
"Kemarilah, jika memang kau ingin kutolong,"
Ujar si Nenek,
Sasa tampak menganggukkan kepalanya, ia pun membawa langkahnya mendekati sang Nenek,
Namun, belum lagi Sasa sampai ke dekat teras rumah Nenek yang masih berlantaikan tanah,
Tiba-tiba semilir angin dengan aroma melati tercium begitu semerbak, bersamaan dengan itu, tiba-tiba sesosok perempuan dengan rambut panjang menjuntai tanah melayang ke arah Sasa,
Sasa yang melihat sosok perempuan yang seperti Bunda nya itu justeru ketakutan,
Tampak Sasa yang lemah tak berdaya itupun mencoba berlari menuju Nenek yang kini berdiri di teras rumah,
"Nenek tolong... tolong..."
Kata Sasa,
Perempuan yang seperti Bunda Sasa itu melayang menyusul Sasa, tangannya terulur mencoba menggapai Sasa yang berlari ke arah Nenek sampai tersandung dan terjatuh saking takutnya,
Dan...
"Aaaa!!"
Sosok perempuan seperti Bunda nya Sasa tiba-tiba saja terpental jauh,
Sasa menoleh ke arah perempuan seperti Bundanya yang kini tampak menyeringai,
Wajahnya yang pucat pasi kini tiba-tiba berubah berdarah-darah,
"Sasa! Ikut Bunda! Kau sudah berjanji akan ikut tinggal bersama Bunda di sini!!"
Kata perempuan berwajah Bunda nya Sasa tersebut,
"Tidak! Kau bukan Bunda! Kau hantu, pergi! Aku tidak mau ikut denganmu, kau bukan Bunda!"
Teriak Sasa,
"Anak nakal, kau tidak pernah menurut pada Bunda, anak tidak tahu diri, tidakkah kau belajar menyesal sedikit saja setelah Bunda tidak ada hah?!"
Perempuan berwajah Bunda yang kini penuh darah tampak marah, ia mendelik ke arah Sasa yang kini susah payah beringsut di atas tanah teras rumah si Nenek asing yang tak ia kenal namun ia harapkan bisa menolongnya,
Perempuan berwajah Bunda nya Sasa itu pun tampak melayang mencoba mendekati Sasa lagi,
Namun, sang Nenek tiba-tiba saja melompat ke arah Sasa dan menghalangi Sasa hingga perempuan berwajah Bunda nya Sasa itu semakin marah,
"Kau Nenek tua, menyingkirlah!"
Marah perempuan berwajah Bunda itu,
__ADS_1
Mendengarnya si Nenek tampak terkekeh,
"Kau yang harusnya menyingkir, ini daerah kekuasaanku,"
Kata si Nenek,
Perempuan berwajah Bunda tampak menyeringai,
"Aku akan pergi setelah membawanya,"
Kata si perempuan berwajah Bunda nya Sasa tersebut,
Nenek terkekeh-kekeh lagi, seolah cukup lucu mendengar hantu perempuan dengan wajah berdarah-darah itu marah,
"Kau merasa dia masih menjadi hak mu? Padahal kau pasti tahu jika siapapun yang masuk tempat ini berarti dia adalah milikku,"
Ujar si Nenek,
Sasa masih belum mengerti dengan apa yang sebetulnya tengah terjadi, saat kemudian ia melihat si Nenek melompat ke arah hantu perempuan yang mencoba menyerupai Bunda nya,
Nenek itu berubah menjadi harimau putih besar, ia melompat sambil mengaum dengan suaranya yang mengerikan,
Sasa tentu saja gemetaran luar biasa melihat apa yang kini berada di depan matanya,
Apalagi saat kemudian ia melihat rumah-rumah di sekitar sana tampak pintunya mulai terbuka satu demi satu dan keluar banyak penduduk yang saat berada di halaman, mereka tiba-tiba berubah menjadi harimau-harimau putih,
Mereka tampak mengaum dengan suara keras, membuat Sasa rasanya habis sudah seluruh energinya,
Bayangan dirinya akan menjadi santapan seluruh penduduk desa Harimau putih itupun langsung ada di pelupuk matanya,
Ya, cepat atau lambat, ia pasti akan menjadi santapan mereka semua, tubuhnya akan dicabik-cabik dengan cakar-cakar mereka yang tajam, dikoyak dengan gigi-gigi mereka yang runcing, daging dan tulangnya mungkin tak akan tersisa lagi. Sasa gemetaran luar biasa membayangkannya.
...****************...
"Masih berusaha mencari pintu untuk ke sana?"
Tanya gadis hantu teman baik Amar yang kini terus melayang mengikuti pemuda yang bekerja sebagai satpam di salah satu Rumah Sakit di mana Bunda nya Sasa dilarikan sebelum akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya di sana,
"Aku akan merasa bersalah seumur hidupku karena tahu dia dalam bahaya tapi aku diam saja,"
Kata Amar,
Hantu gadis yang mengikutinya mantuk-mantuk mengerti,
Tentu saja, ia tahu Amar tak ingin kejadian yang menimpa adik perempuannya dulu terjadi lagi, lalu ia akan terus merasa terbebani sepanjang hidupnya,
"Aku harus menemukannya, bagaimanapun caranya, ini risiko ku karena aku bisa melihat mereka, tapi aku tak cepat memberitahu pada gadis itu,"
Kata Amar lagi,
__ADS_1
Hantu gadis itu menatap Amar dari belakang, melihat teman baiknya itu sungguh berusaha menemukan jalan masuk ke alam lain membuatnya menjadi iba,
Sejatinya, ia tentu sebagai hantu tahu jalan untuk menuju ke sana, tapi ia merasa di sana akan ada banyak bahaya mengancam Amar, itu sebabnya ia tak memberitahu Amar, pun juga ia meminta semua hantu di sekitar sana tak usah memberitahu Amar,
Namun...
Hantu gadis teman baik Amar itu tiba-tiba merasa jika ia tidak segera memberitahu Amar pun pemuda itu tak akan menyerah,
Pemuda itu akan terus berusaha mencari dan ia akan kelelahan tanpa hasil, yang pastinya itu akan membuatnya semakin tidak tenang,
Belum lagi, jika kemudian gadis yang Amar khawatirkan nasibnya itu benar akan mengalami hal yang buruk di sana,
Tak bisa pulang dan akan tinggal di alam lain selamanya, pasti Amar untuk kedua kalinya merasa gagal dan akan kembali membenci dirinya sendiri,
Ia akan merasa jika kelebihannya bisa melihat mereka para makhluk astral tidak ada gunanya,
Lalu ia akan membenci dirinya sendiri terus menerus, dan pastinya itu akan mengundang banyak energi negatif, yang bisa saja akan justeru membahayakan Amar sendiri,
"Baiklah,"
Tiba-tiba si hantu gadis teman baik Amar bersuara,
Amar yang tengah berjalan ke sana ke mari mencari pintu menuju ke tempat di mana Sasa kini berada tampak menoleh ke arah teman hantunya,
"Kali ini aku akan membantumu menemukan gadis itu, tapi sekali ini saja, setelah itu, jangan libatkan dirimu lagi dengan manusia-manusia yang akan dijadikan target para hantu jahat,"
Ujar si hantu gadis teman baik Amar,
Amar menatap teman hantunya itu,
"Kau, tidak akan membohongiku bukan?"
Tanya Amar,
Si gadis hantu melayang mendekati Amar,
"Aku tak ada kepentingan apapun hingga harus berbohong,"
Ujar si gadis hantu,
"Aku hanya tidak ingin kau terpuruk lagi seperti saat kamu masih kecil dulu tak bisa melakukan apapun saat adikmu mengalami hal yang hampir sama dengan gadis ini,"
Tambah si gadis hantu,
Tampak Amar pun tersenyum sambil menganggukkan kepalanya,
"Ya, kau benar, aku memang tak ingin menyesal kedua kalinya, sudah cukup dulu aku melakukan kesalahan karena aku masih kecil, tapi sekarang... aku tidak seharusnya melakukannya lagi, aku tak ingin terus-menerus menjadi pecundang."
Kata Amar.
__ADS_1
...****************...