik,


Sekitar satu jam perjalanan, mereka pun akhirnya sampai di tempat tujuan,


Berbeda dengan saat dulu Sasa pergi sendiri dan akhirnya ditarik ke alam lain, hari ini, Sasa sungguh-sungguh kembali ke rumah lamanya,


Tampak Sasa menghela nafas, saat turun dari mobil dan menyempatkan diri sejenak menatap bangunan rumah lamanya,


Sekian banyak kenangan saat ia masih kecil terekam jelas di mata, bayangan sosok Bundanya yang selalu sibuk mengurus tanaman, menyapu, dan lain-lain juga terasa hadir di pelupuk mata,


Ya, Bunda, perempuan biasa yang hanya menjadi Ibu rumah tangga yang sederhana, yang sekian tahun Sasa merasa ia tak seistimewa kebanyakan Mama teman-temannya yang memiliki karir ini itu hingga terkesan bisa dipamerkan,


Sasa tiba-tiba merasa dadanya menjadi sesak dan sakit, mungkin kedurhakaannya memang dimulai dari sana, dan Sasa merasa begitu bersalah pada Bunda,


"Ayok Sa,"


Dan dalam masa mengenang Bunda nya, tiba-tiba saja Bibik Tuti meraih tangan Sasa untuk kemudian digandengnya agar berjalan bersama menuju rumah lama Sasa mengikuti Ayah dan juga Ki Warseno yang telah lebih dulu berjalan di depan mereka,


Sasa tampak kembali menghela nafas, dan akhirnya menurut berjalan bersama dengan Bibik Tuti,


Ayah membuka pintu rumah lama, yang seketika disambut dengan aroma lembab rumah yang telah sekian lama tak dihuni,


Debu juga terasa memenuhi ruangan rumah lama keluarga Sasa, belum lagi di sana-sini mulai tampak rumah-rumah laba-laba pula,


"Saya akan menutup pintu antara rumah ini dengan Dasima, Tuan bersama Nona Sasa pergilah ke belakang rumah, asisten saya akan menunjukkan di mana energi yang paling kuat di rumah ini, di sanalah nanti tempatnya,"


Kata Ki Warseno,


Ayah mengangguk mengerti, lantas mengajak Sasa dan juga Bibik Tuti untuk bersegera menuju belakang rumah, setelah ini selesai, ia sudah berencana akan menuju rumah sakit di mana pemuda satpam itu bekerja, meski hanya untuk mengucap terimakasih, untuk Ayah itu jelas sangat perlu,


Ya, adik satpam itu, jelas Ayah merasa sangat berhutang budi pada adik satpam rumah sakit itu, jika ia selamat, itu pastinya akan jauh lebih baik.

__ADS_1


Tampak kini asisten Ki Warseno berjalan mendahului Ayah dan Sasa juga Bibik Tuti,


Ia terlihat seperti berjalan seraya mencoba meraba energi yang ada di sana,


Hingga sampai kemudian, di tempat yang dekat gudang, yang nyaris mirip dengan apa yang Sasa mimpikan, asisten Ki Warseno pun berhenti,


Ia menoleh terlebih dahulu ke arah Ayahnya Sasa, pun juga kepada Sasa dan Bibik Tuti,


"Di sini Tuan,"


Kata sang asistennya Ki Warseno sambil menunjuk ke arah tempat yang paling ia rasakan ada energi paling kuat dan paling gelap di seluruh rumah itu,


Sasa yang merasa memang di sanalah yang ia lihat di dalam mimpi akhirnya mengangguk, ia berjalan ke arah tempat yang ditunjuk, dan kemudian berjongkok untuk meraba permukaan tanah di sana,


"Ayah bantu,"


Kata Ayah yang lantas mengambil alat di gudang yang ia masih ingat betul banyak perkakas yang ia biarkan tetap ada di sana,


Debu-debu begitu tebal menyelimuti gudang, membuat Ayah saat masuk untuk mengambil perkakas pun terbatuk-batuk,


Asisten Ki Warseno duduk sila tak jauh dari tempat Ayah dan Sasa menggali, sambil komat-kamit tak tahu apa, ia terlihat memejamkan mata namun sebaliknya mata batinnya lah yang terbuka lebar,


Di sana, saat Ayah dan Sasa menggali, tampak banyak energi gelap ingin mendekat, suara-suara anak kecil begitu berisik dengan kalimat yang rangkaian kata-katanya tidak jelas,


Sasa dan Ayah terus menggali, hingga kemudian alat yang dipakai Ayah sepertinya membentur semacam botol atau toples kaca,


Sasa tampak menunduk, tangannya mengais dengan cepat sisa tanah yang menutupi benda yang terkena alat gali milik Ayah,


Ada kain hitam dan merah yang menyembul di sana, Sasa menariknya sedikit, kain yang seperti membungkus sesuatu itu kemudian Ayah bantu tarik, dan...


Satu toples model jaman dulu yang dibungkus kain warna hitam dan merah akhirnya berhasil Sasa dan Ayah angkat,


"Bukalah,"


Tiba-tiba terdengar suara Ki Warseno,

__ADS_1


Sasa tampak cepat membuka kain yang membungkus toples tersebut,


Jelas di dalam sana ada satu kantong plastik hitam yang diduga jika dialah kakak Sasa dari Bunda,


Kakak Sasa yang Ibu miliki ketika masih remaja dan melakukan kesalahan,


"Kita bawa dia dan makamkan di sebelah makam Bunda nya Nona Sasa, pintu Dasima telah tertutup, setelah ini semuanya akan baik-baik saja,"


Kata Ki Warseno,


Sasa mengangguk, dan tanpa membuang waktu mereka pun setelah itu langsung menuju pemakaman di mana Bunda nya Sasa dimakamkan,


Ya mereka menguburkan kakak Sasa yang dulu tak sempat terlahir ke dunia karena harus dirampas hak hidupnya,


Menguburkannya dengan layak dan penuh cinta, membisikkan banyak doa, dan mendekatkannya dengan Bunda,


"Bunda, ini adalah cara bakti Sasa pada Bunda, bakti yang saat Bunda masih hidup belum sempat Sasa lakukan, Sasa minta maaf jika selama Bunda ada, Sasa mengabaikan Bunda, mengabaikan kasih sayang Bunda, dan malah menjadi anak yang pastinya hanya bisa merepotkan Bunda,"


Kata Sasa ketika berada di pemakaman Bunda dan setelah ia memakamkan kakaknya di samping makam Bunda,


"Sasa setelah ini berjanji akan jadi anak yang baik, semua nasehat Bunda yang selama ini Sasa dengar namun tak Sasa lakukan, sekarang Sasa akan melakukannya Bunda, Sasa janji,"


Kata Sasa kemudian,


Ayah mengelus kepala anaknya, lalu merangkul bahu sang anak,


Ki Warseno yang mengiring Sasa hingga selesai tampak tersenyum sembari mengangguk pelan ke arah dekat makam,


Mengangguk dan tersenyum pada Bunda nya Sasa yang kini terlihat menggandeng satu anak kecil yang tersenyum lebar dengan wajah berseri ke arah Ki Warseno,


"Terimakasih Ki, telah melepaskanku, sampaikan pada Sasa, aku menyayanginya."


Kata si anak kecil pada Ki Warseno, dan setelah itu bayangan keduanya pelahan menghilang.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2