
Sasa tiba-tiba merasa ada tangan yang keluar dari dalam tanah lalu memegangi kedua kakinya hingga Ajeng tak mampu merangkak,
Namun, Sasa yang keras kepala tentu saja tak semudah itu menyerah, g
Tampak gadis itu berusaha sekuat tenaga melepaskan kakinya dari cengkraman tangan-tangan yang semakin banyak bermunculan dari dalam tanah dan mencoba menggapai Sasa,
Aroma bangkai yang begitu busuk pun tercium menyengat, membuat perut Sasa yang kosong rasanya begitu campur aduk tak jelas, membuat Sasa ingin memuntahkan semua sisa makanan yang ada di perutnya, dan segera cepat pergi dari sana,
Ya, ia harus cepat pergi dari tempat yang aneh ini, dan Bunda... Dia bukan Bunda, jelas dia bukan Bunda, dia hantu,
Sasa pun kembali berusaha cepat melepaskan diri,
Kaki Sasa yang kini dipegangi beberapa tangan dicobanya terus menendang ke sama kemari agar terlepas dan bisa segera pergi dari sana,
"Sasa, kau tidak akan bisa pergi! Kau sudah terpilih tinggal bersama Bunda, kau terpilih akan bersama Bunda selamanya, hihihihi... hihihihi..."
Suara itu cekikikan lagi, suaranya melengking seolah memenuhi setiap sudut kegelapan,
Sasa yang masih berusaha melepaskan diri dengan menendang kakinya ke sana kemari sambil ditarik agar terlepas dari cengkraman tangan-tangan yang bermunculan dari tanah, tiba-tiba saja, dari arah depan tangan Sasa seolah ada yang menarik juga,
Tangan yang menarik Sasa itu terasa begitu dingin seperti es, namun sangat kuat mencengkram lalu menariknya,
Karena tarikan tangan yang dingin itu, Sasa pun akhirnya berhasil terlepas,
Namun belum sempat Sasa tahu dan melihat siapa yang menariknya, tiba-tiba Sasa seperti ditarik lagi seolah dibawa melayang,
"Haaaai!!!"
Suara Bundanya terdengar sayup mengejar, bahkan tak usah menunggu lama sosok perempuan dengan rambut panjang berwajah mirip Bundanya itupun mengejar dengan kedua tangan terulur mencoba menggapai Sasa,
__ADS_1
"Dia milikku! Dia milikku..."
Perempuan dengan wajah seperti Bunda itupun seolah benar-benar marah, Sasa yang melihat sosok itupun mengalihkan pandangan matanya dan memilih memejamkan matanya,
Ku mohon, jika ini mimpi, buat aku bangun, aku takut... aku takut. Batin Sasa terus berharap,
Namun, sayangnya, sepertinya Sasa memang tidak sedang bukan bermimpi, ini nyata adanya dan Sasa tak tahu kenapa ia mengalami semua ini,
Ia teringat mimpi Bundanya, yang diikat dan ia pun jadi ingin menyelamatkannya,
Sasa yang begitu bersedih dengan kepergian Bundanya membuat ia rasanya kehilangan akal sehat karena terlalu berharap Bunda bisa hidup lagi,
Sasa pun kini jadi ingat Ayahnya, jadi ingin cepat pulang saja dan menemui Ayahnya,
Terlalu sedih karena Bunda tiada justeru membuat Sasa melupakan keberadaan Ayah yang jelas masih ada,
Sasa mulai menangis, setelah ia menyesal Bundanya meninggal di kala ia belum pernah sekalipun berbuat baik padanya, kini akhirnya tinggal sang Ayah,
Ya Ayah...
Sasa pasti telah membuat Ayah khawatir saat ini, Ayah juga pasti sangat kebingungan dan tidak tahu harus bagaimana,
Padahal, Ayah juga pastinya sedang teramat kehilangan Istrinya, hari-hari juga pasti sangat berat baginya,
Tapi Sasa malah menambah beban derita Ayahnya, di kala Ayah juga pasti sama berdukanya seperti Sasa,
Ayah, Sasa ingin pulang, Sasa ingin pulaaang. Batin Sasa begitu sedih dan semakin diliputi rasa bersalah yang teramat sangat.
...****************...
__ADS_1
"Apa yang akan kamu lakukan malam begini Amar? Istirahat saja,"
Kata Ibunya pada Amar yang tiba-tiba keluar dari kamarnya dan tampak memakai jaket tebal dan kemudian mencari helm motor,
"Ada urusan sebentar Bu, tidak usah menunggu aku pulang ya, kunci saja pintunya,"
Kata Amar berpesan,
Ibunya tentu saja yang sedang sibuk lembur memasang payet langsung berdiri sambil meletakkan baju yang tengah ia ronce,
Tanpa melepaskan kacamatanya, Ibu pun mendekati Amar,
"Sudah larut malam, memangnya ada apa sebetulnya?"
Tanya Ibu lembut dengan ekspresi wajah begitu khawatir,
Melihat wajah Ibunya yang tampak sangat khawatir dengan dirinya yang tiba-tiba akan pergi di saat hari telah larut malam, Amar pun akhirnya memilih untuk jujur,
"Amar tidak bisa diam saja Bu, meskipun Amar sudah berusaha mengabaikan, namun tetap saja Amar terus kepikiran dan tidak bisa diam saja,"
Lirih Amar,
Ibu yang tahu maksud Amar pasti adalah tak lain soal kemampuan nya melihat hantu tampak bingung harus menjawab apa,
Sungguh Ibu takut akan terjadi apa-apa lagi pada Amar, setelah dulu sempat ia malah hampir jadi korban buaya putih yang menginginkan tumbal anak pramuka yang tengah mengadakan kemah di lapangan desa dekat rumah Amar, kini Ibu jelas tak ingin kejadian itu terulang lagi,
Jika dulu ia beruntung bisa lepas, kali ini Ibu takut Amar akan mengalami ketidak beruntungan hingga ia harus terjebak di alam sana dan tak bisa kembali lagi,
...****************...
__ADS_1