Bunda

Bunda
19. Nenek Tua


__ADS_3

Sementara itu, Sasa masih tampak berjalan terus melewati padang ilalang yang sepi,


Jalanan setapak yang masih dari tanah begitu liat dan licin hingga ia masih harus rela jatuh bangun dengan susah payah,


"Astaga, bahkan saat ikut mendaki Bibik saja, rasanya perjalanan tidak seberat ini,"


Kata Sasa bergumam sendirian, matanya berkaca-kaca,


Sungguh, ia sudah ingin sekali cepat pulang, ia lelah, ia lapar, ia takut,


Hingga akhirnya, setelah Sasa berjalan jauh menyusuri jalanan setapak, melewati padang ilalang, tampaklah di mata Sasa kini seperti ada perkampungan yang terdiri dari beberapa rumah dengan dinding-dindingnya yang masih terbuat dari bilik bambu,


Sasa terus berjalan menuju ke arah sana, kakinya yang telah lelah rasanya sudah ingin sekali istirahat,


Harapan Sasa tentu adalah bisa meminta tolong pada para penduduk perkampungan tersebut,


Dengan energi yang sudah benar-benar hampir habis, Sasa terus membawa langkahnya mendekati perkampungan yang tampak masih terbelakang,


Perkampungan itu sama sekali belum ada listrik, di depan rumah-rumah mereka hanya terdapat lampu teplok yang asapnya hitam keluar dari corong,


Rumah-rumah bilik bambu itu lantainya masih berupa tanah, beberapa rumah yang halamannya tak begitu luas di pagari tanaman perdu,


Sebagian lagi ada juga rumah yang dipagari pagar bambu berbentuk silang-silang lalu di hiasi tanaman rambat daun sirih,


Sasa menapakkan kedua kakinya memasuki perkampungan, ia tampak celingak-celinguk, mencari rumah terdekat untuk bisa ia ketuk dan mintai pertolongan,


Sayup angin berhembus dari kejauhan, tercium aromanya macam aroma bunga melati,


Bersamaan dengan itu terdengar suara derit pintu sebuah rumah terbuka pelahan,

__ADS_1


Sasa sejenak terdiam di tempatnya, menatap rumah yang pintunya kini terbuka,


Rumah itu ada di urutan ke empat dari rumah depan Sasa kini berdiri, lalu...


Tampak seorang nenek tua yang tubuhnya sudah bungkuk keluar dari sana,


Nenek itu tampak berdiri di teras depan rumahnya dengan berpegangan pada tongkat kayu,


Dari arah Sasa berdiri, si Nenek tua itu menatap ke arah langit,


Sasa menghela nafas, ia tampak bersiap berjalan ke arah si Nenek tua itu untuk meminta tolong,


Ia sungguh butuh istirahat, butuh makan, butuh minum, butuh mandi,


Ah tidak, tidak!


Sasa membawa langkahnya semakin dekat dengan rumah yang di mana ada Nenek berdiri,


"Malam Neeek..."


Sapa Sasa hati-hati dari depan pagar rumah yang dari tanaman perdu,


Nenek tua dengan tubuh bungkuk itu pelahan memalingkan wajahnya ke arah Sasa berdiri,


Tatapan kedua mata tuanya yang masih terlihat tajam menelisik sosok Sasa di sana,


Gadis manusia, dengan baju yang kotor dan sepertinya kelelahan karena pasti ia tersesat di alam lain yang tak ia tahu,


Nenek dengan tubuh bungkuk itu tersenyum ke arah Sasa, senyuman lebar yang memperlihatkan sederet giginya yang masih rapi,

__ADS_1


"Kemarilah,"


Kata si Nenek pada Sasa,


Sasa yang memang berharap akan mendapatkan sambutan hangat dan pertolongan, tentu saja tampak langsung lega dan senang,


Sasa membawa langkahnya mendekat, menuruti panggilan Nenek untuk datang kepadanya,


Semoga dia baik, dan kelihatannya dia baik. Batin Sasa.


"Siapa kamu Nak?"


Tanya si Nenek,


Mendengar pertanyaan si Nenek, Sasa pun bersiap menjawab, namun tiba-tiba...


"Jangan... jangan ke sana Sasa... jangan..."


Tiba-tiba sebuah bisikan terdengar seperti suara Bunda dari arah belakang Sasa,


Namun, Sasa yang jelas langsung terbayang sosok Bundanya telah menjadi hantu bukannya menurut malah langsung lari menghampiri si Nenek,


"Nek, tolong saya... tolong..."


Pinta Sasa takut,


Si Nenek yang melihat Sasa terlihat ketakutan malah justeru terkekeh. Lalu...


...****************...

__ADS_1


__ADS_2