Bunda

Bunda
37. Melepas Mili


__ADS_3

"Kenapa kamu Sa?"


Tanya Bik Tuti,


"Aku?"


Sasa menunjuk dirinya sendiri, Bik Tuti pun mengangguk,


"Aku tidak kenapa-kenapa, aku habis tidur,"


Kata Sasa, sambil kemudian duduk bersebelahan dengan Bibiknya di atas tempat tidur,


Haiiish ... Bik Tuti tampak mendesis,


"Bik, nanti jadi nganter ke rumah lamanya Ayah kan?"


Tanya Sasa, Bibik Tuti mengangguk,


Sasa mengacungkan ibu jarinya,


"Sip, aku mau mandi dulu,"


Kata Sasa sambil melompat dari atas tempat tidur, sementara Bibik Tuti menggeliatkan tubuhnya,


Setelah menggeliat, Bibik Tuti barulah turun juga dari tempat tidur dan berjalan keluar kamar,


Ia akan menggunakan kamar mandi luar saja, lalu setelah itu menyiapkan sarapan,


Bersamaan dengan itu Ayah Sasa juga tampak keluar dari kamarnya, laki-laki itu terlihat memakai celana olahraga dan juga kaos oblong,

__ADS_1


"Mau ke mana Mas?"


Tanya Bik Tuti,


"Buang jenuh Ti, jalan pagi, sudah lama tidak olahraga juga, badan tidak enak,"


Kata Ayahnya Sasa,


Bibik Tuti mengangguk,


Ayah Sasa kemudian melanjutkan keluar rumah dan terus ke arah jalanan komplek, ia ingin sedikit menghirup udara segar,


Rasanya, mendengar cerita soal sang isteri di masa lalu membuatnya sedikit terguncang,


Ia sama sekali tak menyangka, jika Bunda nya Sasa memiliki masa lalu yang cukup gelap,


Apalagi saat ini Bunda nya Sasa telah pergi untuk selama-lamanya, tentu tidak etis rasanya jika Ayah sampai mempermasalahkan hal itu,


Tampak kemudian Ayah berlari kecil menjauhi rumahnya, menyusuri jalanan komplek yang masih lenggang karena hari masih cukup pagi,


Berbeda dengan keluarga Sasa, yang mana mereka melakukan aktifitas seperti biasa,


Di rumah Amar, tampak Ibunya Amar dan juga anak-anaknya, termasuk Amar telah bersiap mengantarkan Mili ke pemakaman,


Anak yang telah hilang sekian tahun, tiba-tiba ditemukan tak bernyawa yang anehnya tubuhnya belum hancur sepenuhnya,


Bagi orang lain, pastinya itu sangat aneh dan sulit dimengerti, namun bagi Amar yang merasa membawa pulang sang adik, jelas hal itu adalah hal yang sama sekali tidak aneh,


Apalagi, Amar juga termasuk orang yang telah mengenal dunia lain sejak kecil,

__ADS_1


Mili diantar keluarga, tetangga dan para kaum kerabat yang sengaja datang untuk mengiringnya pergi,


Semua tampak sedih, terutama saudara-saudara Mili,


Ibunya Amar sendiri tampak jauh lebih tegar dan sudah jauh lebih ikhlas sekarang,


Iring-iringan yang mengantar Mili masuk ke pemakaman yang teduh di hari yang masih cukup pagi itu,


Udara yang masih terasa cukup sejuk kini dipenuhi aroma bunga tujuh rupa dan juga daun pandan yang semerbak wangi,


Doa-doa terus terdengar dibacakan oleh para pengiring, Amar yang ikut mengangkat keranda terlihat menyeka air matanya,


Air mata sedih dan juga hari karena ia akhirnya bisa memakamkan sang adik dengan layak,


Keranda diturunkan di samping galian makam, dan proses pemakaman pun akan segera dilangsungkan,


Ibu sekali lagi menatap putri bungsunya yang sebentar lagi akan dimakamkan,


"Sekarang, tenanglah di sana, Ibu dan semua saudaramu telah ikhlas melepasmu sayang, berbahagialah di tempat baru,"


Kata Ibu mengantarkan putrinya,


Amar bersama yang lain mengangkat Mili dan memasukkannya ke dalam liang lahat,


"Selamat jalan Mili, sekarang semuanya sudah baik-baik saja,"


Lirih Amar berbisik, lalu melanjutkan dengan membaca doa-doa untuk mengiring sang adik.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2