
Rumah lama Sasa tampak masih seperti dulu, rumah yang sederhana namun begitu teduh dengan halaman kecil yang di depannya terdapat pohon akasia,
Sasa seketika seperti kembali ke masa dulu ia kecil saat pertama kali di ajak pindah ke sana, pun kemudian ketika beberapa tahun lalu ia terpaksa meninggalkan rumah itu karena masih ada sengketa pada pemilik sebelumnya, yang tentu saja Sasa tak begitu paham soal itu,
"Kamu ingin makan apa nak?"
Tanya Bunda saat keduanya kemudian masuk ke dalam rumah yang telah lama tak pernah mereka kunjungi,
Sasa yang kini seperti terhipnotis mengikuti saja Bundanya masuk ke dalam rumah,
Rumah yang udaranya terasa semakin dingin di kulit tubuhnya,
"Udara sangat dingin di sini Bun, aku ingin seblak,"
Kata Sasa manja,
Bunda tersenyum sambil mengangguk,
"Kalau begitu Bunda siapkan dulu, kamu pergilah mandi, lalu ganti baju,"
Kata Bunda,
"Ah Sasa hanya bawa dua baju Bun, nanti yang ini Sasa akan langsung cuci sendiri,"
Kata Sasa,
__ADS_1
Bunda menggelengkan kepalanya,
"Tidak usah Sasa, biar Bunda yang nanti akan cucikan,"
Kata Bunda lembut,
"Tidak Bun, biarkan Sasa belajar rajin Bun sekarang, Sasa ingin menebus semua kesalahan Sasa selama ini, Sasa sudah berjanji jika Bunda kembali, Sasa akan jadi anak yang baik Bun, Sasa pantang ingkar janji,"
Ujar Sasa,
Bunda meraih kepala Sasa, lalu mengelus rambut kepala Sasa dengan lembut,
"Anak baik, ya Bunda senang sekali mendengarnya Sasa, Bunda memang kembali untuk Sasa, untuk kita bisa hidup bersama lagi,"
Lirih Bunda,
"Sasa takut sekali tak akan pernah bisa bertemu lagi dengan Bunda, tak ada lagi kesempatan untuk berbuat baik pada Bunda, maafkan Sasa selama ini Bunda, maafkan Sasa selama ini,"
Kata Sasa seraya menitikkan air matanya,
"Sudah Bunda maafkan Sasa, sudah Bunda maafkan,"
Ujar Bunda kemudian,
Sasa pun memeluk Bundanya,
__ADS_1
Tubuh Bunda terasa begitu empuk dan ringan, macam bukan manusia yang ada daging dan tulang, Sasa seperti merasa memeluk bantal guling berisi kapas, namun nyatanya di depannya kini benar adalah Bundanya,
"Sudah, mandilah, nanti Bunda buatkan seblak, lalu akan Bunda masakkan semua makanan kesukaan mu, kue kesukaanmu, yang penting kamu makan yang banyak, kamu terlihat begitu pucat dan kurus Sasa,"
Ujar Bunda,
Sasa melepas pelukannya dari tubuh Bunda,
"Iya Bu, siap, Sasa mandi dulu,"
Bunda mengangguk mengiyakan, lalu melihat Sasa yang kemudian setengah berlari menuju kamarnya,
Ah kamar yang Sasa tempati saat kecil itu tampak masih sama seperti baru kemarin ketika ia tinggalkan,
Bahkan boneka Teddy bear besar yang dulu dibelikan Ayahnya pun tampak masih ada di sudut tempat tidur,
Sasa meletakkan tas ranselnya di atas tempat tidur sebentar, sebelum kemudian ia duduk di sisi tempat tidur lamanya,
Sasa melepas jaket, sepatu, kaos kaki, baru akhirnya Sasa mengeluarkan baju-baju yang ia bawa di dalam ransel,
Namun begitu Sasa melihat hp miliknya, sejenak Sasa terdiam, ia mencoba menimbang, apakah perlu ia memberitahu Ayahnya jika saat ini ia berada di rumah lama mereka bersama Bunda?
Ah tapi Sasa hatinya tiba-tiba berubah lagi, enggan untuk secepat itu memberitahu Ayah karena pasti Ayahnya tak akan percaya dan akan memaksanya pulang,
Tidak! Sasa tidak mau, Sasa ingin bersama Bunda, kelak biar Sasa akan pulang dengan Bunda saja agar Ayah bisa percaya. Begitu lah akhirnya Sasa memutuskan.
__ADS_1
...****************...