Bunda

Bunda
39. Selamat Jalan


__ADS_3

Siang di hari ini Matahari bersinar begitu terik, langit di angkasa tampak terlihat begitu biru nyaris tanpa awan,


Amar tampak sibuk di dalam kamar untuk bersiap kembali ke Rumah Sakit untuk bertugas lagi,


Telah cukup lama ia mengambil waktu cuti, yang bukannya ia gunakan untuk istirahat, namun malah sebaliknya, ia justru sibuk masuk ke dunia lain,


Cici, teman hantunya tampak duduk di atas lemari pakaian Amar, menatap kesibukan Amar sambil bernyanyi lagu China kesukaannya,


Hingga kemudian, terdengar di depan rumah suara orang ramai bicara,


"Ini rumah Amar, Pak,"


Sayup terdengar suara laki-laki, suaranya mirip pedagang bakso gerobakan yang mangkal dekat gang masuk ke arah rumah Amar,


"Oh ya, terimakasih,"


Terdengar selanjutnya suara laki-laki lain menyahut mengucapkan terimakasih,


Tak lama suara ketukan di pintu depan rumah terdengar, dari ruang dalam suara langkah menuju ke arah pintu guna membukanya,


Mungkin adik Amar yang tadi memang tengah asik nonton TV,


"Siang Mas,"


Terdengar kembali suara laki-laki tadi yang berkata,


"Siang Pak,"


Dan benar adik laki-laki Amar yang membukakan pintu,


"Ngg, betul rumah Mas Amar ya? Kami ingin bertemu Mas Amar bisa?"


"Oh iya Pak, sebentar,"


Kata adiknya Amar,

__ADS_1


Tampak Amar yang kamarnya berada di depan dan bisa mendengar percakapan tamu yang entah siapa dengan adiknya, membuat Amar akhirnya memutuskan keluar dari kamar,


"Silahkan masuk dulu Pak, saya panggilkan Bang Amar nya,"


Kata adik Amar, tepat saat itu Amar keluar dari kamar,


Dan, betapa terkejutnya Amar manakala tamu yang datang ternyata Sasa bersama Ayahnya dan juga seorang gadis lagi yang seusia Sasa,


Gadis yang cantik dan tampak begitu feminim, yang rasanya pas seperti yang Amar impikan selama ini,


Ayah Sasa yang juga tampak melihat Amar, seketika langsung tersenyum,


"Maaf Mas Amar, kami datang mendadak,"


Kata Ayahnya Sasa,


Amar tampak mengangguk sopan, sambil kemudian berjalan mendekat dan mengajak tamu-tamunya bersalaman,


Sasa yang meski sudah SMA namun tampak masih polos itu tampak nyengir lucu ke arah Amar, seolah dia macam bertemu kakak kelasnya saja,


Duduk di atas gelaran karpet karena memang malam nanti akan ada acara doa bersama untuk Mili,


"Kami tadi ke Rumah Sakit mencari Mas Amar, lalu satpam yang bertugas memberitahukan jika Mas Amar sedang mengambil cuti sejak beberapa hari lalu, kami diberitahukan alamat sini, maaf jika kami langsung datang,"


Kata Ayahnya Sasa sopan,


Meski jelas secara ekonomi ia dalam posisi yang jauh di atas Amar, tapi sungguh Ayah Sasa adalah sosok yang sama sekali tidak sombong,


"Tidak apa-apa Pak,"


Kata Amar sama sopannya,


Ayah Sasa pun kemudian menyampaikan tujuannya datang, bersamaan dengan itu Ibunya Amar keluar dari ruang dalam,


Melihat Ibunya Amar, keluarga Sasa sebagai tamu langsung berdiri dan kemudian menyalami Ibunya Amar,

__ADS_1


Setelahnya Ibunya Amar ikut duduk, sementara Ayahnya Sasa menyampaikan tujuan kedatangan mereka ke rumah Amar, yang tak lain adalah karena Mili,


Dan karena dari sana lah mereka pun akhirnya seperti memiliki ikatan,


Mengetahui Mili pulang dalam keadaan tak selamat, dan juga mereka jadi tahu kisah sesungguhnya atas Mili akhirnya yang di sini terutama Sasa tampak menangis sejadi-jadinya,


Sasa merasa begitu sedih, haru dan juga ikut lega karena Mili akhirnya bisa dimakamkan dengan layak,


Sasa juga semakin termotivasi untuk hidup lebih baik untuk menebus semua kesalahannya di masa lalu, sebagaimana Mili yang meski sesungguhnya ia telah tiada karena terlalu lama berada di dalam alam lain, ia tetap melakukan kebaikan dengan menolong Sasa keluar dari sana,


Kebaikan yang mengantarnya bisa keluar juga,


Sungguh benarlah nyata jika keburukan para syetan hanya bisa dikalahkan oleh kebaikan, tipi daya setan hanya bisa dikalahkan oleh cahaya kebaikan yang direstui Tuhan.


Sasa pun meminta Amar agar diantarkan ke makam Mili, ia juga ingin menghadiahkan doa untuk sahabat yang ia kenal sebentar namun begitu besar kebaikannya untuknya.


Sekitar jam setengah satu siang, saat matahari masih bersinar cukup terik, Sasa dan keluarga dengan diantarkan Amar akhirnya pergi ke pemakaman,


Sasa menaburkan bunga di makam Mili, menangis di sana dan memeluk sejenak batu nisan bernama Mili,


"Aku janji akan jadi orang yang lebih baik Mil, aku akan jalani kesempatan hidup keduaku dengan lebih baik, untuk Mili, untuk Bunda."


Kata Sasa setelah membacakan doa untuk sahabat baiknya.


Ya, selamat jalan Mili, semoga di surga kamu bertemu dengan Bunda ku, bertemu pula dengan kakakku yang belum sempat terlahir ke dunia.


Semoga tak ada lagi perempuan yang melakukan kesalahan dengan menggugurkan bayinya, yang harusnya ia lahir ke dunia,


Semoga tak lagi ada anak-anak seperti kita, yang menyesali kesalahan karena menyia-nyiakan kesempatan untuk berbakti pada Bunda kita.


...TAMAT...


Catatan :


"Novel ini seharusnya adalah hadiah dari othor untuk para Bunda di hari Ibu tanggal 22 Desember, untuk para Bunda yang baik, yang telah rela mengorbankan seluruh jiwa raga demi buah hati, semoga Allah memberikan kemuliaan dunia akhirat untuk para Bunda, dan menjadikan Putra-putri yang dilahirkan menjadi anak yg baik, berbakti, cerdas & kelak bisa berguna untuk keluarga, bangsa, negara serta agama."

__ADS_1


...❤️LOVE U ALL❤️...


__ADS_2