Bunda

Bunda
35. Kisah Masa Lalu


__ADS_3

"Begini ceritanya..."


Kata Ki Warseno seperti dalam film animasi produk dari Malaysia,


"Bundanya Sasa saat masih seusia Sasa sempa tinggal di sebuah asrama dan kemudian melakukan kesalahan,"


Kata Ki Warseno,


"Ke... kesalahan?"


Suara Ayah terdengar gagap,


Ki Warseno menganggukkan kepalanya,


"Ya, ia melakukan kesalahan bersama seorang teman laki-lakinya, lalu mereka membunuh anak dari kesalahan yang mereka perbuat,"


Kata Ki Warseno,


Ayah dan Sasa serta yang lain seketika langsung terbelalak tak percaya,


"Ti... tidak mungkin, it... itu tidak mungkin,"


Sasa menggeleng-gelengkan kepalanya menolak untuk percaya,


Tapi Ki Warseno terlihat begitu serius, hampir bisa dikatakan, tidak mungkin pula Ki Warseno mengada-ada, atau mengarang cerita,


"Maafkan saya harus mengatakan ini, karena ini bukan sekedar aib, melainkan memang apa yang dilakukan Bundanya Sasa inilah yang mengakibatkan Dasima bisa mengenal Sasa,"


Sasa yang kemudian langsung teringat saat-saat berada di alam lain meraih tangan sang Ayah dan menggenggamnya dengan erat,


Takut rasanya kembali menyelimuti dirinya, keadaan yang begitu gelap dan payah, dengan udara yang sangat dingin menusuk dan tanah yang sangat lembab,


"Ada dosa yang ia sembunyikan dan tak sempat ia tebus, yang akhirnya terhubung dengan darah dagingnya saat ini, saudaramu Nona, saudara dari satu rahim Ibumu, dialah yang menarik mu ke alam sana,"


Sasa yang mendengarnya tampak memejamkan matanya, yang seketika itu ia seperti kembali mendengar suara-suara banyak sekali anak-anak meminta tolong,


Dan...


Sasa mencoba mengingat dengan lebih seksama, di mana kemudian ia teringat di sela banyaknya suara anak-anak meminta tolong, ia juga mendengar ada satu suara tangisan bayi...


Ya...


Sasa rasa, ia benar mendengar ada suara tangisan bayi.


"Anak itu selama bertahun-tahun ia sembunyikan dan baru ia kubur di rumah lama kalian, setelah menikah, ia menguburkannya di sana, tepat setelah itu ia mengandung Sasa,"


Kata Ki Warseno,

__ADS_1


Ayah yang duduk di sebelah Sasa tampak lemas, selama mengenal hingga menikahi Bunda nya Sasa, ia merasa ia adalah perempuan yang sangat baik dan sangat pandai menjaga diri,


Meskipun saat malam pertama ada sesuatu yang ia tidak dapat kan seperti yang ia dengar dari beberapa orang teman, tapi penjelasan Bunda nya Sasa yang masuk akal membuat Ayahnya Sasa pum percaya saja,


"Ja... jadi, apa yang harus digali itu adalah anak itu?"


Lirih Sasa,


Ia lantas memandang ke arah Ki Warseno, yang kini tampak mengangguk dan tersenyum,


"Saya mendapatkan semua gambaran ini saat Tuan menjemput Nona Sasa, jika ini benar, maka memang Nona Sasa lah yang harus membereskan semuanya, ini juga akan memutus tali penghubung dengan Dasima,"


Kata Ki Warseno,


"Apa itu tentang mimpi yang kamu ceritakan Sa?"


Tanya Bibik Tuti pada Sasa,


Tampak Sasa menganggukkan kepalanya.


"Mimpi apa?"


Tanya Ayah jadi penasaran, membuat Sasa pun akhirnya menceritakan apa yang semua yang ia lihat dalam mimpinya, yang membuat Sasa berpikir memang itulah yang akan membuat Bunda nya bisa kembali,


Ah, benar...


Kembali di sini adalah ia bisa tenang di alamnya yang baru,


Sasa pun jadi menangis, ia tentu tak pernah menyangka jika kesalahan di masa lalu Bunda nya itu menuntutnya hingga kematiannya,


Sebuah kesalahan yang ia simpan begitu rapi, yang akhirnya tetap harus diketahui dan Sasa yang harus menyelesaikannya,


"Kalau begitu, biar Sasa ke rumah lama, dan menyelesaikan semuanya,"


Ujar Sasa akhirnya memutuskan,


Ki Warseno mengangguk,


"Ya, saya akan dampingi sampai semua selesai,"


Ujar Ki Warseno,


"Hari ini kamu istirahat saja dulu Sa, besok pagi, Ayah akan mengantar,"


Kata Ayah,


"Iya Sa, kami juga akan menemani, saat ini lebih baik kamu istirahat,"

__ADS_1


Bibik Tuti pun menambahkan,


Sasa memandangi Ki Warseno seolah meminta pendapat, karena nyatanya ia memang sangat lelah, dan juga haus serta lapar,


Untunglah Ki Warseno mengangguk mengiyakan saran Ayahnya Sasa,


"Tidak apa-apa besok pagi saja Nona, malam ini asisten saya akan tetap tinggal di sini menjaga, rumah juga sudah dijaga, jadi semua akan aman, tenang saja, jangan khawatir,"


Kata Ki Warseno,


Sasa pun mengangguk,


"Setelah semua selesai, pesan saya, jangan sampai melakukan kesalahan seperti yang dilakukan Bunda jaman dulu, Nona harus hidup bersih agar tak sampai ada masalah yang sama menimpa anak Nona kelak,"


Ujar Ki Warseno,


Sasa tampak mengangguk,


"Aku akan ingat itu,"


Kata Sasa.


Ya, tentu saja Sasa tak ingin melakukannya, bahkan rasanya saat ini jatuh cinta pada seseorang pun Sasa belum pernah merasakannya,


Ia mungkin terlalu dingin untuk menjadi seorang gadis remaja, yang memang sama sekali belum merasa tertarik untuk berpacaran hingga saat ini,


Jadi rasanya, jangankan untuk melakukan kesalahan hingga ia harus menggugurkannya, untuk pacaran dengan seseorang saja rasanya Sasa belum tertarik sama sekali,


"Oh ya, besok sekalian kita temui satpam Rumah Sakit yang menolongmu,"


Kata Ayah tiba-tiba,


Sasa menoleh ke arah Ayahnya,


"Satpam? Sasa tidak ditolong Satpam,"


Sanggah Sasa cepat,


Ayah pun menghela nafas,


"Bukan dia, tapi ada hubungannya dengan dia, ya kan? Dia juga ada di sana bukan?"


Sasa tampak mengangguk,


"Ayah ingin menemuinya, jika benar anak kecil yang menolongmu adalah adiknya, maka kita harus mengucap terimakasih padanya."


Kata Ayah.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2