Bunda

Bunda
8. Melihat Hantu


__ADS_3

Sasa tampak mengerjapkan matanya yang bulat, ia masih terlihat bingung harus membalas apa atas sapa pemuda yang duduk satu bangku dengannya itu, saat kemudian tiba-tiba bus berhenti karena ada salah satu penumpang yang meminta turun,


"Kiriiiii..."


Dan...


Ciiiiiiit...


Bus pun dipaksa berhenti, membuat yang berdiri kurang seimbang akhirnya nyaris jatuh,


Untungnya ia cepat dipegangi pemuda yang satu bangku dengannya, dan bukan hanya itu, Sasa juga langsung di tarik ke arah bangku mereka agar bisa duduk,


"Hati-hatilah makanya,"


Kata si pemuda yang duduk satu bangku dengan Sasa itu, pemuda yang Sasa kenali adalah satpam di Rumah Sakit yang sempat menahan langkah Sasa saat hari meninggalnya Bunda,


Sasa baru akan menyahut manakala bus kembali bergerak pelahan dan kemudian melesat cepat,


"Mau ke mana Non?"


Tanya si satpam Rumah Sakit pada Sasa,


Sasa terlihat diam saja, ia sedikit tidak nyaman ditanya mau ke mana oleh orang yang tak begitu ia kenal,


"Sori Non, sepertinya kamu sedang tidak begitu sehat, harusnya tetap di rumah saja, apalagi..."


Pemuda yang Sasa tahu dia seorang satpam di Rumah Sakit itu tampak menghentikan kalimatnya, tak enak meneruskan karena pastinya hanya akan membuat gadis di dekatnya itu bersedih,

__ADS_1


Sasa yang pada dasarnya tak mau banyak bicara dengan siapapun sekarang, tampak tak peduli pemuda itu memutuskan untuk tidak meneruskan kalimatnya,


Untuk Sasa saat ini, ia hanya ingin tidur sampai nanti bus masuk ke terminal kota di mana rumah lama keluarganya berada,


Sasa mengeluarkan earphone dari saku jaketnya, menyalakan hp untuk hanya memutar musik, lalu mendengarkannya dengan earphone,


Sasa duduk bersandar pada sandaran kursi bus, sambil kemudian memejamkan kedua matanya,


Tidurlah sebentar, setelah sampai di terminal nanti baru bangun lagi. Begitu batin Sasa.


Sementara itu, pemuda di samping Sasa tampak hanya bisa menghela nafas,


Gadis ini tampaknya begitu keras kepala. Batin sang pemuda sembari menatap Sasa yang sungguh seolah sama sekali tak peduli dengan keberadaannya lagi,


Hingga dering hp milik sang pemuda tiba-tiba terdengar, membuat pemuda itupun cepat mengeluarkan hp nya dari saku seragam di balik jaketnya,


"Ya halo,"


"Amar, sudah berangkat?"


Tanya seseorang di seberang,


"Aku? Ya, aku sudah menuju pulang, kenapa?"


Tanya pemuda bernama Amar itu,


"Wah aku pikir aku bisa pinjam motor,"

__ADS_1


Ucap suara dari seberang lagi,


"Motor? Pakai saja, kunci aku titipkan ke adik sepupuku,"


"Lho, kamu pulang pakai apa?"


Tanya si penelpon,


"Pakai bus, kenapa?"


Amar balik bertanya,


"Oh, kupikir pakai motor,"


Sahut si penelpon lagi,


Amar tersenyum, matanya menatap jalanan di luar sana dari balik kaca jendela bus,


Tampak ia melihat pantulan bayangan tak biasa di sana, Amar menoleh sejenak, menatap lagi Sasa yang duduk di sampingnya,


Gadis itu masih dengan mata terpejam tampak begitu menikmati alunan musik melalui earphone,


Amar menghela nafas, matanya kemudian menatap ke kanan dan ke kiri, mencoba mencari bayangan yang sempat ia lihat tadi,


"Tapi, sukurlah kalau kau tak pergi dengan motor Mar, memang lebih baik begitu, karena kejadian tahun lalu pastinya sulit dilupakan bukan?"


Si penelpon mengingatkan Amar pada satu kejadian tak mengenakkan tahun lalu,

__ADS_1


Kejadian yang akhirnya berdampak sampai hari ini, yang membuatnya jadi bisa melihat mereka yang tak kasat mata.


...****************...


__ADS_2