
Aroma bakaran kemenyan yang bercampur dengan bunga tujuh rupa tercium memenuhi ruangan kamar Sasa,
Seorang laki-laki berusia lima puluh tahunan dengan celana komprang hitam dan atasan hitam serta ikat kepala yang warnanya senada tampak ada di sana, duduk sila di atas tempat tidur Sasa sambil menghadap ke arah selatan,
Laki-laki paruh baya itu tampak pula membaca mantra-mantra yang sama sekali tak dimengerti oleh Ayahnya Sasa maupun juga Bibik Tuti dan yang lain,
"Nona Sasa, di mana dia?! Di mana dia!!"
Terdengar tiba-tiba suara laki-laki paruh baya tersebut,
Ki Warseno, begitu namanya sering disebut oleh warga yang tinggal di sekitar tempat prakteknya,
"Kokokokok... kokokokok..."
Seekor ayam cemani terlihat dibawa masuk seorang pemuda yang merupakan asisten Ki Warseno,
Pemuda itu lantas menghampiri Ki Warseno yang kini terlihat mulai mengeluarkan keris yang kemudian di asapi di atas kemenyan,
Tangan Ki Warseno kemudian tampak bergetar, mulutnya komat-kamit membaca mantra dengan lebih cepat,
Pemuda yang merupakan asisten Ki Warseno tampak sigap melangkah mundur dan meminta orang-orang menjauhi kamar Sasa, terkecuali Ayahnya Sasa,
"Anda tetap tinggal karena kami butuh anda untuk nantinya memanggil Nona Sasa untuk pulang,"
Kata asisten Ki Warseno,
Ayahnya Sasa pun melangkah mendekati asisten Ki Warseno, yang lantas ditutup nya pintu kamar Sasa untuk melanjutkan ritual yang sama sekali tak Ayahnya Sasa mengerti,
Di luar kamar Bibik Tuti tampak menghela nafas melihat pintu kamar ditutup oleh asisten Ki Warseno,
Bersamaan dengan itu hp Bibik Tuti tampak ada panggilan masuk dari keponakannya, cepat gadis itupun cepat melangkah menuju keluar rumah untuk merima panggilan sang keponakan,
"Bik, katanya kamu panggil dukun ke rumah Sasa?"
Tanya Lisa langsung, begitu panggilannya diangkat sang Bibik,
"Kenapa memangnya? Ini kan juga bagian dari usaha nyari Sasa, siapa tahu menghilangnya dia karena memang ada hubungannya dengan hantu atau semacamnya,"
Kata Bibik Tuti memberi alasan,
"Ngeri lah Bik, kalau gadungan bagaimana? Kenapa tidak ke orang yang pakai doa-doa saja, ustadz, kyai, pendeta, apalah,"
Kata Lisa,
"Ya kalau mau belajar agama ke mereka, kalau hantu udah biarin urusan Ki Warseno,"
__ADS_1
Sahut Bibik Tuti asal saja,
"Pacarku sedang ke terminal yang di mana Sasa terakhir kali terlihat, dia dan teman-temannya bantu cari tahu orang-orang di sekitar sana yang mungkin saja tahu ke mana Sasa setelah terakhir terlihat,"
Ujar Lisa,
"Kabari aku jika nanti ada informasi penting,"
Kata Bibik Tuti,
"Aku juga Bik, kabari perkembangan di rumah Sasa, aku jadi penasaran juga, apa masih mungkin Sasa yang notabene bukan lagi anak-anak bisa hilang oleh hantu,"
Ujar Lisa,
Bibik Tuti yang mendengar kata-kata Lisa jadi tertawa kecil,
"Tampaknya kamu belum pernah dengar kalau banyak pemuda saja dibawa Nyi Blorong,"
"Lah itu mitos,"
Sahut Lisa yang ganti tertawa,
"Kata kamu itu mitos, tapi, bagaimana kalau itu ternyata nyata?"
Lisa terdiam kemudian,
"Bagaimana jika ternyata nanti Sasa memang dibawa mahluk halus ke tempat mereka, karena begitu yang aku tangkap dari apa yang disampaikan Ki Warseno saat pertama kali dibawa ke kamar Sasa,"
Ujar Bibik Tuti lagi,
"Apa? Apa katanya?"
Tanya Lisa,
"Gelap, banyak kabut, ini pasti ulah hantu Dasima,"
Bibik Tuti terdengar menirukan suara Ki Warseno saat tadi bicara pada Ayahnya Sasa dan yang lain, manakala pertama masuk kamar Sasa,
"Dasima?"
Lisa menggumamkan nama Dasima, yang bersamaan dengan itu tiba-tiba sambungan telfon dari keduanya terputus,
"Halo... halo... Lis... Lisa..."
Bibik Tuti memanggil-manggil Lisa, dan saat dilihatnya layar hp nya panggilan mereka sudah terputus,
__ADS_1
Bibik Tuti yang semula akan mengirim chat pada Lisa, tiba-tiba dikagetkan suara kokok ayam jantan dari dalam rumah,
Bibik Tuti yang penasaran pun lantas berlari masuk ke dalam rumah,
"Ada apa?"
Tanya Bibik Tuti pada kakak laki-laki nya yang juga merupakan adik Ayahnya Sasa,
"Entahlah, aku hanya mendengarkan dari sini ribut-ribut tidak jelas suara Ki Warseno,"
Jawab sang kakak,
"Ikat! Ikat kakinya,"
Suara Ki Warseno terdengar sampai keluar kamar,
Yang mana di dalam kamar Sasa, memang tampaklah asisten Ki Warseno kini mulai bersiap mengikat kaki ayak cemani yang telah disembelih dan di letakkan di atas pakaian yang terakhir Sasa pakai sebelum pergi,
Kaki ayam cemani diikat dengan benang berwarna merah, yang lantas diikatkan dengan jari telunjuk sebelah kiri Ayahnya Sasa yang diminta duduk sila sambil memejamkan mata,
"Kosongkan pikiran Tuan, kosongkan pikiran Tuan dan bayangkan anak anda saja... bayangkan... bayangkan..."
Ki Warseno memberikan petunjuk sambil ia memutar-mutar piring kecil berisi kemenyan dan bunga tujuh rupa di atas kepala Ayahnya Sasa,
Ayah Sasa yang menurut duduk sila dan telunjuknya diikat benang berwarna merah dengan kaki ayam cemani kini kesadarannya mulai melayang,
Ia mulai merasa kepalanya berat, dan tubuhnya tiba-tiba menjadi ringan,
Samar-samar, yang mana semula ia hanya bisa mencium aroma kemenyan dan bunga tujuh rupa, kini tiba-tiba ia seperti mencium aroma rerumputan dan tanah basah,
Ayah Sasa juga tiba-tiba merasa seperti merasakan semilir angin yang dingin menerpa kulitnya,
"Kokokokok... kokokok..."
Suara ayam cemani yang sudah disembelih terdengar, membuat Ayahnya Sasa membuka matanya dan kemudian...
"Hah?"
Ayahnya Sasa celingak-celinguk karena kaget, ia yang semula ada di kamar Sasa tiba-tiba kini berada di tengah padang ilalang yang luas, di depannya ayam yang sudah disembelih hidup lagi,
"Kokokokok... kokokokok..."
Ayam itu berlari, yang kemudian Ayah Sasa juga seperti ikut terseret dan jadi ikut berlari.
...****************...
__ADS_1