Bunda

Bunda
32. Berkumpul Lagi


__ADS_3

Amar tampak berjalan terhuyung mendekati tempat di mana dikatakan ada sesosok mayat anak perempuan yang ditemukan anak-anak yang sedang bermain bola,


Terasa dada Amar pun begitu berdebar-debar,


Mili, ya Mili, adiknya, jika benar bahwa mayat itu adalah sang adik, maka Amar tentu harus bersyukur akhirnya bisa membawanya pulang walaupun dalam kondisi yang tak lagi bernyawa,


"Setidaknya dia bisa dikuburkan dengan layak, agar bisa tenang di alam yang baru,"


Tiba-tiba sebuah suara seperti berbisik, dan Amar pun menoleh ke arah asal suara,


Cici, teman hantunya tampak melayang di samping Amar,


"Benar itu Mili?"


Tanya Amar pada Cici, yang seketika menganggukkan kepala,


Amar matanya langsung mengembun, jantungnya langsung terasa seperti merosot ke bawah,


"Jadi benar dia,"


Lirih Amar sambil terus berjalan mendekati tempat ditemukannya mayat anak perempuan,


Di belakangnya, dengan jarak agak jauh, aparat desa dan kepolisian juga berjalan ke arah yang sama ditemani Bang Iwan dan beberapa laki-laki yang merupakan warga di kampung tersebut,


Mereka tampaknya bicara ini itu lebih dulu, hingga akhirnya membuat mereka tertinggal di belakang Amar,


Warga yang telah ramai berkerumun di dekat tempat ditemukannya mayat tampak menepi manakala melihat ada banyak polisi yang mulai berdatangan,


Amar menyeruak kerumunan warga tersebut, ia mencoba melihat dengan kedua kepala matanya sendiri, bagaimana kondisi Mili,


Dan...


Amar pun tak kuasa menangis, ia tak mampu menahan kesedihannya lagi, dadanya sungguh kini seperti akan pecah karena kesedihan yang teramat dalam,


"Miliii... adikku..."


Kata Amar dengan suara yang sedikit keras, membuat banyak warga di sana melihat ke arahnya,


Merasa Amar juga adalah orang yang bukan dari kampung tersebut, membuat banyak warga kasak kusuk,


Amar tak peduli, ia lari turun ke bawah menuju semak belukar di mana kini mayat Mili berada,


Mayat anak kecil perempuan yang masih memakai seragam sekolah, persis seperti yang dulu ia lihat terakhir kali, dan juga yang ia lihat di alam lain beberapa saat lalu,


Cici, teman hantunya ikut melayang mendampingi Amar dengan setia,


"Jangan sentuh! Jangan sentuh!"

__ADS_1


Orang-orang yang ditugaskan menjaga mayat Mili memeringatkan Amar,


"Dia adikku Bang, dia adikku, Mili, dia hilang bertahun-tahun lalu, aku harus membawanya pulang,"


Kata Amar,


Semua tampak semakin kasak kusuk,


Hilang bertahun-tahun lalu?


Yang benar saja?


Begitulah banyak warga bertanya-tanya dengan apa yang dikatakan oleh Amar,


Hingga kemudian pihak kepolisian dan aparat desa pun datang, mereka segera mengamankan TKP dan mengambil alih seluruh apa yang terkait dengan mayat anak perempuan tersebut,


Amar juga pada akhirnya dibawa ke kantor polisi untuk memberikan keterangan, kesaksian, dan lain sebagainya tentang mayat anak kecil tersebut karen terus menerus mengatakan jika itu Mili, sang adik.


"Saya akan hubungi Ibu saya, akan saya buktikan jika dia memang Mili, adik saya yang telah hilang bertahun-tahun lalu."


Kata Amar.


...****************...


Sementara itu, di klinik Sasa tampak sudah siuman, Lisa terlihat menungguinya di samping tempat tidur, sementara Bibik Tuti dan Ayahnya baru saja sampai,


Lisa sangking senangnya langsung memeluk Sasa,


"Aduh... aduh... aku tidak bisa bernafas Lis,"


Kata Sasa,


Lisa pun tergelak renyah,


"Habisnya, kamu tuh, takut dan khawatir banget tauk kita tuh,"


Kata Lisa yang kemudian melepaskan pelukannya tapi malah sambil menabok lengan Sasa,


"Aduh, malah nabok,"


Kata Sasa mengomel,


Lisa pun tambah tergelak,


Ayahnya Sasa dan Bibik Tuti yang baru sampai di klinik disambut oleh kekasih Lisa dan teman-temannya,


Ayahnya Sasa dan Bibik Tuti pun kemudian diantarkan ke ruangan Sasa dirawat,

__ADS_1


"Sasa... Sasa..."


Ayah tampak begitu terharu melihat anak satu-satunya benar berada di ruangan tersebut dan berhasil selamat,


Bibik Tuti juga sama sampai menangis sangking leganya,


"Ayah, maafkan Sasa ya Ayah, maafkan Sasa..."


Kata Sasa pada Ayahnya,


Ayah mengangguk sambil memeluk anaknya,


"Tidak apa, Ayah sudah maafkan semuanya, orangtua akan selalu punya hati seluas samudra untuk anak-anaknya,"


Kata Ayah,


Sasa pun jadi menangis mendengarnya,


"Kau tidak apa-apa kan? tidak ada yang sakit? tidak ada yang terluka?"


Tanya Ayah kemudian sambil melepaskan pelukannya,


"Hanya beberapa luka di kaki dan tangan, tapi sudah ditangani dokter jaga kok Pak Dhe,"


Kata Lisa,


Ayahnya Sasa pun tampak lega,


"Terimakasih Lisa, sudah menjadi saudara yang sangat baik untuk Sasa,"


Ujar Ayahnya Sasa,


Lisa tampak mengangguk sambil tersenyum,


"Kan memang itu tujuan kita semua jadi saudara Pak Dhe,"


Kata Lisa, membuat Ayahnya Sasa mengelus puncak kepala Lisa, sang keponakan,


"Bunda, Sasa semula pergi karena ingin Bunda bisa kembali lagi Ayah, Sasa lupa jika seseorang yang telah meninggal tak akan pernah bisa kembali lagi, Sasa terlalu sedih kehilangan Bunda, hingga gelap mata dan mengabaikan semua hal yang tak masuk akal, Sasa menuruti mimpi untuk datang ke rumah lama kita, tapi nyatanya Sasa justeru terjebak di alam lain yang menakutkan,"


Kata Sasa,


"Ya, Ayah tahu, Ki Warseno sudah menjelaskan semuanya, dia kini sedang membersihkan rumah agar tak lagi ada energi hantu yang ditarik masuk oleh kesedihanmu,"


Ujar Ayah,


Sasa pun jadi menangis, karena ia kini pun sadar betapa Ayah yang selama ini terlihat hanya sibuk bekerja ternyata begitu sayang dan perhatian pada dirinya.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2