
Sasa yang masih tampak gemetaran rasanya sudah benar-benar tak berdaya, ia sudah pasrah terbaring di atas lantai tanah rumah Nenek yang kini berubah menjadi harimau dan saling serang dengan perempuan berwajah mirip Bundanya,
Tapi...
"Bangun... Nona... Bangunlah cepat..."
Tiba-tiba terdengar suara anak kecil dari dalam rumah sang Nenek,
Sasa yang tak ada energi lagi hanya bisa memalingkan kepalanya untuk mencari tahu siapa pemilik suara tersebut,
Sasa mengerutkan kening, tampak seorang gadis kecil berdiri di balik pintu reyot rumah Nenek harimau,
"Bangunlah, kita keluar dari tempat ini sama-sama, ayo..."
Ujar si anak itu,
"Sungguh?"
Tanya Sasa lirih, merasa mendapatkan secercah harapan,
Gadis kecil itu lantas merangkak ke arah Sasa, tangan kecilnya kemudian menggapai tangan Sasa dan menariknya lembut,
"Ayo, mumpung mereka semua sibuk,"
Ujar si anak kecil dengan baju seragam merah putih,
Sasa menatap nenek harimau dan juga para penduduk yang telah berubah menjadi harimau itu kini tengah mengeroyok perempuan dengan wajah Bunda,
Perempuan berwajah Bunda yang tampaknya juga bukan hantu sembarangan kini terlihat mengerahkan banyak sekali bayangan-bayangan hitam besar,
Mereka kedua mahluk itupun saling berhadapan satu sama lain, sama-sama mengerikan, mereka tampaknya dua penguasa di alam kegelapan ini,
"Ayo, cepat,"
Suara anak kecil itupun kembali terdengar, membuyarkan pikiran Sasa yang sudah kacau-balau rasanya,
Sasa yang merasa kata-kata si anak kecil benar, bahwa ini adalah kesempatan untuk mereka melarikan diri, akhirnya Sasa pun sekuat tenaga berusaha mengumpulkan energi lagi,
Sasa bangkit dari posisinya, lalu mengikuti anak kecil itu masuk ke dalam rumah sang Nenek harimau,
Dan...
Sejenak Sasa tampak terkejut, manakala kakinya dibawanya masuk ke dalam rumah Nenek harimau tersebut,
"Ap... apa ini?"
Sasa celingak-celinguk bingung, karena di sana bukan lagi terlihat sebuah rumah, melainkan hutan belantara yang di depan Sasa kini ada sungai yang mengalir dengan air yang sangat jernih,
"Ayok..."
Anak kecil perempuan itu menarik tangan Sasa agar cepat berjalan,
__ADS_1
"Kalau kita mengikuti sungai ini sampai ke ujungnya, maka kita akan bertemu muara, dan dekat sana ana pantai, konon di sana ada pintu untuk keluar ke alam manusia,"
"Kau sudah mencobanya?"
Tanya Sasa ragu, meskipun ia tetap mengikuti langkah cepat anak kecil perempuan itu,
"Aku sudah sampai muara,"
Ujar si anak kecil tersebut,
"Lalu kenapa kamu tidak langsung keluar?"
Tanya Sasa penasaran,
"Ada peri yang jaga di sana,"
"Peri?"
Anak kecil perempuan itu mengangguk,
"Peri macam film Disney? Tinkerbell?"
Tanya Sasa lagi, ia rasanya begitu cerewet karena terus saja bertanya,
Untungnya, meskipun masih kecil, anak kecil perempuan itu cukup sabar dengan pertanyaan-pertanyaan Sasa,
"Peri itu adalah salah satu kepercayaan dari ratu lelembut penguasa pantai selatan, dia bilang aku harus menunggu sampai ia mengijinkan pintunya terbuka,"
"Aku tidak tahu, aku mencoba terus setiap purnama tiba, ini sekian ribu aku mencoba,"
"Ribu?"
Sasa melongo, ia nyaris saja menghentikan langkahnya, tapi anak kecil perempuan itu terus menarik tangannya,
"Setiap purnama akan selalu ada harapan, aku tak mudah menyerah,"
Kata si anak kecil perempuan yang semangatnya luar biasa, yang tentu saja langsung membuat Sasa merasa malu dengan dirinya yang tadi nyaris saja menyerah,
"Aku ingin pulang, aku ingin bertemu Ibu dan kakakku, mereka yang pasti akan sangat sedih aku terjebak di sini,"
Kata anak kecil perempuan itu,
Sasa seketika akhirnya mengingat Ayahnya di rumah,
Ya Ayah, dia juga pasti khawatir dengan keadaan Sasa saat ini.
"Kenapa kamu masuk ke alam ini?"
Tanya Sasa,
Anak kecil perempuan itu menggeleng,
__ADS_1
"Sudah lama, aku mungkin terlalu merindukan Ayah, aku melihat Ayah hari itu, melambaikan tangannya di seberang gedung sekolahku, aku sempat ingat Kakakku pagi hari itu bicara jika aku jangan ikut pergi dengan orang asing, tapi aku ikut karena itu adalah Ayah,"
Tutur si anak kecil perempuan,
"Dia hantu,"
Gumam Sasa kemudian,
Si anak kecil perempuan lantas menghentikan langkahnya sebentar, ia menoleh ke arah Sasa yang jadi ikut menghentikan langkahnya,
"Kau juga sama Kak?"
Tanya si anak kecil perempuan,
Sasa tampak mengangguk,
"Aku kehilangan Bunda, aku sangat ingin ia kembali hidup, aku menangisinya berhari-hari, lalu aku mimpi agar pergi ke rumah lama kami, tapi akhirnya saat aku nekat pergi, malah tersesat ke alam aneh ini,"
Ujar Sasa menceritakan hal yang nyaris sama dengan yang dialami si anak kecil perempuan,
"Siapa namamu kak?"
Tanya si anak kecil perempuan itu,
"Oh aku?"
Sasa menunjuk dirinya sendiri, yang tentu saja anak kecil itupun mengangguk mengiyakan,
"Sasa, namaku Sasa,"
Jawab Sasa kemudian,
"Kak Sasa, boleh aku memanggilmu seperti itu?"
Tanya si anak perempuan kecil itu lagi, Sasa pun ganti yang mengangguk,
Anak kecil perempuan itu tersenyum, cantik, wajahnya cantik, yang kemudian entah kenapa membuat Sasa seolah teringat dengan seseorang yang ia temui di bus,
Ya, seorang pemuda yang ia sebelumnya juga sempat bertemu di Rumah Sakit ketika Bunda nya meninggal,
"Kalau aku, namaku Mili, panggil aku Mili kak, senang akhirnya bertemu manusia di alam ini,"
Kata anak kecil perempuan bernama Mili tersebut,
Sasa pun tersenyum, ia pun tentu saja juga merasa sangat senang akhirnya ia mendapatkan teman untuk berjuang keluar dari sana,
"Ayok Kak, kita teruskan jalan,"
Ujar Mili, yang lantas menarik tangan Sasa dengan lembut.
...****************...
__ADS_1