Bunda

Bunda
6. Pergi Tanpa Ijin


__ADS_3

Hari itu Sasa tubuhnya demam tinggi, wajahnya pucat pasi dan menolak makan sama sekali,


Seharian ia tetap di dalam kamar, semua berusaha membujuknya untuk makan namun tak ada satupun yang didengar,


Ayah bahkan memintanya untuk mau diajak ke dokter karena Sasa demam dan selalu mengigau tiap kali tertidur, tapi Sasa juga tetap tak mau,


Ya, berhari kemudian hingga semua anggota keluarga Ayah maupun mendiang Bunda nya pergi untuk kembali ke rumah masing-masing, Sasa tampak masih belum juga berubah,


Ia tak berangkat sekolah dan tetap berada di kamarnya menyendiri,


"Sasa hanya ingin Bunda kembali, dia tidak baik-baik saja, dan Sasa tidak bisa membiarkan Bunda terus tersiksa,"


Ujar Sasa pada Ayah saat Ayah pamit bekerja dan masih berusaha membujuknya untuk bangkit dari kesedihan,


"Ayah juga sedih, Ayah juga kehilangan Bunda, banyak hal bahkan yang Ayah sesali karena belum sempat lakukan bersama Bunda, membahagiakan Bunda, tapi ini adalah suratan Sasa, kita harus ikhlas, kita manusia harus belajar menerima setiap suratan seburuk apapun,"


Kata Ayah memberi nasehat sebelum benar-benar pergi,

__ADS_1


Namun...


Sasa tidak bisa melupakan mimpinya tentang Bunda yang tersiksa di sana,


Bunda yang terikat di tiang kayu besar dengan api berkobar-kobar di belakangnya, Sasa takut sekali memikirkan mimpi itu,


Mimpi yang terus hadir dalam mimpinya setiap ia memejamkan matanya, mimpi yang seolah terus mendorongnya agar bisa melakukan sesuatu agar Bundanya selamat,


Jam dinding kamar Sasa bergerak mendekati angka sembilan pagi manakala akhirnya rumah telah benar-benar sepi dan Sasa tinggal sendirian,


Tampak Sasa terbangun dari tempat tidurnya, duduk sejenak di pinggir tempat tidur sambil memandangi jam dinding,


Sasa meneteskan air mata, mengingat setiap yang Bunda lakukan untuknya membuatnya seketika juga jadi mengingat apa yang ia lakukan pada Bunda,


Saat ia marah-marah pada Bunda untuk hal yang sepele, bahkan di pagi terakhir saat Bunda hanya telat membuat sarapan dan nasi gorengnya terlalu asin,


Sasa pun ingat mimpinya di mana Bunda memintanya untuk pergi ke rumah lamanya,

__ADS_1


Sasa pelahan bergerak turun dari tempat tidur, tampak ia yang masih lemah berjalan mendekati lemari pakaiannya untuk mencari switer dan juga celana blue jeans panjangnya,


Dengan langkah yang masih terhuyung Sasa pun berjalan ke arah kamar mandi,


"Harus, aku harus pergi, aku harus melakukan sesuatu untuk menyelamatkan Bunda,"


Gumam Sasa membulatkan niat sebelum kemudian ia masuk ke dalam kamar mandi,


Sasa mandi hanya sekilas saja, ia sungguh terburu-buru,


Tak banyak yang ia siapkan selain memakai switer dan menyiapkan ransel kecil hitamnya,


Setelah dirasanya cukup, iapun lantas segera keluar kamar, dan cepat keluar rumah untuk berjalan sebentar ke jalan raya mencari angkutan yang akan bisa mengantarnya sampai ke terminal,


Sasa memutuskan untuk tidak langsung memberitahu Ayahnya,


Nanti saja... Setelah ia berada di rumah lamanya, setelah apa yang diminta Bundanya telah ia lakukan sepenuhnya,

__ADS_1


Buat Sasa, yang penting sekarang adalah ia bisa sampai dulu di rumah lamanya.


...****************...


__ADS_2