
"Sakti?" gumamnya seraya berkerut kening setelah melihat nama yang tertera pada layar ponsel.
"Secepat itukah dia merindukanku?" Pemuda brewok itu terus bergumam tanpa berniat sedikit pun untuk menerima panggilan. Senyuman enteng ia sunggingkan.
Diletakkannya benda pipih itu di atas sebuah kursi plastik yang ada di sampingnya. Lalu, kembali melanjutkan agenda.
Berkali-kali Sakti menghubunginya, namun Bari tak juga menerima panggilan tersebut.
Ia terus memantau pekerjaan para buruh yang dengan cekatan memanen buah Melon Kingshow yang berwarna kuning keemasan.
Buah melon yang satu ini masih terhitung langka di pasaran. Ukurannya lebih kecil dibandingkan buah melon pada umumnya. Bercorak unik yang lebih mirip corak buah semangka, namun tidak meninggalkan corak khas buah melon itu sendiri.
Kalau bicara soal harga, Melon Kingshow memang lebih mahal. Rasanya juga lebih enak dan lebih manis dari pada buah melon biasa. Faktor itulah yang menyebabkan harganya lebih tinggi di pasaran. Apalagi jumlah petani melon jenis ini masih bisa dihitung dengan jari. Itulah alasan yang membuat Bari memutuskan untuk menggeluti bisnis ini.
Namun, tak disangka-sangka usahanya langsung berkembang pesat. Berawal dari kebun rumahan menjadi kebun hektaran. Ternyata Buronan Tampan yang satu ini merupakan seorang sultan berkedok gelandangan.
Eaaak.
Aktifitas Bari kembali terhenti tatkala teropongnya menangkap pemandangan yang mengejutkan.
Seorang gadis yang sangat familiar berjalan memasuki area perkebunan. Gadis itu tampak mengenakan topi bundar dengan rambut hitam panjangnya yang tergerai. Bersama beberapa temannya gadis itu tampak berbincang sambil tertawa lepas.
Bari sempat menaikkan sebelah alisnya--keheranan. Apa yang sedang dilakukan gadis itu di perkebunannya? Namun, beberapa detik kemudian, ia mulai mengingat percakapannya dengan Paman Arjun.
Berdasarkan laporan yang ia terima minggu lalu dari adik ayahnya itu, akhir-akhir ini perkebunan mereka sering kebanjiran pengunjung yang ingin berwisata. Entah, hanya sekadar untuk berfoto-foto, atau melakukan wisata edukasi. Maka dari itu, Paman Arjun memiliki ide untuk mengepakkan sayap bisnis keponakannya itu sebagai tempat wisata. Hitung-hitung sambil menyelam minum air.
Mengingat hal itu, Bari langsung tersenyum usil. Ponsel yang kembali bergetar menandakan panggilan dari Sakti kembali diabaikannya. Diraihnya benda pipih itu, lalu dimasukkan ke dalam saku celana. Kemudian ia bergegas menuruni tangga menara.
Sepertinya gadis cantik bertopi bundar lebih menarik perhatiannya dibandingkan berbicara dengan Sakti.
Sementara di tempat berbeda.
"Apa anak itu belum bangun tidur?" kesal Sakti karena panggilannya tak juga dijawab. Ia ingin memamerkan profesinya yang sempat diejek oleh Bari sebagai seorang tukang cargo di bandara. Sengaja saja, pagi-pagi melakukan panggilan video terhadap sahabatnya itu karena mengusili Bari adalah kebiasaan lama yang sering ia lakukan.
"Ah, sebaiknya aku kirim foto saja," gumamnya. Lalu memasang kamera depan--siap menangkap gambar.
CEKREK
Gambar Sakti dengan gaya senyum pepsodent serta mengenakan seragam lengkap seorang pilot berhasil terkirim ke ponsel Bari.
__ADS_1
"Tumben sekali kau berselfie ria di pagi hari," celetuk co-pilot di sampingnya. Seorang pria keturunan Uzbekistan. Mereka memang ditempatkan dalam satu kamar. Bukan kemauan dari Tuan Morang, namun permintaan langsung dari Sakti.
"Hahaha, hobi lama bersemi kembali," jawab Sakti seraya tersenyum usil. Lalu, mematikan ponsel dan meletakkannya di atas nakas.
Perjalanan mereka kali ini cukup jauh, pastinya akan memakan banyak waktu. Sakti langsung berpindah tempat, menarik koper kecilnya, lalu memasukkan berbagai perlengkapan yang ia butuhkan selama di pulau.
Sedangkan Di sebuah kamar yang tak jauh dari kamar Sakti.
Dias baru saja mengerjakan matanya. Tidurnya sangat pulas sehingga membuatnya bangun di luar jam biasa.
Perlahan ia bangkit dari peraduan, lalu pandangan diajak bergulir mengekori sekitar. Tidak ada siapa pun. Benar-benar sepi. Disingkirkannya selimut yang membalut sebagian tubuh, lalu bergerak menuruni kasur.
Gejolak alamiah yang mendorong kandung kemihnya di pagi hari, membuat diri segera memasuki toilet yang terhubung langsung dengan kamar mandi.
Tanpa sepengetahuan Dias, Tuan Morang dan istrinya berusaha mengetuk pintu berkali-kali. Namun, karena tidak ada respon darinya, akhirnya mereka memutuskan untuk memasuki kamar.
Pasangan suami-istri itu tampak berjalan seraya saling merengkuh tubuh masing-masing. Binar bahagia di wajah istri Tuan Morang tampak sangat kentara. Sebentar lagi, ia akan bertemu dengan gadis yang akan memberikan anak untuknya.
Wanita yang akrab dipanggil Olla itu melepaskan tautan tangannya pada pinggang sang suami, lalu melangkah maju. Lehernya berotasi ke kiri ketika mendengar suara gemericik air yang berasal dari kamar mandi.
"Sepertinya dia sedang mandi," ucapnya seraya berbalik badan--menatap sang suami.
"Bagaimana perjalananmu kemarin?" tanya Olla.
Tuan Morang menatap pintu kamar mandi yang masih tertutup rapat. "Perjalanannya mulus tidak ada halangan apa pun," jawab Tuan Morang.
"Maksudku bukan itu, Sayang." Olla langsung mencubit gemas perut sang suami.
"Aw!" Tuan Morang mengaduh seraya berusaha melepaskan pelintiran tangan sang istri dari perutnya. "Mama tetap tidak mau pindah ke sini," ucap Tuan Morang. Kalimat itu langsung membuat wajah sang istri seketika mendung.
CEKLEK
Pintu kamar mandi terbuka menampakkan tubuh Dias yang sudah kembali bugar.
Wajahnya tampak terkejut tatkala melihat dua orang asing di ruangan itu. Dias lantas menarik diri dan hendak kembali ke dalam kamar mandi. Namun, suara Olla sukses menghentikannya.
"Tunggu!" Wanita itu sudah berdiri di depan Dias dan menahan daun pintu yang hampir saja tertutup. "Tidak perlu takut, ayo!" Olla mengulurkan tangannya.
Dias masih tampak ketakutan. Tubuhnya sedikit bergetar. Namun, wajah bersahabat yang Olla perlihatkan berhasil membuat gadis itu menyambut uluran tangan wanita tersebut.
__ADS_1
Perlahan Olla membawa Dias berjalan dan duduk di atas kursi yang terdapat di depan meja rias.
Dias belum berani menatap lelaki yang duduk di tepian ranjang. Fokusnya hanya pada wajah Olla.
"Hai ... perkenalkan namaku Olla." Istri dari Tuan Morang itu tersenyum.
Dias membalas senyumannya. "Namaku Dias."
Olla kembali tersenyum. "Nama yang bagus," puji wanita tersebut. "Dan itu ... suamiku. Namanya Nata Morang." Telunjuk Olla mengarah pada sang suami. Membuat pandangan Dias bergulir mengikuti.
GLEK
Satu tegukan saliva dengan susah payah melewati tenggorokan Dias. Jadi ini yang namanya Tuan Morang, kata hatinya.
Tuan Morang tersenyum tipis ke arah Dias.
"Sekarang kami adalah keluarga barumu." Kalimat Olla sukses menarik perhatian Dias. "Sebentar lagi kita akan berangkat ke pulau. Kau bersiap-siaplah terlebih dahulu, kami tunggu di luar."
Walaupun tidak begitu paham akan maksud dari perkataan Olla, namun Dias tetap menganggukkan kepala.
Olla lantas beranjak dari sana sekaligus menarik tangan suaminya untuk keluar.
Dias masih memperhatikan langkah kedua suami-istri itu hingga tubuh keduanya lenyap ditelan pintu.
"Sepertinya dia gadis yang baik," komentar Olla ketika pintu kamar sudah tertutup. "Wajahnya tampak lugu, aku menyukainya." Wanita itu menenggelamkan kepala pada dada sang suami. Senyuman samar terbit di kedua sudut bibirnya. Namun, jantungnya berpacu lebih cepat.
"Tapi, bagaimana caranya kita menyampaikan masalah itu padanya?" Lelaki itu tampak ragu. Dia khawatir Dias akan menolak permintaan mereka.
"Serahkan masalah itu padaku," ucap Olla seraya mengerjap berkali-kali agar air matanya tidak jatuh membasahi pipi.
***
Sakti?" Daru mengintip dari celah yang menghubungkan antara ruang pilot dan ruang penumpang.
Sakti menoleh, lalu membuka kaca penyekatnya.
"Tuan Morang sudah menaiki pesawat," ucap Daru yang diangguki kepala oleh Sakti.
Kemudian asisten pribadi Tuan Morang itu kembali ke tempat duduknya.
__ADS_1
Perlahan roda pesawat mulai bergerak. Semakin lama semakin cepat, hingga akhirnya melayang di udara.