
"Sekarang katakan dimana pria tua itu?"
"Di-dia ...."
BRAAAK
Tiba-tiba pintu utama kamar terbuka lebar karena didobrak dari luar.
Elmina terperanjat bukan main. Tubuhnya terpukul mundur hingga menempel pada tembok. Sementara Bari masih betah dalam posisi berjongkok.
Asti kembali berontak menuntut kebebasan, setelah menyadari ada yang datang. "Tolooo-- hmp!" Suara Asti tertahan karena Bari lekas menutup mulutnya dengan telapak tangan.
"Ada orang di dalam?!" tanya seseorang. Kedua kakinya baru saja melewati batas pintu utama.
"Tolong ak--!" Asti berusaha menarik wajahnya dari tangan Bari, namun tetap saja ia tak bisa melanjutkan kalimat tanggapan karena pemuda brewok itu lanjut membekap mulutnya dengan lakban.
Bari bergerak cepat ke arah Elmina dan meraih lengan gadis itu, lalu membawanya keluar menuju balkon.
"Asti!" Orang itu kembali berseru. Langkahnya sudah semakin dekat dengan kamar yang ditempati Asti.
"Jangan gila, hei! Di sini tidak ada tangga," protes Elmina ketika Bari membawanya bersembunyi di balik jendela kaca. Keduanya tampak berdiri berhadapan. Sesekali Bari melihat ke bawah untuk memastikan seberapa tinggi jarak mereka dari tanah.
"Ssst!" Bari menempelkan jari telunjuknya di depan bibir gadis itu, lalu menatap kedua netra Elmina dalam.
Gadis itu langsung mengerjap dan mengunci bibir. Berada dalam posisi intim bersama Bari selalu saja berhasil membuat jantungnya berpacu lebih cepat dari biasanya.
Ditanya kenapa? Ia sendiri pun tidak tahu jawabannya. Sebagai seorang mahasiswi jurusan kedokteran pun Elmina tidak bisa menginterpretasikan respon tubuhnya yang menurut analisanya di luar garis normal.
"Asti!"
Seorang lelaki paruh baya mengenakan jas lengkap dengan topi koboinya bergegas melepaskan ikatan pada tangan dan kaki wanita itu. Terakhir, ia menarik lakban yang menempel di mulut Asti.
Napas wanita itu terdengar tersengal-sengal seperti baru saja habis berlari kencang. Posisi tubuh tertunduk sempurna dengan rambut yang sudah berantakan.
"A-ada yang datang mencari a-anak itu, Om. Se-seorang pemuda." Asti mencoba berucap walaupun masih terbata-bata.
"Anak itu?" Lelaki yang biasa dipanggil Om Koboi itu menarik sebelah alisnya ke atas.
"A-anak yang pernah Om titipkan padaku dulu, sepuluh tahun yang lalu," ucap Asti seraya menatap panik ke arah Om Koboi yang berlutut di depannya.
Lelaki itu tampak tersenyum miring, lalu mengambil posisi duduk di tepian ranjang. Cerutu hitam mengkilat kembali terpasang di sudut bibirnya.
"Biarkan dia datang menemuiku, aku sudah lama mencarinya." Om Koboi pastinya sudah mengetahui bahwa Bari pasti datang untuk menjemput adiknya.
Selang beberapa detik dari ucapan lelaki tua itu, Bari pun berdiri di ambang pintu yang menghubungkan kamar tersebut dan balkon.
__ADS_1
"Oho ... ternyata kau masih di sini, Nak. Kemari lah!" Om Koboi tampak santai menanggapi wajah murka Bari.
Sementara yang dipandang masih bergeming di tempatnya dengan tatapan nyalang ke arah lelaki tua itu.
"Biar kuberitahu sesuatu," ucap Om Koboi. Bari masih mendengarkan dengan saksama.
"Aku sudah lama menantikan kedatanganmu. Kau sungguh berbakat, Nak. Bahkan kau mampu melenyapkan adikku." Om Koboi lantas berdiri dan berjalan perlahan ke arah Bari.
"Dimana Samudera Biruku?" tanya Om Koboi dengan nada pelan.
Bari mengangkat tipis sebelah sudut bibirnya. Ternyata tidak sia-sia dia mencuri kalung berlian berliontin bulat berwarna biru itu.
"Kembalikan adikku, maka aku pun akan mengembalikan kalung itu!" tutur Bari dengan nada datar.
Om Koboi menarik cerutunya, lalu mengembuskan asap kematian itu ke wajah Bari.
"Menarik! Kau berani membuat kesepakatan dengan Om Koboi, hah?" Lelaki tua itu menepuk pundak Bari, lalu berbalik badan. Ia berjalan ke arah Asti, kemudian kembali duduk di tepi ranjang. Bersebelahan dengan wanita simpanannya itu.
PROK PROK PROK
Empat orang berpakaian hitam lengkap dengan senjatanya tampak memasuki ruangan. Berdiri berjejer di depan Bari dengan todongan senjata yang mengarah sempurna.
Pemuda brewok itu tersenyum kecut. Lalu melirik ke arah lelaki tua yang duduk di tepi ranjang. "Dari dulu sampai sekarang beraninya keroyokan," ucapnya enteng. "Dasar Pengecut!" Bari membuang ludah ke arah Om Koboi. Membuat lelaki tua itu memasang wajah geram, lalu memerintahkan anak buahnya untuk menghabisi pemuda itu.
DOR
DOR
DOR
SRAAAH
BUGH
Dalam hitungan detik empat anak buah Om Koboi langsung terpental bak pecahan piring yang berserakan di lantai. Sapuan kaki pemuda itu sukses menumbangkan mereka secara bersamaan.
BRUUUGH
Sepersekian detik kemudian, Bari bangkit dari posisinya, begitu pun keempat lelaki itu. Senjata yang tadi mereka genggam kini sudah terpelanting entah kemana.
Satu per satu dari mereka maju untuk mencoba peruntungan dengan bogeman dan tendangan.
"Kyaaa!"
"Kyaaa!"
__ADS_1
BAGH
BUGH
BAGH
BUGH
BAGH
WUUUSH
BRAAAK
"Aaargggh!"
Satu per satu dari mereka pun berhasil dibuat terkapar dan berakhir mendarat di atas meja dan kursi yang sudah porak poranda.
Om Koboi tampak tersenyum miring. Ada kekaguman tersendiri yang tiba-tiba menyerempet ke dalam hatinya. Bari sanggup menumbangkan keempat anak buahnya hanya dengan tangan kosong. Kemajuan yang baik ditunjukkan oleh pemuda itu setelah sepuluh tahun berlalu.
Bari yang masih berdiri tenang, sontak berjalan mendekati lelaki tua itu, sekilas ia menggiring perhatian ke arah Asti. Wanita itu yang sedari tadi menjadi penonton, kini ikut bergidik ngeri karena khawatir nasibnya akan sama seperti cecunguk-cecunguknya Om Koboi.
"Sekarang katakan dimana adikku? Atau kau akan bernasib sama seperti anak buahmu!" Tanpa basa-basi pemuda brewok itu menatap tajam ke arah Om Koboi. Membuat yang ditatap kembali tersenyum miring dengan cerutu yang masih setia tertempel di sudut bibirnya.
"Jangan sombong, Anak Muda!" katanya memperingati. Ia pun berdiri sejajar di depan Bari, lalu mendekatkan sebuah ponsel ke telinga pemuda itu.
"Lepas! Lepaskan aku!" Suara seorang gadis terdengar dari balik sambungan.
SEEER
DEG
Desiran perih mengalir kasar di dalam dada Bari. Jantungnya pun serasa ikut berhenti berfungsi. Walaupun tak begitu yakin, namun hati kecilnya percaya bahwa itu adalah suara Dias, adik kandungnya.
Adik kecil yang dulu direbut paksa ketika ia baru berusia lima tahun. Adik kecil yang terus meronta ketika mobil mewah Om Koboi membawanya pergi meninggalkan dirinya dan sang ibu.
Peristiwa itu adalah tragedi paling menyakitkan yang sampai sekarang masih saja menoreh luka menganga di hati Bari. Seketika wajahnya memerah, rahangnya mengeras dan giginya bergemeletuk.
"Kau apakan adikku, Badjingan?!" Kedua tangan refleks menarik kerah jas lelaki tua itu hingga membuat tubuh si empunya maju ke arahnya. Tatapan tajam terhunus telak pada kedua mata lelaki yang telah melenyapkan ayah kandungnya itu.
Om Koboi kembali tersenyum miring. "Simpan energimu, Anak Muda!" Ia melepaskan cengkeraman Bari, lalu menarik diri. "Serahkan Samudera Biruku, maka aku akan mengembalikan adikmu!" Om Koboi memajukan telapak tangannya ke arah Bari. Membuat pemuda itu berdecak kesal--tak habis pikir.
"Omong kosong! Kau pikir semudah itu menipuku!"
"Kalau begitu simpan saja barang itu, lalu aku akan mengirim adikmu ke neraka malam ini juga!" Om Koboi tersenyum lebar seraya merentangkan kedua tangannya.
__ADS_1
Bari kembali memasang wajah murka. Dadanya kembali bergemuruh. "Keparat Tua Sialan!"
Tangan pemuda brewok itu sudah mengudara hendak mengayun tinju. Namun, bersamaan dengan itu Prima dan Pak Sanjaya tampak memasuki ruangan bersama dengan beberapa anggota polisi yang lainnya, membuat dua lelaki berbeda usia itu membeku seketika.