Bunda

Bunda
34. Ada Sebuah Rahasia


__ADS_3

"Mili, namanya Mili, aku ingat Ayah,"


Kata Sasa, ketika mereka dalam perjalanan pulang ke rumah,


"Mili? Siapa?"


Tanya Ayah menengok ke kursi belakang, di mana Sasa duduk bersama Bibik Tuti,


"Anak kecil, dia yang menolongku, dia juga terjebak di sana bertahun-tahun,"


Kata Sasa,


Ayah tampak terdiam, ia mencoba mengingat apa yang sempat dilihatnya ketikan masuk ke dunia lain untuk menjemput Putri semata wayangnya,


"Ah anak itu,"


Ayah tampaknya akhirnya mengingat,


"Sebentar,"


Ayah sepertinya mengingat lagi seseorang lain yang ada di sana selain anak kecil yang sedang dibicarakan Sasa,


Lalu...


"Ayah merasa melihat ada seseorang yang tak asing,"


Kata Ayah kemudian,


"Di dunia lain?"


Bibik Tuti menimbrung,


Ayah yang duduk di depan dekat salah satu saudaranya yang mengemudikan mobilnya kini tampak mengangguk,


Tatapan matanya telah beralih ke arah jalan di depannya,

__ADS_1


Ngiung... ngiung... ngiung...


Suara sirine ambulance dan mobil polisi kemudian terdengar, lalu menyalip mobil yang ditumpangi Sasa dan keluarganya,


"Ya, benar, satam Rumah Sakit, Ayah melihatnya di sana, pemuda itu, yang membantu Ayah saat Bunda pertama dilarikan ke Rumah Sakit, lalu juga sempat menahanmu di pintu depan Rumah Sakit di hari Bunda meninggal,"


Kata Ayah akhirnya,


Sasa tampak terdiam, ia mulai mencoba mengingat juga,


Dan memang ia melihatnya, ia juga sempat bertemu dengan nya saat naik bus,


Sasa dan Ayahnya kemudian tenggelam dalam ingatan mereka, seperti mencoba merangkai kepingan-kepingan puzzle yang berceceran agar bisa menjadi satu gambaran utuh,


"Anak itu apakah dia juga keluar seperti mu Sa?"


Tanya Bibik Tuti memecah keheningan, rasanya Bibik Tuti membayangkan sosok Mili yang berada di alam lain sendirian merasa iba,


Sasa menggeleng,


Ujar Sasa,


"Hmm semoga,"


Lirih Bibik Tuti, tampak Sasa menganggukkan kepalanya,


Mereka diam lagi, sampai akhirnya mobil sampai di rumah yang kini tampak adik laki-laki Ayah bersama asisten Ki Warseno di depan rumah seperti sedang menanam sesuatu di bawah pohon Akasia,


Ayah dan semua yang ada di dalam mobil turun dan kemudian mendekat,


"Sa,"


Sang Paman menyambut Sasa yang akhirnya pulang,


Sasa sekilas tersenyum, ia melihat tanah di depan Pamannya yang baru saja digali lalu kini sudah kembali ditutup,

__ADS_1


"Apa yang kau tanam?"


Tanya Ayah,


Adik laki-lakinya itu kemudian mengajak Ayah masuk ke dalam rumah,


"Lebih baik, langsung dengar saja dari Ki Warseno, aku takut jika aku yang menjelaskan akan salah,"


Kata adik laki-laki Ayahnya Sasa,


Ayah pun masuk ke dalam rumah, di sana Ki Warseno sepertinya telah selesai melakukan ritual pembersihan rumah,


"Ki,"


Sapa Ayah, yang di belakangnya tampak Sasa dan Bibik Tuti yang berjalan mengekor,


"Lisa sama pacarnya belum sampai ya?"


Tanya Bibik Tuti pada kakak laki-lakinya,


"Tadi sudah, lalu pamit pergi lagi, sepertinya cari makan,"


Ujar adik laki-laki Ayah yang merupakan kakak Bibik Tuti,


"Oh, kirain,"


Sahut Bibik Tuti,


"Duduklah Tuan dan semuanya, biar aku bisa jelaskan,"


Ujar Ki Warseno pada Ayahnya Sasa dan juga kepada yang lain,


Semua pun menurut, mereka semua lantas duduk di sofa depan TV, di ruang dalam,


Ki Warseno juga duduk di sana, bersiap menceritakan pada mereka, kenapa hantu itu seolah langsung terhubung dengan Sasa.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2